Chasing My Love

Chasing My Love
CHAPTER 15



Sudah sehari berlalu, dan Naura nampak murung setelah pertemuannya dengan Dave pada lusa lalu.


Naura lebih banyak diam dan berdiam diri di kamarnya, dan itu membuat seluruh keluarganya heran. Karena yang mereka tahu, Naura anak yang ceria dan cerewet. Jika diam seperti ini, biasanya ada yang tidak beres.


Dan itu dapat di rasakan oleh saudara kembarnya, Noah. Pria itu saat ini tengah berdiri di depan pintu kamar Naura hendak mengetuknya.


Tokk tokk tokk


"Na..boleh aku masuk?" izin Noah, namun tak ada sahutan dari dalam.


"Naura!!??"


Hening...gadis yang berada di dalam kamar itu tidak menyahut, dan itu membuat Noah menjadi khawatir dan berpikir yang tidak-tidak.


Dan langsung saja Noah membuka pintu tersebut yang kebetulan tidak di kunci.


Cklekk


"Naura.." teriak Noah bersamaan dengan terbukanya pintu tersebut.


Gadis yang berada dalam kamar itu terlihat memandang Noah kesal.


"Tidak bisakah kau diam?"


Noah bergeming sembari menatap Naura yang sedang berbaring dengan kepalanya yang menjuntai ke lantai atau terbalik.


Melihat saudara kembarnya yang hanya diam saja, membuat Naura semakin kesal. Gadis itu kemudian membenarkan posisi berbaringnya menjadi terkelungkup.


"Keluar dari kamarku jika tidak ada yang ingin di bicarakan."


'Ini bukan seperti Naura yang kukenal.' batin Noah heran saat mendengar Naura yang berbicara datar.


"Kau ada masalah?" tanya Noah pelan, tanpa memperdulikan ucapan Naura tadi.


'Apa Noah bisa merasakannya?' Naura menatap mata Noah intens, lalu dia segera mengalihkan pandangannya saat merasakan penglihatannya yang buram.


Noah menghembuskan nafasnya panjang, pria itu menutup pintu kamar tersebut kemudian berjalan menghampiri Naura.


Noah duduk di pinggir kasur, dan berhadapan langsung dengan wajah Naura.


"Ada apa hmm?" tanya-nya lembut sambil mengelus surai panjang gadis itu.


Terlihat Naura yang membenamkan wajahnya di kasur. Namun Noah tahu jika Naura sedang menangis, karena dia dapat merasakan bahu Naura yang bergetar.


"Ada yang menyakitimu, hmm? Jika iya, katakan padaku! Aku akan membalasnya dan membuatnya lebih sakit daripada yang kau rasakan saat ini.."


Naura nampak menggeleng, gadis itu lalu bangkit dan langsung memeluk leher Noah erat.


"Jangan. Jika kau menyakitinya, maka kau juga akan menyakitiku."


Pria itu dapat merasakan apa yang Naura rasakan. Dan bisa Noah tebak jika ini merupakan masalah percintaan gadis tersebut.


"Apakah pria itu menyakitimu?"


"Tidak hikss..akulah yang terlalu berharap padanya."


"Kau tahu, Noah? Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta, namun kenapa aku harus merasakan sakit ini pada cinta pertamaku?"


'Kenapa nasib kita sama, Naura?' batin Noah tersenyum miris.


Noah melepaskan pelukan itu dengan pelan, lalu matanya menatap Naura dalam sembari menangkup kedua pipi gadis tersebut.


"Dengar! Jika kau jatuh cinta pada seseorang, maka kau harus bersiap-siap untuk sakit hati dan terluka."


Naura kembali menangis mendengar penuturan Noah.


"Ta-tapi..kenapa harus sesakit ini, Noah?"


Pria itu tersenyum lembut, kemudian menghapus air mata adiknya ini.


Untuk sesaat Naura terdiam dengan pikirannya yang berkelana.


"Adikku tersayang, sudah yaa? Jangan menangis lagi.." Noah berbicara sambil menghapus jejak air mata Naura.


"Apakah kau mencintaiku, Noah?"


"Tentu saja aku mencintaimu. Apa kau lupa jika kita memiliki ikatan?"


Naura tersenyum, dan langsung saja dia memeluk tubuh Noah.


"Terima kasih. Aku juga sangat mencintaimu."


Noah hanya membalasnya dengan menciumi puncak kepala gadis itu. Kemudian Naura mendongak untuk menatap Noah.


"Jangan katakan pada mommy maupun daddy tentang ini." pintanya memohon.


"Kau tenang saja. Rahasiamu aman." timpal Noah sambil memperagakan mulutnya seperti dikunci .


Naura tertawa, gadis itu kembali memeluk tubuh Noah dan mencium aroma wangi dari pria yang selalu menjadi teman bertengkarnya ini.


...* * * ...


Seusai mengambil ijazahnya, Naura memutuskan untuk cepat-cepat berangkat ke London. Dengan alasan ingin beradaptasi pada kota dan negara tersebut.


Dan Damian oke-oke saja. Justru pria itu sangat mendukung keputusan putrinya itu. Sekaligus Damian berharap Naura bisa berubah menjadi mandiri dan tidak manja lagi.


Kini mereka sudah ada di Bandara. Karena tidak ingin terjadi sesuatu pada putrinya tersebut, Damian akan mengantarkannya bersama Angel menggunakan pesawat pribadi mereka.


Hanya mereka bertiga. Sedangkan Noah, memilih untuk tinggal karena urusannya disini belum kelar. Yaa urusan apalagi jika bukan berkaitan dengan Mecca.


"Jaga dirimu saat disana nanti. Dan jangan lupa untuk mengabariku sesering mungkin." bisik Noah pada Naura yang sedang memeluknya.


"Aku tidak pernah berpikir jika kita akan berpisah, Noah. Kita lahir bersama, tumbuh bersama, dan bermain bersama. Tapi kini..." Naura tidak dapat melanjutkan kata-katanya saat isakan kecil muncul di bibirnya.


Noah menanggapinya dengan terkekeh paksa agar dirinya tidak terlihat bersedih.


"Heyy, jangan menangis. Kita bukan berpisah selamanya, kita akan bertemu lagi."


Naura mengangguk namun masih saja terisak. Dan itu membuat hati Angel dan Damian terenyuh. Baru kali ini si kembar akan terpisah untuk waktu yang cukup lama.


Noah mengulas senyumnya, lalu menyeka air mata Naura.


"Sudah, jangan menangis lagi. Sana pergi, kasihan mommy dan daddy menunggumu sedari tadi."


Gadis itu mengangguk pelan, "Sampai jumpa, Noah."


"Sampai jumpa kembali, *M*y little sister." Noah memberikan kecupan lembut di dahi Naura.


Dan di balas oleh Naura dengan kecupan ringan namun menyiratkan penuh kasih sayang di kedua pipi Noah. Setelah itu, Naura berjalan mendekati orangtuanya yang sudah menunggunya di tangga pesawat.


Mereka bertiga lalu menaiki tangga tersebut. Dan saat sudah berada di dalam pesawat, Naura berbalik dan melambaikan tangannya kepada Noah. Dan tentu saja di balas oleh Noah.


Noah menyeka air matanya yang luruh begitu saja. Sebisa mungkin dia memberikan senyum terbaiknya pada Naura agar gadis itu yakin bahwa dirinya tidak apa-apa.


Kemudian secara perlahan, pintu pesawat tersebut mulai tertutup. Dan ketika tinggal beberapa centi lagi, Naura tersenyum kecut.


'Selamat tinggal Italia..dan selamat tinggal, Dave. Kau akan menjadi kenangan terindah yang pernah hadir dalam hidupku.'


-----------------------------------------


Huhuhu...Aku nulis chapter ini sampai nangis loh😢.


Kuharap kalian sebagai pembaca juga bisa merasakannya.


Nextt???