
Bruukk
Pria yang menarik Kevin, menghempaskan pemuda itu hingga jatuh ke aspal. Dan bukan hanya itu, si penolong tersebut memberikan pukulan telak di wajah Kevin.
"Apa yang kau lakukan hah?" teriak si penolong.
Sementara Naura yang merasa terbebas, segera keluar dari mobil Kevin dan menghampiri kedua pria yang saling bersitatap tajam.
"Dave.." lirih Naura.
Kemudian Kevin bangkit dan hendak membalas pukulan dari Dave, namun dengan cepat Dave menahannya.
"Jika aku mau, aku bisa menghabisimu saat ini juga.." ujar Dave dingin.
"Kau..." geram Kevin, pria itu lalu menarik tangannya kembali. Saat matanya melihat Naura yang berdiri tak jauh dari mereka, Kevin hendak mendekatinya namun wanita itu malah berjalan mundur.
"Sudah, cukup Kevin.." Naura tidak bisa membendung ketakutannya lagi. Bahkan tubuhnya terasa gemetar saat ini.
Dave yang melihatnya, segera melepaskan jas miliknya lalu mendekati wanita itu. Pria itu lalu melampirkan jasnya ke bahu Naura, yang membuat wanita tersebut lekas menatapnya.
Dan tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulut Dave, pria itu kemudian menggiring Naura menuju mobilnya.
Setelah melihat Naura masuk, Dave lalu mengitari mobilnya. Namun saat hendak masuk ke dalam, pergerakannya justru terhenti. Dia malah menatap tajam Kevin yang juga tengah menatapnya tajam.
Karena tidak ingin membuang-buang waktunya, Dave segera masuk dan membawa mobilnya berlalu dari tempat tersebut.
"Sial." maki Kevin sembari memandangi mobil Dave yang sudah menjauh.
...* * *...
"Terima kasih.." bisik Naura ketika mobil Dave sudah berhenti di depan apartementnya.
Wanita itu kemudian mengembalikan jas milik Dave, dan memilih untuk cepat pergi dari mobil itu.
Dan Dave? Hanya menatap kepergian Naura tanpa ekspresi. Lalu segera menjalankan kembali mobilnya dan berlalu dari sana.
Sementara Naura yang sudah berada di apartementnya, langsung menuju ke kamar mandi dan menatap pantulan dirinya dari cermin.
Air mata yang belum kering, bibirnya yang bengkak serta penampilan yang sulit untuk di jelaskan. Mungkin seperti itulah yang terjadi padanya saat ini.
Tess
Kembali air matanya luruh saat mengingat kelakuan Kevin tadi. Namun apa dayanya, ingin memberitahu Marvell? Pasti pria itu akan kalap dan bisa menghabisi Kevin saat itu juga.
"Hikss hikss..Aku membencimu, sangat membencimu." racau Naura, kemudian dia mengambil tisue di samping wastafel dan menyeka bibirnya dengan kasar.
Berulang-ulang kali Naura melakukannya, hingga membuat bibirnya terasa perih. Wanita itu terus meracau, hingga tubuhnya luruh karena merasa energinya sudah terkuras habis.
...* * *...
Besoknya, di kantin Universitas.
Marvell, Naura, Kevin dan juga Selvi berada dalam satu meja yang sama. Naura tampak memasang wajah datarnya jika matanya tak sengaja bertemu dengan Kevin.
'Bagaimana bisa dia masih bersikap biasa setelah apa yang di lakukannya kemarin padaku?' ~Naura~
'Ada apa ini? Mengapa Marvell tidak marah padaku? Apakah Naura tidak memberitahunya?' ~Kevin~
"Kev?" panggil Selvi,
"Ya?"
"Ada apa dengan wajahmu?" lanjut Selvi dengan wajah bingungnya.
"O-oh ini? Ini..ini.." Kevin menggaruk tengkuknya bingung harus menjawab apa.
"Karena di pukul seseorang." jawab Marvell.
"Darimana kau tahu?"
Marvell menatap wanita itu malas, "Apa kau tidak lihat lebam di wajahnya itu? Menurutmu, itu lebam karena apa? Jatuh dari tangga? Mana mungkin seperti itu."
Selvi mengangguk benarkan perkataan Marvell.
"Itu...Saudaraku. Yaa, saudaraku yang kesal kepadaku. Oleh sebab itu dia memukulku." Kevin menjadi gelagapan sendiri, apalagi saat matanya bertemu dengan Naura.
"Memangnya apa yang kau lakukan sehingga saudaramu marah?"
Terdengar suara decakan dari Marvell, "Tidak bisakah jika kau berhenti berbicara? Aku ingin sarapan, tapi kau selalu bicara dan mengganggu konsentrasiku."
"Menyebalkan.." sungut Selvi, wanita itu lalu memilih diam dan melanjutkan makannya yang sempat tertunda.
Dan tanpa kedua manusia itu tahu, saat ini Naura dan Kevin saling bersitatapan. Yang satu menunjukkan tatapan tanpa ekspresi, dan satunya lagi menatap dengan intens.
Lima jam berlalu...
Saatnya kembali kerumah masing-masing, tak terkecuali kedua wanita yang sedari tadi mengharapkannya.
"Emm, Naura..aku pulang terlebih dahulu, tidak apa-apa 'kan? Kakakku sudah menjemputku." ujar Selvi yang merasa tidak enak hati karena harus meninggalkan Naura sendiri.
Naura tersenyum, "Tidak apa-apa. Kau pulanglah lebih dulu, aku akan pulang sebentar lagi setelah Marvell keluar."
"Baiklah.." Selvi lalu memeluk Naura sejenak, dan perlahan pergi sembari melambaikan tangannya kepada Naura.
Tidak terasa sudah 15 menit Naura menunggu, namun Marvell tidak kunjung keluar.
Wanita itu pun memutuskan untuk menghubungi Marvell, namun langsung di reject oleh pria tersebut.
"Kenapa Marvell menolak panggilanku?" gumam Naura, kemudian dia memutuskan untuk menghubungi Marvell kembali.
Belum juga menekan tombolnya, tiba-tiba Marvell mengirim sebuah pesan padanya.
^^^Marvell: Aku ada kelas tambahan^^^
^^^sekitar 2 jam lagi.^^^
^^^Jadi kau pulang lebih dulu saja, okey? Jangan menungguku.^^^
^^^10.25 AM✔^^^
Seperti itulah pesan yang di kirim Marvell. Naura mendengus sebal,
"Kenapa tidak memberitahuku sejak tadi?"
Mendadak awan berubah menjadi gelap, yang menandakan sebentar lagi akan turun hujan.
Naura lalu cepat-cepat ingin menuju ke depan gerbang sembari mencari taksi. Baru saja dirinya ingin melangkah, tiba-tiba hujan turun yang membuatnya segera memundurkan langkahnya.
Dilihatnya bajunya yang sedikit basah akibat percikkan dari air hujan.
Sementara di tempat lain, Dave yang baru keluar dari ruangannya dan sedang berjalan menuju mobilnya, tak sengaja melihat Naura yang sedang membungkuk menepuk-nepuk pakaiannya.
'Apa yang dia lakukan?' Dave membatin dengan alisnya yang terangkat sebelah.
Kemudian pria itu menatap hujan yang lumayan deras, dan tanpa pikir panjang, Dave kembali memasuki ruangannya yang tersedia payung.
Setelah sebuah payung ada di tangannya, Dave menghampiri wanita itu. Dan Naura yang masih membungkuk, segera menegakkan tubuhnya kembali saat melihat sepasang kaki di sampingnya.
Terlihat Naura yang menatapnya bingung, apalagi melihat sebuah payung yang sudah menaunginya tepat di atas kepalanya.
"Ayo, kuantar kau pulang.." ujar Dave datar.
"Tidak, terima kasih." tolak Naura, wanita itu kembali membungkuk untuk membersihkan pakaiannya yang terciprat air.
"Jangan keras kepala. Kita tidak tahu kapan hujan ini akan reda."
"Tap--- Ehh?" Naura terkejut dengan Dave yang menarik tangannya begitu saja.
Dave membawa Naura menuju mobilnya dengan satu tangan memegang bahu wanita itu, dan satunya lagi membawa payung.
Namun saat berada di setengah jalan, kaki Naura tidak sengaja terpeleset dan hendak jatuh. Tapi untung saja Dave segera menahannya.
Dave dan Naura saling adu pandang. Bahkan dunia mendadak seakan menjadi slow motion. Mereka bahkan tidak menyadari jika payung yang mereka gunakan, sudah melayang entah kemana.
Sedangkan di tempat kejauhan, ada seseorang yang memandang mereka dengan tatapan geram dan benci.