Chasing My Love

Chasing My Love
CHAPTER 25



▪Apartement Naura▪


Marvell, Kevin dan Selvi tampak cemas terhadap Naura yang belum juga kembali. Dan untung saja hari ini adalah hari libur, jadi untuk sejenak mereka tidak di pusingkan oleh mata kuliah mereka.


Sedari tadi Marvell mondar-mandir sembari berusaha menelpon Naura, namun tidak tersambung. Sementara itu, Selvi begitu khawatir terhadap temannya tersebut. Bahkan kini wanita itu sedang menunggu kedatangan Naura di depan pintu apartementnya.


Dan Kevin, jangan tanyakan lagi bagaimana raut wajahnya sekarang. Antara kesal dan juga cemas, kesal karena dia gagal dalam melancarkan aksinya dan cemas karena Naura tak kunjung kembali.


'Bagaimana jika Naura di perkosa oleh hidung belang disana? Atau dia di perkosa oleh teman-teman dari Lee?' Kevin menggelengkan kepalanya berulang kali untuk menepis pikiran buruknya itu.


Marvell berdecak, "Naura, kau itu kemana? Jangan membuatku khawatir seperti ini?"


Melihat temannya itu yang tampak lelah dan frustasi sejak semalam, membuat Kevin menghampirinya lalu memegang pundaknya.


"Kau tenang saja. Naura pasti akan baik-baik saja."


Marvell langsung menatapnya tajam, "Bagaimana bisa aku tenang jika dia belum kembali sampai saat ini?" teriaknya.


Kemudian pria itu mengusap wajahnya kasar.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud.."


"Tidak apa-apa. Aku tahu kalau kau sedang mencemaskan Naura."


Marvell benar-benar merasa menyesal. Jika dia tahu akan terjadi seperti ini, maka dia tidak akan mengajak Naura ke pesta tersebut.


"NAURA..." teriakkan dari Selvi membuat Marvell dan Kevin segera menuju keluar.


Dan nampaklah Naura yang berjalan pelan dengan pandangan kosong ke depan. Seolah raganya disini, namun tidak dengan jiwanya.


Dengan cepat Marvell menghampirinya dan memeluk tubuh wanita itu.


"Kau darimana saja? Aku sudah berusaha mencarimu dan menghubungimu sedari malam."


Bukannya menjawab, Naura justru berbalik tanya namun pandangannya masih lurus ke depan.


"Kemana kau semalam?"


Seketika Marvell menundukkan kepalanya.


"Maafkan aku, harusnya aku tidak meninggalkanmu sendiri."


Tidak ada jawaban. Membuat Marvell menatap wanita itu dengan wajah cemasnya.


"Kau tidak apa-apa 'kan? Atau ada yang menyakitimu? Katakan saja padaku, aku akan..."


Belum selesai Marvell mengucapkan kata-katanya, Naura memilih untuk meninggalkannya dan langsung menuju kamarnya.


Dan yang menjadi pusat perhatian mereka adalah cara jalan Naura yang berbeda. Dan mereka bukan anak kecil lagi yang tidak tahu akan hal itu.


Marvell mengepalkan kedua tangannya, dan hendak menghampiri Naura namun langsung di cegah oleh Selvi.


"Biarkan dia membersihkan dirinya dan juga beristirahat. Setelah itu barulah kita menemuinya dan mengajaknya bicara baik-baik."


Akhirnya Marvell membuang nafasnya kasar, namun menurut juga dengan apa yang Selvi katakan.


"Kau pasti belum makan sejak semalam. Bagaimana kalau aku membuat sarapan saja disini?" tambah Selvi.


"Terserah kau saja." Marvell lalu melangkah masuk kemudian duduk di sofa. Kevin dan Selvi mengikuti pemuda itu dari belakang.


"Kau bisa mengeceknya sendiri."


"Oh, okey." Dan tanpa membuang waktunya lagi, Selvi segera melengos pergi menuju dapur. Dan tersisalah kedua pemuda yang tengah duduk di sofa.


Wajah Kevin terlihat heran dan bingung, kira-kira siapa yang berhasil mengambil kesempatannya itu. Dan tanpa sadar pria itu menggeram kesal, dan itu di dengar oleh Marvell.


"Ada apa?" tanya Marvell aneh.


"Tidak ada." balas Kevin cepat. Kemudian segera mengalihkan pandangannya dari Marvell.


Marvell kembali terdiam dengan wajah datarnya. Kini pikirannya masih di penuhi kondisi Naura yang cukup memprihatinkan. Apalagi dia sudah dewasa dan berumur dua puluh tahun, membuat Marvell tahu apa yang baru saja terjadi pada wanita itu.


'Maafkan aku, Uncle...Aunty...Noah.., aku tidak bisa menjaga Naura.' Marvell dengan cepat menyeka air matanya.


Ingin sekali aku berteriak, "Woyy Marvell, noh biang keroknya ada di samping loe." Namun apa kuasaku😢.


Maafkanlah author yang nimbrung dalam cerita✌😁.


Di lain tempat...


Naura terduduk di bawah guyuran shower yang membasahi tubuhnya. Ketika baru masuk ke kamarnya, Naura langsung menuju kamar mandi dan menyalakan shower tersebut tanpa melepas pakaiannya.


Jika ditanya bagaimana kondisinya saat ini, mungkin satu kata yang dapat mewakilkan, yaitu memprihatinkan.


Air mata Naura tidak ada yang keluar, mungkin sudah kering karena dirinya terlalu banyak menangis sejak semalam.


Dan jika ditanya bagaimana Naura pulang? Tentu saja wanita itu pulang dengan menggunakan taksi. Dan karena dompetnya ketinggalan di hotel tersebut, dengan sangat terpaksa Naura merelakan ponselnya untuk membayar supir taksi itu.


Tidak ada yang Naura katakan. Karena dia sendiri tidak tahu harus bicara apa lagi. Rasanya dia ingin menenggelamkan saja tubuhnya ini ke dalam bathup, namun Naura memikirkan bagaimana nasib keluarganya nanti.


Sedih, marah, kecewa, frustasi dan lelah, menjadi satu dalam dirinya. Tapi dia marah bukan pada orang lain, melainkan pada dirinya sendiri.


Tokk tokk


"Naura, jika kau sudah mandi, tolong keluarlah. Kita harus bicara!" Terdengar suara Marvell dari balik pintu kamar mandinya, karena memang pintu kamarnya tidak dia kunci.


Naura tidak menjawabnya. Bahkan untuk mengeluarkan suarapun, rasanya dia sudah tidak sanggup lagi.


Dan Marvell yang mengerti, segera pergi dari kamar itu dan menunggu wanita tersebut keluar dari kamarnya. Jika dalam waktu 15 menit Naura tidak kunjung keluar, jangan salahkan Marvell yang akan mendobrak pintu kamar mandinya.


"Sarapannya sudah siap..." ujar Selvi yang baru kembali dari dapur.


Namun tak ada yang menimpali bahkan memperdulikan ucapan dari wanita itu. Karena Selvi yang tahu situasi saat ini, memilih untuk tidak mempersalahkannya. Jika tidak dalam kondisi yang seperti ini, mungkin Selvi akan mengamuk karena merasa di abaikan.


Selvi menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Emm, apakah kalian tidak ingin sarapan?" tanya-nya hati-hati.


Lagi-lagi tidak ada yang menbalas kata-katanya.


'Okey fikss, gue diem.' gumam Selvi dalam hati dengan logat bahasa indonesianya.


Wanita itu hendak mendaratkan bokongnya, namun tak jadi saat melihat Naura yang keluar dari kamarnya dengan penampilan yang lebih fresh.


"Naura..." sapa Selvi sambil tersenyum.


Marvell dan Kevin yang awalnya tidak menyadarinya, segera menoleh pada arah pandang Selvi. Dan dilihatlah Naura yang sedang berdiri menatap mereka dengan senyum simpulnya, seolah tidak ada yang terjadi pada wanita itu.