can I love you

can I love you
part 1. Welcome To Putih Abu



Khanaya khanza


"Ma***s ... deh gue!"


Aku menepuk dahi ketika melihat soal fisika yang akan aku kerjakan.


Hari ini adalah tes terakhir untuk masuk SMA AIRLANGGA. padahal, sudah semalaman suntuk aku belajar rumus rumus fisika, tapi hasilnya nihil ketika melihat soal-soal yang begitu rumit.


Keringatku mulai bercucuran ditambah kaki dan tanganku yang bergetaran menambah kesan bodoh banget gue begitu nyata di hadapan.


"Bissmilah aja deh." doaku dalam hati.


Waktu enam puluh menit itu benar-benar aku gunakan dengan sangat hati-hati. Bergelut dengan soal fisika yang aku yakin sangat menguras otak untuk berpikir logika. Begitu selesai mengerjakan kami semua yang berada di ruangan bergegas mengumpulkan lembar soal dan jawaban tersebut dan segera berhamburan ke luar ruangan.


"Njirr ... Itu soal benar benar bikin gue mati kutu!" teriakan Mala begitu heboh ketika aku bertemu dengannya di koridor kelas.


Sebelum aku menceritakan bagaiamana masa-masa saat ingin masuk ke SMA AIRLANGGA salah satu sekolah favorit di kota Hujan ini, mari aku kenalkan dengan sahabat-sahabat terbaikku saat masih memakai seragam merah putih dulu.


Aku dan genk's d'renbo terdiri dari lima orang. Dari kelima orang ini punya sifat bawaan masing masing yang hingga detik ini masih tidak aku percaya, bagaimana aku bisa kuat bertahan berteman dengan mereka.


Mala dengan suara khasnya yang begitu menggema di udara. Terkadang membuat gendang telinga kami berempat harus pergi periksa ke THT. Asli cempreng banget ya Allah.


"Eh, lo, Nay, gimana soalnya tadi?" tanya Wawa ketika aku bertemu dengannya di tangga sekolah.


Aku dan keempat sahabatku terpisah ruangan, jadi tidak heran ketika kami sama-sama kesulitan karena kurangnya akses untuk bertanya jawaban. Pliss ... Yang ini jangan ditiru!


Wawa, si bule nanggung yang selalu menjadi penengah di kala persahabatan kami di rundung masalah. Dari hal kecil karena tidak menunggu saat berangkat sekolah atau masalah besar saat beberapa dari kami suka sama cowok yang sama. Nggak termasuk gue ya. Karena gue orang yg Setia.


"Longgak liat keringet gue masih pada betah di kening gini, Wa? Asli susah banget! Pengawasnya juga killer abis. Jadi susah kan gue buat bisnis jawaban," kataku dengan iringan tawa pelan.


Mala dan Wawa ikut tertawa. Tidak heran memang, di hari terakhir pengetesan ini menjadi momok untuk kami untuk diterima atau mungkin mencari sekolah lagi jika nama kami tidak dinyatakan lulus seleksi.


Di tengah tawaku yang mendera datanglah dua sahabatku dari arah yang berbeda. Mereka berdua yang paling jauh ruangannya.


"Hey.. Hey..!  Aku lelah hari ini," kata Khena dengan melakonis saat menghampiriku, Wawa dan Mala.


"Ajaib banget gue bisa lulus juga. Soalnya cuma tau o2 dan co2 doang."


timpal Nur.


Khena cewek paling kecewek-an di antara kami semua. Cewek yang selalu menjaga penampilan agar tetap stylish. Sering perawatan salon, hobby shopping dan yang pasti paling sering pacaran di antara kami.


Dan yang terakhir ada Nur yang merasa paling mirip Ha ji woon itu sahabatku yang terkadang puitis sekali.


"Lo mau langsung pulang, Nay?" tanya Khena saat kami semua sampai di lantai satu sekolah elit ini.


Aku berfikir sejenak. "Emz, gue mau ke toko buku aja deh. Lagi banyak novel seru soalnya."


"Yakin lo mau ke toko buku? Masih sanggup baca setelah seminggu kita dipingit! No gedget, no shopping, no kongkow cuma ditemenin buku buku seabrek yang bikin otak cerdas gue ini keilangan IQ-nya." kata Nur sambil menoleh ke arahku.


Sudah aku katakan, Nur sahabatku yang paling puitis di antara kami. Aku hanya menatapnya sekilas lalu kembali berjalan menuju gerbang. "Iyalah, Masih sanggup gue mah. Jangankan baca, Disuruh bikin novel hadiahnya tiket nonton EXO aja gue sanggup,"


Kami berlima tertawa melepas penat yang menyerang kami selama seminggu penuh. Sebelum kami berpisah, karena mereka berempat memutuskan pergi ke cafe yang berada di Sempur, sedangkan aku akan pergi ke toko buku yang berada tidak jauh dari sekolah. Kami berdoa bersama agar lulus pengetesan ini.


"Bissmilah ya Allah, semoga Engkau memudahkan langkah kami agar diterima di SMA ini." pimpinku.


"Aamiin ...." Lalu dijawab dengan serempak oleh mereka.


***


Aku dan buku mau itu novel, tabloid, majalah atau koran sekalipun, gue tetap suka. Jadi tidak heran jika keempat sahabatku memilih merefreshkan otak mereka ke tempat hiburan, cuci mata. Sedangkan aku Memilih cuci mata versiku dengan mencari novel baru yang sedang hitz banget saat ini.


Kalian pasti tahu lah jadi seorang pemburu buku khususnya novel, pasti radar kalian akan bekerja dengan baik jika novel dari penulis favorit kalian sudah terbit.


Jarak toko buku dan calon sekolahku, -karena gue belum tahu hasil diterima atau tidaknya- tidak terlalu jauh cukup ditempuh lima menit berjalan kaki sambil makan kuwaci.  Pemandangannya Indah, karena di bahu kiri dan kanan jalan terdapat tanaman pohon palem yang melindungi diriku dari paparan sinar matahari langsung.


Aku bukannya takut teriknya panas matahari, tapi terkadang sinar matahari langsung bisa membuat wajah gue memerah karena kepanasan. You know lah merahnya itu udah kaya udang dimasak saos asam manis. Asli gue nggak nyaman.


Ketika sampai di depan pintu masuk toko, aku sudah disuguhkan dengan pemandangan yang tak kalah indahnya. Para siswa sudah memenuhi sebagaian halaman toko buku. Memang, di halaman depan disediakan kursi lengkap dengan payung besar yang menemaninya. Jadi berasa bukan di toko buku melainkan seperti di cafe yang sering kita jumpai.


Aku tersenyum melihat pemandangan ini. Sungguh indah banget. Aku memasuki toko dengan tatapan tidak percaya. "Penuh amat." kataku pelan. Sambil terus mengitari lemari-lemari besar yang menjulang tinggi dipenuhi berbagai macam buku.


Mataku menemukan sebuah novel yang sedang aku cari. Novel "Rembulan tenggelam di wajahmu" karya Tere Liye penulis favoritku terdapat di bagaian lemari yang agak tinggi dari tubuhku sendiri.


Shit.


Dengan sedikit berjinjit tanganku mencoba meraih novel itu namun hasilnya tetap nihil.


Double shit!!!


Sesekali aku mencoba untuk meloncat agar dapat meraihnya kembali. Namun semua sia-sia. "Ini lemari bukunya yang tinggi, apa gue-nya yang pendek sih?" aku menggerutu sendiri. Sumpah nyiksa banget mau minta tolong gengsi, Sis, tapi kalo kaya gini juga nggak enak banget.


Percobaan pertama dan kedua gagal maka aku pun memakai cara yang terakhir. Lompat setinggi mungkin.


1


2


3 happp ....


And well ... Sebuah tangan kekar membantuku untuk mengambil novel tersebut, aku tersenyum penuh kemenangan. Saat novel sudah berada di tanganku. Aku mencoba berbalik badan, dan tatapan mataku bertemu manik mata berwarna coklat itu.


Tinggi,


Putih,


Bersih,


Ganteng,


Ini malaikat datang darimana Tuhan???