can I love you

can I love you
20. Doa perpisahan.



Aku selalu berharap alur kehidupan itu berjalan cepat. Aku tidak ingin terlalu merasakan sakitnya ketika terluka dan kecewa atau sekedar terbuai karena terlalu bahagia akan dunia yang hanya bersifat sementara.


Maka hari ini, ketika ujian tengah semester telah tiba aku hanya bisa merasakan setiap moment pahit itu akan berlangsung pergi dari ingatan. Tidak usah terlalu lama singgah di hati yang rapuh, aku takut kembali masuk rumah sakit karena Cinta segitiga yang entah seperti apa akhir ceritanya.


Matahari kian tinggi, cahayanya terang benderang menyinari bumi. Panasnya mulai terasa membakar kulit. Angin segar mulai menyapa dari arah Utara, tanpa malu langsung memainkan anak rambut yang kuikat asal.


Di sini, SMA AIRLANGGA kisahku dimulai. Menjadi pengagum rahasia. Mencintai dalam diam. Berkorban perasaan demi persahabatan dan akhirnya terbalas dengan luka yang menganga. Dari sini aku belajar bahwa setiap sesuatu akan terbalas juga tapi untuk hati dan perasaan hanya Tuhan pemegang Mutlak di atas segalanya. Aku lelah, jika harus berpikir semua akan berakhir Indah. kami semua bahagia. Itu hanya sekedar hayalan bucin seperti aku. Maka saat ini aku hanya fokus belajar, mengejar cita-citaku untuk membuat Mama dan Papa bangga. Karena sebenarnya hanya merekalah yang dengan tulus memberiku Cinta tanpa alasan.


Pelajaran demi pelajaran hidup telah terpatri dalam ingatanku. Akan tetap menjadi jejak kenangan yang tak mungkin aku lupakan. Menjabat sebagai ketua redaksi mading, menjadi catatan paling bersejarah karena dari dulu aku tidak pernah suka menjadi ketua, mengawasi anggota agar tetap kompak satu Tim. Maaf dulu aku paling anti sekali.


Belajar dari rasa sakit maka kita akan menemukan makna untuk bersyukur. Bersyukurlah agar kita bahagia. Sebab bahagia itu berasal dari diri sendiri. Mau diambil orang atau tidak, masa bodo! Intinya belajar ikhlas.


Hari terakhir ujian tengah semester aku kembali berharap bahwa semua alur akan terus bergerak cepat. Tanpa menunggu hati yang masih tertatih. Tanpa menunggu senyum agar terus mengembang. Aku hanya ingin semua ini cepat berakhir, masa SMA-ku segera lulus dan aku bisa pergi dari kenangan pahit ini.


"Nay.... " Mala datang menghampiriku.


"Yap... Kenapa, Mal?"


"Lo nggak bosen tiap hari melamun di sini?"


Aku tersenyum, "Bosen kenapa? Di sini enak tauk... Anginnya seger," aku kembali membuka buku pelajaran yang akan diuji setelah istirahat ini. "Yang lain kemana? Kok, lo sendiri?" tanyaku.


"Khena sama Wawa di kantin. Si Nur lagi di Lab Ipa."


"Oh... " aku menoleh ke arah Mala yang sibuk dengan lolipop di mulutnya, "Itu kenapa muka lo ditekuk kayak gitu?"


"Gue cantik nggak?" tanya Mala.


"Hah.. Maksudnya apa sih, Mal?"


Mala menatapku sejenak. Mengintimidasi lekat diriku dari ujung kepala hingga ujung kaki, "Lo kenapa bisa cantik kayak gini sih, Nay? Perasaan lo itu nggak pernah dandan. Pake bedak aja kaga,"


"Hahahahaha..." aku tertawa pelan sambil menutup wajahku dengan buku pelajaran, "Sumpah gue jadi malu dah. Gue cantik udah dari lahir sih, jadi nggak heran."


"Sialan... Nyesel gue ngomong kayak tadi." Mala berdecak kesal.


"Hmm.... Lo Kenapa sih?"


"Gue cantik nggak?" Mala mengulang pertanyaannya kembali.


"Setiap cewek itu pasti cantik, Mala. Apa lagi dia punya inner beauty gue jamin kadar kecantikannya akan bertambah." aku menoleh ke arah Mala yang kini sedang melamun. "Tadi lo nanya, lo cantik nggak? Tentu cantik. Kalo cowok suka sama lo cuma dari kecantikan, mending tinggalin aja. Cantik itu akan lenyap termakan usia."


"Heh... Kok jadi serius banget sih?"


"Bodo amat ahk.. " aku menatap Mala dengan malas.


"Hahahaha.. Sorry. Jangan baper lah! Gue tanya kayak gini soalnya ada someone yang bikin gue jadi......... "


"Jadi gila," kataku, memotong ucapannya.


"Gue belum selesai ngomong, Naya."


"Oh. Ok. Lanjut Bu Haji!"


"Nggak jadi. Nanti lo mewek lagi dengernya,"


"Lah kok bisa?" tanyaku penasaran.


"Ya bisa.. Pokoknya.. Gue lagi... Udah ahk, ke kelas aja yuk!"


"Dih.. Romelah jatuh Cinta ya?"


Mala tersipu Malu, "Sssttt... Jangan teriak kayak gitu, Midah!" suaranya khas sekali seperti sedang menahan gejolak orang jatuh Cinta.


"Hahahaha.. Cie.. Cie.. Jadi udah sampai mana?"


"Kita... Udah jadian." Mala teriak heboh sambil berjingkrak pelan. Jika saja saat ini boleh membawa ponsel aku pastikan akan merekam moment ini.


"Anjiirrr... Pj mana?"


Mala menutup mulutku dengan tangan kanannya, "Pliss ya! Jangan bilang sama yang lain! Gue cuma cerita sama lo aja."


"Ppppttttt..... " aku menarik tangan Mala dari mulutku, "Gue susah napas, marmut!!!"


Mala tersenyum tidak jelas, "Hehehe.. Sorry.." lalu kini kita berjalan beriringan, tangan Mala merangkul bahuku, "Pliss ya, Nay! Jangan heboh dulu!"


Aku mendengus mendengar ucapannya. Bukankah tadi dia sendiri yang heboh saat memberi kabar padaku? Dasar....


Sampai di kelas, bel sudah berbunyi nyaring. Aku langsung menyiapkan kembali alat tulis di atas meja. Ketika ujian tengah semester maka dalam satu ruangan ada beberapa siswa dari kelas X, XI, dan kelas XII. Ya, satu ruangan ada berbagai macam kelas dan kejurusan. Jadi tidak bisa berbagi jawaban, meski banyak pula dari mereka yang masih melakukan kegiatan tidak ada akhlak itu.


Ketika pengawas memberikan lembar soal, aku mulai fokus membaca satu persatu pertanyaan tersebut. Seperti dejavu, aku kembali melihat soal ini yang ternyata soal fisika persis ketika pengetesan dulu. Aku tersenyum membayangkan kembali momen kami ketika ingin lolos ke sekolah ini.


Kak Rayyan, seseorang yang pertama kali mencuri perhatianku, namun hatiku malah tertumpu pada cowok kutub bin menyebalkan seperti Revan. Sungguh tidak berfaedah sekali.


Kurang dari 45 menit aku sudah menyelesaikan semua lembar soal ini. Ternyata terlalu lama kecewa dan sakit hati berhasil membuat otakku kembali mencair dan bisa sepintar sekarang. Ketika pengawas kambali mengambil lembar demi lembar soal tersebut, bel sekolah berbunyi nyaring. Aku dan para siswa yang lain pun bergegas meninggalkan kelas.


"Yuhhuuu.... Naya.... " suara Mala kembali menggema ketika aku sudah berada di lantai dasar. Mungkin ini salah satu moment yang sering aku rindukan. Mala dengan suara khasnya sudah menemani persahabatan kami selama satu dekade. Aku bahagia masih bisa mendengarnya, meski Mala pernah merasakan berada di titik terendah hidupnya namun semangat perjuangannya mampu memberikan motivasi hidup untuk diriku.


"Apa?" jawabku sambil berjalan pelan.


"Yang lain mana? Hari ini kita bakal ditraktir Wawa,"


"Seriously? Ada acara apa?"


"Jangan bilang lo nggak tau deh, Midah." Khena menyahut dari arah belakang.


"Apaan? Gue beneran nggak tau."


Sebuah cubitan kecil dari tangan Khena kembali mendarat di bahuku, "Astaga!!! Sakit, Khena...." aku meringis sambil mengusap bahu.


"Sahabat macam apa anda ini, Nyonya?"


Aku menggelengkan kepala tidak mengerti dengan ucapan mereka. Saat wajahku berpaling ke arah lain, aku menemukan Wawa sedang berjalan dengan Ihza. Alumni SAGHA dulu.


"What... Ini gue nggak salah liat!?"


"Lo memang sahabat nggak ada akhlak, Naya." kata Khena melakonis.


"Mereka.... " aku menunjuk Wawa dan Kak Ihza yang sedang berjalan ke arah kami, "Kapan jadian?"


Belum sempat Khena menjawab, tiba-tiba saja Mala sudah memeting kepalaku. Aku tertawa geli. Rasanya sudah lama sekali kami tidak segila ini. Mungkin benar jika waktu semakin cepat berlalu maka semakin cepat pula kita kehilangan banyak hal yang terjadi dalam hidup ini.


Teruntuk kalian yang masih bisa bersama orang-orang terkasih mulailah dari sekarang untuk menyempatkan waktu sebentar saja bersama mereka. Jika waktu bergulir bisa jadi kita tidak akan merasakan kebahagiaan itu lagi.


****


Seminggu sudah seorang Revan tidak pernah terlihat mondar-mandir di hadapanku. Aku bukan sekedar rindu, tapi juga masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Setelah kejadian malam itu aku dan Nur sama-sama bungkam. Tidak ada satupun dari kami yang bercerita kepada genk's unyu. Kukira Nur akan jujur bercerita kepada mereka, ternyata aku salah. Nur malah diam seribu bahasa, seolah tidak terjadi apa-apa antara aku dan dia. Sedangkan aku merasa tidak punya hak untuk mengatakan apapun itu kepada ketiga sahabatku.


Seminggu ini pula hatiku dilanda gelisah tidak berujung. Revan yang biasanya selalu muncul dari berbagai arah. Entah itu di masjid, di ruang guru, dia lapangan sekolah atau di mana pun itu pasti selalu ada sosok menyebalkan yang begitu aku rindukan. Namun tidak dalam seminggu ini. Revan seolah menghilang tanpa jejak. Aku tidak tahu keberadaannya. Mau tanya pun bingung kepada siapa.


Setelah turun jabatan dari ketua redaksi mading, rutinitasku hanya dihabiskan di masjid dan perpustakaan sekolah. Tidak ada lagi teriak-teriakan memanggil Yuka dan Dewa serta si centil Tiara. Semua sudah berganti menjadi Naya si penjaga teras masjid.


Ketika solat selesai solat duha, aku berdoa kepada Allah. Dalam doaku itu, aku meminta jika besok Revan hadir di sekolah, mungkin itu hari terakhir Naya bisa melihat senyum indahnya. Naya sudah memutuskan akan mengakhiri ini semua. Naya bukan menyerah, tapi memberi jeda pada hati sendiri itu lebih baik. Allah. Hanya itu yang Naya pinta. Izinkanlah Naya melihat senyum indahnya untuk yang terakhir kali sebelum dia pergi dari sekolah ini dan dari hati Naya.


****


**Revan Adit Prasetya**



\*\*\*


Dari yakin ku Teguh..


Hati ikhlas ku penuh..


Akan karunia-Mu...


Sepenggal lirik dari lagi Syukur begitu merdu terdengar. Meski ini lagu nasional tapi saya suka mendengarkannya. Malam ini saya masih berjibaku dengan demam, flu dan pilek. Ditambah lagi maag kumat tanpa permisi, jadilah saya di sini di ruang pemeriksaan sebuah klinik yang tidak jauh dari rumah saya.


"Banyakin minum air putih ya, Re. Jangan lupa makan yang sehat. Buah-buahan dan sayur itu penting!" jelas seorang Dokter yang masih terlihat bugar sekali meski rambutnya telah memutih.


"Iya. Siap, Dok." kata saya dengan lemah.


"Revan ini susah banget kalo makan buah dan sayur, Dok," Bunda menimpali.


"Jangan gitu lah, Re! Kamu kan sudah dewasa. Sudah tau yang namanya Cinta." Dokter di depanku sedang terkekeh pelan.


Maksudnya apa sih, Dok? Apa hubungannya sakit saya ini dengan Cinta? Aneh-aneh aja.


"Iya, Dok." saya menjawab lagi kali ini tidak selemah tadi.


"Tuh.. Dengarkan apa kata Dokter, Bang!"


Aku tidak mau berurusan lebih lanjut dengan Dokter Irwan dan Bunda karena beliau pasti akan terus meledekku, ketika aku lemah dan tak berdaya. Sungguh terlalu!


Setelah Dokter Irwan memberikan beberapa obat, aku dan Bunda pun pamit pulang. Aku masih sanggup membawa motor meski badan ingin sekali rebahan di kasur. Tapi ini demi semua pelajaran yang tertinggal selama sepekan, dan aku tidak ingin menambah jeda panjang pada badan untuk rebahan. Akhirnya setelah berdebat panjang dengan Bunda aku berhasil dibawa ke klinik oleh diriku sendiri dan diantar Bunda tentunya.


Kami sampai di rumah, saya pun segera memarkirkan motor di halaman depan. Bunda sudah masuk lebih dulu untuk menyiapkan makanan. Badan saya rasanya lemas sekali ketika mengemudikan motor tadi. Kini saya berbaring di karpet depan televisi. Menikmati angin segar dari kipas angin yang memutar kencang.


"Re, makan dulu!"


Bunda datang menghampiri dengan membawa nampan yang berisi makanan lengkap empat sehat lima sempurna. Serta beberapa bungkus obat yang sudah disiapkan Bunda.


"Iya, Bun."


"Harus dihabiskan semua, Bang. Inget pesan Dokter Irwan tadi!"


"Iya, Bunda. Abang makan dulu ya."


Saya mencoba memasukan nasi ke mulut. Kunyahan pertama sukses tertelan, namun tidak untuk yang kedua dan sepiring nasi yang masih tersisa banyak. Saya tidak sanggup. Rasanya pahit sekali.


"Udah ya, Bun,"


"Astagfirullah, kamu makan apanya, Bang. Nasinya masih penuh begini!?"


"Pahit, Bun. Asli!"


"Pahitan mana sama kisah Cinta kamu itu, Bang?"


"Dua-duanya pahit, Bun. Abang nggak sanggup."


"Ya Allah. Revan Adit, mau makan atau...... "


Tubuh saya lemas ketika mendengar ucapan Bunda. "ini Abang lagi sakit loh, Bun. Jangan diancam kayak gitu lah!"


"Makan... "


"Iya. Ini makan."


Akhirnya dengan susah payah saya kembali menelan suapan demi suapan nasi tersebut. Sehat, Re. Masa depan di ujung mata. Sebentar lagi Ujian nasional. Jangan mengulang sampai tahun depan. Mau ditaruh di mana wajah keren lo ini nanti?


Setelah menghabiskan sepiring nasi tanpa sisa, saya segera meminum obat yang sudah tertata rapi di meja. Saya segera ke kamar untuk istirahat kembali. Mengumpulkan tenaga untuk sekolah besok pagi.


***


"Kamu yakin mau sekolah, Bang?" tanya Bunda ketika saya Sedang mengikat sepatu.


"Iya, Bun. Abang udah banyak banget ketinggalan pelajaran,"


"Kan bisa nunggu lebih pulih lagi, Bang. Itu mukanya juga masih pucat banget gitu."


"Pucat juga tapi tetap keren kan, Bun?"


Bunda hanya menggeleng pelan. "Kalo nggak sanggup, jangan dipaksa ya!"


"Iya, Bunda. Ini Abang sanggup, Kok."


Saya segera meraih tangan Bunda untuk saya cium lembut, pamit kepadanya untuk bersekolah kembali.


"Hati-hati ya, Bang!"


"Iya, Bun. Assalamualaikum,"


"Walaikumsalam."


Hari ini saya tidak membawa motor, tentu karena larangan Bunda juga badan yang rasanya tidak bisa diajak kompromi. Sesekali saya masih terbatuk dan susah napas karena pilek masih betah di hidung saya.


Kini Saya berangkat diantar Pak Ojim. Tukang ojek di pangkalan perumahan tempat saya tinggal.


Setelah tiba di sekolah, saya berjalan pelan memasuki halaman sekolah yang kelihatan tidak berbeda ketika saya tidak masuk selama seminggu. Tetapi ada yang berbeda dari wajah yang kini sedang menatap saya dengan tatapan sulit diartikan. Cewek itu sedang berdiri lurus ke arah saya dari lantai dua depan kelasnya


Saya tidak menghiraukan sama sekali tatapan mata itu. Meski saya juga rindu. Tapi saya harus terbiasa di depannya. Apesnya ketika saya berada di lantai 2 sedikit lagi akan sampai ke kelas, cewek itu berjalan pelan ke arah saya. Lebih apesnya lagi batuk saya tidak bisa tertahan. Suara khas itu pasti terdengar olehnya. Saya juga beberapa kali mengelap hidung dari air bening yang selalu keluar ketika batuk dengan tissu basah yang sudah disiapkan Bunda.


Tiba-tiba saja kepala saya berdenyut hebat. Ini kenapa suhu badan pun tidak normal seperti tadi? Saya langsung ke kelas, berjalan dengan terhuyung pelan. Sampai di kelas, saya langsung duduk di kursi dan menjatuhkan kepala ke meja. Rasanya pusing sekali. Jika saja hari ini tidak ada pengambilan nilai saya tidak akan memaksa diri untuk ke sekolah.


Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa bel istirahat telah berbunyi. Kepala saya sudah tidak sesakit seperti tadi. Hanya masih kliyengan ketika dibawa jalan.


"Re.... " panggil Anin teman sekelas saya.


"Iya,"


"Lo mau kemana dah?"


"Makan... "


"Mau gue anter?"


"Boleh lah. Gue udah kliyengan banget ini,"


"Ayo jalan!" kata Anin sambil memapah saya.


Saya melepas tangannya pelan, "Ya nggak kayak gini juga kali, Nin." saya berdecak pelan.


"Njirr.. Gue takut lo pingsan, Re!"


"Tenang aja gue nggak bakal pingsan di sini!"


"Ya udah, geura jalan!"


Saya dan Anin berjalan beriringan. Sesekali saya memijit kepala saya yang semakin berdenyut.


Setelah tiba di kantin, Anin langsung memesan makanan untuk saya dan dirinya. Saya kembali menjatuhkan kepala di meja. Meringankan sakit yang masih menyiksa. Samar-samar yang mendengar percakapan Anin dengan seseorang. Tapi tidak saya pedulikan. Saya malah memejamkan mata, menikmati rasa sakit dengan terpaan angin yang datang dari jendela-jendela besar di kantin ini.


"Re..." panggil Anin sambil menaruh makanan dan minuman di meja lalu sebuah plastik putih yang saya tidak ketahui isinya sudah tertata rapi di depan saya.


"Apaan ini?" kata saya, sambil menunjuk plastik putih tersebut.


"Titipan,"


"Dari siapa?"


"Katanya penggemar rahasia lo, Re." ucap Anin sambil mengunyah batagor di mulutnya.


"Penggemar rahasia apa?"


"Nggak tau. Dia cuma bilang kayak gitu."


"Siapa orangnya?"


"Gue udah janji sama dia. Masa gue kasih tau lo, sih?"


"Teman lo dia apa gue?"


"Ya lo, lah."


"Terus?"


"Lo ribet banget, Re. Sumpah! Gini ya. Ya elah masa gue ingkar janji sih," Anin terlihat bingung sendiri.


"Lagian itu isinya cuma obat. Lo buka aja!"


Saya pun segera membuka plastik tersebut, dan benar saja isinya obat-obatan yang sama persis dengan obat saya yang tidak


terbawa di rumah.


"Ini dari siapa, Anin?" Tanya saya dengan suara lembut sekali. Biasanya Anin akan terhipnotis dengan suara lembut seperti ini.


"Dari si Naya." dan benar saja sebuah nama ini meluncur bebas dari mulutnya. Seperti biasanya Anin akan berdecak sendiri.


"Ah, lo sih. Jangan bilang tau dari gue ya. Anggap aja lo punya mata batin atau apalah gitu!"


"Iya." jawab saya sambil tersenyum.


Naya.. Maksudnya Khanaya kali ya. Kenapa dia bisa tahu obat-obat saya ini? Masa sih dia cenayang? Atau dia anak Dokter Irwan? Atau selama ini dia jadi penguntit? Oh. Revan buang pikiran aneh itu!


Setelah makan dan meminum obat tersebut, saya langsung mengambil ponsel di saku saya. Lalu mengerikan pesan kepada nomor yang sudah tersimpan manis di ponsel saya dari satu tahun yang lalu, tapi sangat tabu sekali untuk saya buka.


[Revan Adit Prasetya]


Makasih.


Pesan tersebut tidak terbalas. Biarkan sajalah! Yang penting saya sudah mengucapkan terimakasih kepadanya.


Mungkin di sisa terakhir hari-hari saya di sini, maka kenangan saat pertama kali melihat cewek tomboy itu sedang kegirangan karena mendapat tanda tangan Rayyan adalah yang paling sulit saya lupakan. Cewek tomboy yang sudah membuat hidup saya tidak monoton. Cewek tomboy yang pernah memohon agar saya pacaran dengan sahabatnya. Semoga.. Semoga saja masih ada kesempatan untuk sebuah perasaan yang masih saya simpan. Semoga saya belum terlambat.