Chasing My Love

Chasing My Love
CHAPTER 17



Suara kicauan burung di pagi hari, menjadi teman bagi Naura ketika hendak berangkat ke kampusnya. Baru saja wanita itu membuka pintu apartementnya, tiba-tiba muncullah sosok pria dari balik pintu tersebut.


Namun itu tidak membuat Naura terkejut, karena pria itu memang selalu datang di pagi hari untuk menjemputnya.


"Apa kau sudah sarapan?" Naura lekas menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan dari pria di depannya ini.


"Kita berangkat sekarang?" tambah pria itu. Dan lagi-lagi Naura mengangguk.


"Tapi jemput Selvi dahulu.."


"Dia sudah berangkat tadi." sahut pria tersebut malas, yang tak lain adalah Marvell.


Jika dirinya mendengar nama Selvi, entah mengapa Marvell berubah menjadi kesal. Mungkin karena setiap pertemuannya dengan wanita itu yang bisa di bilang tidak pernah menyenangkan.


"Darimana kau tahu?"


"Aku melihatnya saat sedang menuju kemari."


Marvell lalu melengos lebih dulu dan di susul oleh Naura di belakangnya. Namun sebelum itu, Naura tak lupa untuk mengunci pintu apartemetnya.


Mereka berdua sudah ada di dalam lift. Dan bisa di katakan bahwa di dalam lift tersebut cukup ramai seperti biasa. Dan disinilah yang membuat Marvell lebih waspada dan hati-hati, karena kadang tidak sengaja ada yang menabrak Naura hingga membuat wanita itu hampir terjatuh.


Marvell menggenggam tangan kanan Naura ketika berada di dalam lift hingga berjalan keluar menuju tempat dimana mobilnya terparkir, barulah setelah itu Marvell melepaskan tangannya.


Fyi, Mobil yang menjadi kendaraan Marvell ketika berangkat ke kampusnya, adalah pemberian dari pamannya, Damian. Sebagai gantinya, Marvell akan terus menjaga Naura selama disini.


Hanya sekitar 30 menit, mereka telah tiba di kampus. Dan langsung saja mereka keluar dari mobil dan berjalan menghampiri Selvi yang sudah menunggu kedatangan Naura.


"Pagi, Naura..." sapa Selvi riang seperti biasanya.


"Pagi." balas Naura singkat sambil tersenyum simpul.


"Apa kau tidak ingin menyapa Marvell juga?" tambahnya sembari melirik Marvell di sampingnya.


Mata Selvi langsung beralih pada Marvell, dan menatap pria itu malas.


"Pagi, Marvell.."


"Hmm," Marvell membalasnya dengan deheman singkat. Dan tanpa kata, Marvell meninggalkan kedua wanita itu saat matanya melihat temannya yang menuju kemari.


Pria itu langsung menarik lengan temannya dan membawanya menuju ke kelas mereka yang sebentar lagi akan di mulai.


"Vell, aku akan menyapa Naura dulu.." protes Kevin yang tidak terima pada Marvell yang langsung menariknya begitu saja.


Namun Marvell tidak mengindahkannya dan terus saja membawa Kevin agar menjauh dari sana.


"Dasar cowok sok cool." decak Selvi sambil memandang kesal punggung Marvell yang mulai menjauh.


Naura tertawa kecil, "Sudahlah, ayo ke kelas."


Akhirnya Selvi mengangguk walaupun wajahnya masih merengut kesal. Gadis dari negara yang sama dengan Marvell itu, melangkahkan kakinya dan berjalan beriringan dengan Naura menuju ke kelas.


...* * * ...


"Naura, ayo kita ke jalan-jalan. Aku bosan terus-menerus di apartementku.." ajak Selvi.


Namun sayangnya Naura menggelengkan kepalanya, "Lain kali saja, oke? Aku sedang ingin istirahat sekarang."


"Ayolah, Naura." Selvi menarik-narik tangan Naura layaknya anak kecil yang ingin minta belikan mainan.


"Kalau Naura bilang, enggak. Ya jangan di paksa, O*n." Tiba-tiba Marvell datang dan langsung menarik lengan Naura agar menjauh dari Selvi.


"Lo bilang gue apa tadi?" pekik Selvi kesal.


"O2N."


"Dasar cowok gak ada otakk.." teriak Selvi, wanita itu lalu mendekati Marvell dan memukulinya dengan tas miliknya.


Naura hanya bisa menjadi penonton, dia sudah terbiasa dengan pemandangan seperti ini. Jadi, dia tidak akan heran lagi.


"Emm, Naura?"


Panggilan itu membuat Naura segera menoleh, dan dilihatnya seorang pria tengah berdiri di sampingnya dengan senyum menawan. Tapi sayangnya, Naura tidak tertarik ataupun terpesona sedikitpun dengan pria itu.


"Ada apa?" tanya Naura dengan alis yang mengkerut.


Seketika Kevin menggaruk tengkuknya yang tak gatal, kemudian pria tersebut terkekeh. Pasalnya dia bingung ingin berbicara apa pada wanita yang sejak lama dia kagumi ini.


"Sakit, b*go.." teriakkan dari Marvell mengalihkan pandangan Kevin dan juga Naura.


Dan yang mereka lihat saat ini, Selvi tengah menjambak rambut Marvell yang terbilang lumayan panjang.


Naura meringis melihatnya, wanita itu kemudian mendekat ke arah mereka dan ingin melerainya. Baru saja hendak melerai, tiba-tiba Selvi tidak sengaja mendorong Naura. Hampir saja wanita itu terjatuh, jika saja tidak ada yang menahan pinggangnya.


Untuk sejenak mata Naura dan Kevin bertemu, lalu dengan cepat Naura berdiri dan membenarkan posisinya. Sekaligus menggumamkan kata terima kasih kepada Kevin.


Dan tentu saja itu membuat Kevin tersenyum senang. Namun di balik senyumannya itu, terselip sebuah senyuman misterius yang tidak dapat di mengerti.


"KALIAN BERDUA, SUDAH CUKUP!!"


Suara teriakkan dari Naura, ternyata mampu menghentikan perkelahian di antara dua lawan jenis ini. Kini mereka mengerjap-ngerjapkan matanya, benarkah yang berteriak tadi adalah Naura?


Mata Naura tertuju pada Selvi lebih dulu.


"Sel, aku minta maaf. Tapi aku benar-benar tidak bisa menemanimu hari ini, tubuhku terasa letih dan butuh istirahat."


"Baiklah, aku mengerti.." cicit Selvi dengan kepalanya yang menunduk.


Kemudian tatapan Naura beralih pada Marvell yang sedang merapihkan rambutnya.


"Marvell, ayo kita pulang."


"Okey.." sahut Marvell, namun pria itu masih merapihkan rambutnya. Dan Naura pun berjalan lebih dulu menuju parkiran, hingga langkahnya terhenti saat mendengar suara teriakkan histeris dari Marvell.


"AAAA, RAMBUTKU MENJADI RONTOK..." Rasanya Marvell ingin pingsan saat melihat beberapa helai rambut berwarna ungu miliknya yang ada di sela-sela jarinya.