
Setelah berdebat dengan batinnya, akhirnya Naura memilih mengalah dan menemui Dave yang sudah sejak tadi menunggunya.
Naura dapat melihat Dave yang sedang duduk di akar pohon besar dengan posisi yang membelakanginya.
Dengan langkah pelan, Naura mendekati pria itu. Tapi sepertinya Dave menyadari kehadirannya, terlihat dari pria tersebut yang langsung membalikkan badannya dan menatap dirinya dengan jutaan rasa bersalah dan menyesal.
Dave langsung berdiri dan berjalan menuju ke arah Naura. Tiba-tiba...
Naura membulatkan matanya sempurna melihat perlakuan Dave.
"Maafkan aku..., kau boleh memukulku, memarahiku, menamparku, memakiku. Kau bisa melakukan apa saja yang kau inginkan, dan aku tidak masalah untuk itu." Dave bertekuk lutut di hadapannya dengan kepalanya yang tertunduk.
Naura tidak bisa menahan air matanya melihat pria yang dulu dia cintai begitu rapuh seperti ini. Namun sepertinya, perasaannya terhadap pria itu belum sepenuhnya menghilang.
"Dave..."
"Tidak, Naura. Jangan memaafkanku! Aku tidak pantas untuk di maafkan."
"Ini bukan kesalahanmu.." lirih Naura.
"Ini kesalahanku. Harusnya aku tidak merenggut sesuatu yang sangat berharga dalam hidupmu."
"Tidak, Dave..hikss.."
Kepala pria itu langsung mendongak saat mendengar suara isakan yang keluar dari wanita yang dulu dia anggap hanya sebagai anak kecil. Namun sekarang, sepertinya Dave termakan oleh kata-katanya sendiri.
"Naura, kumohon..jangan menangis.."
'Bagaimana bisa aku tidak menangis? Karena sampai sekarang, perasaan ini masih belum hilang sedikitpun.' balas Naura dalam hati.
Dave segera berdiri dan menyeka air mata wanita itu. "Kau hanya akan membuatku semakin bersalah."
"Tidak. Akulah yang bersalah karena memulainya lebih dulu.."
Pria itu menggeleng lemah, "Akulah yang bersalah karena tidak bisa menahannya."
Air mata Naura kian deras. Dan itu semakin membuat hati Dave ter-iris melihatnya. Pria itu lalu membawa Naura ke dalam pelukannya dan mendekapnya erat.
Dan tanpa Naura dan Dave sadari, ada seorang wanita yang melihat dan mendengar perbicangan mereka tadi. Dia tak lain adalah Selvi yang mengikuti Naura secara diam-diam.
Awalnya tujuan Selvi mengikuti Naura hanya untuk memastikan jika wanita itu baik-baik saja dan tidak ada mengganggunya. Namun Selvi justru mendapatkan sebuah informasi yang tak terduga.
Dan karena tidak ingin ketahuan, Selvi memutuskan untuk segera pergi dari sana dan meminta penjelasan kepada Naura setelah ujian mereka selesai.
Naura melepaskan pelukan Dave, dan menatap mata pria itu dalam.
"Kenapa kau datang kemari? Disaat aku sedang berusaha untuk melupakanmu."
Degg
Ada rasa nyeri di hatinya saat mendengar ucapan wanita di depannya ini.
Jadi dia berusaha melupakanku? pikir Dave.
"Apakah tidak ada lagi rasa di hatimu untukku?"
"Aku tidak tahu." cicit Naura, lalu wanita itu menundukkan kepalanya.
"Kau pasti tahu, Naura. Coba tatap aku." Dave menangkup wajah Naura agar menatapnya.
"Katakan sekarang! Apakah kau masih mencintaiku?"
Naura tersenyum getir, "Memangnya apa bedanya jika aku mencintaimu ataupun tidak? Itu tidak akan merubah apapun, Dave."
Karena tidak ingin membuat luka di hatinya menganga, Naura memutuskan untuk kembali ke kelas. Dia tidak mau ada yang melihatnya disini bersama dengan Dave.
Namun baru saja beberapa langkah, suara Dave mampu menghentikan langkahnya itu.
"Kau salah, Naura. Aku baru sadar akan artinya hadirmu saat kau pergi."
Hening...
Hanya terdengar suara angin yang menderu dan juga hembusan nafas mereka.
"Maafkan aku yang selama ini hanya menganggapmu sebagai anak kecil. Aku baru sadar saat dirimu pergi, seolah setengah nafasku ikut pergi bersamamu." Dave menjeda ucapannya untuk melihat reaksi dari Naura, namun wanita itu tidak menunjukkan reaksi apapun.
Pria itu menunduk dan menatap sepatunya, "Setiap hari aku merasa sesak karena selalu menunggu kabar darimu. Dan bodohnya aku melakukan itu, padahal aku sendiri yang membuatmu untuk pergi. Sampai pada akhirnya, aku tidak tahan lagi lalu memutuskan untuk menyusulmu kesini."
Mendengarnya, membuat Naura langsung berbalik dengan wajah yang sudah banjir karena air mata.
"Kau sengaja kesini untuk menyusulku?"
Dave mengangguk mantap sambil tersenyum simpul, "Aku tidak perduli kau akan percaya dengan kata-kataku atau kau hanya menganggapnya sebagai bualan. Tapi yang satu pasti, kau mampu membuat sesuatu yang ada dalam diriku bergejolak setiap kali matamu bertemu dengan mataku."
Entah apa yang lucu, tiba-tiba Dave tertawa.
"Sudahlah, Naura. Kau tidak perlu mengatakan apapun, karena aku sudah tahu apa yang ingin kau katakan. Kau pasti ingin mengatakan jika aku adalah seorang playboy 'bukan? Sehingga sulit sekali bagimu untuk mempercayainya."
"Kenapa pikiranmu pendek sekali? Bagaimana jika aku bilang, bahwa aku mempercayai kata-katamu?"
Mulut Dave langsung merapat dengan tampang yang sulit untuk di artikan.
Naura tersenyum kecil, kemudian menyeka air matanya.
"Coba kau tanyakan pada hatimu. Apa artiku sebenarnya dalam hidupmu? Pentingkah aku atau tidak?"
Selepas itu, Naura meninggalkan Dave yang masih memikirkan perkataannya barusan.
"Apa arti Naura dalam hidupku?" gumam
Dave. Lalu pria itu tersenyum bahagia setelah mendapatkan jawabannya.
...* * * ...
Setelah menyelesaikan ujiannya, Selvi langsung menarik paksa tangan Naura menuju toilet.
Brakkk
Naura terjengkit kaget mendengar suara pintu yang Selvi tutup dengan sangat kuat.
"Jelaskan padaku, Semuanya!" ujar Selvi datar sambil melipat kedua tangannya di dada.
"A-apa maksudmu?"
Sebuah senyum miring muncul di bibir Selvi, "Apa hubunganmu dengan Dave Clayton? Dan apakah dia pria yang menidurimu?"
Glek! Bagaimana dia bisa...
"Kau bingung darimana aku mengetahuinya?" Dengan polosnya Naura mengangguk.
"Aku mendengarnya sendiri. Dan melihat bagaimana interaksi kalian seperti dua orang yang sudah saling mengenal."
Karena sudah terlanjur ketahuan, Naura memilih untuk menjelaskannya. Wanita itu lalu menghampiri Selvi dan menggenggam tangannya.
"Maafkan aku. Maafkan aku yang berbohong padamu, dan maafkan aku yang merahasiakan ini kepadamu. Aku akan mengatakan semuanya kepadamu, tapi kumohon, jangan jauhi aku." Naura begitu takut jika Selvi menjauhinya apalagi sampai membencinya. Karena hanya Selvi yang menjadi teman Naura.
"Baiklah. Tapi kau harus janji, kau akan mengatakan semuanya tanpa ada yang di kurang ataupun di tambah."
Dengan cepat Naura mengangguk. Naura lalu menarik nafasnya pelan kemudian menghembuskannya secara perlahan.
"Dengarkan aku!"
"Dulu, tepatnya tiga tahu yang lalu. Saat itu aku masih duduk di bangku kelas tiga Senior High School (SMA), dan tak sengaja bertemu dengan Dave--maksudku Mr. Clayton di sebuah Mall untuk pertama kalinya. Dan itu..." Naura tersenyum membayangkan pertemuan itu, pertemuan yang tidak akan pernah dia lupakan.
"Dan apa?"
"Dan saat itu aku jatuh cinta padanya."
"Secepat itu? Padahal kalian baru bertemu."
Naura tersenyum kecil, "Itulah yang di namakan dengan cinta pada pandangan pertama, dan aku sangat menyakini itu. Cinta yang berawal bukan dari rasa benci seperti kebanyakan orang."
"Lalu?"
"La---"
Tokk tokk
"Apakah di dalam ada Naura?" terdengar suara seorang wanita yang mengetuk pintu kamar mandi.
"Itu siapa?"
"Aku tidak tahu." Naura lalu segera membukanya, dan nampaklah seorang wanita yang Naura sendiri tidak mengenalnya. Yang hanya Naura tahu, mereka adalah satu kampus.
"Ada apa?" tanya Naura pada wanita itu.
"Ada yang mencarimu diluar."
"Siapa?"
"Aku tidak tahu. Yang jelas dia seorang pria."
Setelah mengatakannya, wanita itu pergi dan meninggalkan Selvi dan Naura yang saling berpandangan.