
"*Dear jodohku, dirimu mungkin masih menjadi rahasia. Tapi aku yakin kamu adalah hadiah istimewa dari Allah"
-unknown*-
*Tapi kata Papa 'nggak boleh pacaran, nggak boleh cinta-cintaan kalo udah Cinta beneran bisa repot, pokoknya dilarang pacaran sampe lulus kuliah!
Pa, tahu nggak? Peraturan Papa ini kejam*!
****
Khanaya khanza.
\*\*\*
"Jadi besok anak Papa udah mulai sekolah normal?" tanya papa di sela makan malam kami.
"Iyah, Pa," jawabku. Setelah kunyahan makanan itu berhasil aku telan.
"Mau hadiah apa?" tanya Papa lagi yang kini sukses membuat aku menatapnya tanpa kedip. "Naya nggak masuk sekolah negeri loh ,Pa."
"Memang hadiah harus banget masuk negeri?" Papa masih menatapku dengan tenang, "Kata Mama, kamu berhasil di peringkat dua kan?" aku mengangguk.
"Jadi Papa mau kasih hadiah buat anak gadis Papa yang beberapa bulan lagi sweet seventeen,"
bibirku mengerucut mendengar kata terakhir Papa. "Papa, nggak asyik deh. Masa akhir katanya nggak enak banget."
Mama yang sedari tadi hanya sibuk mendengarkan pun ikut tersenyum melihat rajukanku.
"Jalan-jalan mau?" kata Mama sambil melirik Papa.
"Mau kemana, Ma?" tanyaku antusias.
"Ke Botani Square, Mama mau belanja bulanan besok." Aku menatap mama dengan tatapan tidak percaya. Hadiah macam apa ini ,Ma? Ya ampun.. Untung sayang, jadi nggak perlu marah-marah.
Papa tertawa yang melihat wajahku cemberut sempurna. "Mau beli apa aja, terserah. Papa nggak larang! Mau dvd drakola yang baru juga Papa izinin,"
"Drakor Pa, bukan drakola."
"Iya, itu maksud Papa. Sama aja kan?"
"Beda Pa, ya ampun... "
"Iya. Iya beda."
Aku hanya mendengus pelan. Mama dan Papa fanatik banget sama hal yang berbau korea. Entah apa alasan mereka bisa se-kompak itu, tapi nyatanya Mama dan Papa malah mempunyai anak yang korean abis.
"Jadi mau ikut Mama nggak?"
"Jadi,"
"Hahaha.. " Mama dan Papa kompak tertawa. Di mana yang lucunya coba Pa, Ma?
****
Weekend kali ini Mama dan Papa beneran ngajak aku belanja bulanan, meski Papa benar-benar menepati janjinya yang mengizinkan aku belanja apa aja, termasuk dvd Drama Korea terbaru.
Saat ini kami sedang makan di salah satu restoran yang ada di Mall Botani Square. Meski udah sering ikut Mama belanja, namun kali ini lebih seru, ya pasti kalian paham lah. Belanja bareng Mama dan Papa itu bikin hatiku beneran bahagia. Nggak perlu weekend jauh ke luar kota apalagi sampe ke luar negeri, karena nyatanya berada di sini pun aku sudah sangat bersyukur. terimakasih ya Allah semoga engkau memberi kesehatan kepada kedua orang tua hamba.
"Aku mau ke toilet dulu ya, Ma," pamitku kepada Mama.
"Iya. Hati-hati ya!" aku hanya mengakat jariku membetuk kata 'ok'.
Setelah selesai dari toilet aku berjalan pelan menuju meja makan kami tadi, dan....
Bruukk...
Aku menabrak seseorang. Aku memegang keningku yang rasanya...
Gue nabrak orang apa tiang sih? Sakit banget.
Aku mencoba mendongkkan kepalaku, tatapan mataku bertemu dengan seseorang yang sedang menaikkan satu alisnya, "kalo jalan itu jangan sambil main yang beginian." katanya penuh penekanan sambil menunjuk handpone yang berada di genggamanku.
"Maaf," lirihku pelan. Wangi parfumnya masih menyeruak di rongga hidungku, meski cowok tadi sudah pergi setelah dia menganggukan kepalanya, tanda maaf diterima.
Aku sempat melihat wajahnya. Mengingat sepertinya dia tidak asing bagiku, kita pernah bertemu, tapi di mana? Aku juga tidak tahu. Sambil berjalan menuju meja, aku terus mengingat siapa cowok tadi. Asli nggak asing banget wajahnya.
"Kok lama banget, Kak?" tanya Papa ketika aku duduk di sampingnya.
"Toiletnya penuh, Pa," kataku pelan.
"Ya udah, cepet dimakan makanannya!"
"Iya, Ma."
Setelah semua selesai kami pun memutuskan untuk pulang. Mengingat besok hari pertamaku masuk sekolah.
***
Rasa syukur yang bercampur bahagia kini aku rasakan, tiga hari ujian pengetesan ditambah satu minggu penataran, kini aku sudah resmi menjadi siswa SMA AIRLANGGA.
Aku menunggu keempat sahabatku di depan gerbang sekolah. Karena hari ini aku diantar Papa. Sebuah motor ninja merah berjalan pelan menuju gerbang, seorang cowok yang memakai helm lengkap dengan sebuah bufh yang menutupi seluruh wajahnya, jaket berbahan jeans menjadi daya tarik tersendiri ketika melihat cowok itu.
"Nayyaaaaa... " suara Mala berhasil membuat pikiranku berhenti sesaat. Si Mala ini kalo panggil orang nggak bisa apa ya, nggak pake teriak gitu. Ya ampun..
"What?"
"Keren kan gue?" aku mengernyit tidak mengerti dengan ucapan Mala.
"Apanya?"
"Ahk lo, Nay. Nih liat si Mala baru aja dapat jam tangan Rollex dari tantenya." kata Khena sambil menunjuk sebuah jam tangan yang begitu mengkilau terkena sinar matahari. "Ori nih!" Mala begitu heboh.
"Iya deh, masuk yuk ahk! Ntar keburu bel lagi." kata Wawa yang sudah bergabung bersama kami.
"Si Nur belum dateng?" tanyaku.
Khena menatapku tidak percaya, "Lo nggak tau?"
"Nggak?"
"Nur udah dari tadi stay di kelas."
"Hah...?" aku sukses terperangah mendengar jawaban Khena. Lalu Mala segera menarik tanganku menuju kelas.
Jika saat SMP kami masih bisa satu kelas bareng, berbeda halnya ketika sudah masuk bangku SMA. Mala dan Khena masuk kelas IPA2, sedangkan Nur dan Wawa masuk kelas IPS1 dan aku... Selalu yang berbeda dari mereka. Aku masuk kelas SASTRA BAHASA, yang memang masih jarang peminatnya.
"Khanaya khanza... " seseorang memanggil namaku, akupun segera menoleh, "Hey Kak Niar," perlu kalian ketahui bahwa Kak Niar ini adalah sepupuku, kita satu kakek dari Mamaku.
"Nggak bareng sama the genk's kamu itu?" tanya Kak Niar ketika langkahnya sudah sejajar denganku.
"Kita beda kelas Kak, jadi pada pisah deh," Kak Niar menganggukan kepalanya.
"Kak niar.."
"Aku mau tanya,"
"Tanya apa, Naya?"
Aku melihat seorang cowok yang sedang berjalan membawa helmnya, bufh-nya sudah ia buka, tapi masih bertengger di lehernya. Dan aku bisa melihat dengan jelas wajahnya. Dia beneran anak SAGHA.
"Kak, cowok yang itu namanya siapa?" tanyaku sambil menunjuk cowok itu dengan daguku.
"Yang mana, Nay?"
"Itu Kak, yang lagi bawa helm, yang lagi jalan ke arah sini," anjirr.. Dia jalan ke arah gue.. Tunggu.. Tunggu
"Oh,, itumah si Revan. Teman sekelas kakak," dan cowok yang namanya revan itu melintas di sampingku sambil melirik Kak Niar dan memberikan senyuman kecil ke arahnya.
"Kenapa, Naya?"
"Nggak apa-apa kok, Kak. Nanya aja!"
"Naksir ya?"
"Idiihh... "
"Kapten futsal sekolah dia,"
"Ya biarin aja, Kak."
Kak Niar terkekeh pelan yang sukses membuatku wajahku memerah, nggak tau kenapa.
****
Bel istirahat pertama telah berbunyi, aku pun bergegas keluar kelas untuk mengisi perut di kantin, sepertinya genk's unyuku sudah melenggang pergi ke kantin, tanpa menungguku. Nasib terpisah kelas sendiri ya seperti ini.
"Heyy..." sapa seseorang yang membuat mataku mengerjap beberapa kali.
"Bisa nggak sih, matanya nggak kaya gitu? Jadi pengen cubit tau," katanya yang berhasil membuat degup jantungku berdetak kencang. "Ehk, ya maaf, Kak."
"Nggak ada yang salah, kenapa minta maaf?"
aku hanya menggaruk tengkukku yang tidak gatal.
"Mau ke kantin?"
"Iya, Kak,"
"Yuk bareng aja! Kakak juga mau ke kantin."
Heyy.. Hati gue, coba jangan baper dulu ya! Ini cuma ajakan ke kantin bareng, jantung jangan lebay! Tenggorokan jangan sok-sok-an dehidrasi, nanti dehidrasi beneran bisa repot. Pingsan di sini itu memalukan. Astaga! Kenapa tubuh gue malah mendadak kena bongkahan es dari kutub Utara, asli dingin, kaku, and senengnya membuncah... Tuhan... Tolong Naya.
Aku dan Kak Rayyan berjalan beriringan, sesekali dia menanyakan hal-hal yang membuat diriku semakin enggan untuk... Ahk.. Tuh kan... Jantung plis jangan lebay!
Dan tanpa aku sadari, bahwa pertemuan kali ini bisa menjadi bom yang siap meletus kapan saja. Siap tidak siap nyatanya aku harus siap.
****
Hari pertama sekolah baru, suasana baru, beberapa teman baru, dan masalah baru sudah siap menanti. Seperti radar dalam otakku mendeteksi ada yang tidak beres pada suasana makan malam saat ini. Papa tidak biasanya diam seperti itu. Aku melirik Mama, dan Mama hanya menatapku sekilas lalu melanjutkan makan lagi.
"Ini ada apa? Kok kaya makan malam bareng kolega bisnis, formal banget!" kataku dalam hati.
"Selesai makan, temui Papa di ruang keluarga." tuh kan apa gue bilang, pasti ada sesuatu yang nggak gue tahu nih. Aku hanya mengangguk. Setelah selesai makan, Mama melarangku merapihkan meja makan. "Biar Mama aja, udah sana temui Papamu! Nanti Mama nyusul."
Nah, makin deg-degan aja deh gue. Nggak biasanya Papa kaya gini, kok jadi se-menakutkan ini coba?
Tenang naya.. Tenang.. Mungkin Papa mau kasih kejutan. Aku berjalan santai menuju ruang keluarga, tempat kita biasa berkumpul bersama. Kulihat Papa sedang sibuk dengan tabletnya.
"Duduk, Nay!" pinta Papa tanpa menatapku. Aku pun segera duduk, disusul Mama yang duduk di sampingku.
"Bagaimana sekolah hari ini?" tanya Papa memulai pembicaraan, tabletnya sudah ia simpan di meja.
"Lancar, Pa,"
Papa mengnggukan kepalanya pelan.
"Naya masih inget pesan Papa kan?"
Pesan Papa yang mana? Papa selalu kasih pesan ke naya.. Terus yang di maksud pesan papa kali ini.. Yang mana Pa?
Aku mengangguk. Meski nggak tahu pesan yang papa maksud.
"Bagus kalo naya masih inget. Papa nggak mau liat naya deket-deket sama cowok kaya tadi siang di sekolah."
Deggg!!!
kasian banget lo nay.. Cowok yang mana yang Papa liat? Tadi siang gue ngobrol sama Pak Fikri, nggak mungkin Papa sampe kaya gini, terus Boni, lalu kak Rayyan.. Astaga... Nggak mungkin Papa melakukan kunjungan ke sekolah kan?
"Naya nggak ngerti maksud Papa," jawabku gugup.
Sumpah beneran nggak ngerti Pa. Mama tolongin!!
"Khanaya khanza, dengerin Papa! Kamu anak satu-satunya, harapan besar Mama Papa. Kamu tahu nggak apa yang selalu Papa dan Mama minta sama Allah? segala kebaikan untuk kamu. Dan Papa udah sering berpesan sama kamu JANGAN PACARAN, jangan cinta-cintaan, nanti kalo udah Cinta beneran repot. Kalian masih kecil. Belum saatnya kenal sama hal kaya gitu."
Mataku rasanya perih banget denger Papa ngomong gitu. Maksudnya apa sih Pa? Aku nggak ngerti. Siapa yang pacaran? Siapa yang cinta-cintaan. Aku melirik Mama, yang saat itu hanya diam saja. Ini kalian pada kenapa sih? Kok aku kaya tersangka banget.
"Nay... " panggil Papa pelan.
Aku cuma bisa menunduk. Sumpah jadi nggak berani menatap Papa. Padahal nggak tau salah aku itu apa.
"Cinta memang fitrahnya manusia sayang, tapi kalo pacaran? Apa kamu pernah denger dalil tentang pacaran? Nggak ada pacaran dalam islam, Nak. Nggak ada pacaran dalam kamus besar mama Papa, kalo Cinta ya lamar! Tapi itu nanti, Nak. Kamu masih kecil. Pikirkan semua tentang cita-cita kamu. Mau sebesar apapun kamu, sebelum ada laki-laki Soleh yang datang kepada Papa, lalu meminta kamu dengan baik-baik, Kamu masih tanggung jawab Papa."
Sebenarnya Papa kenapa sih? Aku nggak ngerti Pa, ini kenapa jadi tentang pacaran mulu.
"Pa... " aku berani menatap Papa, tatapan matanya lembut sekali.
"Naya nggak ngerti kita lagi bahas apa," kataku jujur. Mama yang berada tepat di samping terkikik geli dengan pertanyaanku, aku melirik ke arah Mama, Mama langsung membuang senyumnya ke arah lain.
"Cowok tadi siapa?" tanya Papa yang sedang menahan tawanya, namun masih ia paksakan dalam mode marah.
"Cowok yang mana, Pa?"
"Yang tadi siang ngobrol sama kamu."
"Papa ke sekolah? Ngapain? Kok nggak bilang kalo mau ke sana,"
Mama tidak bisa menyembunyikan tawanya lagi. Kulihat papa mengusap wajahnya kasar. "Harus kamu tahu, pemilik SMA AIRLANGGA itu kenalan baik Papa, Mbak YULIHANN namanya, dan kamu harus inget juga kalo Tante Retno itu mengajar di sana."
"Terus apa hubungannya sama aku yang ngobrol sama cowok, Pa?"
"Papa nggak suka liat cowok tadi menatap kamu kaya gitu. Pokoknya kamu dilarang pacaran sampe lulus kuliah."
Pa, tau nggak, peraturan papa ini.. Kejam!!