
New York city, USA.
8.40 pm
Seorang pria tengah berdiri di balkon kamarnya sembari memegang segelas white wine di tangan kanannya. Dia tak lain adalah Dave.
Pria itu memikirkan ucapan Daddy-nya yang terus saja memintanya untuk menerima perjodohan akan dirinya dan juga Scarlett, dengan embel-embel ingin memiliki seorang cucu.
'Jika memang itu yang daddy inginkan, aku bisa memberikannya untukmu, tanpa harus menjalani sebuah ikatan pernikahan.'
Dave mendesah panjang, kemudian meneguk white wine-nya hingga tandas.
Lagi-lagi ponselnya berdering. Dan tanpa melihat layarnya, Dave sudah tahu siapa yang menelponnya, jika tidak Naura maka Scarlett.
Karena Dave sedang banyak pikiran, maka dari itu dirinya tidak ingin mengangkat satupun panggilan tersebut. Yang ada, justru kepalanya akan bertambah pusing jika mendengarkan celotehan dari kedua wanita tersebut.
"Kau sudah memikirkannya?" Tanya seseorang di belakangnya, dia adalah Daddy-nya, Thomas.
"Bisakah jika kita jangan membahasnya sekarang?" Sahut Dave tanpa membalikkan badannya.
"Kenapa? Apa kau pikir, kau masih muda? Ingat Dave! Kau sudah kepala empat, dan sebentar lagi akan memasuki kepala lima. Apa kau tidak ada niatan untuk menikah lalu memberikan daddymu ini seorang cucu?"
Inilah mengapa Dave tidak ingin pulang, pasti Daddy-nya akan membahas tentang menikah, menikah, lalu cucu.
Melihat keterdiaman putranya, membuat pria yang sudah memasuki usia kepala enam itu membuang nafasnya kasar. Dengan langkah pelan, dia mendekat ke arah anaknya dan berdiri di sampingnya.
"Dave.." Seru Thomas sambil memegang bahunya.
"Daddymu ini sudah tua, bagaimana jika---"
"Oh ayolah, Dad. Tidak bisakah kau berhenti bicara? Jika bukan tentang pernikahan, pasti kau akan membicarakan tentang kematian." Potong Dave sambil menatap Daddy-nya kesal.
Thomas terkekeh, ternyata putranya ini sudah tahu apa yang akan dia katakan. Tapi memang benar 'bukan? Bahwa dirinya kini tak muda lagi, dan bisa saja dirinya sakit-sakit lalu malaikat maut mengambil nyawanya.
Memikirkan itu, membuat Thomas menggelengkan kepalanya berulang kali.
Jangan sampai aku mati sebelum memiliki cucu. pikirnya.
"Jika saja dulu kau tidak menjadi seorang detective abal-abal, mungkin kau sudah menikah saat ini."
Nah 'kan, lagi-lagi Daddy-nya membahas sesuatu yang membuatnya kesal dan tidak ingin mengingat-ingatnya lagi.
"Dad..." Melas Dave, seolah meminta Daddy-nya untuk tidak membicarakan tentang masa lalunya.
"Apa? Memangnya kata-kataku ada yang salah?" Timpal Thomas santai.
'Dasar kau pak tua menyebalkan. Untung saja Daddyku.' Batin Dave geram.
"Davee..."
"Apalagi, Dad?" Tidak habis-habisnya Daddy-nya ini berbicara. Pasti ada saja yang Thomas katakan untuk memojokannya Dave.
"Ayolah menikah. Daddy ingin memiliki cucu.."
Dave menatap geli Daddy-nya yang merengek seperti itu.
Karena sudah terlanjur kesal, Thomas memukul kepala Dave dengan cukup kuat.
"Untung saja anakku hanya dirimu, jika tidak..mungkin aku sudah menjatuhkanmu dari atas balkon ini.." Thomas lalu memilih untuk pergi dari sana sembari terus menggerutu.
Dan menyisakan Dave yang tergelak sambil mengelus kepalanya yang memang sakit akibat pukulan dari Daddy-nya.
"Kau memang sudah tua, tapi tenagamu seperti tiada habisnya." Kekeh Dave, lalu...
Brakkk
Lagi-lagi dia tergelak saat melihat Daddy-nya yang menutup pintu kamarnya dengan membantingnya.
"Dasar pak tua pemarah.."
...* * *...
Sudah larut malam, namun Naura tidak kunjung tidur. Dirinya terus saja mengecek ponselnya, siapa tahu Dave membalas pesan darinya, namun nihil.
Gadis itu menghela nafasnya pelan, lalu memutuskan untuk keluar kamarnya dan menuju kamar Noah. Malam ini, Noah tidur di rumah itu karena paksaan dari Mommy-nya.
Setidaknya, Naura memiliki teman untuk dia ajak bicara.
Mata Naura mengamati sekelilingnya, siapa tahu masih ada yang belum tidur. Bahkan semua lampu telah di matikan, jadi Naura hanya menggunakan senter ponselnya sebagai penerang jalannya.
"Noah..." Panggil Naura dengan suara kecil, sembari mengetuk pintu kamar Noah.
"Noah.." Naura terus memanggil dan mengetuk pintu tersebut.
Hingga akhirnya, perjuangannya selesai saat melihat seseorang keluar dari balik pintu itu.
"Ada apa?" Tanya Noah sambil mengusap matanya. Terlihat sekali jika pria itu baru saja bangun dari tidurnya akibat ulah dari Naura.
"Aku ingin bercerita.." Rengek Naura sembari menggoyang-goyangkan tangan Noah.
Noah menguap sejenak, kemudian menatap saudari kembarnya ini jengkel.
"Apa kau tidak tahu waktu?"
Seketika Naura memasang wajah cemberut.
"Cepat kembali ke kamarmu, lalu tidur." Noah kembali masuk ke dalam kamarnya, tak lupa untuk menutup pintunya.
"Menyebalkan.." Pekik Naura dengan suara tertahan. Gadis itu lalu kembali ke kamarnya dengan menghentak-hentakkan kakinya.
Di tempat lain, Dave kini telah berada di pesawat. Setelah berbicara pada Daddy-nya, Dave memutuskan untuk kembali ke Sisilia karena urusan pekerjaannya masih banyak.
Awalnya Thomas tidak mengizinkan, tapi Dave berusaha menyakinkan pria paruh baya itu, dan berakhir dengan di izinkannya dia kembali ke Sisilia.
Dave melirik jam tangannya, sekarang menunjukkan pukul tengah malam. Dan bisa Dave prediksi, bahwa dia akan tiba pada dini hari.
"Baiklah, Dave. Lupakan masalahmu, dan kembali fokus bekerja.." Gumam Dave yang menyemangati dirinya sendiri.
Kemudian pria tersebut memutuskan untuk tidur, agar saat pesawatnya landing, tubuhnya kembali fit dan bisa membawanya untuk menuju ke apartement.