Ceo Duda Ganteng

Ceo Duda Ganteng
Keturunan Vernandes



Jordan menatap ketiga anaknya yang sedang di ruang keluarga.


Kedua anak kembarnya kemarin baru pulang karena cuti, sedqngkan Elang setelah mengantar Ana ke kerjaan mampir ke rumah orang tuanya.


"dek tambah Ganteng aja" ejek Elang ke adik lelakinya.


Bulan tertawa mengejek saudara kembarnya, jika Kakak sulungnya mengejeknya.


Jordan tersenyum Anak anaknya meski berlimang harta tapi tak serakah dan iri hati satu sama lain.


" Bulan Bintang gimana kuliah kalian " tanya Papi mengalihkan perdebatan mata anaknya


" Baik pi" jawab mereka serempak


" Elang gimana kabar mu melihat mantanmu nikah " Tanya Papi


" Biasa aja" Jawab Elang


"Baiklah papi tak akan mengurusi Urusan pribadimu, Tapi ingat keturunan Vernandes bisa membawa pasangannya yang memandang Harta, meski hidup tanpa harta gak akan mudah" Jelas Papi


" ya pi" jawab ketiga anak dengan serempak.


°°°


" Wow jadi ini menuju kampungmu Ana??" Tanya Elang


" Em , Abang tinggal disini aja, saya sebentar kok setelah ini saya kesini lagi " Ucap Ana meyakinkan Elang.


" Baiklah " Ucap Elang Pasrah karena Capek menyetir mobil 3 jam tanpa henti. akhirnya Elang memilih tidur.


Ana naik ojek menuju Rumah juragan Somat." asalamualikum juragan " sapa Ana ramah.


" Ya siapa??" tanyanya dari dalam.


" Ana Juragan " jawab ana keras


" Maaf juragan saya membawa Uang pelunasan " Ucap ana duduk di teras depan dengan juragan somat.


" Kau punya uang banyak dari mana??" tanya Istri pak somat membawa dua gelas Teh hangat.


" Hasil kerja disisihkan Bu , sama Gadai motor, kadang kalo libur saya jadi pembantu harian lepas lumayan akhirnya bisa kekumpul " Jawab Ana Ramah.


" Sebenarnya kita tak apa di cicil. Tapi kita egois nak ana" Ucap Pak somat Sedih


" maaf pak, saya gak bisa lama lama. nanti saya ketinggalan kereta terimakasih atas bantuan juaragan, saya pamit aslamuaikum " Pamit Ana.


Bukan karena apa apa Ana tidak mau mendengarkan Kisah yang dibuat sedih oleh juragan.


Ana juga pamit ke pamam dan bibinya. Tak lupa memberi Uang untuk jajan keponakanya. meski tak banyak paman dan bibinya bersyukur ana Baik baik saja.


Keluarga ana bukan tidak mampu untuk memvantu hutang ana, Tapi karena masalah ekonomi yang menghimpit.


Dihotel ternyata Elang sudah di Dalam mobil. ana masuk kedalam Mobil Elang. dan melaju arah ke kota.


" Jadi ini kosan kau ana " Tanya Elang masuk ke Kamar 3×4 meter dengan cat putih.


Ada Tv yang tidak terlalu hesar lemari Besar, dan lemari kecil di jadikan tempat Makanan, dan rak sepatu gantung, Kamar mandi kecil, tempat tidur yang lumayan buat dua prang jika badanya kecil seperti ana.


" Bukanya Uang yang saya kasih buat kos lebih bagus ada ana" Tanya Elang menatap Ana yang merapikan Baju kedalam lemarinya.


" Buat di tabung aja abang , Udah nyaman di sini, Meski kosanya Bebas, tapi untung suara aneh gak ada jadi satpam pos pun tak mempermasalhkan kalaupun pacar maupun teman nginap " jawab Ana.


" ya sudah saya Nginap disini" ucap Elang duduk di ranjang memainkan ponselnya.


" emang gak risih" Tanya Ana


" gak , Udah ayo istirahat, Nanti malam Puasa harus sahur kamu" Ucap Elang menyuruh ana menedekat. tak lama kemududian Ana dan elang terlelap.