Chasing My Love

Chasing My Love
CHAPTER 16



▪Kantor Dave▪


Saat ini Dave tengah duduk di kursi kebesarannya sembari menatap kosong pintu utama di ruangan tersebut, seperti sedang menunggu kedatangan seseorang.


Lalu sebuah senyum kecut muncul di bibirnya saat dirinya ingat bahwa orang yang dia tunggu tidak akan pernah datang kembali kesini.


Pria itu kemudian bangun dari duduknya dan berjalan ke arah balkon. Untuk sesaat Dave menatap hamparan kota dengan pandangan kosong, lalu ia tersenyum nanar tatkala ingat bahwa semuanya akan berubah mulai sekarang.


"Dia sudah pergi, Dave. Dan jangan lupa bahwa dia pergi karena keinginanmu." gumamnya, kemudian pria itu kembali masuk ke dalam ruangannya.


...* * * ...


Sebulan kemudian....


"Sudah berapa kali kukatakan padamu, Dad. Bahwa aku tidak ingin menikah." seru Dave sambil mengemasi barang-barangnya.


Thomas berdecak, "Kenapa kau ini tidak bisa menurut sama sekali, heh?"


Dave membuang nafasnya kasar, pria itu lalu berbalik dan menatap daddy-nya lelah.


"Dad, aku sudah besar dan dewasa. Biarkan aku memilih jalanku sendiri."


"Oke-oke, daddy mengerti. Terserah kau saja ingin melakukan dan berbuat apa, tapi...daddy hanya memintamu untuk menikah, itu saja."


"Tunggu aku siap, oke? Setelah itu, aku akan memberikan daddy satu lusin cucu."


Thomas menggepak kepala putranya tersebut.


"Kapan hah? Tunggu daddymu ini sekarat dulu, baru kau mau menikah?"


"Daddy, jangan berbicara seperti itu." sahut Dave dramatis.


"Kenapa memangnya?"


"Itu berdosa."


Glepakkk


Satu pukulan kembali Dave rasakan di kepalanya, sehingga membuat pria tersebut meringis kesakitan.


"Daddy ini suka sekali memukulku?" gerutunya sambil mengusap kepalanya.


"Karena kau anak kurang ajar." timpal Thomas dengan tatapan tajamnya.


"Jika aku kurang ajar, lalu daddy apa? Ayah yang durhaka?"


"Kau..." Thomas geram dan hendak memukulnya lagi, namun di urungkannya saat Dave meminta ampun padanya.


"Daddy ini galak sekali." gumam Dave pelan.


"Kau bilang apa?"


"Ehh, tidak ada." Dave tersenyum dan menampilkan deretan giginya yang rata.


Thomas menghela nafasnya. Kini wajahnya berubah menjadi serius. Matanya melirik sebuah koper yang sudah siap dan beres.


"Kau yakin dengan keputusanmu?"


Dave yang tahu arah dari pembicaraan daddy-nya kali ini, lekas mengangguk.


"Daddy tenang saja. Aku akan bekerja juga di perusahaan kita. So...aku akan mengerjakan dua pekerjaan sekaligus."


"Dave, kau itu sudah tua. Jangan terlalu banyak bekerja, nanti kau bisa sakit."


Dave mendengus tidak terima, "Daddy yang sudah tua, bukan aku."


"Terserah kau sajalah. Tapi ingat, jaga kesehatanmu."


"Itu pasti, dad."


"Oh ya, mengapa kau tidak mengambil Universitas disini saja?"


"Aku sudah mendaftar di Universitas yang ada di Italia, dad."


Thomas berOh ria sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


"Iya, daddy." jawab Dave malas. Daddy-nya ini senang sekali mengulang-ulang kata-katanya.


"Ya sudah, kalau begitu kau tidur. Good night."


"Too.." Setelah itu Thomas keluar dari kamar putranya menuju ke kamarnya.


Dan Dave? Pria itu menatap intens kopernya sembari tersenyum tipis.


"Besok semuanya akan di mulai kembali. Awal yang baru, dan aktivitas yang baru."


Yaa, Dave memang sudah satu minggu ini berada di New York untuk menemui daddy-nya sekaligus mengambil barang-barangnya yang penting untuk dia bawa ke Italia.


Sekarang Dave tidak tinggal di Sisilia, pria itu akan memulai hidup baru di ibukota Roma.


...* * * ...


3 tahun berlalu....


London, England.


8.03 pm


"Hay Little Wilson.." sapa seorang wanita dari balik layar.


"Hay aunty.." timpal wanita lain yang mewakili anaknya.


"Apa kabarmu hmm?"


"Aku baik, aunty. Dan aunty sendiri apa kabar?"


Wanita itu terkekeh geli mendengar namanya yang di sebut aunty oleh kakak iparnya itu.


"Aku baik. Oh ya, dimana Noah?" tanya-nya saat tidak melihat kehadiran dari saudara kembarnya itu di balik layar.


"Dia sedang mandi." sahut Mecca sembari melirik ke arah sampingnya yang terdapat kamar mandi.


Naura mengangguk-anggukan kepalanya.


"Aunty kapan pulang?" Pertanyaan itu selalu di lontarkan oleh orang terdekatnya saat dia melakukan video call atau hanya sekedar melakukan panggilan.


Wanita itu mengulas senyumnya, "Aku tidak tahu."


Itulah jawaban yang selalu dia berikan saat di tanya akan hal itu.


Terlihat Mecca memasang wajahnya sedih.


"Apa kau tidak merindukan kami? Setidaknya, Little Wilsonmu ini."


Naura meringis, "Maaf. Aku akan pulang, tapi tidak untuk sekarang."


Akhirnya Mecca mengangguk pelan. Sekeras apapun dia meminta Naura untuk kembali pulang, maka jawaban dari gadis itu tetaplah sama.


"Sayang..." Tiba-tiba terdengar sebuah suara dari arah kamar mandi di samping Mecca, siapa lagi jika bukan Noah.


"Emm, Naura. Sudah dulu yaa? Noah memanggilku." ujar Mecca sambil tersenyum malu.


"Okey, aku mengerti." kekeh Naura dengan tersenyum menggoda.


Lalu wanita itu memberikan ciumannya di balik layar kepada Levis yang baru berusia 2 tahun.


Mecca tersenyum, kemudian melambaikan tangannya kepada Naura.


"Sampai jumpa.."


"Sampai jumpa kembali.." Panggilan video mereka pun terputus. Dan itu membuat Naura tersenyum tipis.


'Tidak terasa sudah tiga tahun berlalu. Namun belum pernah sekalipun aku kembali ke negara asalku.'


Trauma...


Mungkin seperti itulah yang terjadi pada dirinya. Naura takut jika dia kembali, maka luka dalam hatinya akan kembali terbuka. Walaupun sebenarnya luka tersebut belum tertutup sepenuhnya.