
Setelah perdebatan yang cukup panjang, akhirnya Naura menerima ajakan Marvell. Ya bagaimana lagi jika Marvell sudah memaksanya?
Dan disinilah mereka sekarang, hotel bintang lima yang merupakan milik keluarga Lee.
Naura tampak anggun dengan gaun berwarna hitamnya, dan sangat cocok dengan Marvell yang juga memakai jas berwarna hitam.
"Hay Lee.." sapa Marvell pada temannya itu. Dan seketika Lee menengok ke arahnya.
Untuk sesaat Lee bergeming karena terpesona dengan penampilan Naura. "Siapa dia?"
Mendengarnya, Marvell jadi tertawa.
"Kau tidak mengenalinya?"
Lee menggeleng pelan dengan wajah bingungnya, "Memangnya dia siapa?"
"Ckk, kau ini bagaimana? Tentu saja dia Naura, sepupuku."
"Oooo..jadi dia yang namanya Naura." Pria itu lalu mengulurkan tangannya.
"Aku Lee, senang bertemu denganmu."
Naura membalas uluran itu sambil tersenyum simpul, "Naura. Senang bertemu denganmu juga."
"Okey. Kalian nikmati pestanya dulu, aku akan menyapa para tamu undangan yang lain."
Marvell dan Naura mengangguk singkat, Lee lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Tidak seburuk yang kubayangkan." gumam Naura sambil mengamati sekitar.
"Memangnya apa yang ada di pikiranmu itu tentang pesta?"
"Aku pikir, pesta itu identik dengan minuman keras dan...berbau mesum."
Pletakk
"Marvell.." pekik Naura kesal sambil mengelus dahinya.
"Buang jauh-jauh pemikiranmu itu." Kemudian Marvell melengos pergi begitu saja dan meninggalkan Naura dengan wajah bingungnya.
Dan karena Naura tidak tahu harus kemana, dia pun memutuskan untuk mengikuti Marvell. Pria itu membawanya untuk duduk di sebuah sofa panjang yang berada di pojok ruangan.
"Emm Naura?"
Naura lekas menoleh dan menatap Marvell.
"Kau tunggu disini dulu, aku ingin menyapa teman-temanku."
"Baiklah. Tapi jangan lama-lama." Marvell hanya mengacungkan jempolnya, dan berlalu dari sana.
Di lain tempat, seorang pria baru saja memasuki gedung yang berlantai 11. Gedung tersebut merupakan hotel milik keluarga Lee, yang saat ini tengah mengadakan pesta.
"Mr. Joseph.." sapa pria itu. Dan pria yang merasa namanya di panggil, langsung berbalik dan menatap seorang pria yang hampir sebaya dengannya.
"Heyy...Mr. Clayton.." balasnya riang. Kedua pria itu lalu saling berpelukan.
"Apa kabarmu, kawan?" ujar Leo Joseph, teman semasa sekolah Dave dahulu.
"Aku baik. Dan kau?"
"Seperti yang kau lihat." kekeh Leo, lalu tatapannya seperti tengah mencari sesuatu.
"Dimana pasanganmu?"
"Kau tahu jika aku tidak memiliki pasangan." sahut Dave acuh.
"Aku jadi curiga padamu. Apa jangan-jangan kau tidak tertarik lagi pada wanita semenjak putus hubungan dari Sherly?"
Wajah pria itu langsung berubah datar. "Jika aku tahu kau akan membicarakan hal ini, lebih baik aku tidak usah datang saja kemari."
Leo pun tergelak, "Uuhh kau masih sama seperti dulu. Aku jadi takut padamu, bisa-bisa kau menembakku nanti."
Bukannya merasa takut atau apa, Leo justru tertawa terbahak. Sampai-sampai pria paruh baya itu menjadi pusat perhatian.
Karena merasa di perhatikan, Leo menyudahi tawanya kemudian berdehem pelan.
"Kau bisa menikmati pestanya dulu, aku akan menyapa para tamuku yang lain."
Dave hanya mengangguk, kemudian Leo pergi meninggalkannya. Pria itu lalu memilih untuk duduk di sebuah kursi yang mirip seperti bar.
Matanya menatap ke sekelilingnya, namun tak ada yang menarik bagi Dave.
Dan dari kejauhan, nampaklah Kevin yang datang menghampiri Naura. Dan tanpa permisi pria itu langsung duduk saja di samping wanita tersebut.
Naura hanya meliriknya sebentar, kemudian matanya kembali menatap Marvell yang sedang mengobrol dengan teman-teman lainnya.
"Kau masih marah padaku?" lirih Kevin sedih. Namun tak di tanggapi oleh Naura.
"Na---" Naura langsung menepis tangan Kevin yang dengan beraninya menyentuh tangannya.
"Tidak bisakah jika kau tidak menggangguku?" ujar Naura marah. Jika saja ini bukan di tempat keramaian, mungkin Naura sudah memberinya pelajaran.
"Aku bukan ingin mengganggumu. Tapi aku hanya ingin memperbaiki kesalahanku." Kevin menatap Naura sendu, tapi sepertinya Naura tidak termakan oleh bujuk rayu pria itu.
"Pergilah, Kevin! Jangan membuatku semakin marah dan berakhir dengan merusak pesta dari Lee."
Kevin mendesah panjang, pria itu lalu menatap Naura lekat untuk sejenak. Setelah itu barulah dia bangkit dan berlalu dari sana.
"Kau membuat kesalahan yang besar, Naura." desis Kevin, lalu pria tersebut memanggil pelayan yang ada disana.
"Kenapa Marvell lama sekali?" gumam Naura, wanita itu hendak berdiri namun di urungkannya saat ada seorang pelayan lelaki yang memberikannya minum.
"Terima kasih.." ujar Naura sambil menerima minuman tersebut.
Wanita tersebut menghela nafasnya panjang, dan karena merasa lelah dan bosan menunggu kedatangan Marvell yang tidak kunjung kembali, membuat Naura menjadi sedikit haus.
Dan tanpa adanya rasa curiga sedikitpun, Naura meneguk minuman itu hingga setengah.
Sedangkan dari kejauhan, Kevin tengah tersenyum miring.
"Rencanaku akan berhasil malam ini."
Sepuluh menit berlalu, lama-kelamaan Naura menjadi kesal sendiri. Wanita itu lalu memutuskan untuk mencari keberadaan Marvell yang menghilang dari pandangannya.
Baru saja dia berdiri, tiba-tiba tubuhnya terasa panas.
"Kenapa jadi panas seperti ini? Apakah AC disini tidak berfungsi?"
Karena semakin lama semakin panas, Naura kemudian bergegas pergi dari sana menuju toilet. Wanita itu tampak kebingungan mencari dimana toilet berada, pasalnya dia baru pertama kali datang kemari.
"Permisi.." ujar Naura pada pelayan yang melintas di hadapannya.
"Ada apa, nona?" tanya pelayan tersebut sopan.
"Dimana toilet?"
"Jika dari sini, nona lurus saja lalu belok ke kiri."
"Terima kasih." Dengan tergesa-gesa Naura meninggalkan pelayan itu yang tampak keheranan.
Setibanya di toilet, Naura langsung mendekat ke wastafel dan mencuci wajahnya. Dia tidak memperdulikan lagi riasannya saat ini, karena yang ada di pikirannya sekarang adalah bagaimana menghilangkan rasa panas yang semakin lama menjalar ke tubuhnya.
"Oh Lord, ada apa denganku?" gumam Naura yang heran sendiri dengan dirinya.
Wanita itu kemudian memilih untuk keluar. Karena dia merasa dengan menyentuh air, tidak menghilangkan rasa panasnya sedikitpun.
Dan entah mengapa rasa panasnya ini sangat berbeda. Rasa panas yang dia rasakan saat ini membuat dirinya ingin melepas semua pakaiannya. Namun Naura cukup sadar jika ingin melakukan itu.
"Eungghhh.." Naura melenguh sambil mengusap-usap belakang lehernya.
Dan tanpa sadar dirinya berjalan menuju lift. Setelah berada di dalam lift, wanita itu hendak menutup pintunya namun ada yang menahan pintu tersebut lebih dulu.