Chasing My Love

Chasing My Love
CHAPTER 21



Setelah menghabiskan waktu cukup lama dengan saling berpandangan di bawah guyuran hujan, kini kedua manusia itu sudah berada di dalam mobil dengan basah kuyup.


Aura di dalam mobil tersebut terasa begitu hening. Tak ada yang berani berbicara lebih dulu, entah karena merasa malu, canggung ataupun kikuk.


Setibanya di depan apartementnya, Naura lekas keluar dari mobil Dave, tak lupa mengucapkan terima kasih pada pria itu.


"Ada apa denganku?" Naura menghela nafasnya gusar sambil terus melangkah menuju apartementnya.


...* * *...


Pukul 7:20 PM..


Marvell datang untuk mengunjungi Naura, sekedar ingin melihat kabar dari wanita itu.


Dan saat Naura membuka pintu apartementnya, seketika wanita itu bergeming di tempatnya dengan pandangan lurus pada sosok di samping Marvell.


"Heyy, apa kau tidak menyuruh kami untuk masuk?" ujar Marvell mencairkan suasana. Dan tanpa permisi, pria itu melengos masuk begitu saja lebih dulu.


Dan tersisa Naura dan Kevin yang saling bersitatap. Kemudian Naura berbalik dan masuk tanpa mengatakan apapun pada Kevin.


"Kev, ayo masuk. Tidak usah malu, biasanya juga kau suka masuk ke apartement orang lain tanpa permisi."


Kevin mengangguki perkataan Marvell, dan ikut masuk ke dalam. Sedangkan Naura, tampak tidak perduli dengan kehadiran dari pria itu.


"Apa kau tidak membawa sesuatu?" sindir Naura karena melihat Marvell yang datang dengan tangan kosong.


Bukannya merasa tersindir, Marvell justru tertawa.


"Memangnya kau mengharapkan apa dariku?"


Naura memutar bola matanya kesal, wanita itu lalu bangkit dari duduknya di sofa dan melangkah menuju dapur. Dimana cemilan dan juga minuman tersimpan disana.


"Vell?" panggil Kevin, yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik dari Naura.


"Ada apa?"


"Dimana toilet? Aku ingin buang air kecil."


"Toilet berada di samping dapur. Kau bisa bertanya pada Naura."


Kevin mengangguk dan segera pergi menuju dapur, bukan untuk ke toilet melainkan menemui Naura. Pergi ke toilet hanyalah alibinya saja.


"Naura..." panggilnya pelan saat sudah berada di samping Naura.


Naura yang tidak tahu akan kehadiran Kevin, menjadi terkejut dan langsung saja menatap pria itu horor.


"Apa yang kau lakukan disini? Kau ingin melakukan hal menjijikkan itu lagi?"


"Tidak, Naura. Kumohon dengarkan aku dulu.." pinta Kevin mengiba.


"Aku terlalu sibuk untuk mendengarkanmu." Lalu Naura kembali melanjutkan kegiatannya, yaitu mengambil cemilan di lemari dapur.


"Aku tahu jika aku salah. Aku benar-benar khilaf kemarin. Aku janji akan memperbaikinya." melas Kevin dan terus saja membujuk wanita itu.


Namun karena Naura yang sudah terlanjur membencinya, dia memilih untuk tidak menghiraukannya dan segera kembali ke ruang santai dengan membawa nampan yang berisi cemilan dan juga minuman.


"Na..." lirih Kevin, sayangnya Naura tidak mau dengar dan sudah pergi dari dapur.


Pria itu menghembuskan nafasnya kasar, kemudian dia menunggu beberapa saat untuk kembali ke depan. Jika dia datang bersama Naura, Marvell bisa curiga nantinya.


"Woahhh...kau memang sepupuku yang paling pengertian, Naura." puji Marvell ketika melihat kedatangan wanita tersebut.


Naura yang mendengarnya justru berdecih, "Dasar pria yang sukanya gratisan."


"Dimana Kevin?" tanya-nya dengan mulut penuh.


"Sudah kubuang." jawab Naura asal. Dan jawabannya itu justru membuat Marvell kembali tertawa, hingga makanan yang berada di mulutnya keluar.


Naura menatap jijik pada Marvell, lalu tatapannya beralih pada karpet berbulunya yang kotor akibat ulah dari pria itu.


"Marvell, kau mengotori karpetku." pekik Naura kesal.


"Tinggal di bersihkan." sahut Marvell enteng.


"Siapa yang akan membersihkannya?" tanya Naura galak.


"Tentu saja kau. Kan aku tamu disini, mana mungkin membersihkannya."


Ingin sekali rasanya Naura memukul mulut pria yang seenaknya berbicara ini. Kemudian datanglah Kevin dengan wajah lesunya.


"Ada apa denganmu?" tanya Marvell.


"Tidak ada. Aku baik-baik saja." Kevin lalu mendudukkan dirinya di samping Marvell, namun sesekali pria itu melirik Naura yang sedang fokus menonton kartun di televisi depannya.


Walaupun mereka sudah dewasa, bukan berarti tidak bisa atau boleh lagi menonton kartun. Bahkan menurut Naura, Lebih baik dirinya memiliki hobi menonton kartun, karena ribuan orang diluar sana memiliki hobi menonton aib orang lain ^_^.


...* * *...


Universitas Oxford, London.


Wajah Naura terlihat kebingungan, pasalnya saat ini wanita itu tengah mencari buku di perpus yang di perintahkan oleh dosennya.


Tak henti-hentinya Naura mencari, namun tak kunjung ketemu. Hingga akhirnya, penantiannya selesai dan wanita tersebut segera berjalan mendekati buku yang di maksud.


Saat tangannya hendak menyentuh buku itu, tiba-tiba dari arah kirinya ada seseorang yang menyentuh buku itu lebih dulu.


Seketika mereka berdua saling berpandangan dengan tangan yang bersentuhan.


'Apa dunia ini begitu sempit? Mengapa aku selalu bertemu dengannya?' batin Naura heran.


Sedangkan Dave, pria itu tampak memikirkan kata-kata yang dulu Naura ucapkan padanya.


"Kau tahu? Orang-orang bilang, jika wanita dan pria sering bertemu tanpa di sengaja, itu tandanya mereka berjodoh."


"Emm, maaf.." gumaman Naura membuat Dave tersadar.


"Tidak masalah. Kau menginginkan buku ini?"


Dengan cepat Naura mengangguk.


"Baiklah." Dave lalu memberikan buku yang di pegangnya pada Naura.


Untuk sesaat Naura mengerjap-erjapkan matanya.


"Kau yakin? Lalu bagaimana denganmu? Buku itu 'kan tinggal satu."


Dave tampak berpikir sebentar, setelah itu dia menatap Naura intens.


"Kita bergantian saja. Kau bisa memakainya lebih dulu, setelah itu baru aku."


'Oh god! Artinya aku akan bertemu lagi dengan pria ini.' gumam Naura dalam hati.


Sedangkan Dave, pria itu nampak tersenyum tipis, bahkan sangat tipis. Entah apa yang ada di pikirannya.


Hanya Tuhan dan dirinyalah yang tahu.