
Perpisahan demi perpisahan terjadi begitu saja. Rasanya ingin menangis pun percuma. Dia tidak akan pernah bisa melihat apalagi mendengar. Dia sudah pergi jauh, sangat jauh. Entah dari hatiku atau mungkin hanya dari penglihatanku saja.
Libur panjang kembali menyapa. Rasanya baru kemarin libur tiba kini sudah datang menyambut sebuah perasaan baru tanpa galau.
Tentang persahabatanku dengan genk's unyu masih sama. Tidak ada yang berubah. Nur masih tetap diam tanpa sepatah kata penjelasan malam yang pernah menjadi petaka.
Aku menikmati setiap kenangan tanpa harus merasa kehilangan. Katanya, jika kita berjodoh sejauh apa pun jarak yang memisahkan akan tetap bertemu kembali.
Re, Mau tidak jadi jodoh aku?
Walaupun aku suka nonton drama Korea, bukan berarti aku tidak bisa memasak mie instan buat kamu. Tenang saja. Aku pernah membuat resep mie instan paling enak di dunia.
Aku malu sekali jika harus berbicara soal jodoh. Pacaran saja aku belum pernah. Lucu sekali. Ini karena peraturan kejam dari Papa. Tak apalah, itu artinya Papa mengajarkan aku untuk menjaga hati kepada satu hati.
Menikmati libur sendiri, tanpa suara hingar bingar sahabat yang mulutnya persis sambal merecon ternyata membosankan. Biarlah. Kini mereka sudah punya hari-hari yang baru bersama kekasihnya. Sedangkan aku, jadi jomblo saja dulu, hingga Papa memberikan restunya.
"Lo segitunya banget naksir gue, ya?"
Suara itu .... Suara khas milik seseorang .... Yang sebenarnya masih sangat aku rindukan. Semoga bukan halusinasiku seperti saat lalu.
"Jadi ngeri gue. Takut lo ngikutin terus sampai ke rumah."
"Heh, lo ngapain di sini!? Bosen banget gue, sumpah,"
"Elleh ... Sekarang aja bilang bosen. Nanti kalo gue pergi pasti nangis-nangis histeris."
"PD.."
"Harus."
"Lo ngapain sih di sini!?" tanyaku yang mulai sebal karena kehadiran Revan. Saat ini aku sedang berada di sebuah toko buku. Niat hati ingin menyendiri, berpacaran dengan buku-buku keren di sana. Ternyata gagal. Makhluk kutub bin menyebalkan ini malah sibuk di sampingku.
"Kenapa, sih? Gue ganteng, ya? Ya, iyalah udah ganteng dari lahir kan,"
"Apa sih, Re? Gaje banget!"
Revan tersenyum. Senyum yang sudah beberapa hari ini sangat kurindukan. Tuhan, mengapa makhluk ini hadir ketika malam minggu seperti sekarang?
"Lo mau sampai kapan berdiri di situ?" pertanyaan Revan berhasil mengagetkanku.
"Kenapa, sih? Suka-suka gue lah!"
"Lo nggak mau malam mingguan?"
"Nggak, malam minggu itu punya banyak cerita kelam dalam hidup gue,"
"Masa? Ya, udah malam ini gue bakal kasih momen yang nggak bisa lo lupain deh. Waktu gue nggak banyak soalnya."
Aku tertegun mendengar ucapannya. Maksudnya apa sih, Re? Kamu bukan mau meninggal kan?
"Ayo, cepetan!"
Aku refleks mengikuti Revan dari belakang. Dia berjalan menuju tempat yang menjadi titik kumpul bersama. Seperti sebuah taman bermain. Namanya Taman Heulang. Lokasinya tidak jauh dari SMK Bogor.
Taman ini cukup ramai ketika malam minggu. Banyak pemuda yang menghabiskan waktu mereka bercengkrama di sini, atau sekedar nongkrong sambil bermain gitar.
"Mau apa ke sini?" tanyaku ketika melihat Revan sudah duduk di salah satu kursi taman.
"Ya pacaran, lah. Liat tuh orang-orang di sini pada malam mingguan sama pacarnya!"
"Tapi lo bukan pacar gue!"
"Gue nggak pengin pacaran. Maunya langsung nikah tapi itu nanti aja! Sekarang cukup lo tau, kalo orang ganteng yang satu ini bakal jadi suami lo di masa depan."
Ada perasaan hangat yang tak mampu aku jabarkan. Benarkan seseorang yang kini sedang sibuk membuka minuman kaleng di tangannya adalah seorang Revan Adit Prasetya? Jin apa yang sekarang sedang berada di dalam tubuhnya?
Mengapa bisa sehangat ini mengeluarkan kata-kata?
"Duduk, sini!"
Aku berjalan pelan, lalu duduk di sampingnya.
"Lo lagi kenapa, sih? Tanyaku penasaran.
"Kenapa?"
"Kerasukan jin apa?"
"Hahahahaha .... "
"Nggak ada yang lucu!"
"Ppppttt ..... " Revan tertawa kecil,
membuang wajahnya ke arah lain. Ini benar-benar aneh sekali.
"Gue cuma pengin kasih lo kenangan manis aja. Bukannya selama ini yang gue kasih moment sakit mulu?"
"Re ..."
"Hmmm ...."
"Lo aneh banget! Nggak salah makan kan?"
"Khanaya Khanza ... Lo repot banget. Dinikmati aja, sih! Manusia hidup di dunia itu nggak lama. Kalo gue besok mati, terus belum bisa kasih satu moment aja buat lo gimana?"
Kini aku dan Revan hanya saling diam. Menikmati suasana malam minggu yang absurd sekali.
"Lo mau lanjut kuliah ke mana?" tanyaku memecah keheningan.
"Nggak tau. Belum ada yang pasti,"
"Masa, sih? Terus lo mau di rumah aja gitu?"
"Ya, nggak juga. Gue bilang kan belum pasti."
"Oh," aku hanya mengangguk.
"Eh, lo udah izin sama orangtua belum?"
"Izin apa?"
"Lo keluar malam kayak gini?"
"Udah, lah. Kalo belum pasti hp gue udah ramai di bom chat sama Papa."
Revan mengangguk. Lalu kembali meminum minuman kaleng yang ada di tangannya.
"Re ...."
"Hmm..."
"Soal Nur, gue belum dapat jawaban apa pun," kataku pelan.
"Memangnya jawaban apa yang lo mau?"
"Ya ... Yang bisa dimengerti lah,"
"Gue nggak punya jawaban atas semua itu."
"Maksudnya apa?"
Revan tersenyum, "dengerin gue ya! Gue nggak tau dan nggak mau tau,"
"Lo gila, ya?" aku berdecak pelan.
"Seharusnya lo sadar, yang gila itu... Lo!"
"Hah!?"
Aku benar-benar tidak mengerti ke mana arah pembicaraan kami malam ini.
"Nay ..."
"Apaan?" jawabku sewot.
"Ya biasa aja dong!"
"Males tau nggak?"
"Gue boleh peluk lo nggak, sih?"
Angin malam semakin terasa hembusannya. Dingin menyelinap masuk ke rongga dada. Oksigen mana? Sepertinya malam ini telah terjadi sesuatu di dalam diriku. Hilang keseimbangan, rasanya ingin terbang. Tapi aku takut jatuh dan sakit. Tuhan, jangan biarkan Naya tertawa sendiri malam ini.
"Woy, Naya!"
"Apa, sih!?"
"Kenapa wajah lo jadi merah kayak gitu?"
Revan itu dodol banget, ya. Semua ini karena ucapan aneh kamu. Sumpah, Re. Mending pergi jauh-jauh sana!
"Bodo ahk,"
"Hahahaha ... Dasar cewek!"
Aku ikut tersenyum. Menyembunyikan grogi yang luar biasa. Semoga tanganku yang sedang gemetar tidak terlihat olehnya. Aku sering menonton drama yang ada bagian kencan buta. Apa ini namanya kencan? Apa Papa tahu yang sekarang anaknya lakukan? Bukan kencan sama buku tapi kencan dengan Makhluk kutub yang sedang tersenyum ke arahku.
"Lo mau pulang jam berapa, Nay?"
Mungkin jika orang lain yang memanggil namaku sudah biasa. Berbeda sekali dengan seseorang yang kini sedang menatapku tanpa kedip. Rasanya aku ingin berteriak bahagia.
"Sekarang," ucapku pelan.
"Mau diantar nggak?"
"Hah!?" aku mengerjapkan mata.
"Gue ikutin dari belakang, ya?"
Aku tersenyum mengangguk. Oh, Tuhan....
Kini motor Revan sudah mengikuti motorku dari belakang. Aku baru merasakan hal seperti ini. Rasanya memang ..... Aku bahagia.
Kami berpisah di perempatan jalan. Revan ke arah kiri sedangkan aku ke arah kanan. Semoga moment langka ini akan terus hadir di ingatanku. Aku hanya ingin mengerti keadaan hatiku saat ini. Biarlah rasa sakit itu hilang, hempas bersama bayangan kelam yang ingin aku lupakan.
Aku percaya bahwa semua ini adalah sebuah keajaiban dari rasa sakit yang pernah aku rasakan.