Chasing My Love

Chasing My Love
CHAPTER 29



Maafkanlah bila typo masih bertebaran dimana-mana🙏.


...--------------------------------------------------...


Naura dan Selvi saling berpandangan sejenak. Kemudian dua wanita itu beralih menatap pria yang ada di hadapan mereka dengan penuh rasa heran.


Karena tidak biasanya Marvell diam dan hanya fokus menyantap makanannya saja. Tatapan Selvi lalu berpindah pada Kevin yang ada di sebelah Marvell.


"Ada apa dengan temanmu itu?" tanya Selvi yang sengaja mengerasnya suaranya.


"Hanya masalah kecil." jawab Kevin acuh.


"Masalah kecil kau bilang?" pekik Marvell kesal.


"Coba kau bayangkan jika berada dalam posisiku."


"Ada apa sebenarnya?" Kini Naura yang bertanya dengan rasa penasarannya.


Marvell menggeram kesal, "Ini semua karena Mr. Calyton."


Selvi yang mendengarnya, langsung menyenggol bahu Naura pelan.


"Ada masalah apa Marvell dengan kekasih hot mu itu?" bisiknya.


Naura membulatkan matanya, kemudian mencubit lengan Selvi pelan agar diam. Wanita itu lalu berdehem singkat dan kembali menatap Marvell.


"Apa yang dilakukan Mr. Clayton hingga kau sampai marah seperti ini?"


"Bagaimana bisa aku tidak marah dan kesal? Kemarin kami melakukan ujian, dan hanya aku yang tidak lulus dalam ujian itu." dumel Marvell sambil terus mengunyah makanannya. Yaa, keempat orang itu sedang berada di kantin kampus dalam satu meja yang sama.


Naura mengulum senyumnya, sedangkan Selvi? Jangan di tanya lagi. Wanita itu sudah tertawa sekeras mungkin untuk mengejek Marvell.


"Bukan Mr. Clayton yang salah. Tapi kau yang terlalu bodoh..Hahaha.." Tak henti-hentinya Selvi tertawa, hingga...


Tukkk


"Aww, apa yang kau lakukan?" pekik Selvi kesal sambil mengelus keningnya yang baru saja di lempar dengan garpu oleh Marvell.


Marvell tidak menghiraukan pekikan dari wanita tersebut. Justru pria itu menunjukkan wajah datarnya. Lalu, tanpa sepatah katapun, dia berdiri dan berlalu dari sana.


"Ada apa dengan sepupumu itu? Apakah dia marah?" kekeh Selvi sambil tersenyum mengejek.


"Mungkin saja." Naura terus menatap punggung Marvell yang mulai menjauh secara perlahan.


"Marvell.." panggil Kevin dengan suara keras, hingga sang pemilik nama yang baru saja hendak keluar dari kantin itu, segera menghentikkan langkahnya.


"Siapa yang akan membayar makananmu ini?" lanjut Kevin.


"Wanita yang duduk di depanku tadi." jawab Marvell tanpa membalikkan badannya. Kemudian pria itu melengos pergi dari tempat tersebut.


Selvi berdecak sebal sambil menatap jengkel kepergian Marvell.


"Apa-apaan dia itu? Dia pikir aku itu siapa, hingga mau membayar makanannya."


"Sudahlah. Biar aku saja." sahut Naura. Wanita itu lalu menatap datar pria yang masih duduk di hadapannya ini.


"Naura, biar aku saja yang membayar semuanya." ujar Kevin sambil tersenyum semanis mungkin.


Namun bukannya berterima kasih, Naura justru menolaknya mentah-mentah.


"Aku masih sanggup untuk membayarnya. Jadi, kau tidak usah repot-repot."


Setelah mengatakan itu, Naura bangkit yang diikuti oleh Selvi. Kedua wanita tersebut berjalan menuju kasir dan membayar semua makanan mereka tadi, termasuk milik Kevin.


Ketika usai, mereka bergegas pergi dari kantin tersebut tanpa menoleh sedikitpun kepada Kevin yang terus menatap salah satu wanita di antara mereka berdua.


"Kenapa kau begitu kasar dan dingin sekali terhadap Kevin?" tanya Selvi yang berjalan beriringan bersama Naura menuju ke kelas.


"Lagipula untuk apa aku berbuat baik dan bersikap manis padanya?"


"Benar juga." gumam Selvi.


"Kemarin kau belum menyelesaikan ceritamu."


Alis Naura mengernyit heran, "Cerita yang mana?"


Selvi memutar bola matanya malas, "Tentu saja cerita tentang Mr. Clayton."


Naura langsung membekap mulut wanita di sampingnya ini sambil menatapnya horor.


"Tidak bisakah jika kau mengecilkan volume suaramu itu?" bisiknya.


Yang di tatap justru mengangkat jarinya dengan bentuk V. Naura lalu melepaskan tangannya dan menatap ke sekelilingnya, takut-takut ada yang mendengar ucapan Selvi barusan.


"Ayo ceritakan..." rengek Selvi.


"Kapan-kapan saja, okey?"


Selvi menggelengkan kepalanya, "Sekarang, atau aku akan marah?"


Naura berdecak sebal, dan akhirnya mengalah.


"Sampai mana kemarin?"


"Sampai di pertemuan pertamamu dengan Mr. Clayton."


"Ingatanmu bagus juga ternyata." Entah pujian atau sindiran yang Naura berikan. Pasalnya dia sudah tahu bahwa Selvi merupakan wanita ceroboh dan sering lupa meletakkan barang-barang. Apalagi jika tentang pelajaran, masuk ke telinga kirinya lalu keluar begitu saja ke telinga kanan.


"Terima kasih untuk pujianmu itu. Bisakah kau bercerita sekarang?" sahut Selvi sambil tersenyum paksa.


Naura terkekeh kemudian mengangguk kecil.


"Setelah pertemuan pertama kami, kami justru jadi sering bertemu. Lebih tepatnya, aku yang menemuinya."


"Dimana kau menemuinya?" tanya Selvi penasaran.


"Kadang di Café, Kantornya, Apartementnya."


Selvi menutup mulutnya dengan sebelah tangannya sembari menatap Naura dengan pandangan tidak percaya sekaligus terkejut.


"Apa saja yang kalian lakukan di apartement?"


Naura mendengus, "Kami tidak melakukan apapun. Kami hanya berbicara, makan bersama, dan menonton film."


"Benarkah?" Selvi menatapnya dengan intimidasi.


"Tentu saja. Mana mungkin aku melakukannya dengan Dave sebelum kami menikah."


Selvi berdecih, "Ujung-ujungnya kalian sudah melakukannya sebelum menikah, 'bukan? Dan belum tentu juga nantinya kalian bisa menikah."


Ucapan Selvi membuat Naura terdiam. Namun batinnya mengiyakan perkataan dari temannya itu. Walaupun mereka sudah melakukannya, belum tentu Dave mau menikahinya.


'Kau berharap terlalu besar, Naura. Jangan sampai kau akan sakit hati lagi untuk yang kedua kalinya.'


Naura berdehem singkat, wanita itu lalu menatap Selvi intens.


"Berjanjilah padaku. Jangan pernah kau katakan pada siapapun tentang cerita ini, termasuk kepada Marvell. Karena tidak ada yang tahu tentang ini kecuali diriku dan juga Dave. Bahkan kedua orangtuaku tidak mengetahuinya sama sekali."


"Baiklah-baiklah. Kau tenang saja." Selvi mengibas-ngibaskan tangannya seolah wanita itu dapat menjaga rahasia Naura.


"Oh ya, bagaimana dengan kelanjutannya? Bagaimana kalian bisa berpisah dalam jangka waktu yang cukup lama?" sambung Selvi.


Naura tersenyum simpul, "Aku akan menceritakannya. Tapi tidak untuk sekarang."


"Oh ayolah, Naura. Ceritakan saja sekarang. Aku benar-benar penasaran." pinta Selvi yang membuat Naura menatapnya heran.


"Kau ini kenapa begitu penasaran sekali tentang masa laluku?"


Wanita tersebut menunjukkan deretan giginya yang rapi, "Siapa tahu aku bisa membuat sebuah cerita novel tentang percintaanmu dan juga Mr. Clayton."


Naura tertawa, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. Ada-ada saja temannya satu ini.