Chasing My Love

Chasing My Love
CHAPTER 18 Naura's POV



"SELAMAT PAGI.." teriak seseorang yang baru saja memasuki kamarku. Tanpa harus membuka mata, aku tahu siapa pemilik dari suara itu.


"Marvell, jangan menggangguku.." gumamku sambil membenamkan wajahku ke bantal.


"Ehh? Aku bukan ingin mengganggumu, My Sist. Tapi aku ingin mengajakmu untuk berangkat ke kampus. Apa kau tidak melihat jika sekarang sudah jam berapa?"


"Aku mengambil cuti saja yaa? Jadi, kau bisa berangkat ke kampus sendiri.."


Marvell mengernyitkan alisnya, kemudian menghampiriku.


"Apa kau sakit?"


"Tidak. Hanya saja aku lelah dan masih sangat mengantukkk.." Aku menguap lebar, dan dengan kurang ajarnya, si Marvell menyumpalkan selimut ke mulutku.


"Marvell.." pekikku kesal. Namun pria itu tidak mengindahkannya sama sekali.


"Cepat bangun. Atau kau mau kuadukan pada daddymu?"


Aku menatapnya sinis, "Dasar tukang ngadu."


"Terserah..sudah sana cepat mandi. Kau ini bau sekali." Kemudian Marvell keluar dari kamarku dengan tampang tak berdosanya itu.


Dan dengan sangat terpaksa, Aku bangun dari berbaringku dan berjalan menuju kamar mandi. Karena nyawaku yang belum sepenuhnya terkumpul, aku tidak sadar jika pintu kamar mandi belum kubuka.


Dugghh


"Aww.." Aku mengusap keningku, lalu menatap pintu tak berdosa itu tajam.


"Dasar pintu sialan.." pekikku kesal sambil menendang pintu tersebut.


"Ada apa?" Tiba-tiba Marvell masuk kembali dengan wajah yang penuh dengan rasa penasaran.


"Tidak ada. Sana keluar." ketusku sembari mengusirnya. Dan tanpa kata lagi, aku bergegas membuka pintu itu dan masuk ke dalam.


Sementara Marvell, pemuda itu tampak bingung bercampur heran. Terlihat sekali dari wajah dan juga ekspresinya.


...* * *...


Saat ini aku sudah berada di dalam mobil Marvell. Karena jam sudah menunjukkan pukul 7 kurang, kami memutuskan untuk langsung berangkat dan sarapan di mobil saja.


Aku menyantap sarapanku dan Marvell mengemudikan mobilnya. Sesekali aku menyuapi sepupu laknatku ini.


Tak butuh waktu lama, akhirnya kami tiba di tempat tujuan. Apalagi jika bukan kampus kami.


Saat aku dan Marvell baru keluar dari mobilnya, terlihat beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang bergerombol seperti tengah membicarakan sesuatu.


"Naura..." panggil Selvi dari kejauhan. Dan aku segera berlari kecil ke arahnya, tak lupa memberikan sapaan 'selamat pagi' pada temanku itu.


Awalnya aku tidak percaya akan memiliki seorang teman, apalagi aku tipe wanita yang sangat pemalu. Dan sulit sekali bagiku untuk bergaul dan cepat akrab dengan sekitarku.


Namun, karena ada Marvell, dan pria itu selalu mengatakan padaku; "Jangan insecure, tetap enjoy dan bersikap biasa."


Dan mulailah sejak itu aku berusaha untuk bersikap biasa, namun entah mengapa begitu sulit bagiku. Sampai akhirnya Selvi datang dan selalu berusaha mendekatiku. Walaupun aku sering menjauhinya, tapi dia tetap kekeh dan mengatakan ingin menjadi temanku.


Selvi said, "Kau wanita yang baik, dan aku harap aku bisa menjadi temanmu."


Karena senyum dan tatapannya yang tersirat tulus, akhirnya aku menerimanya menjadi temanku. Dan ketika aku memperkenalkannya dengan Marvell, ternyata mereka berdua sudah saling mengenal.


Aku pikir mereka satu sekolah dahulu, karena Selvi berasal dari negara yang sama dengan Marvell. Tapi ternyata bukan! Marvell dan Selvi kenal saat wanita itu tidak sengaja menabrak Marvell di kantin kampus hingga membuat pakaian Marvel menjadi kotor.


Okey, back to the topic.


"Pagi, Naura..." sapa Kevin yang berdiri di samping Selvi.


Aku tersenyum tipis dan membalas singkat sapaannya itu. "Pagi.."


Kemudian perhatianku kembali tertuju pada Selvi,


"Itu ada apa? Kenapa suasana disini tampak heboh?"


"Apa kau tidak tahu? Mr. Austin sudah ada yang menggantikannya. Dan yang kudengar, dosen baru kita itu tampan, namun sayangnya dia...dingin. Dan kuharap dosen baru itu tidak semenyeramkan Mr. Austin."


Aku tampak berpikir sejenak, "Memangnya Mr. Austin kemana?"


Seketika Selvi menepuk dahinya pelan. Dan tiba-tiba Marvell datang dan berdiri di sampingku, lalu pria itu menimpali ucapanku tadi.


"Mr. Austin sudah menikah. Dan sekarang pria itu pindah ke Canada."


"Benarkah? Darimana kau tahu?" Marvell berdecak, lalu dia menyentil dahiku pelan.


"Mangkanya, jika ada gosip terbaru, dengarkan! Bukannya malah memilih menyendiri lalu melamun."


Aku mendengus, dan memilih untuk tidak menimpalinya.


"Naura, dosen baru itu akan masuk ke kelas kita dengan mata kuliah pertama.." ujar Selvi antusias.


Sedangkan Marvell, Kevin, dan aku tampak tidak perduli. Dia ingin tampan, dingin, cuek dan bla bla blaa, aku tidak perduli sama sekali, lagipula ini bukan urusanku.


"Naura, ayo kita ke kelas dan bersiap-siap untuk menyambut dosen baru itu.." Dan tanpa izin, Selvi menarik tanganku begitu saja dan membawanya ke kelas.


Tak berselang lama, kami sudah tiba di kelas dan duduk di bangku masing-masing. Kuperhatikan kelas ini tampak ramai dengan semua mahasiswi yang duduk di bangku depan. Sedangkan aku dan Selvi, duduk di bangku barisan nomor 4.


Dan sisanya, para prialah yang menempatinya. Tidak ada satupun dari pria di kelas itu yang berani mengusir para kaum wanita yang duduk di bangku mereka yang ada di depan. Jika mereka melakukannya, maka siap-siap akan terjadi perang ketiga antara wanita dan pria di kelas itu.


Hebat bukan para wanita di kelaskušŸ˜…


"Dosennya datang, dosennya datang..." seru seorang wanita yang bernama Lily.


Mendengar itu, membuat semua mahasiswa di kelasku menjadi diam dan duduk yang rapih.


Tiba-tiba jantungku berdegup dengan kencang, dan aku pun menyentuh dadaku.


'Ada apa ini? Mengapa jantungku berdetak dengan tidak normal?'


Saat dosen baru itu masuk, mataku langsung membulat seolah ingin keluar.


Jadi..dia dosen baru itu? pikirku.


Sekarang aku tahu kenapa jantungku berdetak dengan sangat cepat.


Lalu pandangan kami pun bertemu. Tatapannya dingin nan datar, namun tersirat dari matanya itu yang menunjukkan sesuatu yang sulit untuk kupahami.


Dia adalah...


DAVE


My First Love ā¤