
Khanaya khanza.
****
"Tidakkah kau sadari? Bahwa Semua ini bikin aku mau marah aja!"
****
-Revan Adit Prasetya- nama itu jadi sering muncul kalo aku lagi melamun.
resek banget sih kamu! Emang kamu siapa? Berani-beraninya datang ke otakku, terus sekarang malah songong banget nyamperin hati aku.
Emang kamu DO EXO? Bukan.. Kamu itu cuma cowok jutek yang nyebelin banget.
Semua juga tahu, kamu itu nyebelin. Nanti kalo Papa aku tahu gimana? Kalo aku jadi sering mikirin cowok di sela belajar, kamu jangan jahat ya! Jangan bikin hati aku baper nggak jelas!
Kata Papa, aku nggak boleh cinta-cintaan nanti bisa Cinta beneran. Aku belum siap liat Papa marah lagi.
Jadi pliss!!! Jangan songong mampir ke hati orang.
Aku udah pura-pura lupa ingatan tentang tragedi di tangga sekolah itu. Aku anggap lagi mimpi jatuh ke pelukan DO EXO.
Ahk, Aku bilang.. Nggak mau inget lagi.
Eh pikiran, jangan coba-coba puter kenangan itu ya, nanti kamu bisa aku bawa ke tempat yang bisa lupa ingatan. "Aarrrgghh.. Tuhan.. Kenapa bayangannya muncul lagi?"
Aku nggak mungkin terus-terusan di kamar, Papa sudah dari tadi menungguku. Ok. Kali ini aku berangkat bareng Papa. Pa, jangan tanya hari ini aku kenapa ya! Soalnya aku juga nggak tau.
"Ngapain aja sih, Kak? Kok lama amat,"
"Cari buku tugas Pa, taunya ada di bawah bantal."
"Kok bisa?"
"Semalam kelupaan, langsung tidur. Ayo berangkat pa!"
Aku mencium tangan Mama, tidak lupa Mama juga memberikan kecupan manis di keningku.
****
Pelajaran pertama dan kedua tidak ada yang nyangkut di otakku. Tahu nggak kenapa? Aku sebel banget, mau marah aja sama teman-teman se-kelasku, mereka malah asyik banget meledek soal kemarin.
Aseli.. Pengin kulitin satu-satu
anak-anak di sini!
Bel istirahat berbunyi nyaring, aku males banget buat melangkah keluar, pengin di kelas aja. Tapi suara Mala, yang kelasnya paling ujung dari kelasku berhasil membuatku pengen telan dia aja hidup-hidup.
"Nayaaa.. Yuhuuuu... "
"Berisik,"
Mala tersenyum penuh curiga. "Kenapa..Kenapa sayang? Ulluuhhh.. Ulluuhhh..."
"Tau tuh, dari kemarin kaya gitu terus," Khena yang menjawab setelah ia bergabung bersama aku dan Mala.
"Maksud lo, sejak pelukan sama Revan?" dengan cueknya Nur datang menimpali.
Aku yang dari tadi bertopang dagu dengan lemah, kini marah mendengar ucapan Nur yang menurutku... Itu nggak adil tau!
Kalian sahabat aku. Pliss.. Jangan bikin aku tambah marah aja!
"Denger yah! Mood gue lagi jelek banget hari ini, kalo mau gosip jangan di depan gue deh. Kemarin itu bukan pelukan.. Sama sekali bukan!"
"Kalo nggak mau, kasih gue aja, Nay! Gue Juga mau kali jatuh dipelukan cowok kayak Revan." sahut Nur lagi.
"Kalian ini sahabat gue apa bukan sih? Kok sama aja kaya yang lain. Cuma liat dari opsi kalian," aku frustasi banget.
"Udah deh, kalian semua berhenti meledek Naya. Lagian itu memang bukan pelukan kok, malah kalo nggak ada si Revan, gue jamin deh, Sahabat kita bakal geger otak." kata Wawa sambil mengusap bahuku yang mulai menegang.
Terimakasih Wawa. Kamu memang yang terbaik.
"Iya deh, gue minta maaf. Janji, nggak bakal mengungkit drama receh ini," kata Nur lalu diikuti anggukkan kepala oleh Mala dan Khena. Kami pun memutuskan untuk segera ke kantin. Narik otot bareng sahabat itu bikin perutku laper banget.
***
Suasana kantin cukup ramai, malah sangat ramai ketika aku dan genk's tarik otot sampai di tempat biasa kita duduk, tatapan mereka mengintimidasi banget pas liat aku. Perasaan kemarin-kemarin nggak kaya gini deh, salah aku di mana coba?
"Itu.. Tuh yang kemarin meluk si Revan,"
Aku masih bisa mendengar bisik-bisik beberapa siswa di sampingku. Itu mah bukan berbisik tapi emang sengaja nyindir gue.
Aku menatap ke arah mereka, dan dengan santainya mereka malah melengos pergi gitu aja.
Pa, ternyata benar apa kata Papa. Naya nggak sanggup melewati hari penuh drama kaya gini.
Wawa menatapku prihatin, "Udah nggak usah dipikirin, Nay!" lalu ia menyodorkan teh botol ke hadapanku. "Mereka itu cuma syirik aja sama lo, bawa santai aja sih."
Ok. Santai Naya. Si Revan aja Biasa aja tuh, masa lo jadi nggak jelas banget kaya gini.
Aku hanya mengangguk. Nggak tau mau ngomong apa lagi, yang jelas aku mau marah aja!
Setelah selesai dari kantin, kami semua langsung berpisah untuk ke kelas masing-masing. Aku berjalan menunduk, sambil mendengar musik dari earphone yang masih bertengger manis di telingaku. Sesekali aku mengikuti lagu yang dibawakan KIM SOO HYUN yang berjudul dreaming dengan pelan.
Ketika aku melintas ruang kelas XI, aku mendengar suara sumbang tentang tragedi tangga sekolah itu. Masih saja dari mereka yang menduga itu sebuah pelukan. Haruskah aku berteriak menggunakan speaker aula untuk memberitahu kalian semua, bahwa kemarin itu bukan pelukan. Aku tidak sengaja.. memeluknya.
Aku membesarkan volume handphoneku. Masih muak, masih marah sama mereka yang tidak mengerti situasi. Sampai di kelas, aku langsung duduk. Menonaktifkan handphoneku lalu menyimpannya di dalam tas. Aku harus fokus belajar. Biarlah semua itu menjadi angin lalu. Aku ingin belajar tidak peduli dengan semuanya.
Aku yakin ini hanya sebagian kecil dari kenangan yang aku ukir di sekolah ini. Meski bukan kenangan Indah, setidaknya ini semua pernah terjadi dalam hidupku. Aku yang katanya cewek tomboy, bisa lemah juga ketika berada di titik seperti ini. Biarlah. Cewek tomboy juga punya hati kali.
tidak terasa pelajaran terakhir sudah selesai, sebenarnya di pelajaran terakhir, gurunya tidak hadir. Jadi kami hanya diberikan tugas oleh ketua kelas yang sudah mendapat informasi pelajaran dari guru ilmu pengetahuan sosial tersebut.
Aku pulang lebih dulu, tidak peduli dengan keempat sahabtaku yang sepertinya belum keluar kelas. Tak apa kan? jika hari ini aku ingin egois, sehari aja. Aku pengin tenangin diri, nggak mau dengar perkataan mereka.
Ya ampun.. Sumpah kamu Revan, bikin hari aku jadi berantakan. Awas aja kalo ketemu, aku mau marah sama kamu.
Dan ternyata tatapan mata kami bertemu ketika aku sudah sampai di lantai dasar.
Allah, semalam aku mimpi apa? kenapa hari ini berat banget buat aku?
Aku mencoba cuek, dan berjalan melintas tepat di depannya. Bodo amat, Re. Aku kesal sama kamu. Dan yang paling menyebalkan Revan malah tersenyum ke arahku. Meski senyum itu samar, tapi mataku ini masih bisa melihatnya dengan jelas.
itu senyum apa? senyum meledek? senyum kasihan? atau senyum.....