Chasing My Love

Chasing My Love
CHAPTER 13



Setelah perdebatan dan perbincangan yang cukup lama, akhirnya kedua manusia itu memutuskan untuk sarapan bersama.


Dave memilih untuk memesan makanan lewat online saja, karena dirinya tengah malas untuk keluar apartementnya. Apalagi Naura pasti ingin ikut, dan Dave tidak mau mengambil resiko.


"Davee.." panggil Naura dengan mulutnya yang penuh.


"Apa?" sahut pria itu tanpa menatap lawan bicaranya.


"Kau tahu? Kau itu mirip seperti daddyku."


Mendengar itu, membuat Dave langsung menatapnya tanpa ekspresi.


"Jangan samakan aku dengan daddymu!"


"Memangnya kenapa? Menurutku kalian itu mirip."


"Tentu saja kami berbeda. Daddymu itu jelek, sedangkan aku tampan." Dave kembali menyantap makanannya, dan tidak memperdulikan Naura yang memandangnya kesal.


"Daddyku jauh lebih tampan darimu." sungut Naura yang membela Damian.


"Terserah." balas Dave malas.


Naura mendengus, kemudian gadis itu mengakhiri sarapannya dan menyeka mulutnya dengan tisue. Kini tatapan gadis tersebut terlihat serius kepada Dave.


Dave yang merasa diperhatikan, segera melirik Naura dengan alisnya yang terangkat sebelah. Seolah berkata, "Ada apa?"


"Kenapa kau tidak ingin menikah?"


Pertanyaan yang sama. Pria itu tidak tertarik dengan pembahasan ini, dan memilih untuk tidak menjawabnya. Dave lebih fokus pada makanannya, bahkan melirik Naura saja tidak.


"Davee.." pekik Naura, gadis itu mengembungkan pipinya sebal.


"Tidak bisakah jika kau tidak mengatakan sesuatu yang sama berulang kali?" ujar Dave datar.


"Aku 'kan hanya ingin tahu. Lagipula, kau selalu memberi jawaban yang tidak jelas padaku."


"Bukan jawabanku yang tidak jelas, tapi otakmu yang tidak sampai." Dave lalu bangkit dengan membawa piringnya yang kotor untuk dia cuci.


Dan Naura mengikutinya dengan membawa piringnya yang juga kotor. Gadis itu meletakkan piringnya di wastafel, dan Dave yang mencuci piring-piring tersebut.


"Davee, kenapa kau tidak menyewa pelayan saja untuk merapihkan dan membersihkan apartementmu ini?" tanya Naura sambil memiringkan kepalanya untuk menatap Dave.


"Aku sudah menyewanya. Dia akan datang dan membersihkan apartementku ini seminggu 3 kali."


"Benarkah? Tapi aku tidak pernah tahu dan melihatnya."


Dave berdecak, "Memangnya kau pikir pelayanku itu akan datang kemari saat kau ada disini? Tentu saja tidak! Sudahlah, sana pergi. Jangan menggangguku."


Naura memajukan bibirnya, namun tak urung untuk menuruti perintah dari pria itu. Gadis itu lalu melangkahkan kakinya menuju ruang santai sambil menunggu Dave yang selesai mencuci piring.


Setibanya di ruangan itu, Naura hendak mendudukkan bokongnya ke sofa, namun terhenti tatkala matanya melihat sebuah photo di atas meja hias.


"Aku sering kesini, namun tidak pernah melihat photo itu." gumamnya sembari mendekati photo tersebut.


Naura mengambil photo itu dan menatapnya,


"Cantik. Siapa dia? Apakah dia saudara dari Dave?"


Tiba-tiba ada yang menarik photo tersebut, yang tak lain adalah Dave.


"Davee..." Naura menatapnya dengan alis mengkerut,


"Siapa dia? Apakah dia saudaramu?"


"Bukan." jawab Dave singkat sambil memandangi photo tersebut, kemudian meletakkannya ke tempat semula.


"Dia mantan kekasihku."


"Tapi kenapa photonya harus di pajang?"


"Karena aku ingin." sahut Dave enteng tanpa beban. Kemudian kakinya melangkah menuju sofa dan mendudukkan dirinya disana.


"Tapi kenapa harus photonya? Kenapa tidak photoku saja?" gerutu Naura yang ikut menyusul Dave dan duduk di sampingnya.


"Kenapa aku harus memasang photomu, heh?"


"Karena aku kekasihmu."


Dave tersenyum mengejek, "Sejak kapan? Bahkan aku tidak mengingatnya sama sekali."


Naura mendengus kesal, lalu memukuli tubuh Dave.


"Kau jahat. Photo mantanmu saja kau pajang, sedangkan photoku tidak sama sekali."


Bukannya kesakitan, Dave justru tertawa sambil mengelak pukulan dari Naura.


"Naura, hentikan.."


"Tidak mau. Aku mau menghabisimu.." ujar Naura sambil terus memukuli tubuh Dave.


Karena terlanjur lelah meladeninya, Dave menangkap kedua tangan Naura sembari menatapnya tajam.


"Berhenti.."


Kedua tangannya memang di tahan oleh Dave, namun Naura tidak kehilangan akal.


"Aww.." pekik Dave kesakitan, dan refleks dia melepaskan kedua tangan Naura.


"Kau ini kenapa? Jika tidak menciumku, kau justru menggigitku." dumel Dave sambil mengelus dagunya yang terasa nyeri akibat gigitan dari Naura.


"Karena kau itu manis. Mangkanya aku ingin selalu di dekatmu, agar manismu itu bisa menular padaku." kekeh Naura sambil tersenyum menggoda pada Dave.


"Bolehkah aku menggigitmu sekali lagi?" pinta Naura dengan wajah memelas.


Dave menggeleng dengan wajah datarnya, sedetik kemudian pria itu menampilkan senyum paksanya.


"Bagaimana jika aku saja yang menggigitmu?"


"Oh tidak, Dave. Jika kau menggigitku, aku yakin kau pasti melakukannya karena ingin balas dendam 'kan?" sahut Naura sambil mengarahkan tunjuknya di depan wajah Dave.


Dave menatap jari telunjuk itu sejenak, pria itu kemudian hendak menggigit jari tersebut namun kalah cepat dari Naura yang segera menariknya.


Gadis itu tertawa lebar, "You loser."


"Loser, huh? Akan kutunjukkan padamu siapa itu Loser." Dave menyeringai, lalu pria itu mendekatkan wajahnya pada Naura.


"Kau mau apa?" tanya Naura waspada.


"Aku akan melakukan...." Dave terus mendekatkan wajahnya, yang membuat Naura memejamkan matanya. Dan itu semakin membuat Dave menyeringai lebar.


"Ini.."


Takkk


"Aaaa...mommy.." teriak Naura karena merasakan sakit yang teramat pada dahinya, lalu matanya terbuka sempurna dan menatap tajam pria yang baru saja menjitak keningnya.


Dave tersenyum puas, pria itu lalu meniup jarinya yang dia gunakan untuk membalas perbuatan gadis di sampingnya ini.


Naura menarik nafasnya, lalu..


"DAVEE, AKU AKAN MEMBALASMU." teriaknya yang memenuhi sesisi ruangan.


Sedangkan Dave, justru pria itu terbahak tanpa rasa salah dan dosa.