
Khanaya khanza.
****
Jam enam kurang sepuluh menit, aku ke luar kamar dan berpamitan bergegas langsung berangkat ke sekolah. "Nggak sarapan dulu, Nay?" tanya Papa yang melihat aku gugup sekali. Pa, aku tuh lagi di zona ngambek sama papa, masa gitu aja nggak ngerti sih!
"Nggak, Pa. aku udah telat nih,"
Mama melirikku sebentar, "ya udah, ini rotinya dibawa ya! Udah Nama siapin buat kamu."
"Makasih, Ma." aku pun langsung mencium tangan kedua orang tuaku, "Naya berangkat ya Ma.. Pa.. Assalamualaikum,"
"Walaikumsalam."
Hari ini aku berangkat sekolah naik angkot, pokoknya aku masih ngambek sama Papa. Masa Papa marah-marah nggak jelas banget soal pacaran, mana cowok yang di maksud Papa aja aku nggak tau, tuh kan.. Bodo amat ahk.. Pokoknya masih ngambek sama Papa!
Beberapa menit kemudian, angkot yang aku tumpangi pun sudah berhenti di depan halte sekolah, di sebrang jalan aku masih bisa melihat Khena sedang berjalan sendiri. Ini resiko kita yang beda kelas. Berangkat sekolah udah nggak pernah bareng lagi, pulangnya sih masih bisa walaupun terkadang kita berpencar juga.
"Khen...." aku teriak memanggil Khena. Khena pun menoleh dan memberhentikan langkahnya menunggu aku. "Tumben lo nggak dianter bokap?"
"Nggak, gue lagi pengen desak-desakan naik angkot,"
"Uuuhhccc.. Unyu banget bahasa kamu."
"Yang lain mana?"
"Belum pada dateng,"
Aku menoleh ke arah khena "lah.
serius, Khen? Kemarin Nur udah stay di kelas aja."
Khena membenarkan rambut kepangnya padahal itu sudah rapi sekali. "Kemarin kan hari pertama, Midah. Ya si Nur Cari kursi dulu lah. Nggak mau duduk di depan dia,"
aku mengangguk mengerti.
"Katanya bakal ada pemilihan osis ya?" Tanya Khena.
"Iya.. Katanya,"
"Lo mau pilih siapa, Nay?"
"Nggak tau, kan belum dikasih tau kandidatnya,"
"Kalo calon kuat sih si Revan."
Aku refleks menoleh ke arah Khena lagi, ada perasaan gugup yang aneh sekali kalo denger satu nama itu. Aku sengaja memainkan kakiku mengikuti alunan musik yang aku dengar dari earpone, mataku menjelajah ke segala arah, mencari ketiga sahabatku yang belum datang ke sekolah.
"Oh, nggak tau gue soal itu,"
"Ahk, payah lo mah, makanya kelas tuh jangan jauh-jauh! Jadi ketinggalan informasi gini kan."
aku nyengir saja, hingga suara Mala yang cukup histeris membuatku lupa akan obrolan bersama Khena. Setelah D'renbo lengkap kami pun memasuki gerbang sekolah.. Dan berpisah kembali, di tangga sekolah.
Suara deru motor berhasil menghentikan langkahku. Aku melihat motor ninja merah itu memasuki halaman parkir. Meski berada agak jauh, tetap saja tempat parkir motor itu akan jelas terlihat dari koridor sini, aku melihat seseorang itu membuka helm dan bufh-nya lalu ia turun dari motor, kali ini dia mengenakkan jaket bomber warna hitam dan sedikit garis putih yang membuat penampilannya keren sekali.. Sesekali dia merapihkan anak rambutnya yang menutup mata.
Sumpah.. Kok gugup ya... Ok, Naya tenang.. Tarik napas buang... Lanjut jalan lagi.
Setelah sampai kelas, aku melihat Aini teman sebangku-ku sudah datang. "Pagi, Naya," sapanya lembut sekali.
"Pagi, Aini." aku pun bergegas duduk di kursi.
Jam pelajaran pun dimulai. Hari ini kelas X1 Bahasa akan belajar Pelajaran BTQ (Baca Tulis Al'Qur'an) yang akan diajar langsung oleh salah satu the most guru yang dimiliki SAGHA. Namanya Pak Fikri seorang guru yang masih muda, perawakannya tinggi, kulitnya yang putih ditambah wajah yang selalu bersinar karena air wudhu kalo kalian bertemu dengan beliau pasti akan mengatakan hal yang sama kaya gue. Ganteng pokoknya. Dengan kacamata minus di wajahnya menambah kesan kalem sekali pada guru ini.
Pelajaran dibuka dengan beliau yang membacakan sebuah surah. Suaranya merdu sekali. Suasana kelas yang biasanya ramai, kini adem tentram. Pak Fikri menjelaskan tentang nada-nada dalam seni membaca qur'an. Beliau juga memberi tugas untuk membuat kaligrafi dengan beberapa seni menulisnya dan akan dikumpulkan minggu depan. "Kamu yang di belakang, coba maju ke depan!" suara Pak fikri begitu jelas terdengar, namun sepertinya ada yang salah dengan telingaku, hingga Aini menyenggol tanganku pelan. "Kamu dipanggil Pak Fikri. disuruh maju ke depan,"
"Hah.. Serius? Gue?"
"Iya kamu yang lagi ngobrol. Cepet maju ke depan!" suara Pak Fikri semakin jelas.
Ampunn..
Dengan berjalan pelan aku menuju ke depan, menghadap semua teman-teman sekelasku dengan keringat dingin yang mulai membanjiri pelipisku.
Saat aku menoleh, Pak Fikri sedang menatapku, aku agak sedikit gimana gitu? Risih? Pasti! Jadi pusat perhatian kaya gini.
Ssssttt... Apa dari kalian ada yang udah pernah nonton film hollywood "Harry Potter" ? Wajah beliau ternyata mirip Daniel Radcliffe loh.. Nanti kalo di masa depan kalian bertemu. Mungkin umurnya sudah tidak se-muda sekarang, tapi aku yakin wajahnya akan tetap seperti ini.
"Jangan melamun!" Beliau melirik badge namaku sekilas. "Khanaya Khanza, coba baca surah Al-Fath ayat lima!"
"Surah apa, Pak?"
belum sempat beliau menjawab, suara ketukan pintu berhasil menjadi penolongku saat ini. Pak Fikri segera beranjak dari kursinya lalu membuka pintu. Sebelum pintu terbuka, beliau menyuruhku untuk kembali ke tempat. Dengan senang hati aku pun kembali ke kursiku.
"Kayaknya ada anak kelas XI deh," kata Aini setelah aku duduk di sampingnya lagi.
"Mau apa mereka?"
Aini hanya mengangkat bahunya. Tidak tau.
Pa fikri mempersilakan beberapa anak kelas XI memasuki ruanganku. Ternyata akan ada pengetesan lisan untuk mereka dan semua itu akan dilakukan di kelasku. Guru hebat!!!
Seperti ada angin dari gurun sahara yang bisa membuat gersangnya tubuhku menjadi dingin sekali. Aku melihat siswa terakhir yang ikut masuk ke dalam kelasku. Rambutnya basah, seperti baru saja cuci muka. Tatapan matanya meneduhkan siapapun yang melihatnya.
Dia?
"Baiklah.. Sebelumnya saya minta maaf udah ganggu kalian belajar," suaranya serak basah seperti Cakra Khan. Sumpah!!! Asli!!!
"Saya dan teman-teman saya mendapatkan tugas untuk Menghafal Al-Qur'an, pengetesan lisan kali ini harus banget di kelas sepuluh. Saya juga nggak tau kenapa, Coba langsung tanya aja sama beliau!"
Cowok itu yang tak lain tak bukan ialah Revan, seseorang yang pernah tidak sengaja aku tabrak di Botani dulu.
Aku melihat Pak Fikri terkekeh pelan mendengar rajukan Revan. "Kalian izinin nggak ini kakak-kakak kelas kalian pengetesan di sini?" tanya Pak Fikri kepada seluruh anak kelas sepuluh ini.
"Diizinin, Pak..."
"Nah, udah denger kan kalian kakak-kakak kelas. Jadi silakan dimulai hafalannya!"
Dan tahukah kalian suara mereka sama merdunya dengan Pak Fikri, mereka menjiwai setiap ayat yang terdapat dalam surah tersebut. Bahkan dadaku bergetar hebat ketika Revan membaca beberapa ayat, seperti ada desiran ombak yang menghantam karang, begitu menyesakkan. Aku menangis. Untuk sebuah alasan yang belum aku ketahui. Surah yang mereka bacakan ini adalah surah Lukman, yang menceritakan tentang orangtua di dalam Al-Qur'an.
Air mataku berhenti ketika mereka semua menutup hafalan mereka. Tatapan mataku bertemu dengan tatapan mata Revan dia hanya diam saja lalu berpaling ke arah lain.
Bodo amat Re, ini bukan tentang kamu. Tapi tentang kedua orangtuaku yang hingga detik ini aku belum bisa membahagiakan mereka.
***
Bel istirahat pun kembali berbunyi. Aku segera keluar kelas, hari ini d'renbo akan ditraktir Khena. Tapi entah mengapa sisa sesak itu masih ada. Aku berjalan pelan menelusuri koridor sekolah. Pikiranku kosong melayang jauh nggak tau kemana. Intinya kosong aja gitu. Hingga di undakan tangga, tiga anak tangga lagi menuju dasar, tubuhku yang mungil ini terhempas begitu saja saat tubuh gempal Rahman menyentuh bahuku, tidak kencang, Namun cukup membuatku melayang, dan meloncati tiga anak tangga sekaligus..
Berasa terbang..
Namun, Allah maha baik, tubuh mungil hambaNya tidak langsung jatuh tersungkur ke lantai.
Tapi....
Wangi ini.. Wangi parfum yang sama seperti di Botani.. Wangi dunhill blue kalo tidak salah. Soalnya aku pernah diajak Papa ke toko parfum langganannya.. Dan nggak sengaja mencium aroma ini..
Aku memberanikan diri mendongakkan kepalaku. Berasa ada kupu-kupu terbang di sekolah. Ada yang memutar lagu picisan di sini.
"Cieee. Cieeee..." suara sumbang dari penghuni sekolah berhasil membawaku kembali berpijak ke bumi, aku segera melepaskan diri dari tubuhnya yang... Tidak sengaja.. Aku.. Peluk... Papa.. Anakmu... Tolong... Jangan kasih tahu Papa ya Allah....!!!!
"Maaf,"
Sumpah, suaraku seperti tikus kejepit, berasa cuma aku yang mendengarnya. Dia hanya mengibaskan tangannya ke arahku. "Minggir... " katanya penuh penekanan. Akupun segera memberi dia jalan.
Aku nggak mau inget tentang hari ini, tentang tragedi tangga sekolah.. Aku nggak mau ingat! Tuhan.. Kalo bisa tolong hapus saja satu momen ini... Aku tidak benci... Cuma rasanya.. Aneh.. Tuhan... Tolong jangan kasih tahu Papa! Naya belum siap dapat bonus ceramah darinya.
A/N : Pak Fikri ini nama asli guru saya. beliau mengajar BTQ ketika saya SMP dulu. maafkan muridmu ya, Pak.
Pinjam nama Bapak tanpa izin.. 😀✌