
Naura dan Selvi segera keluar. Dan nampaklah Marvell dengan raut wajahnya yang kesal.
"Kenapa kau tidak menungguku lebih dulu jika ingin keluar dari kelasmu?" gerutu pria itu.
"Kenapa aku harus menunggumu?" tanya Naura aneh.
"Tentu saja kau harus menungguku. Bagaimana jika ada yang ingin menyakitimu?"
Naura menggelengkan kepalanya melihat sikap possesive Marvell terhadap dirinya.
'Kapan gue punya pacar yang possesive kayak dia?' batin Selvi berharap.
"Tidak ada yang akan menyakitiku, Marvell. Lagipula aku tidak sendirian, ada Selvi bersamaku."
Marvell berdecih, "Apa yang bisa dilakukan wanita itu? Yang ada dia akan menyusahkanmu."
"Apa kau bilang?" sungut Selvi tidak terima.
"Sudahlah. Ayo kita ke kantin, aku lapar." lerai Naura, lalu wanita itu menggandeng tangan Selvi dan Marvell agar mengikutinya.
...* * *...
Malam pun tiba, saatnya untuk para manusia mengistirahatkan tubuhnya. Namun ada sebagian orang yang masih bekerja pada malam hari. Contohnya Dave.
Pria tua itu tengah berada di ruangan kerjanya yang berada di apartement miliknya. Matanya sudah sedari tadi ingin terpejam, namun pekerjaannya belum juga selesai. Belum lagi kertas-kertas ujian dari mahasiswanya yang belum dia koreksi.
Dave mendesah lelah, kemudian pria tersebut menjatuhkan kepalanya ke meja.
Tiba-tiba ponselnya berdering, dan Dave langsung mengambil ponselnya yang berada di dekatnya lalu menjawab panggilan tersebut tanpa melihat si penelpon.
"Siapa?" tanya Dave yang masih membaringkan kepalanya di atas meja.
"Dave..." terdengar suara lembut dari arah seberang. Dave pun segera menjauhkan ponselnya dan melihat nama yang tertera di layar.
"Shit!" umpat Dave geram. Bagaimana bisa dia langsung menjawab panggilan itu tanpa melihat nama si penelpon. Apalagi yang menelponnya saat ini adalah wanita yang selalu dia hindari.
"Dave, kau mendengarku?"
"Hmm, Cepat katakan yang ingin kau bicarakan." sahut Dave datar.
Tertohok, itu pasti.
Namun Scarlett tidak akan memasukkannya ke dalam hati. Agar dirinya tak semakin tertekan disana.
"Aku merasa bahagia, karena akhirnya kau mau menjawab telpon dariku." Wanita itu tersenyum singkat lalu menjeda ucapannya sebentar,
"Aku merindukanmu..." lanjutnya dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Hening...
Hanya terdengar hembusan nafas Dave dari balik ponselnya. Dan itu membuat Scarlett tersenyum getir.
"Maafkan aku yang merindukanmu dan juga mengganggumu. Kalau begitu, aku tutup sa---"
"Scarlett.." potong Dave cepat. Pria itu lalu menghembuskan nafasnya kasar, malam ini dia bertekad akan memberitahu Scarlett bahwa perjodohan mereka lebih baik di batalkan saja.
"Dengarkan aku...mungkin kata-kataku ini akan menyakitimu, namun aku tidak bisa lagi untuk menahannya." Dave menjeda perkataannya. Dia takut jika Scarlett sedih, marah lalu berbuat hal yang akan membahayakan wanita itu.
"Aku tahu kau mencintaiku dan berharap perjodohan ini berjalan sebagaimana mestinya. Tapi kau juga tahu 'bukan? Bahwa aku tidak mencintaimu dan tidak menginginkan perjodohan ini." Tidak ada jawaban ataupun respon dari wanita di sebarang sana. Dan Dave tahu apa yang sedang dia lakukan.
"Jika kau menikah denganku, kau tidak akan bahagia, Scarlett. Karena aku mencintai wanita lain."
"Hikss..hiksss..." Scarlett tidak dapat menahan lagi isakannya yang sudah dia tahan sedari tadi.
"Apa yang kurang dariku? Apa aku kurang cantik? Menarik? kaya? Katakan Dave!"
Dari tempatnya Scarlett menggeleng.
"Aku tidak mau. Aku hanya ingin dirimu."
"Maafkan aku, aku tidak bisa. Cinta tidak dapat di paksakan, 'bukan?"
"Lalu bagaimana dengan penantianku yang selama tiga tahun ini menunggumu?" teriak Scarlett yang terlanjur emosi.
"Aku tidak pernah memintamu untuk menungguku. Tapi kau---"
"Kau egois, Dave. Kau jahat.."
Tutt
Scarlett mematikan sambungannya secara sepihak.
Sedangkan Dave, pria itu tampak tengah berpikir. Apa yang telah kulakukan ini sudah benar? Kuharap begitu.
Karena merasa lelah dengan tubuh dan juga pikirannya saat ini, Dave pun memutuskan untuk tidur saja. Dia akan melanjutkan pekerjaan itu besok pagi saja. Kebetulan pria itu tidak ada jadwal mengajar untuk besok.
Sementara di tempat lain....
Scarlett mengamuk dan membuang semua barang-barang di kamarnya ke lantai. Bahkan photo Dave yang selama ini dia pajang di kamarnya, tak luput dari kemarahannya.
"Kenapa? Kenapa kau lakukan ini, Dave?" teriak Scarlett histeris sambil menjambak rambutnya sendiri.
Lalu wanita tersebut mendongak dengan deraian air matanya. Sedetik kemudian, tubuhnya luruh dan bertumpu pada kasur di sampingnya.
"Apa yang kurang dariku? Apakah penantianku selama ini tidak ada artinya bagimu?" lirihnya lemah.
Dan dari luar kamarnya, terdengar suara gedoran pintu dan teriakkan dari daddy-nya yang memintanya untuk segera membuka pintu tersebut.
Namun Scarlett tidak mengindahkannya. Wanita itu justru terus menangis, meracau dan meratapi nasib percintaannya yang gagal.
Tak lama, Argus mendobrak pintu kamar putrinya karena sudah tidak bisa untuk sabar lagi. Dan dia takut jika Scarlett akan berbuat sesuatu yang akan menyakiti dirinya sendiri.
"Sayang..." Argus menatap iba pada putrinya yang sedang duduk di lantai dengan kepalanya yang dia letakkan di atas kasur.
Dengan cepat Argus menghampiri putrinya tersebut, lalu membawa Scarlett ke dalam pelukannya.
"Tenang, sayang. Ada daddy disini."
"Kenapa? Kenapa Dave menolakku, Dad? Apa yang kurang dari diriku?" racau Scarlett yang masih terisak.
'Jadi kau penyebab semua ini, Dave.' batin Argus menggeram marah.
"Tidak, sayang. Kau sempurna, tidak ada satupun yang kurang darimu." Argus lalu menciumi puncak kepala Scarlett dengan penuh rasa sayang.
"La-lalu..kenapa Dave menolakku? Hikss.."
"Karena dia buta. Dan pria seperti dia memang tidak pantas untukmu." ujar Argus dingin.
Lalu tatapannya kembali melembut saat Scarlett mendongak untuk menatapnya.
"Tapi aku mencintainya, Dad."
"Tapi dia tidak mencintaimu, sayang.." Perkataan Argus membuat Scarlett kembali menangis pilu.
"Aku mencintaimu, Dave. Tapi kau justru mencintai wanita lain." gumam Scarlett sambil menundukkan kepalanya.
Seketika Argus menjadi diam setelah tahu akar dari alasan Dave yang menolak perjodohan ini.
'Kau akan membayarnya, Dave. Itu pasti!'