can I love you

can I love you
19. Hujan Kerinduan (2)



*Dear diary..


Hari ini gue lagi sebel banget. Dunia lagi nggak berpihak. Diary mau denger curhatan gue nggak? Karena kan gue cuma bisa curhat sama kamu aja. Diary, gue jahat nggak sih?


Suka sama pacar temen sendiri.. Tapi kan mereka juga jadian karena gue.


Diary.


Gue harus gimna? Kadang perasaan ini menyiksa banget tau. Rindu apalagi berat banget. Revan jahat ya. Gue benci sama dia. Tapi nyatanya Cinta juga nggak bisa lepas. Terus gue harus kayak gimana?


Diary. Kurang dari satu tahun lagi Revan juga bakal pergi ninggalin sekolah. Pastinya ninggalin gue juga kan? Sekarang aja dia lagi menghadapi ujian akhir sekolah. Terus gue lagi libur... di rumah lagi.. Terus gue jadi kangen lagi.. Terus sebel lagi.. Males lagi.. Pokoknya Revan nyebelin..


Radja bener ya.. Jangan benci bilang Cinta.. Jangan marah bilang sayang.. Jangan mendustai hati.. Bilang engkau.. Memang Cinta...


Gue Cinta Revan.. 💜*


---------


Satu tahun telah berlalu begitu indahnya. Adakalanya suka di atas benci. Rindu di atas luka. Kecewa dan air mata menjadi saksi, bahwa semua ini menyiksa.


Mungkin sebagian dari mereka masih bisa tertawa di atas luka yang menjerat di dalam dada. Seperti sebuah kisah antara aku dan dia yang tak pernah kasat mata. Hanya aku yang menyimpan rindu. Hanya aku yang bilang Cinta. Hanya aku yang menangis ketika tak dianggap ada. Apalah arti semua ini jika berakhir sia-sia?


"Khanaya... " panggil Mama pelan.


"Iya, Ma." aku menyahut, menunda rutinitas memandang foto DO EXO di layar ponsel.


"Bisa bantu Mama, Nak?"


"Hmm... "


"Tolong belikan martabak mancur dong!"


Aku menatap wajah Mama dengan lekat, "Ma... "


"Kenapa?"


"Mama nggak lagi hamil lagi 'kan?"


"Hahahaha... " Mama tertawa pelan, lalu meraih tanganku, "Kamu ngomong apa sih? Sayang, perjuangan Mama dan Papa untuk mendapatkan kamu itu sulit sekali. Setelah Allah izinin kehidupan baru di rahim Mama, Dokter malah memvonis Mama dengan penyakit yang... Masya Allah.. Rasanya Mama pengin nyerah aja kalo nggak inget Papa."


Aku memeluk Mama erat dan membisikkan kata Cinta kepada wanita yang telah berjuang hidup dan mati untuk melahirkan aku ke dunia. "Naya sayang banget sama Mama. Terimakasih sudah memberikan kehidupan penuh Cinta untuk Naya, Ma."


"Mama juga sayang banget sama Naya," Mama mencium keningku lembut. "Jadi mau belikan Mama martabak mancur?"


"Jadi dong. Naya mau ambil jaket dulu ya, Ma."


"Ok."


Aku bergegas mengambil jaket di kamar. Teringat lagi ucapan Mama tadi, air mataku mengalir begitu saja. Ya, Mama memang tidak akan pernah bisa hamil lagi sekalipun terjadi itu sangat mustahil untuk dipikir logika. Rahim Mama sudah diangkat ketika melahirkan aku. Dokter memvonis Mama terkena kanker rahim stadium satu. Segala cara sudah dilakukan Mama dan Papa untuk penyembuhan dan pada akhirnya jalur operasi pengangkatan rahim yang mereka pilih.


Allah semoga Engkau selalu memberikan kebahagiaan untuk kedua orangtua hamba. Sayangi mereka seperti mereka menyayangiku di waktu kecil.


Aku meraih jaket jeans hitam yang tergantung di tempat gantungan baju yang berada dekat pintu kamar mandi, lalu segera memakainya dan mengambil kunci motor di atas meja.


Akhirnya Papa mengizinkan aku mengemudikan motor, tapi dengan catatan hanya sekitaran komplek aja.


Biarlah.. Yang penting sudah boleh membawa kendaraan..


"Helmnya jangan lupa, Khanaya.. " teriak Mama dari dalam.


"Iya, Ma."


Aku bergegas memakai helm dan segera menancap gas motor Beat hitam yang di hadiahkan Papa dulu.


Udara dingin begitu menusuk pori-pori. Aku membiarkan angin terus berhembus membelai rambut dalam kedamaian.


Martabak mancur salah satu makanan yang patut kalian coba jika berkunjung ke Bogor. Aroma khasnya, tekstur lembutnya, pokoknya is the best deh. Lokasinya tepat di samping icon air mancur kota Bogor.


Aku memakirkan motor di tempat yang sudah disediakan, lalu segera masuk ke dalam untuk memesan dua loyang martabak mancur spesial.


Beberapa menit kemudian pesananku selesai, aku pun bergegas membayarnya. Aku kembali ke parkiran motor. Kugantungkan dua box martabak itu pada gantungan yang tersedia di bagian depan motor.


Baru saja motorku keluar dari parkiran, aku melihat seseorang yang begitu familiar. Seorang perempuan yang rambutnya dibiarkan tergerai lalu seseorang cowok yang tanpa malu merangkulnya sedang duduk bermesraan di taman yang tidak jauh dari tempatku berdiri.


Aku kenal betul sweeter berwarna peach yang kini sedang dipakai oleh cewek itu. Tentu saja itu sweeter yang dipesan D'renbo beberapa tahun lalu. Aku berjalan pelan ke arah mereka. Sepeda motor aku tinggalkan di pinggir jalan. Ketika langkahku semakin dekat aku terkejut sekali melihat dua insan yang sedang berpacaran ini.


"Nur... "


Nur menoleh ketika aku memanggilnya. Dia sangat terkejut sekali melihatku berdiri di belakangnya. "Na... Naya.. Lo ngapain di.. Sini.. "


Aku mendengus pelan, "Seharusnya gue yang tanya, lo ngapain di sini.. Sama... " aku melirik ke arah Syam sebentar. "Syam..."


"Gue.. Gue.. Lagi.. " ucap Nur terbata-bata.


"Lo lagi ngapain di sini, Nur?" aku berteriak di hadapan mereka.


"Heh, Nay. Lo kenapa dah, dateng-dateng nggak jelas kayak gini!?" kata Syam menimpali.


"Gue nggak ada urusan sama lo, Syam." aku melirik Nur kembali yang kini terlihat sangat ketakutan. "Kenapa lo diem aja, Nur?"


"Nay... Gue bisa jelasin semuanya!"


"Jelasin apa?"


"Gue sama Nur pacaran. Kita udah jadian." kata Syam masih terus ikut nimbrung percakapan aku dan Nur.


Aku menatap Syam dengan nanar, "Sejak kapan?"


"Setahun yang lalu."


Seperti ada sesuatu yang menimpa kepalaku, rasanya pusing sekali. Dadaku sesak menahan amarah yang entah kepada siapa aku harus marah. Aku menatap mereka berdua dengan tatapan tidak percaya. "Satu tahun?"


"Iya."


Sungguh aku tidak percaya akan semuanya. Ini menyakitkan. Aku menggeleng pelan, mendongakkan wajah ke langit. Berharap air mata tidak mengalir begitu saja.


"Gue nggak menyangka, Nur. Tega banget lo kayak gini. Lo nggak menghargai perasaan gue sama sekali."


Syam baru saja ingin menjawab ucapanku, namun aku lebih dulu memotongnya. "Stop, Syam! Gue nggak ada urusan sama lo. Pliss.. Jangan ikut campur dulu."


"Nur... " panggilku setengah berteriak.


"Nay... Lo salah paham."


"Salah paham lo bilang? Di mana salahnya? Dulu lo menuduh gue sahabat yang tega, yang udah menyimpan perasaan dalam diam. Sekarang lo harus tau, Nur. Gue suka sama Revan sebelum lo kerasukan bilang suka sama dia."


Dadaku kian terasa sesak. Air mataku mulai tumpah tak kuasa menahan ini semua. Aku menunduk, memberikan tenaga pada diriku sendiri lalu kembali menatap Nur dengan tatapan kecewa. "Selama ini gue menata hati gue sendiri. Gue sakit, Nur. Gue kecewa. Gue marah tiap kali lo menjelek-jelekkan nama Revan di depan gue. Gue benci tiap kali lo bilang tentang Revan semau lo."


"Harusnya dari awal gue nggak perlu memohon sama Revan buat jadian sama lo. Harusnya gue nggak perlu korbanin perasaan gue jika ini balesan lo, Nur. Gue Cinta sama Revan. Harusnya lo juga tau soal itu!!!" aku semakin berteriak histeris di depan Nur. Air mataku semakin deras mengalir.


Nur hanya terdiam, tak henti-hentinya dia menangis.


"Gue nyesel, Nur. Sumpah.. Gue nyesel banget. Dulu lo sempat benci sama gue hanya karena kesalahpahaman bahkan sampai detik ini lo masih nggak nyaman kalo ada gue. Lalu apa gue juga bisa sekarang buat benci sama lo, Nur. " suaraku mulai melemah, rasanya sesak sekali. "Gue benci lo, Nur. Gue kecewa... "


Air mataku kembali mengalir. Aku mengusapnya kasar lalu pergi meninggalkan mereka berdua dengan semua rasa sakit yang begitu perih ku rasa.


Hujan.. Aku hanya ingin hujan turun malam ini. Menemaniku dalam kesakitan yang begitu menyiksa diri. Aku melajukan motor dengan kecepatan tinggi. Tidak peduli dengan airmata yang terus merembas membasahi pipi. Angin malam seakan menghiburku untuk berhenti menangis. Aku lelah..


Kulihat mobil Papa sudah terparkir di garasi mobil. Aku langsung memarkirkan motor di sebelah Mobil, lalu segera turun dan masuk ke dalam rumah.


"Naya... " panggil Mama.


Aku hanya terdiam, menaruh dua box martabak mancur di meja dan segera berlari ke kamar. Tangisku benar-benar tidak bisa kutahan lagi.


Aku masuk ke kamar dan mengunci pintunya. Aku tidak ingin siapapun tahu tentang keadaan diriku malam ini.


Maafkan Naya, Ma. Naya hanya ingin sendiri.


Tangisku kembali pecah. Aku duduk bersandar di tempat tidur memukul dadaku pelan, menghilangkan rasa sesak yang semakin menjalar. Allah tolong hamba. Hilangkan semua rasa sakit ini. Tolong hamba, Allah....


Kenapa semua ini semakin menyiksa? Mengapa Allah.. Mengapa...?


Aku marah.. Meraung di kamar yang kedap suara. Kupukul kembali dadaku yang terasa semakin sesak. Tubuhku luruh ke lantai. Seluruh sendi tak berguna hari ini. Tolong hamba.. Allah..


"Khanaya... " panggil Mama sambil mengetuk pintu kamarku. "Naya.. Buka pintunya, Nak. Kamu nggak apa-apa 'kan?"


"Naya nggak apa-apa, Ma. Cuma kebelet aja." kataku di sela suara yang mulai parau.


"Buka pintunya, Sayang. Kamu nggak apa-apa 'kan?"


"Aku nggak apa-apa, Ma. Cuma ngantuk aja. Aku tidur duluan ya, Ma."


"Ya udah kalo gitu. Mama tinggal ya?"


"Iya, Ma."


Suara Mama sudah tidak terdengar lagi. Aku kembali menjertit menahan sakit semua ini. "Arrrrggghhhh.... "


Kepalaku berdenyut rasanya sakit sekali. Oksigen terasa pekat untuk kuhirup. Kupukul dadaku kembali, menghilangkan rasa sesak yang kian menjalar. Aku mencoba mengambil ponsel di saku jaket, aku melihat sebuah nomor seseorang yang selama ini tabu sekali kubuka. Namun tidak untuk malam ini. Dengan segala cara, membuang gengsi. Membuang seluruh rasa kecewa aku menekan tombol hijau di sebelah kanan. Terdengar nada telepon yang tersambung, dan...


[Hallo..]


Suaranya begitu aku rindukan. Namun aku hanya berdiam. Menggigit bibir, agar tidak mengeluarkan isak tangis di telinganya.


[Hallo..]


Kugigit bibirku kembali. Rasa getir mulai menyapa mulutku saat ini.


Sambungan telepon sudah diputuskan Revan, membuat tangisku semakin menjadi-jadi. Re, apa kamu tidak tahu bahwa selama ini Nur selingkuh di belakangmu?


Satu tahun dia bermain api, apa yang akan kamu lakukan jika mengetahui ini semua?


Rasanya aku telah memberikan semua rasa sakit ini kepada hatimu. Maafkan aku, Re. Sungguh. Apa yang harus aku katakan jika nanti kita bertemu? Nur dan kamu sama-sama orang terpenting dalam hidupku, hanya saja penghianatan Nur malam ini membuat lukaku semakin bertambah sakit. Aku kecewa.


Kepalaku semakin berdenyut hebat, darah segar masih mengalir dari bibirku karena kugigit kuat-kuat. Tatapanku nanar memandang kosong langit-langit kamar yang kini semakin terlihat tidak bercahaya. Allah, peluk Naya sebentar saja.


****


"Ya Allah, Papa....."


"...Khanaya.... "


Samar-samar aku mendengar suara histeris dari Mama. Mataku sulit sekali terbuka, bibirku kelu untuk berbicara. Kepalaku begitu sakit seperti ada sebuah benda berat yang menghimpitnya. Aku merasakan tubuhku diterbangkan ke udara, lalu diturunkan ke sebuah kasur empuk yang nyaman sekali.


Tubuhku seperti tak bertenaga bahkan untuk mengangkat tangan saja aku tidak bisa. Suara Mama masih menggema di telingaku. Isak tangisnya begitu pilu terdengar dari alam bawah sadarku. Aku bisa merasakan usapan lembut dari wanita yang mempunyai arti sangat penting di dalam hidupku.


Rasa panas di tubuhku berhasil membuat mata terpejam kembali. Rasanya lelah. Seluruh aliran darah terasa terhenti. Napas tercekat di tenggorokan, mata berat untuk terbuka. Tubuh tak berdaya untuk merespon segalanya. Aku hanya ingin istirahat dan tertidur tanpa rasa sakit dan perih.


"Sodaqaullah hul adzim.... "


Mataku terbuka dan mendapati Mama yang berada di sampingku. Air mata Mama masih mengalir di pipnya. "Ma.... " panggilku pelan. Suaraku masih parau sekali


"Ya Allah.. Kamu sudah bangun, Nak?" Mama mengusap keningku lembut.


"Naya haus, Ma." kataku pelan.


Mama mengangguk lalu mengambil gelas yang berisi air putih di atas meja. Mama membangunkan aku perlahan. Bahuku ditahan oleh Mama agar bisa menegak segela air putih yang ketika masuk ke rongga tenggorokan mampu menyirami gersangnya gurun yang tidak pernah bertemu air lama sekali.


"Udah, Ma."


Mama membawa tububku ke dalam pelukkannya dan aku bisa merasakan kehangatan dari Mama. Beberapa kali Mama mencium keningku menyalurkan kasih sayang tiada henti kepadaku.


Papa masuk ke kamar ketika mataku mulai terpejam kembali. Suara kekhawatirannya terdengar di telingaku. "Bagaimana keadaan Naya, Ma?"


"Badannya masih demam, Pa.." kata Mama menjawab pertanyaan Papa tadi.


"Kita ke Dokter sekarang,"


Mataku terbuka pelan, kutatap wajah Papa yang begitu khawatir melihat keadaanku yang sangat ngenes banget saat ini, "Pa, Naya nggak mau ke Dokter," aku juga menatap wajah Mama. Air mata itu kembali mengalir di pipnya. "Aku nggak sakit, Ma!"


Mama mengangguk, "Kita ke Dokter dulu ya, Nak."


"Tapi aku nggak sakit, Ma." suaraku mulai parau kembali. Rasanya tenggorokanku sakit sekali jika berbicara.


"Iya, makanya sekarang kita Dokter! Papa mau menyiapkan mobil dulu." jawab Papa lalu keluar dari kamarku.


Mama membuka selimut yang sedari tadi masih melekat di tubuhku, lalu mengambil sweteer tebal dan segera memakaikan kembali ke tubuhku yang kini merasakan dingin seperti di kutub Utara. Papa datang setelah menyiapkan mobil dan segera mengendongku ke dalam pelukkannya. Allah, sekali lagi Naya memohon sayangi kedua orangtua Naya dengan maghfirah dari-Mu.


Kami tiba di rumah sakit dan aku segera dibawa ke IGD untuk pemeriksaan oleh Dokter. Sebuah selah infus kini tertancap di tangan kanan. Selang oksigen bertengger manis di hidungku. Sepertinya ada yang salah dengan Dokter itu, aku tidak sakit malah mendapat perawatan seperti sekarang. Kini brankar pasien yang aku tempati didorong oleh dua perawat menuju ruang opname. Aku hanya bisa pasrah ketika tangan Mama mengenggam jemariku.


"Naya mau makan?" tanya Mama ketika kami sudah berada di ruang Dahlia. Ruang khusus kelas dua di rumah sakit ini. Aku masih mengingat nama rumah sakit ini yang kalau tidak salah, ini adalah rumah sakit milik perusahaan tempat Papa bekerja. Jadilah sekarang aku di sini, di ruang Dahlia, ruang khusus keluarga setelah VVIP dan Vip.


Aku hanya menggeleng pelan.


"Naya tau nggak kenapa sekarang bisa dirawat?" Mama kembali bertanya sambil terus mengusap lembut rambutku.


Aku menggeleng kembali.


"Trombosit Naya lemah, dan parahnya lagi sampai kena Typus. Papa sama Mama khawatir banget, Nay. Kamu jangan kayak gini lagi ya, Sayang."


Aku menatap Mama sejenak, "Typus, Ma?"


"Iya, Nak. Mama sadar, kamu akhir-akhir jarang makan. Kenapa? Naya ada masalah? Tiap Mama tanya kamu cuma jawab lagi tidak nafsu makan. Lalu sekarang, malah seperti ini."


"Maafin Naya ya, Ma."


"Kenapa kamu yang minta maaf? Seharusnya Mama yang minta maaf sama kamu. Mama kurang peka ya sama diri kamu saat ini?"


"Nggak kok, Ma. Mama udah jadi yang terbaik banget untuk Naya."


Mama mengangguk pelan, "Mau minum? Papa tadi pesen jus jambu merah nih, Bagus untuk trombosit kamu,"


"Mau, Ma."


Dengan dibantu Mama kembali aku duduk bersandar di tempat tidur khusus orang sakit seperti sekarang. Tubuhku sudah sedikit bisa digerakan. Sakit di kepala pun sudah terasa ringan. Aku meneguk jus jambu merah yang dipesan Papa, rasanya segar sekali.


"Papa kemana, Ma? Tanyaku ketika sudah menghabiskan segelas jus jambu merah tadi.


"Papa lagi ngurusin adminitrasi perawatan kamu,"


"Maafin Naya ya, Ma. Udah membuat Mama dan Papa jadi khawatir kayak gini."


"Kamu anak Mama dan Papa, Nak. Apapun akan Mama dan Papa lakukan untuk kebahagiaan kamu, kesehatan kamu. Sekarang kamu istirahat ya. Ini diminum dulu obatnya.. "


Aku mengambil beberapa butir obat dari tangan Mama dan segera meminumnya.


"Istirahat ya, Sayang."


Aku mengangguk, lalu Mama membantuku untuk berbaring kembali. Mataku mulai terpejam efek dari obat yang tadi kuminum. Allah, Naya ingin istirahat dari semua rasa sakit ini. Tolong jaga Mama dan Papa, lindungi mereka dengan kasih sayang-Mu.


****


Kubuka mata kembali dan mendapati Mama sedang solat. Di luar langit sudah gelap. Cahaya terang dari sinar lampu di ruangan ini membuat mataku perih. Jam berapa ini? Sudah berapa lama aku tertidur? Papa tidak ada di ruangan. Hanya ada aku dan Mama yang kini sedang berucap salam dalam solatnya.


"Naya sudah bangun?" tanya Mama ketika tatapan mata kami bertemu.


"Papa mana, Ma?"


"Papa lagi pulang ke rumah ambil pakaian ganti buat kamu dan Mama." Mama melangkahkan kakinya ke arah tempat tidur setelah membuka mukenanya, "Kamu haus, Nak?"


Aku mengangguk.


Mama membantuku kembali untuk bersandar dan segera meminum segelas air putih tanpa sisa. Butiran keringat mulai membasahi keningku bahkan bantal yang kupakai sudah lepek karena keringat itu.


"Makan dulu ya, Nak. Nanti minum obat lagi."


Aku mengangguk lagi. Meski pahit namun aku harus makan, tubuhku benar-benar butuh tenaga saat ini. Selesai makan Mama kembali memberikan aku obat yang sama dan aku pun segera meminumnya.


"Khanaya... " panggil Mama sambil menatap lekat wajahku. Tatapan matanya lembut sekali, aku pun langsung memeluknya. Menumpahkan segala sesak yang selama ini aku pendam. Membiarkan isak tangis terdengar lirih di telinga Mama.


Mama mengusap tubuhku pelan. Kasih sayang tulusnya begitu terasa. Menentramkan segala gundah yang melekat di dalam dada.


"Naya mau cerita?"


Aku mengangguk. Cepat atau lambat Mama pasti tahu masalah yang sedang dihadapi anaknya. Aku hanya butuh keberanian untuk menceritakan semuanya kepada Mama.


"Naya.... Suka sama seseorang, Ma." satu kalimat meluncur bebas melalui tenggorokan dan berhasil keluar dari mulut tanpa beban. Kulihat Mama tersenyum lalu kembali membawa diriku kepelukannya.


"Siapa? Siapa orangnya yang udah bikin anak Mama jadi drop kayak gini?"


Aku menatap wajah cantik Mama, "Ma jangan bilang Papa ya. Naya takut... "


"Khanaya... Cinta itu fitrahnya manusia. Setiap insan di muka bumi pasti merasakannya. Mama nggak marah kalo kamu suka sama seseorang itu asal dia laki-laki. Berarti anak Mama itu sehat."


"Mama.... " aku merengek seperti anak kecil.


"Papa melarang Naya pacaran karena Mama dan Papa ingin Naya fokus untuk cita-cita Naya. Nak, Mama dan Papa tidak bangga sekali jika anak kami bisa pacaran bahkan bergonta-ganti pacar itu bukan contoh yang baik. Wajar jika kamu menyukai seseorang tapi bisa jadi tidak wajar jika kamu sampai terbaring lemah di rumah sakit seperti sekarang."


"Maafin Naya, Ma."


Mama mengangguk, "Dari awal kamu tidak salah, sayang. Mungkin Papa memang terlalu ketat memberikan pesan tentang jatuh Cinta. Tadi Wawa, Khena, dan Mala datang menjenguk kamu. Mereka semua yang menceritakan masalah kamu selama satu tahun terakhir ini."


"Hah... Serius, Ma? Mereka ke sini?"


"Iya. Setelah pulang sekolah mereka langsung ke sini. Tapi Mama tidak melihat Nur."


Aku terdiam sebentar, lalu kembali menatap Mama. "Mungkin Nur masih marah sama Naya, Ma."


Ketiga sahabatku mungkin tahu permasalahan aku dan Nur selama ini tapi untuk yang semalam mana mungkin mereka tahu, mungkin jika Nur yang bercerita lebih dulu pasti mereka akan menceritakan kembali kepada Mama. Tapi mana mungkin Nur bercerita aibnya sendiri. Tidak. Pasti itu mustahil sekali. Aku menarik napas pelan. Membiarkan oksigen kembali masuk ke dalam dada yang kini merasakan sedikit bebannya terangkat karena Mama.


"Ma.... "


"Iya. Kenapa, Sayang?"


"Mama marah nggak sama aku?"


"Marah untuk alasan apa, Nak?"


Aku mengerjapkan mata, "Soal aku....."


"Papa yang marah," suara bariton yang khas milik Papa berhasil membuatku dan Mama terkejut. "Seharunya dari awal Papa itu mendampingi kamu. Biar nggak terjadi hal kayak gini. Kamu Tau nggak...?" Papa menatapku dengan lekat. Terlihat sekali guratan kelelahannya.


"Papa merasa gagal banget jadi orangtua. Masa anaknya sendiri sedang jatuh Cinta Papa nggak tau. Payah banget ya Papa?" Papa duduk di tepi ranjang sebelah kanan, aku langsung menghambur ke pelukannya. Memeluk erat laki-laki yang pertama kali membuatku jatuh Cinta. Mengajarkan arti Cinta yang sesungguhnya. Air mataku kembali mengalir. "Papa hebat dan akan selalu yang terhebat untukku."


"Jadi siapa orangnya, yang udah bikin anak Papa sampai di opname kayak gini?"


Aku menatap Mama, mencari bantuan dari senyum manisnya.


"Mending Papa istirahat dulu deh. Pesanan Mama dibelikan tidak?"


"Itu udah Papa belikan, Ma."


"Ya udah kalo gitu kita makan dulu ya. Naya mau makan? Mama belikan soto ayam kesukaan kamu,"


"Iya, Ma. Naya mau."


Malam ini tidak ada hal lain yang kupinta pada Tuhan. Aku hanya ingin yang terbaik untuk diriku. Untuk Mama dan Papa dan untuk seseorang yang jauh di sana. Jika Cinta memang sulit untuk bersama, aku ikhlas melepas seseorang yang tidak akan pernah bisa kumiliki seutuhnya.


Tuhan, sembuhkanlah luka yang sedang aku obati. Jaga dirinya dari rasa kecewa dan sakit hati. Aku mohon, tetaplah jaga hatinya dari pengkhianatan yang dilakukan kekasihnya yang apeknya lagi kekasihnya itu sahabatku sendiri.


Teruntuk kalian yang telah merwarnai hariku. Kuucapkan terimakasih. Karena kini hidupku tak lagi berwana hitam dan abu-abu tapi sudah banyak pelangi yang menemani saat ini.