
Karena waktu sudah menunjukkan tengah hari, Naura memutuskan untuk pulang. Dan sedari tadi gadis tersebut merengek ingin di antarkan pulang oleh Dave, namun pria itu menolaknya.
"Davee, ayolah.." pinta Naura untuk kesekian kalinya sembari menarik-narik tangan Dave.
"Kau mau aku mati heh?" ketus Dave.
"Mati? Tentu saja tidak, Dave. Memangnya apa kait-mengaitnya dengan kau yang mengantarku?"
Dave mendorong kening Naura sembari memasang wajah datarnya,
"Kau mau aku di habisi oleh daddymu heh?"
"Daddyku?" Naura bergeming seolah sedang berpikir, sedetik kemudian gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Daddyku tidak mungkin melakukan itu. Dia adalah pria yang baik."
"Kau yakin? Apa kau lupa siapa daddymu dahulu?"
"Tentu saja aku mengingatnya. Tapi 'kan daddyku sudah berubah.." balas Naura dengan mengecilkan suaranya di akhir kalimat.
"Terserah kau saja. Yang jelas aku tidak akan mengantarkanmu, karena aku masih sayang pada nyawaku.." Pria itu lalu berjalan ke arah pintu untuk membukanya.
"Kau bisa pulang sekarang. Aku mengantuk, ingin tidur." tambahnya tanpa memperdulikan Naura yang memasang wajah sedih.
"Baiklah.." sahut Naura lesu, kemudian melangkah pelan menuju keluar.
Sebelum pergi, Naura sempatkan untuk menatap Dave.
"Aku akan datang kembali besok."
"Besok aku kerja."
"Aku akan datang sebelum kau berangkat ke kantor."
"Terserah." Dave lalu menutup pintunya, dan meninggalkan Naura yang menatap pintu itu nanar.
"Hufft...it's okey, Nana." gumam gadis itu, kemudian memilih untuk meninggalkan tempat tersebut.
...* * *...
Malam harinya di kediaman Mansion Wilson.
"Bagaimana sekolah kalian?" tanya Damian di sela makan malamnya.
"Semuanya baik, dad." timpal Noah, sedangkan Naura tampak melamun dengan wajahnya yang di penuhi oleh senyuman dan otaknya yang di penuhi oleh bayang-bayang dari Dave.
"Naura," panggil Damian, tapi sepertinya Naura tidak mendengarnya.
"Naura?" Kini Angel yang memanggilnya, namun masih saja sama.
"Naura.." teriak Noah sambil menggebrak meja. Bukan hanya Naura yang terkejut, begitu pun dengan kedua orangtuanya.
Lalu Damian menatap tajam Noah, yang hanya di balas dengan cengiran oleh Noah.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Angel sambil menatap selidik pada putrinya.
"Mau tahu aja, atau mau tahu banget?" goda Naura.
"Damian, lihat putrimu ini." adu Angel sebal.
Namun Damian tidak menggubrisnya, justru dia mengernyitkan dahinya saat mendengar kata-kata dari Naura.
"Darimana kau belajar bahasa itu?"
"Dari Marvel." sahut Naura santai sambil melahap kembali makanannya.
"Jangan terlalu bergaul dengan Marvel, nanti kau bisa ketularan aneh sepertinya." timpal Noah.
Naura menatap Noah malas, "Mana bisa aku bergaul dengan Marvel, Noah. Kau tahu sendiri jika Marvel tidak ada disini."
Noah tidak menggubrisnya dan memilih untuk melanjutkan makannya. Untuk sesaat ruangan disana menjadi sunyi dan hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring. Hingga tiba-tiba Damian membuka suaranya.
"Karena sebentar lagi kalian akan lulus, daddy sudah mendaftarkan kalian ke Universitas yang ada di London."
Si kembar yang mendengarnya jadi terdiam, sedangkan Angel tetap melanjutkan acara makannya dan seolah-olah tidak mendengar perkataan dari suaminya barusan.
"Daddy bercanda?" tanya Naura pelan bercampur terkejut.
"Dad, aku ingin kuliah disini." ujar Noah tegas.
"Kenapa kau ingin kuliah disini?" tanya Damian sambil menaikkan sebelah alisnya.
Noah berpikir sejenak untuk mencari alasannya, "Aku tidak bisa jauh dari mommy."
Angel yang semula masih makan, langsung menghentikannya setelah mendengar ucapan putranya. "Tidak bisa jauh dari mommy? Atau dari Mecca?" goda Angel dengan senyum jahilnya.
Noah lalu mendengus, dan memilih untuk diam. Memang Angel dan Damian sudah mengetahui perasaan dan hubungan Noah kepada gadis yang berasal dari New York itu.
Sedangkan Naura, dia sedang berpikir bagaimana caranya memberitahu Dave.
'Aku yakin, kau pasti tidak akan menerima jika aku mengambil Universitas di London.'
Naura tersenyum sendiri saat membayangkan bagaimana Dave akan mencegahnya.
...* * *...
Esok paginya...
Seperti biasa, Naura akan datang mengunjungi Dave dan menepati kata-katanya kemarin.
"Dave, aku ingin bicara." ujar Naura yang duduk di sofa.
"Bukankah kau sudah bicara sekarang?" balas Dave cuek dan terlihat fokus pada ponselnya.
"Daveee..aku serius." pekik Naura kesal.
"Baiklah-baiklah." Dave pun meletakkan ponselnya di atas meja, lalu mengambil posisi duduk agar berhadapan dengan Naura.
"Aku.." Naura menjeda ucapannya karena tidak sanggup untuk mengatakannya.
"Ada apa?"
Naura menghela nafasnya lelah, kemudian menatap Dave dalam. "Aku akan melanjutkan studi ku di London."
Hening...
satu..
dua...
tiga..
"Ooo..baguslah." gumam Dave santai.
"Davee.." rengek Naura. Naura ingin jika Dave memintanya untuk tetap disini.
"Apa? Bukankah itu bagus jika kau mengambil studi disana."
'Setelah itu, aku tidak akan bertemu denganmu lagi. Dan hidupku akan kembali menjadi tenang.' lanjut Dave dalam hati.
"Kau tidak mau mencegahku?" lirih Naura dengan butiran di matanya yang siap menetes.
Dave menghembuskan nafasnya panjang, "Untuk apa aku mencegahmu?"
"Kau benar tidak mau mencegahku?" tanya Naura ulang.
"Aku tidak ada alasan untuk mencegahmu, Naura."
Keluarlah sudah isakan dari bibir mungil Naura.
"Aku pikir kau sudah mencintaiku, hikss.."
Tidak ada jawaban dari Dave. Dan itu membuat Naura bangun dari duduknya dan menatap Dave dengan linangan air mata.
"Terima kasih atas waktumu untukku selama ini. Dan maaf jika aku selalu mengganggu hari-harimu. Tapi kau tenang saja, aku tidak akan mengganggu waktumu lagi." ujar Naura sambil menyeka air matanya kasar.
"Sampai jumpa, Dave. Semoga kau bahagia." Naura pun berbalik dan berjalan menuju keluar. Saat tiba di pintu, Naura berbalik lagi menatap Dave, lalu tersenyum tulus. Mungkin akan menjadi senyuman terakhir yang Dave lihat.
Setelah itu, Naura menghilang di balik pintu apartementnya. Dan Dave masih menatap pintu tersebut dengan pandangan kosong.
"Aku tidak pantas untuk wanita sebaik dan sepolos dirimu, Naura." gumam Dave pelan.