Chasing My Love

Chasing My Love
CHAPTER 22



Setelah berbicara sejenak dengan Dave, Naura memutuskan untuk kembali ke kelas. Dan ternyata disana sudah ada Selvi, pasalnya wanita itu sedang berada di kantin saat Naura pergi ke perpustakaan.


"Bagaimana? Apa bukunya ketemu?" tanya Selvi saat melihat Naura mendaratkan bokongnya tepat di sampingnya.


Naura tidak menjawab, justru dia menunjukkan buku yang di bawanya.


"Baguslah."


"Oh ya, tadi Kevin menanyakan keberadaanmu. Dan kujawab saja, jika kau sedang berada di perpustakaan."


Selvi terlihat bingung saat melihat ekspresi Naura setelah mendengar kata-katanya yang baru saja dia ucapkan.


"Ada apa?"


Naura menggeleng pelan, kemudian memilih untuk membuka buku yang di ambilnya di perpustakaan tadi.


Namun, bukan Selvi namanya jika diam begitu saja. Wanita itu malah merapatkan bangkunya ke samping Naura, dengan tatapan yang mengintimidsi.


"Katakan padaku! Ada apa? Dan apa hubunganmu dengan Kevin?"


"Tidak ada apa-apa di antara kami." balas Naura acuh.


"Benarkah? Tapi kenapa ekspresimu terlihat tidak senang setelah mendengar namanya?"


Bukk


Naura menutup buku itu dengan kesal, "Tidak bisakah jika kau berhenti bicara?"


Selvi mendengus sebal, "Ucapamu ini mirip sekali dengan Marvell."


"Terserah. Yang jelas, diamlah. Aku sedang berkonsentrasi dengan buku ini." Wanita itu kembali membuka bukunya. Dan tidak memperdulikan Selvi yang terus menggerutu tidak jelas.


...* * * ...


Karena Naura sudah melihat dan mempelajari setiap lembar dari buku itu, dia pun bermaksud untuk memberikannya kepada Dave.


Wanita itu melangkah ringan menuju ruangan Dave. Dan setibanya di tempat tujuan, Naura mengetuk pelan pintu itu.


Dan tak lama, terdengar suara pemilik dari ruangan itu yang mengizinkan Naura untuk masuk.


Clekk


Dengan pelan, Naura melangkahkan kakinya menghampiri Dave yang sedang duduk di kursinya.


"Ada apa?" tanya Dave yang belum juga mendongakkan kepalanya untuk menatap seseorang yang masuk ke dalam ruangannya.


"A-aku...ingin memberikan buku ini padamu."


Mendengar suara itu, membuat Dave lekas mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas yang bertumpuk di mejanya.


"Naura..." gumamnya lirih. Lalu matanya tertuju pada buku yang di ulurkan Naura.


Dengan cepat Dave mengambilnya dan meletakkan buku itu di atas mejanya. Setelah itu Naura pamit mengundurkan diri dari ruangan tersebut. Baru saja beberapa langkah, suara Dave justru mengintrupsinya.


"Apa kau..sudah melupakanku?"


Hening...


Ibarat malam, hanya suara jangkrik yang terdengar.


Naura tidak menjawabnya ataupun membalikkan badannya. Karena saat ini, dirinya pun tengah bertengkar dengan hatinya.


'Masihkan aku mencintainya? Ataukah perasaan itu sudah lama tiada.'


"Nana.."


Panggillan itu...


Baru saja Naura keluar dari ruangan Dave, tiba-tiba dirinya di kejutkan oleh seorang pria yang sepertinya sudah menunggunya sedari tadi.


'Apa dia mendengar yang Dave ucapkan di dalam tadi?' batin Naura berharap cemas.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Naura yang berusaha bersikap biasa.


"Aku? Tentu saja menunggumu. Kau ini lama sekali di dalam, apa yang sebenarnya kau lakukan?" decak Marvell.


"Tidak ada. Kenapa kau mencari dan menungguku?"


"Aku cuman ingin mengatakan, Lee mengadakan pesta malam ini. Dan dia mengundang semua orang terdekatnya ke pesta itu, termasuk dirimu."


Naura mengernyit aneh, "Orang terdekat kau bilang? Jangankan orang terdekat, aku bahkan tidak tahu siapa itu Lee."


Langsung saja wajah Marvell berubah menjadi datar. Namun apa yang di katakan oleh Naura, memang tidak ada salahnya. Dia memang tidak tahu dan tidak kenal dengan Lee.


Dan yang membuat Naura lebih aneh lagi, kenapa Lee mengundangnya? Apakah Lee mengenalnya?"


"Kau ini bagaimana? Lee itu adalah Prince Charming disini." gerutu Marvell di barengi decakkannya.


"Terserah, aku tidak perduli. Lagipula, kenapa dia mengundangku? Mengenalku saja tidak."


"Dia itu mengenalmu dan tahu siapa dirimu."


"Benarkah? Memangnya, apa posisiku di kampus ini sehingga dia mengenalku?"


Marvell menggaruk kepalanya yang tak gatal, kemudian pria itu menunjukkan deretan giginya yang rapi.


"Sepupuku. Hanya itu yang dia tahu. Dan sebenarnya, aku yang memintanya untuk mengundangmu."


Sudah kuduga. pikir Naura malas.


"Maaf, Marvell. Tapi aku tidak ingin datang ke pesta itu. Kau sendiri tahu kalau aku tidak suka pada keramaian dan kebisingan." Naura kemudian berlalu dari sana, namun Marvell tak getar dan malah membuntuti Naura.


"Oh ayolah, Naura sayang. Kau datang yaa?" bujuk Marvell sambil merangkul bahu Naura.


Wanita itu menatap pria di sampingnya heran.


"Kenapa kau gencar sekali agar aku datang ke pesta itu?"


Lagi-lagi Marvell cengengesan, "Kau tahu? Pesta tersebut harus membawa pasangan dan aku tidak memilkinya. Oleh karena itu---"


"Kau mengajakku." potong Naura sebal.


"Tepat sekali." Pria itu lalu menunjukkan wajah memelasnya,


"Na, kumohon. Kau datang ya bersamaku?"


"Aku pikirkan dulu okey?" goda Naura yang ingin mengerjai Marvell.


"Naura..." rengek Marvell yang membuat Naura bergidik geli, dan itu semakin membuat wanita tersebut ingin mengerjainya.


"Sudah kukatakan 'bukan? Bahwa akan kupikirkan lebih dulu."


"Untuk apa di pikirkan?" gerutu Marvell jengkel.


"Tentu saja aku harus memikirkannya. Oh ya, mengapa kau tidak mengajak Selvi saja? Pasti dia akan senang bila kau mengajaknya."


Wajah Marvell langsung berubah datar.


"Jika kau tidak ingin ikut, ya sudah. Tapi jangan menawarinya padaku, karena itu adalah hal yang mustahil."


"Oh baiklah kalau begitu. Jadi aku tidak usah datang, tidak apa-apa 'kan?"


"Naura..." pekik Marvell kelewat jengkel. Dan itu berhasil membuat Naura tergelak.