
Khanaya khanza.
****
Bel sekolah sudah berbunyi tiga kali, begitu mendengar komando dari kakak-kakak pembina semua calon siswa memasuki ruang aula. Aku mulai merasakan kembali detak jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Saat melihat kak Rayyan memasuki aula, jantung gue!!! Tolongin.... Pandangan matanya begitu teduh disertai senyuman kecil yang ia berikan kepada kami semua "Hey.. Lagi liatin apa?" anjirr.. Ketauan kan lo lagi liatin dia mulu.
Deg!!!
Aku kaget banget pas dapat pertanyaan kaya gitu dari kak Rayyan, dan aku refleks cuma bilang, "nggak liatin apa-apa kok kak."
kak Rayyan cuma ber-oh ria, tanpa memperpanjang pertanyaan lagi.
"Alhamdulilah." aku mengelus dada pelan. Sumpah malu banget.. Dan bersyukurnya semua siswa termasuk sahabat-sahabatku lagi pada sibuk dengan masing-masing kelompoknya.
Ruang aula begitu ramai dengan kehebohan para calon siswa yang tidak melengkapi tugasnya. Aku dan keempat sahabatku tidak satu kelompok. Kita semua terpisah. Khena dan Mala masuk kelempok kancil yang dipimpin langsung oleh kak Rayyan si ketua osis. Aku agak sedikit gimana gitu pas tahu Khena dan Mala masuk kelompoknya kak Rayyan, tapi ya sudahlah..
Wawa dan Nur juga beruntung masuk kelompok yang sama, kelompok Elang
Pimpinan kak Rama. Dan hanya aku yang terpisah sendiri masuk kelompok kelinci pimpinan kak Dewi. Masih dalam suasana yang heboh atas hukuman bagi mereka yang tidak melengkapi tugasnya, ada yang disuruh joget dengan musik dangdut koplo, gue dibayar juga ogah banget joget kaya gitu.asli! malu lah, sebagian dari mereka ada yang disuruh menyanyi lagu yang sudah diganti liriknya menjadi huruf O, yang ini kekanak-kanakan banget, tapi apa daya, beginilah cerita MOS gue saat ini.
Setelah selesai, kini kakak-kakak pembina mulai memberikan tugas kembali. Kak Ihza memberi aba-aba kepada semua calon siswa untuk mendengarkannya. "Ok, buat semuanya, ternyata di hari pertama MOS kalian masih banyak banget yang tidak melengkapi tugasnya. Plis ya, MoS itu jangan suka disepelekan. Kelak nanti kalian akan mengerti apa arti dibalik masa orientasi," kata kak ihza sambil terus memperhatikan kami semua. "Dan, untuk tugas berikutnya kakak mau kalian mengumpulkan sebanyak-banyaknya tanda tangan kakak kelas yang ada di sekolah ini, harus dilengkapi tanda tangan ketua osis. Dimulai dari sekarang....... " perintah Kak Ihza dengan suara yang cukup lantang yang membuat aku dan semua para calon siswa berlari berhamburan mengejar kakak-kakak kelas demi sebuah tanda tangan.
Ternyata tidak semudah itu mendapatkan tanda tangan mereka, bahkan beberapa dari kakak-kakak kelas ada yang sengaja memberikan syarat agar dapat tanda tangannya.
Aku menggelengkan kepala melihat ini semua. Ada yang menarik tangan, merengek minta tanda tangan meski hasilnya mendapatkan satu bentakan sadis dari kakak-kakak pembina itu. "Asli, gila ini mah!" aku berseru sendiri dan melihat buku catatanku belum terisi satu tanda tangan pun.
Saat Kak Rayyan melintas di hadapanku, tanpa permisi aku langsung menyodorkan buku tulis dan pulpen ke arahnya. "Eh, nggak sopan banget ini anak," katanya sambil menatapku heran. Aku pun tersenyum mendapat tatapan seperti itu darinya. "Hehehe. Tanda tangan ya, Kak! Plis.." kataku dengan sedikit nada memelas.
"Nggak semudah itu lah," kak Rayyan kembali menatapku, kali ini dengan tatapan yang tidak bisa aku mengerti. "Ada syaratnya."
"Apa syaratnya kak?" tanyaku antusias.
Dia tersenyum lagi, Tuhan jangan biarkan hambaMu yang imut, pingsan di sini.
"Bilang kata Cinta ke pak satpam."
Aku mengerjapkan mataku berkali kali yang membuat kak rayyan tertawa. puas banget lo kak, kasih syarat nggak kira-kira ke gue.
"Saya bercanda, sini mana buku sama pulpennya. Khusus buat kamu tidak ada syarat apapun."
Aku segera memberikan buku dan pulpen takut kak rayyan berubah pikiran. "Terimakasih kak,"
"Sama-sama. " Kak Rayyan langsung melenggang pergi dari hadapanku.
Oh Tuhan, Rasanya pengen jingkrak-jingkrak saking senangnya. Aku bahagia banget. Kupegang erat buku tulis yang sudah diberi tanda tangan oleh Kak Rayyan. Senyumku terus mengembang, bahagia banget pokoknya!
"Gue, mana?" teriak seorang cowok yang berada tepat di belakangku. Mungkin dia juga menyadari betapa bahagianya aku, mendapat tanda tangan ketua osis tanpa syarat. Aku menatap mereka berdua dengan tatapan penuh tanya. "Eh, malah bengong! Mana sini bukunya mau gue tanda tanganin nggak? Tanpa syarat gue juga." dia tertawa, yang membuat teman di sebelahnya pun ikut tertawa.
"Ya udah, nih!" aku menyerahkan kembali buku dan pulpenku. Cowok tadi memberikan tanda tangannya disusul teman di sebelahnya yang sedari tadi aku lihat hanya berdiam saja. Tiga tanda tangan tanpa syarat. "Makasih, Kak." ucapku. lalu pergi meninggalkan mereka. Aku masih mendengar tawa mereka berdua, yang entah sedang menertawakan apa. Aku tidak peduli.
Bel masuk kembali berbunyi, mereka yang masih Setia meminta tanda tangan pun segera masuk ke aula. Tidak peduli berapa banyak tanda tangan yang mereka dapatkan,
"sumpah nge-betein banget kak Rama, masa gue minta tanda tangan aja harus merayu dia," kata wawa melakonis. Wawa melirikku sebentar. "Lo liat nggak nay?"
"Liat apa?" tanyaku
Aku menutup mulutku, menyembunyikan tawa yang hampir meledak,"Sssstttt...lo pelan-pelan doang ngomongnya, nanti kalo orangnya denger, lo bisa direkrut jadi pacarnya hari ini juga."
"Amit amit ya Allah, bisa kena tornado kota Bogor,"
dan tawaku pecah seketika.
"Eh, lo masih mending disuruh merayu, gue nih... Rasa pengen nangis aja, masa iyah sih mos sampe segininya?" Nur melakonis.
"Lo disuruh apa, Nur?" tanya Khena.
"Joget badut sama si Made yang katanya orang Bali itu."
aku tidak bisa menahan tawaku kembali. Dan bersyukur banget dapet kakak kelas yang nggak neko-neko buat tanda tangan.
Obrolan kami terhenti ketika semua kakak pembina kembali memasuki aula. Para sahabatku pun telah kembali ke kolompoknya masing-masing.
****
Hari-hari berikutnya tugas kami semakin aneh aja. Bahkan aku sudah nggak sanggup saat hari kelima tapi Papa dan Mama bilang 'nanti ospek mahasiswa akan lebih parah lagi' diriku ambyar seketika.
Tidak terasa waktu sangat cepat berlalu, kini adalah hari terakhir penataran MOs yang akan ditutup dengan acara api unggun nanti malam, sebagai tanda diterimanya calon siswa ini sebagai siswa SMA AIRLANGGA yang akan menghabiskan waktu tiga tahun di sekolah ini.
Semua siswa, termasuk aku dan D'renbo mulai sibuk untuk persiapan nanti malam, karena akan ada banyak perlombaan yang akan diadakan. Akan ada pula pengumunan kelompok terbaik, siswa teladan selama masa penataran, dan berbagai macam permainan lagi.
Tepat pukul enam sore kesibukkan semakin heboh. Beberapa kelompok mulai meneriakkan yel-yel mereka. Aku dan keempat sahabatku begitu menikmati acara ini meski dengan drama yang bikin pegel hati.
Papa benar, masa orientasi seperti ini sebetulnya penting untuk mental para calon siswa. Meski ada beberapa sekolah di daerah yang sudah tidak memberlakukan masa penataran seperti ini. Tapi SMA AIRLANGGA masih menganut sistem lama yang membuatku jadi mengerti apa itu mental sebelum maju melanjutkan semuanya.
Di masa penataran ini secara tidak langsung kami dididik untuk bekerja keras dalam menemukan suatu hal di atas nalar, contoh nyari buah berpori pori besar. Walaupun zaman sekarang sudah canggih, tinggal panggil om Google semua teratasi.
Malam pun tiba. Udara dingin tidak membuat diriku berdiam diri. Aku merapatkan sweeter yang aku kenakan. Kakak pembina mulai berdatangan ke lapangan, karena malam ini kami tidak kumpul di aula melainkan di lapangan.
"Ok, masing-masing ketua kelompok, coba rapihkan barisannya!" Kak Ihza datang dan menyuruh merapihkan semua barisan kelompok, "siap... Geraakkkk... "
"Tidak terasa seminggu sudah berlalu, dari mulai perkenalan hingga saat ini hari penutupan penataran," Kak Rayyan memberikan pidatonya di depan, "Kakak di sini sebagai ketua osis dan pembina Mos mengucapkan beribu maaf kepada kalian. Maaf jika kami para kakak pembina, sering membentak kalian, maaf atas kata-kata kami yang disengaja atau tidak yang menyakiti kalian."
Dari cara kak rayyan berbicara aku sudah tahu sifatnya. Rayyan si ketua osis yang baik hati, kalem, Murah senyum, dan yang pasti idaman semua cewek.
Aku menghilangkan semua pemikiran tentang Kak Rayyan dan kembali fokus mendengar pidatonya. "Dan terimakasih banyak atas semangat kalian yang tidak pernah lelah seminggu ini, meski terkadang mendapatkan hukuman tapi kalian tetap semangat. Jadi saya pribadi mengucapkan SELAMAT DATANG SISWA BARU DI SMA AIRLANGGA." riuh tepuk tangan menggema di udara.
"Acara akan kita lanjutkan dengan pertunjukan menyanyi antar kelompok," Kak Dewi menambahi.
"Semua kelompok sudah menyiapkan lagunya kan?" tanya Kak Ihza.
"Sudddahhh, Kak... " jawab kami serempak.
Satu persatu kelompok mulai maju ke depan dengan membawakan lagu-lagu yang sedang hitz saat ini. Dan tibalah kelompokku untuk maju ke depan, kak Dewi mulai memberi aba-aba kepada kelompok, ia mulai menghitung,"1..2..3.."
Syam Dipilih untuk menjadi vokalis dan menyanyikan lagu dari band D'BAGINDAS -C. I. N. T. A-
aku dan beberapa teman sekelompokku mengiringi syam dengan bertepuk tangan, karena sudah odi yang memainkan gitar.
Acara pun selesai. Kami semua diizinkan untuk istirahat. Karena besok pagi masih ada acara penutupan dari kepala sekolah.
Kisahku akan dimulai hari ini. Entah apa yang akan terjadi esok dan tiga tahun yang akan datang.