can I love you

can I love you
16. Bukan Dia tapi Aku (2)



Setelah libur satu minggu, akhirnya hari ini sekolah kembali normal. Aku yang kini sudah resmi menjabat sebagai ketua redaksi mading harus benar-benar membagi waktu dengan baik, jika salah sedikit maka tubuhku yang akan ambruk. Masalah hati aku tak mau pusing, ternyata lagi-lagi Papa benar, memberikan kesibukan di sekolah yang membuatku lupa akan perasaan.


Hari ini redaksi mading akan mengadakan event mingguan dengan tajuk cerita 'Sebuah kata' semua siswa boleh memberikan apresiasi mereka dalam bentuk puisi, pantun, qoutes atau cerpen sekalipun, aku dan anggota redaksi mading siap menampung karya mereka.


Dan baru beberapa menit informasi itu disampaikan, Dewa dan Tiara sudah kebingungan dengan banyaknya surat-surat Cinta untuk seseorang. Yuka tengah kelimpungan menerima kembali kertas-kertas yang sudah ditulis dengan apik dan rapi.


"Nayaaaa... OMG. Hello.. Gue baru liat tumpukan kertas sampai sebanyak ini," Kata Tiara. Ketika aku baru saja memasuki ruang redaksi mading.


"Waw... Ini amazing, guys." aku menatap takjub ketika melihat tumpukan kertas itu.


"Cool.. " Dewa menimpali.


Aku membaca surat-surat tersebut dengan heran, kenapa semua surat ditunjukkan kepada satu orang aja? Dari sekian banyak siswa, hanya satu orang yang menerima kata-kata penuh sayatan ini.


"Wuahh.. Ini nggak salah? Dari sekian banyak murid SAGHA, mereka ikut event ini cuma buat satu nama aja!" aku berdecak gemas setelah membaca sebagian isi surat ini.


"Revan gitu loh...!!!! Kapten futsal, juara satu MTQ, ganteng, atletis. Keren deh pokoknya!" kata Tiara sambil berseru girang.


Iya semua itu nyata tapi jangan lupakan sifat menyebalkannya.


"Heran, gue. Kenapa sampai segitunya?"


"Namanya juga The Most baru, Nay." Dewa menyahut sambil terus memilih surat siapa aja yang akan dipasang di mading lebih dulu.


Aku kembali melihat tulisan hati penuh irama melakonis itu. Kertas dengan gaya tulisan yang beragam bahkan sulit aku baca.


*From Astrid,


Dari pojok ruang kelas XII ipa2


To; Revan XI Otomotif


"Aku tahu tidak mudah untuk bisa dekat denganmu. Maka dari itu jangan jauh-jauh lah, capek tau. Mengejar kamu itu kayak mengejar layangan putus, siapa pun boleh mendapatkannya*."


Aku mengernyit ketika membaca salah satu surat untuk Revan dari Kakak kelas. Ya ampun.


*From, my sweety Siska,


Dari sudut ruang rindu XI ips1


To; Revan Adit Prasetya XI Otomotif


"Kangen beb, kapan main futsal lagi*?


Aku ingin muntah ketika membaca pesan dari Siska. Kenapa semua jadi tidak jelas seperti ini? Ini namanya bukan apresiasi, tapi curhat colongan.


From Karen,


dari kelas X ips1


salam. kenal kak Revan


"Yang ini dimuat juga nggak, Nay?" tanya Dewa.


"Muat aja semua, Wa. Itu Juga kalo madingnya cukup. Hahaha.." aku tertawa miris di akhir kata. Sumpah ini aneh banget.


"Besok-besok gue nggak mau bikin event kayak gini," aku meringis sendiri.


"Lah.. Kenapa, Nay?" tanya Yuka.


"Ini mading, ajang bakat siswa bukan tempat curhat colongan kayak gini. Ya ampun gue jadi berasa aneh aja gitu."


"Iyah sih, Nay. Tapi ini semua ada baiknya loh, jadi kita bisa tau bahwa ratusan cewek di sini ternyata naksir Revan semua. Hahaha.." Tiara menimpali.


"Tapi lo nggak naksir dia kan, Ra?" tanya Dewa.


"Diih.. Gue.. Udah dari dulu kali naksir Revan."


Shit


Aku mengumpat dalam hati. Nyebelin banget mereka semua.


Setelah pemilihan kertas pertama yang akan dipasang hari ini selesai, aku pun bergegas ke luar redaksi mading, ketiga anggota Tim-ku sudah pamit lebih dulu.


"Naaayyaaa... " teriakan Nur itu begitu menggelegar di telingaku.


"Berisik banget, lo."


"Heheheh... Sorry, say! Gue lagi bahagia banget pokoknya."


"Ada apaan?"


"Ya udah, kita ke kantin dulu. Nanti gue ceritakan semuanya."


Aku dan Nur pun bergegas menuju kantin, Mala, Wawa dan Khena sudah menunggu di sana.


"Ok, guys. Gue mau cerita nih!"


"Lo tinggal cerita aja sih, lama banget dari tadi," kata Wawa.


"Iya, mau cerita apaan sih, Nur?" Mala menimpali.


Aku dan Khena masih sibuk dengan semangkok bakso kami.


"Jadi begini, guys. Menurut kalian bagaimana


kalo gue beneran jadian sama Revan?"


Tuhan,


Mama


Papa


Siapapun itu, Tolong bawa aku terbang dari sini. Aku tidak mau mendengar kelanjutan cerita dari Nur.


"Sejauh ini, aman-aman aja sih, guys. Gue seneng banget pokoknya. Ya, walaupun si Revan itu jutek banget, plus jarang bales chat gue, tapi sekalinya balas chat itu bikin hati gue berbunga-bunga."


Tuhan... Naya mohon, buatlah Naya tidak bisa mendengar kali ini saja.


"Terus.. Terus.. " kata Mala yang sudah tertarik dengan obrolan kali ini.


"Ya nggak ada terusannya, Markonah. Bayangin aja, gue chat hari ini, dua hari kemudian baru dibales sama dia."


"Yaaaahhh.. " Mala, Wawa, dan Khena lemas bersamaan.


Aku?


Ingin menghilang saja.


Suara kantin yang tadinya sepi, kini kembali ramai ketika segerombolan anak-anak kelas sebelas otomotif itu menduduki salah satu kursi yang tidak jauh dari mejaku dan genk's unyu. Terdengar suara riuh bersiul dari Kakak kelas yang pandai merayu.


"Guys.. Revan..!!!" suara Nur begitu histeris sekali ketika melihat cowok itu ada bersama teman-temannya.


"Naya, puisi buat gue udah jadi kan?"


"Udah." jawabku malas.


"Langsung kasih ke Revan ya, Nay?"


"Hah?"


"Ya ellah, lo kan ketua redaksi mading, Nay. Pasti si Revan bakal nerima puisi itu."


"Kenapa harus gue yang kasih ke dia?"


"Terus gue harus suruh siapa, Midah? Cuma lo aja yang bisa bantu gue, Nay."


Aku menggeleng pelan, menahan sesuatu yang sulit sekali aku katakan.


"Terserah lo aja."


Aku pasrah, aku menyerah.


Selesai dari kantin, aku langsung balik ke redaksi mading, pelajaran keempat kosong, karena Pak April Guru matematikaku tidak hadir. Aku ingin menyendiri di ruang redaksi mading. Menahan sesuatu yang sedari tadi sudah menggenang di pelupuk mata. Akhirnya butiran kristal itu tumpah juga.


Kak YuliHann... Jahat...


Aku udah bilang jangan bikin aku menangisi cowok kutub itu. Nyatanya apa? Hari ini aku dibikin nangis hanya karena puisi tentang Revan dari Nur sahabatku sendiri.


Kuambil sebuah kertas berwarna ungu dari kotak yang berada di samping komputer, lalu pulpen yang ada di meja. Aku mulai merangkai kata, sulit memang, jika ini yang terbaik maka akan aku lakukan. Aku tidak membuat puisi, hanya rangkaian kata saja.


*Dear kamu, seseorang yang selalu kutanyakan dalam pikiranku.


Memang kamu siapa?


Apa kita belum berkenalan?


Jika belum, kenalkan aku seseorang yang diam-diam mengagumimu.


Mungkin dari sekian banyak cewek yang selalu histeris memanggil namamu, ada aku yang diam-diam ikut berteriak di dalam hati.


Aku tidak puitis dalam membuat bait puisi tentang cinta


Tak mampu merangkai kata yang membuat mata terpana


Aku hanya bisa mengagumimu dalam untaian do'a.


Your's


-K*-


Setelah selesai, aku langsung memasang sendiri kertas itu di mading. Tidak peduli dengan semunya, aku hanya ingin bebas dari rasa sesak ini.


****


Pada sore hati, ketika seluruh siswa sudah pulang, dan sekolah tampak sepi hanya ada beberapa siswa yang sedang latihat futsal.


Seorang cowok berperawakan tinggi, rambut dan wajahnya basah sehabis cuci muka, sedang tersenyum kecil ketika melihat sederet kata romantis nan puitis bin alay dan memuakan.


Kala sekolah sepi, dia baru mau melihat papan mading yang memuat namanya bak selebritas. Selama ini dia hanya sibuk mendengarkan teman-temannya yang setiap hari memberi informasi baru untuk dirinya.


"Bang... " panggil seseorang yang memakai baju futsal yang sama seperti dirinya.


"Ini nggak salah?"


"Nggak, Bang. Asli ini. Di dalam juga masih ada dua tumpukkan lebih kertas-kertas kayak gini."


"Serius?"


"Iya, Bang. Ane serius!"


"Terus yang ini dari siapa? Kok nggak ada nama pengirimnya, nggak kayak yang lain." tanyanya sambil menunjuk sebuah kertas berwarna ungu muda.


"Ini kayaknya dari si Naya,"


Dia menatap sejenak cowok berkulit sawo matang di sampingnya, "Lo tau dari mana?"


"-K- Khanaya, Ketua redaksi mading, dan kertas warna ungu kayak gini cuma punya dia, Bang. Ini juga tulisannya, saya yakin banget. Ini dari Naya."


"Lo yakin?"


"Yakinlah, Bang. Saya kan anggotanya masa nggak tau tulisan ketua sendiri."


Cowok tadi terlihat mengangguk.


-K-


Khanaya adik kelas yang berani bilang dia cowok sok imut, yang terang-terangan mengatakan dia kesurapan jin islam, ternyata menyimpan sesuatu dibalik sifat cueknya. Dia hanya tersenyum membayangkan semuanya. Tidak peduli soal perasaan itu sendiri yang mulai tumbuh di hatinya.