Chasing My Love

Chasing My Love
CHAPTER 12



Sudah Dave duga, dirinya tiba di Sisilia pada dini hari, tepatnya pukul 4 pagi. Setibanya di apartement, Dave langsung bergegas menuju kamarnya untuk mengistirahatkan badannya.


Baru saja Dave merasa memejamkan matanya, tiba-tiba telinganya mendengar suara pintu apartementnya yang di ketuk.


Dave membuka matanya, lalu mengambil ponselnya yang berada di atas kepalanya. Dilihatnya layar ponsel itu yang sekarang menunjukkan pukul 6.15 pagi.


"Siapa yang menggangguku pagi-pagi sekali?" decak Dave, pria itu kemudian bangun dari berbaringnya dan keluar dari kamar untuk menuju pintu utama.


"Iya-iya tunggu sebentar.."


Clekk


Raut wajah Dave langsung berubah menjadi kesal saat melihat seorang gadis yang sedang berdiri di hadapannya dengan di iringi senyum manisnya.


"Apa yang kau lakukan sepagi ini di depan apartementku?" ujar Dave dengan wajah kesalnya, karena waktu tidurnya telah di ganggu.


"Feelingku benar 'bukan, bahwa kau telah kembali." sahut Naura dengan tatapan tidak percayanya.


Dave berdecak, kemudian memutar bola matanya malas.


"Katakan! Apa yang membawamu kemari?"


Gadis itu tidak menjawabnya, justru tiba-tiba dia memeluk tubuh Dave. Dan untung saja Dave berpegangan pada daun pintu, jika tidak, mungkin dirinya sudah terjungkal ke belakang sekarang.


"Aku merindukanmu, my lovely husband."


Seketika Dave bergidik mendengarnya, lalu pria itu berusaha melepaskan pelukannya. Bukannya lepas, Naura malah semakin mempererat pelukan itu.


"Naura...lepas..." Dave kembali berusaha melepaskan pelukan itu, dan dirinya tidak sengaja mendorong tubuh Naura hingga terjatuh.


"Dave.." Naura meneteskan air matanya karena tidak percaya dengan apa yang Dave lakukan padanya.


"Na-Naura, maaf. Aku tidak sengaja.." Dave lalu membantu Naura untuk berdiri.


"Kau kejam." sungut Naura sambil menghentak-hentakkan kakinya, lalu menghapus air matanya kasar.


"Itu karena ulahmu sendiri.." balas Dave tak mau kalah.


"Tapi kenapa harus mendorongku?"


"Karena kau tidak mau melepaskan pelukannya."


"Harusnya kau tidak mendorongku.."


Dave memilih untuk tidak menimpalinya lagi. Jika dia menimpalinya, entah kapan perdebatan mereka akan selesai.


Mendadak wajah Naura berubah menjadi sendu. "Kau tahu? Butuh perjuangan bagiku untuk kemari. Bahkan aku harus berbohong kepada kedua orangtuaku agar dapat menemuimu."


"Aku tidak pernah memintamu untuk menemuiku. Lagipula, bukankah sudah sering kukatakan padamu agar jangan menemuiku lagi? Tapi kau terus saja menebalkan telingamu dan datang kemari semau-mu." Dave kemudian berbalik, dan melengos masuk.


"Davee, aku melakukan itu karena aku merindukanmu. Aku tidak bisa jika sehari saja tidak bertemu denganmu.." Naura ikut menyusul Dave masuk ke dalam, dan tak lupa untuk menutup pintu itu terlebih dulu.


Dave hanya menanggapinya dengan memutar bola matanya malas. Lalu Gadis itu ikut duduk di samping Dave dengan memeluk manja lengan pria tersebut.


"Davee.." Naura mengusel-uselkan wajahnya ke lengan Dave.


"Kapan kita akan menikah?"


Mendengar itu, membuat Dave langsung menoyor kepala Naura.


"Kau itu masih kecil. Sekolah saja belum lulus, tapi sudah memikirkan tentang pernikahan."


Naura mencebikkan bibirnya, "Sebentar lagi aku akan lulus, kau tenang saja. Lagipula, kau itu sudah tua, apakah tidak ada kepikiran untuk menikah?"


"Sudah berapa kali kukatakan padamu, aku tidak ingin menikah." ujar Dave yang terdengar seperti gumaman.


"Kenapa? Apa kau tidak tertarik pada wanita?" Naura berkata sambil menahan tawanya.


"Tidak percaya? Maksudmu?"


Dave menatap sebal gadis di sampingnya ini.


"Kenapa kau ini banyak tanya sekali?"


"Karena aku ingin tahu. Siapa tahu aku bisa memenuhi kriteria pilihanmu."


"Tidak akan pernah. Kau tidak mungkin bisa memenuhi kriteria dari wanita yang kuinginkan."


"Kenapa?" tanya Naura sambil memajukan wajahnya. Hampir saja gadis itu mencium Dave, jika saja Dave tidak segera memundurkan kepalanya.


"Karena aku tidak tertarik pada anak kecil." balas Dave acuh.


Naura menjauhkan kembali wajah beserta tubuhnya, dengan matanya yang menatap Dave kesal.


"Aku memang anak kecil, tapi aku mampu merubah diriku sesuai keinginanmu."


"Benarkah?" Dave memandang Naura dengan tatapan mengejek. Kemudian Dave mendekatkan bibirnya ke telinga Naura.


"Jika kau bisa melayaniku dalam 8 jam tanpa henti, aku bisa mempertimbangkannya.." bisik Dave dengan menggoda.


Naura bergidik, lalu gadis itu menatap ngeri pada Dave.


"Ha-haruskan selama itu?"


"Tentu saja." balas Dave enteng sembari menaikkan kedua kakinya ke atas meja depannya.


Memikirkannya, membuat otak Naura bertravelling bebas. Gadis itu kemudian memukul kepalanya pelan agar pikiran kotor itu segera enyah dari otaknya.


Naura melirik Dave yang sekarang sudah sibuk dengan ponselnya.


"Davee.."


"Hmm," sahut Dave tanpa mengalihkan pandangannya dari layar kotak itu.


"Dave.."


Akhirnya Dave mengalah, "Ap---"


Chupp~


Butuh beberapa menit bagi Dave untuk mencerna apa yang baru saja terjadi.


Pria itu mengerjap-ngerjapkan matanya, kemudian menatap jengkel gadis di sampingnya.


"Kenapa kau ini suka sekali menciumku? Jika kau ingin mencium, cium saja ketiakku."


Naura tertawa lebar, "Ketiakmu tidak kenyal."


Dave menyentil dahi Naura, "Siapa yang mengajarimu, heh?"


"Ajaran dari buku novel yang kubeli.." sahut Naura santai sambil mengusap keningnya.


"Jangan baca buku itu lagi."


"Kenapa?"


"Nanti otakmu semakin kotor. Dan jika sudah terkontaminasi, sulit untuk memperbaikinya."


"Kau telat, Dave. Otakku ini sudah kotor gara-gara dirimu.." balas Naura sembari mencolek dagu Dave.


Dave bergidik, kemudian memilih untuk menjauhkan tubuhnya dan memberi jarak yang cukup jauh dari Naura. Dan itu membuat Naura tergelak hebat.