Chasing My Love

Chasing My Love
CHAPTER 19



Dave mengalihkan pandangannya dari Naura, kemudian pria itu berdehem singkat.


"Perkenalkan, aku Dave Clayton dosen baru kalian. Kalian bisa memanggilku Mr. Clayton."


"Baik Mr. Clayton.." jawab semua mahasiswa di kelas itu serempak.


Dave lalu duduk di kursinya, pria itu mengambil buku absen yang terletak di atas meja.


"Bisakah kalian memperkenalkan diri?"


"Tentu saja bisa, Mr."


"Oh tentu, honey."


"Aku dulu.."


Begitulah sahutan dari mahasiswi disana. Tak terkecuali Selvi yang ikut-ikutan.


"Oke. Di mulai darimu.." ujar Dave pada wanita yang duduk di depan pojok kirinya.


"Yess.." pekik wanita itu senang, kemudian dia berdiri dan menatap Dave dengan senyum menggodanya.


"Hay Mr., perkenalkan namaku Camila Watson. Aku adalah mahasiswi paling poluler di kampus ini."


Teman-teman sekelasnya pun menatap Camila jengah. Sedangkan Dave tampak tidak perduli. Pria itu justru tidak menatapnya sama sekali, matanya malah fokus pada buku absen di tangannya.


"Selanjutnya.."


Camila mendengus, "Mr. apa kau tidak ingin bertanya sesuatu padaku?"


Nampak Dave menaikkan sebelah alisnya, "Kenapa aku harus tahu tentang kehidupanmu?"


Semua orang yang ada disana terlihat tertawa dan itu membuat Camila menatap mereka sebal. Karena tidak ingin bertambah malu, Camila memilih untuk duduk kembali.


Dan kegiatan perkenalan pun kembali di lanjutkan, hingga sampailah giliran Naura. Terlihat wanita itu masih duduk dengan kepala yang menatap ke bawah.


"Kau.." tunjuk Dave. Dan itu membuat Naura langsung mengangkat kepalanya.


"Apa kau tidak ingin memperkenalkan dirimu?" tanya Dave datar.


'Apa maksudnya? Apa dia lupa namaku?' Entah mengapa Naura menjadi kesal seperti ini.


Kemudian Naura berdiri dari duduknya dengan kasar, hingga menimbulkan suara decitan dari bangkunya.


"Perkenalkan, namaku Naura."


"Hanya Naura?"


Wanita itu menatap Dave tajam dengan kedua tangan terkepal di sisinya.


"Naura Wilson." Sepertinya Naura sengaja menekan nama lengkapnya.


"Okey. Selanjutnya.." timpal Dave acuh.


"Yess, giliranku.." ujar Selvi antusias, lalu segera berdiri dari duduknya.


Setelah perkenalan yang menghabiskan waktu setengah jam, Dave langsung ingin masuk ke dalam materi.


"Mr., bisakah jika kita tidak membahas materi hari ini?" ujar Lily.


"Yaa, bagaimana jika kita saling tanya-jawab saja agar menjadi dekat." sahut yang lainnya.


Dave menatap datar mereka satu-persatu.


"Tujuan kalian kesini untuk apa sebenarnya?"


Seketika mereka semua menjadi diam. Tak ada yang berani menyahut ucapan Dave, apalagi menatap mata pria itu.


Kemudian Dave kembali melanjutkan pembahasannya. Bagi Dave, tampangnya yang datar ini mampu membuat mahasiswa dan mahasiswinya tidak berkutik. Maka dari itu Dave mempertahankannya dari mulai mengajar di Italia hingga kesini.


...* * * ...


"Mr. Dave memang tampan, tapi sayangnya galak. Uuhhh, aku menjadi tidak menyukainya." gumam Selvi. Wanita itu kemudian menatap temannya yang tampak lebih banyak diam sejak tadi.


"Naura..." Tidak ada sahutan dari si pemilik nama.


"Emm, maaf. Aku tidak mendengarkan apa yang kau ucapkan.." Naura meringis menyesal. Namun itu tidak di indahkan oleh Selvi.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Selvi dengan tatapan selidiknya.


"A-aku tidak memikirkan apapun.." gugup Naura, wanita itu lalu menunjukkan senyum terbaiknya.


"Benarkah?" Selvi memajukan wajahnya dan masih menatap Naura dengan tatapan seperti tadi.


"Te-tentu saja. Emm Selv, tolong wajahmu singkirkan dari wajahku.."


Selvi pun langsung menjauhkan wajahnya kembali, dan hendak kembali bertanya, namun tiba-tiba datang seorang pria yang membuatnya mengurungkan niatnya itu.


"Dimana Marvell?" Naura mendahului ucapan pria itu.


"Dia sedang ada latihan bernyanyi. Dan Marvell mengatakan, bahwa kau akan pulang denganku."


Terlihat Naura yang sedang berpikir, namun sedetik berikutnya dia mengangguk. Daripada terus-menerus disini dan di introgasi oleh Selvi, lebih baik Naura memilih untuk segera pergi saja.


'Yess.' pekik Kevin dalam hati.


"Bisa kita langsung pulang?" tambahnya.


"Tentu saja." Pandangan Naura beralih pada Selvi.


"Aku pulang lebih dulu, okey? Kau..ingin ikut bersama kami?"


"Tidak, terima kasih. Hari ini aku akan di jemput oleh kakakku." tolak Selvi.


"Oh, baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu, sampai jumpa." Naura melambaikan tangannya sejenak, dan segera berlalu dari sana dengan Kevin yang mengikutinya dari belakang.


"Tunggu dulu." kata Kevin saat Naura hendak membuka pintu mobilnya.


"Ada apa?" tanya Naura bingung.


Kevin tidak menjawabnya, justru pria itu menampilkan senyum manisnya. Kemudian dia membukakan pintu untuk Naura.


"Silahkan."


Entah mengapa Naura merasa kikuk dan tidak nyaman dengan sikap Kevin ini. Apalagi banyak pasang mata yang menatap mereka secara terang-terangan.


"Terima kasih." balas Naura dengan suara kecil, dan lekas masuk ke dalam mobil tersebut.


Kevin kemudian mengitari mobilnya dan duduk di kursi kemudi. Dan tanpa banyak kata lagi, pria itu segera membawa mobilnya untuk menjauh dari tempat tersebut.


Selama dalam perjalanan, Naura memilih untuk diam. Walaupun Kevin sering mengajaknya untuk bicara, namun Naura hanya menjawabnya dengan singkat, dan kadang hanya sebuah deheman.


Tiba-tiba...


Ciittt


Hampir saja kepala Naura mengenai dashboard, jika saja dia tidak menahannya.


"Apa kau sudah gila?" pekik Naura yang terlanjur kesal. Namun bukannya merasa bersalah, Kevin malah menatap Naura horor.


"Apa kau tidak memiliki mulut, hah? Aku sedari tadi mengajakmu berbicara, tapi kau hanya membalasnya dengan deheman dan kadang juga hanya anggukan."


Naura terkejut dengan Kevin yang meninggikan suaranya, tepat di depan wajahnya. Lalu mata wanita itu menatap sekelilingnya, yang menampakkan pohon-pohon besar yang mengelilingi mereka.


"Apa sebenarnya mau-mu?" Tatapannya lalu kembali kepada pria itu.


Kevin tersenyum miring, "Mau-ku? Apa kau ingin mengabulkannya?"


Mendadak nyali Naura menciut saat melihat senyum devil dari pria di sampingnya ini. Dan tanpa pikir panjang, Naura hendak keluar dari mobil tersebut. Namun lengannya langsung di tahan oleh Kevin.


"Apa yang kau lakukan?" pekik Naura sambil berusaha melepaskan cengkeraman Kevin di lengannya.


"Sudahlah, Naura. Kau tidak usah sok polos dan sok suci seperti itu. Lebih baik kau nikmati saja permainan ini." Kevin lalu melancarkan aksinya dengan mencium Naura, namun Naura dengan sekuat tenaga menghindarinya.


Tapi karena tenaga Kevin jauh lebih besar di bandingkan dirinya, pria itu pun berhasil mendaratkan bibirnya tepat di bibir Naura. Walaupun Naura sudah memberontak dan menangis minta di lepaskan, namun Kevin seolah tuli dan tidak mau mendengar.


Dan di saat Kevin sedang ingin melancarkan aksinya, tiba-tiba tubuhnya di tarik oleh seseorang hingga pria itu keluar dari mobilnya.