Chasing My Love

Chasing My Love
CHAPTER 26



Marvell segera menghampiri wanita itu dengan raut wajah gelisah.


"Bisa kita bicara?" tanya-nya sambil memegang kedua bahu Naura.


"Bisakah jika kita sarapan dulu? Aku benar-benar lapar." balas Naura tenang, dan itu membuat ketiga manusia tersebut merasa heran.


'Mengapa dia bisa sesantai itu?' batin Kevin heran.


"Tentu saja. Kebetulan aku sudah menyiapkannya di atas meja." timpal Selvi riang,


"Kalau begitu, ayoo.."


Naura tersenyum, lalu dia menghampiri temannya tersebut. Kedua wanita itu pergi menuju ruang makan tanpa mengacuhkan kedua pria yang masih diam.


"Apa yang kau masak?" tanya Naura sambil mendaratkan bokongnya ke kursi.


"Hanya omelette, sandwich dan cappuccino. Karena hanya ada bahan itu di dapurmu."


Naura mengangguk-anggukan kepalanya, "Aku lupa untuk berbelanja."


"Sudahlah, tidak apa-apa. Yang penting masih ada yang dapat di makan." tambah Naura sambil tersenyum, wanita itu lalu mengambil makanan di atas meja lebih dulu.


Dan muncullah Marvell dan Kevin di ruangan itu, dan langsung saja mereka mengambil tempat duduk. Marvell di sisi Naura, dan Kevin di samping Selvi.


Naura menyantap makanannya lebih dulu, dan itu tak luput dari tatapan ketiga manusia disana.


"Berhenti menatapku. Lebih baik kalian makan sekarang, atau aku yang akan memakan semuanya." ujar Naura dengan mulutnya yang penuh.


Mereka bertiga saling bersitatap sejenak, kemudian ikut menyantap makanan seperti Naura.


Hampir sepuluh menit yang lalu mereka mengakhiri sarapannya, namun tak ada yang kunjung bicara ataupun sekedar berdiri. Mereka sibuk menatap Naura yang menjadi diam setelah sarapan.


Akhirnya Marvell mengalah, lalu membuka suaranya lebih dulu.


"Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Marvell datar. Namun Naura tidak menjawabnya, seolah wanita itu tidak mendengar apa yang Marvell katakan.


"Naura..." panggil Marvell, tapi masih belum ada respon. Sepertinya Naura tengah melamun.


"Naura..." panggil Marvell sekali lagi sambil menyentuh tangan wanita itu yang ada di atas meja. Dan itu berhasil membuat Naura kembali ke dunia nyatanya.


"Siapa yang melakukannya?" ulang Marvell dengan tatapan sendu.


Untuk sejenak Naura membalas tatapan itu, lalu dia segera mengalihkan pandangannya.


"Aku tidak tahu."


"Benarkah? Maksudku, saat kau kembali kesini, apakah pria itu tidak ada bersamamu?"


Naura menelan salivanya sulit, "Dia sudah pergi."


Kini Marvell terdiam.


"Bagaimana bisa ini terjadi? Dan bagaimana kau bisa melakukan hal itu pada pria yang kau sendiri tidak tahu?" sahut Selvi yang terbawa emosi.


"Aku tidak tahu. Yang kuingat, tubuhku terasa panas saat meminum sesuatu." balas Naura dengan pandangan kosong.


"Apa kau bilang? Terasa panas karena meminum sesuatu? Jangan-jangan itu----"


"Obat perangsang." potong Selvi cepat.


"Dasar berengs*k." tambahnya dengan gumaman.


"Siapa yang memberimu minum?" tanya Marvell dengan emosi yang tertahan.


"Aku tidak tahu. Yang kuingat dia seorang pelayan."


Selvi tampak berpikir sejenak, kemudian wanita itu menjentikkan jarinya.


"Aku tahu. Bagaimana kalau kita periksa kamera CCTV di hotel itu?"


Seketika wajah Kevin tampak pucat mendengarnya. Namun tak ada yang menyadari itu.


"Tidak usah. Percuma, itu hanya akan membuang waktu dan tenaga kalian saja." Setelah mengatakan itu, Naura memilih untuk pergi dan kembali ke kamarnya.


"Kenapa dia bisa berkata seperti itu?" tanya Selvi heran.


Marvell dan Selvi tampaknya membenarkan ucapan Kevin, buktinya tidak ada lagi yang menyela ataupun membalas perkataannya.


'Sepertinya aku lolos kali ini. Terima kasih, Naura..' Kevin akhirnya dapat bernafas lega. Sedetik kemudian, pria itu menyeringai bak setan yang mempunyai rencana lain.


...* * *...


Hari telah berganti. Dan saatnya untuk anak-anak kembali ke sekolahnya, dan remaja atau dewasa kembali ke kampusnya.


Seperti saat ini, Naura sudah lebih baik sejak kemarin. Hanya saja wanita itu menjadi agak pendiam.


Dan mulai hari ini, Marvell akan menjaga Naura dengan sangat ketat. Jika perlu, dia akan menjaga sepupunya itu selama 24 jam, karena Marvell tidak ingin kecolongan lagi.


Contohnya sekarang. Biasanya Marvell tidak pernah mengantar Naura sampai depan kelasnya, tapi mulai hari ini, detik ini, Marvell akan terus melakukannya.


"Pergilah ke kelasmu." ujar Naura.


"Kau masuklah dulu ke dalam kelasmu." sahut Marvell.


Naura menghela nafasnya lelah, "Berhentilah mengikutiku, Marvell. Lihat sekarang! Aku baik-baik saja."


"Itu menurutmu. Namun di mataku, kau tidak baik-baik saja. Cepat masuklah ke kelasmu, setelah itu baru aku akan pergi."


Karena tidak ingin memperpanjang perdebatannya, akhirnya Naura mengalah dan masuk ke dalam kelasnya. Setelah melihat Naura duduk di bangkunya, Marvell bisa bernafas lega dan dapat meninggalkan wanita itu.


Tak lama, datanglah seorang dosen ke kelas Naura, siapalagi jika bukan Dave. Seperti biasa Dave akan menunjukkan wajah super datarnya saat sedang mengajar.


Saat matanya bertemu dengan Naura, dengan cepat wanita itu langsung menundukkan pandangannya. Dan itu membuat Dave mendesah panjang.


"Hari ini kita ujian.." celetuk Dave yang membuat seisi ruangan itu menjadi terkejut dan panik.


Ada juga yang berteriak histeris karena mereka belum belajar sama sekali, namun dosen killer mereka ini dengan seenak jidatnya mengatakan ujian begitu saja.


"Aku akan memberi kalian waktu sepuluh menit untuk membaca atau belajar. Setelah itu kita langsung ujian." Dengan santainya Dave mengatakan itu.


Dan disaat semua mahasiswa tengah fokus pada materi yang mereka pelajari minggu lalu, Dave mengambil kesempatan untuk menghampiri Naura. Seolah dosen itu tengah melihat-lihat catatan atau buku yang mahasiswanya miliki.


Ketika tepat di samping Naura, Dave memberikan sebuah kertas. Dimana Dave memintanya untuk bertemu sekarang juga di belakang gedung, yang jarang sekali di datangi oleh orang.


"Aku akan ke kamar mandi dulu. Kalian bisa belajar lebih lama." Dave kemudian melirik Naura dan memberi kode pada wanita itu agar segera keluar.


"Selvi.." panggil Naura pelan, si pemilik nama pun langsung menoleh.


"Ada apa?"


"Aku akan ke kamar mandi sebentar."


"Oh, baiklah." Selvi lalu berdiri, dan itu membuat Naura mengernyit bingung.


"Kau mau kemana?"


"Tentu saja menemanimu."


Naura memutar bola matanya jengah. Tidak Selvi, tidak Marvell, sama saja.


"Aku hanya ingin ke kamar mandi, bukannya mau berperang."


"Tapi Naura...."


"Sudah, cukup. Aku tidak mau dengar apapun lagi. Kau tunggu disini, karena aku tidak akan lama." Naura langsung berdiri dan buru-buru pergi ke tempat yang Dave tulis di kertas tadi.


Di dalam perjalanannya, Naura merasa bimbang bercampur heran.


Kenapa aku justru menuruti permintaannya agar kami bertemu? pikir wanita itu.


Karena merasa tidak ada yang perlu di bicarakan lagi dengan Dave, Naura lalu berbalik dan hendak melangkah menuju ke kelasnya kembali. Namun hatinya bertolak belakang dan seolah mengatakan, 'Temui saja dia.'


"Bagaimana ini? Haruskah aku menemuinya?" gumam Naura di landa kebingungan.


---------------


Author: Haruskah???🤔