
Setelah berbincang cukup lama dengan Scarlett, Naura memutuskan untuk pulang. Sebelumnya, dia sudah mengirim pesan kepada Jo agar menjemput dirinya.
"Mrs----"
"Jangan panggil aku seperti itu lagi." Potong Scarlett,
"Call me Scarlett, just Scarlett."
"Tapi.."
"Tidak ada tapi-tapian, Naura. Bukankah sekarang kita teman?" Naura dengan lekas mengangguk sambil tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu." Pamit Naura saat matanya menangkap kehadiran Jo.
Scarlett mengangguk kecil, "Hati-hati."
Naura tersenyum, "Kau juga."
Lalu gadis itu berlalu dari sana dan lekas masuk ke dalam mobilnya.
Dari dalam mobil, Naura melambaikan tangannya kepada Scarlett, yang tentu saja Scarlett membalas lambaian tangan darinya.
"Aku harap kita bisa bertemu lagi, sweet girl." Gumam Scarlett sambil memandangi mobil Naura yang sudah menjauh.
...* * *...
Keesokan harinya....
Seperti biasa Naura akan melakukan aktivitasnya, yaitu pergi ke sekolah. Namun sebelum itu, dia pasti akan mampir terlebih dahulu ke apartement Dave.
Sembari bersenandung kecil, Naura melangkahkan kakinya menuju apartement sang pujaan hati.
Naura berdehem pelan, kemudian mengetuk pintu tersebut.
Tak lama, terdengarlah suara pintu yang di buka dan muncullah seorang pria dengan pakaian casual.
"Dave, kau tidak berangkat ke kantor?" Tanya Naura sambil meneliti pakaian Dave.
"Tidak. Aku sedang ingin berdiam diri di apartementku." Balas Dave acuh, lalu melengos masuk dan duduk di sofa.
"Apa kau sudah sarapan?" Tanya Naura yang ikut menyusul masuk ke dalam, kemudian berdiri di samping Dave.
"Hmm," Sahut Dave tanpa minat.
Naura kemudian mengangguk-anggukan kepalanya, lalu gadis itu mengeluarkan sesuatu di dalam tasnya.
"Walaupun kau sudah sarapan, kau bisa menyimpan fried rice ini. Siapa tahu kau akan lapar lagi nanti."
Dave menatap kotak makanan yang di sodorkan oleh Naura. Dan tanpa pikir panjang, Dave menerima itu.
"Sudah?"
Naura mengangguk, "Kalau begitu, aku akan pergi ke sekolahku."
"Hmm, sampai jumpa."
"Sampai jumpa kembali." Timpal Naura sambil tersenyum, namun dirinya tak kunjung pergi dari sana.
Dave mengeryitkan dahinya bingung, "Ada apa? Kenapa kau belum pergi juga?"
Naura tersenyum misterius, lalu...
Chupp~
Lagi-lagi Dave kalah telak. Setelah melakukan itu, Naura pasti akan kabur. Karena dia tahu, Dave pasti akan berteriak setelah ini.
"NAURA..."
Nah 'kan, benar saja!
...* * *...
Dua hari kemudian...
"Huffttt..." Untuk kesekian kalinya Naura menghela nafasnya panjang.
Gadis tersebut sedang di landa kebosanan. Bagaimana tidak? Biasanya, dia akan menemui sang pujaan hati. Namun kini, sang pujaan hati itu sedang kembali ke negaranya, New York.
Apalagi besok kedua orangtuanya sudah kembali, dan itu membuatnya tidak akan bisa lagi untuk bebas bertemu Dave.
"Bagaimana sekarang?" Gumam Naura bingung sambil menggigiti kukunya.
Lalu Naura mengambil ponselnya yang tak jauh darinya, dan segera menghubungi Dave. Dan lagi-lagi Naura di buat kesal, karena bukan Dave yang menjawabnya, melainkan operator.
"Davee..kau membuatku marah!!" Geram Naura lalu menggigiti bantal tidurnya.
Merasa lelah dan juga bosan, akhirnya Naura memutuskan untuk keluar. Dia tidak tahu akan kemana, yang penting keluar saja dulu.
"Kita akan kemana, nona?" Tanya Jo sembari melirik majikannya dari kaca spion.
Naura tampak berpikir sejenak, "Eugh..jalan saja dulu. Nanti aku akan menunjukkan tempatnya."
Jo mengangguk lalu menjalankan perintah majikan mudanya itu.
Ketika baru seperempat jalan, mata Naura tak sengaja menatap seseorang yang sepertinya tidak asing baginya.
"Mrs-- Emm maksudku, Scarlett." Gumam Naura pelan,
'Apa yang dia lakukan disana?' Tambahnya.
"Jo, kita kesana!" Tunjuk Naura pada sebuah gedung besar, yang merupakan sebuah butik terkenal disana.
"Baik, nona." Jo segera membelokkan mobil itu dan membawa Naura ke tempat yang di tunjuknya.
"Kau tunggu disini.." Ujar Naura sebelum keluar.
"Scarlett.." Panggil Naura setengah berteriak. Yang di panggil lekas menoleh dan mencari sumber suara.
"Naura.." Scarlett tidak menyangka jika bisa bertemu kembali dengan gadis cantik nan manis itu.
Dengan sedikit berlari, Naura menghampiri Scarlett dan berdiri di depannya.
"Aku pikir, aku salah melihat tadi."
Scarlett tersenyum, "Benarkah? Berarti kau sudah melihatku sedari tadi?"
Naura mengangguk cepat, tak lupa dengan senyum manis yang selalu mengiringi wajah polosnya.
"Emm..bisakah kau temani aku untuk sekedar bicara?" Ujar Naura kikuk,
"Aku benar-benar bosan di rumah dan butuh teman untuk bicara." Tambahnya dengan wajah cemberut.
Scarlett tertawa, lalu mencubit kedua pipi Naura karena terlanjur gemas.
"Baiklah. Tapi tunggu sebentar, aku akan bicara dulu pada pemilik butik ini, oke?"
"Oke."
"Kau bisa tunggu disana sembari menungguku."
Mata Naura mengikuti arah yang di tunjuk Scralett.
"Baiklah. Kau jangan lama-lama, oke?"
Scarlett mengangguk, dan lekas meninggalkan Naura. Begitupun Naura, sepeninggal Scarlett, dirinya segera menuju tempat yang di tunjuk oleh wanita itu.