can I love you

can I love you
21. Sebuah Perpisahan.



**Revan Adit Prasetya**



\*\*\*


Tiga tahun lalu ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di sekolah ini, saya masih mengingat sebuah moment yang akan terus terpatri dalam hati saya. Pertama, ketika saya bertemu Pak Fikri di masjid sekolah setelah selesai pengetesan. Beliau berpesan kepada saya 'hidup itu sulit dan akan mudah ketika kita berpegang pada Al-Qur'an' dari pesan beliau tersebut, saya terus belajar Al-Qur'an. Saya ingin memakaikan mahkota kepada Bunda di akhirat kelak.


Puncaknya ketika Pak Fikri mengirim saya untuk ikut lomba MTQ se-Provinsi tahun lalu, dengan izin Allah, doa Bunda dan dukungan dari Guru-Guru serta teman-teman semua saya berhasil meraih kemenangan. Memberikan sebuah piala besar untuk sekolah serta sebuah hadiah untuk Bunda.


Yang kedua, saat saya sedang istirahat bareng Pak April beliau mengatakan 'Re, dunia itu luas. Kejar cita-cita kamu hingga ke negeri Cina. Buat bangga orangtua kamu dengan prestasi akademik yang bermanfaat untuk orang banyak.'


Pak, tidak hanya negeri Cina, Benua Eropa pun akan saya singgahi jika Allah mengizinkan.


Dan yang terakhir sebuah pesan tak tersirat dari seseorang yang membuat hidup saya jatuh bangun untuk sebuah perasaan. Seseorang yang mampu membuat saya keluar dari zona nyaman. Seseorang yang membuat diri saya rindu siang dan malam. Dia unik dan tentu akan jadi yang terindah dalam hidup saya. Semoga kesempatan itu masih ada. Tunggu saya di masa depan nanti ya. Saat ini saya sedang berjuang untuk masa depan saya, untuk kebahagiaan Bunda dan tentunya untuk hidup bersama kamu.


Selesai solat subuh, saya membuka kembali buku pelajaran untuk ujian hari ini. Ya, hari ini saya akan melaksanakan ujian nasional. Waktu bergulir begitu cepat. Padahal rasanya baru kemarin saya ikut pengetesan, lalu penataran MOS dan sekarang sudah menghadapi ujian nasional. Waktu belajar tiga tahun hanya akan dibayar empat hari untuk penetuan kelulusan.


Pukul 05.30 saya sudah rapi dengan seragam yang sudah disetrika bunda dengan sangat licin dan harum. Sudah sarapan agar menambah stamina ketika berpikir nanti, dan yang terpenting doa tulus dari Bunda untuk semua kelancaran ujian kali ini.


"Abang berangkat ya, Bun. Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam. semoga lancar ujiannya ya, bang."


Aku tersenyum, "iya.. Aamiin, Bun."


Setelah pamit aku langsung memakai helm, bufh sudah terpasang sempurna menutup wajah yang hanya menyisakan mata. Motor yang kukendari mulai melaju keluar dari halaman rumah. Allah, lancarkan ujian hari ini. Saya ingin lulus dan segera meninggalkan sekolah yang punya banyak kisah dalam hidup.


Hampir setengah jam berkendara, saya tiba di gerbang sekolah. Memakirkan kembali motor di tempat biasanya. Lalu segera ke loker untuk menyimpan tas. Pemeriksaan begitu ketat ketika masuk ke ruangan yang telah dipersiapkan untuk ujian nasional ini.


Kami diizinkan berdoa sebelum memulai ujian. Ketika lembar soal itu dibagikan, ada rasa tegang yang menghampiri saya. Tangan tiba-tiba tremor, keringat dingin bercucuran di dahi. Saya memejamkan mata sejenak, mengingat semua doa tulus yang keluar dari mulut Bunda.


"Bismillah... "


Saya mulai mengerjakan satu persatu soal ujian tersebut. Semoga Allah memberi kelancaran pada hari pertama ujian ini hingga hari terakhir nanti.


Hari pertama...


Hari kedua...


Hari ketiga...


Dan tepat hari ini saya sedang menghadapi ujian terakhir. Hari penentuan untuk final kelulusan. Semoga saya lulus dengan hasil yang memuaskan. Bisa membuat Bunda bangga serta Guru-Guru yang telah sabar mendidik saya selama ini.


***


Masa tenang setelah ujian banyak digunakan oleh teman-teman saya untuk sekedar jalan-jalan melepas penat karena ujian nasional. Ada juga yang tetap masuk ke sekolah meski di sana mereka hanya bikin rusuh. Saya termasuk siswa yang masih tetap datang ke sekolah. Tapi tidak membuat rusuh seperti mereka. Ini masa tenang, maka saya akan menikmati detik demi detik rangkaian terakhir di sekolah ini. Dari atas koridor lantai 2 tepat di depan kelas saya, saya melihat seseorang yang selama ini diam-diam saya rindukan. Rindu ini memang aneh, dan mustahil sekali.


Gadis berkuncir satu itu sedang sibuk bermain volly di lapangan. Sesekali dia terlihat mengelap keringat yang bercucuran dari keningnya.


"Re...." Panggil Makmur, ketika tepat berada di samping saya.


"Oeeyy... Kenapa?"


"Lo mau lanjut kemana?"


Saya hampir lupa dengan tujuan saya selanjutnya. Terlalu asyik memikirkan seseorang. Tolong jangan dicontoh ya!


"Gue mau ambil jalur SBMPTN dulu ke ITB,"


"Selain itu?" tanya Makmur lagi.


"Belum tau. Sregnya baru ke sana. Lo sendiri mau kemana?"


"Mau kerja lah, Re. Gue udah lumayan mahir tentang otomotif."


"Lah, sayang banget, Mur. Lo kan bisa ambil beasiwa yang diadakan sekolah,"


"Iya, sih. Gue juga maunya gitu, Re. Tapi gue pengin pegang duit."


Saya menepuk bahu Makmur pelan, "Duit mulu. Sekolah dulu biar bener, biar nanti duit dateng sendiri."


"Anjayy... Gue suka gaya lo, Re. "


"Harus lah,"


"Ya udah. Gue mau coba beasiswa dulu deh. Enaknya kemana ya?" tanya Makmur.


"UIKA aja yang terjangkau jaraknya."


"Gue ambil jurusan apa nantinya?" Makmur menatap saya sejenak, "UIKA nggak ada otomotif, Ijrom."


"Hahahaha.." saya tertawa pelan. "Canda gue, Mur. Ya illah.... "


"Sialan lo ahk... "


Saya masih tertawa melihat Makmur yang kini sedang berdecak sendiri. Sebenarnya saya juga masih bingung. Saya belum memutuskan untuk lanjut kemana. Memang ITB menjadi impian saya selama ini, tapi kemarin saya mendapatkan sebuah hadiah dari Bapak Kepala Sekolah atas prestasi saya selama bersekolah di sini. Saya sudah membicarakan serius tentang semua ini kepada Bunda. Bunda juga sudah meyakinkan saya, tapi ada sebagian hati kecil saya yang belum bisa menerima semuanya. Entahlah. Semoga Allah memberi jalan yang terbaik untuk saya.


"Re, malam perpisahan kita tinggal seminggu lagi ya?"


Saya mengangguk.


"Nggak kerasa ya, Re. Padahal kayaknya gue baru kemarin dah masuk sekolah ini,"


"Iya.. ya, Mur. Baru kemarin juga kayaknya kita dapet hukuman gara-gara kabur berjamaah." kata saya. Mengingat kembali kebodohan memalukan kala itu.


"Iya. Itu gara-gara si kamvret Anin tuh. Sialan gue jadi kena getahnya juga," Makmur kembali berdecak kesal. "Lah.. Lo kenapa malah ikutan juga, Re?" tanyanya ketika melihat saya tersenyum.


"Nggak tau. Gue pengin ikutan aja. Nggak asyik kayaknya sekolah tiga tahun tapi belum pernah dapet hukuman berjamaah."


"Annjirr.. Sia!!!"


"Hahahaha.. Nggak salah kan gue, Mur?"


"Iya sih. Ternyata murid sepintar lo juga ada yang nggak berfaedahnya juga ya?"


"Iyalah, namanya juga manusia."


Obrolan saya terhenti ketika seorang cewek menghampiri saya.


"Bisa bicara sebentar! Ada yang mau gue omongin sama lo, Re,"


"Oh. Ok. Ya udah ngomong aja." kata saya dengan nada santai.


"Nggak di sini. Penting!" katanya dengan memohon.


"Ok. Ikut gue!" kata saya sambil berjalan mendahului. Makmur sudah pergi entah kemana. Kaki saya terus melangkah hingga sampai ke depan Lab Bahasa yang jarang sekali berpenghuni. Karena anak Bahasa sedang asyik olahraga di lapangan.


****


**Khanaya Khanza**



\*\*\*


"Ada waktu datang, waktu pergi, waktu kumpul dan bersama. Lalu sebuah perpisahan menjadi pemisah jarak dan waktu yang terbentur rindu."


\-\-\-\-\-\-\-\-\-


Rasanya baru kemarin aku menjadi panitia pelepasan angkatan Kak Rayyan. Saat ini sudah disibukkan kembali sebagai ketua panitia Prom Night angkatan Revan. Seperti mimpi. Aku tidak percaya akan semua ini. Mengapa begitu cepat sekali? Padahal baru kemarin rasanya aku menjatuhkan hati kepada pemilik wajah menyebalkan itu.


Allah, dari Awal aku selalu meminta agar alur berjalan cepat. Namun ketika Engkau berkehendak, aku ingin mengulang waktu sebentar saja. Ingin menangis kembali tapi aku takut. Terakhir aku menangis langsung mendapat perawatan intensif di rumah sakit. Aku kembali membuka beberapa catatan untuk acara ceremonial Prom Night dengan tema 'perpisahan adalah sebuah kenangan yang termanis'


Ini aku mau marah aja soal temanya. Siapa sih yang berani kasih tema kayak gini? Pengin banget ditabok cantik sama bidadari kali ya! Sumpah. Nyebelin banget tauk!!! Dan yang paling menyebalkan kenapa aku harus jadi ketua panitianya? Siapa pun mereka yang sudah menyusun semua ini akan aku hadiahi sesuatu biar hidupnya tidak tenang. Maaf yang ini di skip aja. Aku bercanda.


Acara masih sama seperti yang sebelumnya. Hanya ada beberapa acara tambahan yang belum pernah ditampilkan selama ini. Jadi ini termasuk Prom night paling beda karena aku ketua panitianya. Tersenyum bangga, sambil mengibaskan tangan.....


Hari ini setelah selesai olahraga dan bermain volley, aku memutuskan untuk segera ke ruang rapat panitia. Masih dengan seragam olahraga yang aku kenakan, aku segera menuju ruang rapat, melintasi Lab Bahasa, kulihat ada dua orang yang sedang berbincang cukup serius. Aku melihat Revan yang wajahnya memerah menahan kesal, lalu ketika tatapan mata kami bertemu aku langsung memalingkan wajah ke arah lain, dan langsung berjalan kembali menuju ruang rapat.


Bodo amat, Re. Aku mau mulai tidak peduli lagi sama kamu. Percuma peduli juga, jika sakit saja aku masih menanggung sendiri. Biarlah. Hari ini aku akan memberikan acara Prom night terbaik sebagai hadiah perpisahan terindah dariku. Semoga di masa depan nanti aku tidak pernah bertemu seseorang seperti kamu lagi.


Sudah cukup rasanya sakit dan kecewa itu. Aku tidak ingin merasakannya kembali.


Sampai ruang rapat, kami pun mulai berdiskusi untuk acara yang akan digelar seminggu lagi. Semangat Naya.. Selamat melepas kenangan pahit yang sangat menyiksa. Semoga esok ada sebuah keajaiban yang bisa membuat kamu bahagia. Meski itu bukan tentang Revan dan segala sifat menyebalkannya.


****


Tiap detik ada waktu yang terbuang percuma. Ada rindu yang tak bertuan. Ada perasaan yang tak terbalas. Ada Cinta yang masih bertepuk sebelah tangan. Aku ada di posisi itu semua. Siang ini aku mulai dipadatkan dengan beberapa hal untuk kelancaran acara. Melepas dia yang kita sayang, memang berat. Tapi jika ini yang terbaik apa boleh buat?


Aku berjalan pelan menelusuri koridor sekolah. Dari mulai lantai dasar, aku berhenti sejenak di tangga yang pernah menjadi saksi tragedi tangga sekolah yang terekam jelas dalam ingatan. Aku tidak mungkin melupakan kenangan itu. Tangga ini pernah menjadi saksi bahwa sebuah perasaan mulai merasuki hati.


Tiap jengkal sudut sekolah mempunyai memori yang sulit sekali hilang dari ingatan. Ada waktu datang, waktu kumpul, waktu bersama dan kini saatnya dia pergi meninggalkan banyak jejak kenangan di dalah hidup.


Aku kembali berjalan menuju lantai dua, di mana kelas kami pernah satu lintasan. Aku sering melihatnya ketika kelas dia pulang lebih dulu, atau sekedar melihat canda tawanya dengan teman-teman. Senyumnya akan selalu aku simpan sebagai kenangan, bahwa dengan senyum itu pernah membuatku merindukannya siang dan malam. Makan tak enak, tidur pun tak nyenyak, yang ada hanya rasa rindu yang menggebu.


Biarlah, Re. Semua sudah berlalu. Aku pun mencoba untuk mengikhlaskannya.


Re, jika malam nanti gerbang sekolah terbuka lebar, maka itu akan menjadi titik terakhir aku bisa mengagumi sosok menyebalkan dirimu.


Semoga nanti akan ada pengganti cerita yang mulai layu. Aku izinkan kamu pergi dari hati dan hidupku. Semoga nanti aku tidak akan pernah bertemu dirimu entah kapan dan di mana pun itu.


Cek.. Satu.. Dua.. Tiga... Cek..


Suara sound system mulai terdengar di penjuru sekolah. Malam berhias Bintang, lampu warna warni yang begitu cantik dipandang mata. Beberapa Rangkaian bunga telah tertata rapi. Malam ini siswa laki-laki yang akan meninggalkan sekolah memakai jas hitam dan kemeja putih masih sama seperti sebelumnya, Sedangkan siswi perempuan memakai kebaya berwarna maaroon agar terlihat berbeda dari tahun sebelumnya.


Jika dulu tidak ada acara adat, di tahun ini aku menyelipkan sebuah acara adat lengkap dengan para dayang-dayang dan lensernya. Ini adat sunda ya. Sudah kubilang kan, malam ini akan aku persembahkan sesuatu yang spesial untuk dia yang pernah hadir memporak-porandakan hatiku.


Aku sedikit terkejut ketika nama Revan bukan disebut sebagai siswa terbaik. Tak apalah, toh selama ini prestasinya patut diacungi banyak jempol. Siswa terbaik tahun ini diberikan kepada Raka Widyatama dari kelas IPA 2. Nilai Revan ada diurutan kedua setelah Raka.


[Naya... Monitor Naya..]


Terdengar suara dari sebuah monitor kecil yang bertengger manis di telinga dan langsung terhubung kepada seluruh panita petugas acara. Aku dan semua petugas acara malam ini memakai baju kaos hitam berkerah dengan tulisan Crew warna putih di belakang baju. Aku suka sekali setiap memakai baju ini.


Para panitia tidak lagi membawa Ht seperti tahun lalu, tapi kini menggunakan Earphone earpice headset. Seperti yang digunakan oleh para Polisi atau Paspampres. Lebih simple dan fleksibel dan tentu lebih cool.


[Naya.. Monitor...]


Terdengar kembali suara yang memanggilku.


"Masuk..." jawabku pelan


[Acara selanjutnya di cancel nih..]


"What... Jangan bercanda ya?"


[Serius.. Naya.. Tapi udah ada acara pengganti.. Jadi lo santai aja!!]


"Kalian jangan macam-macam ya!" aku berdecak kesal pada penghubung suara tersebut.


[Nggak.. Slow aja..]


Aku sudah terlanjur emosi. Bisa-bisanya eskul musik membatalkan secara sepihak tanpa memberikan informasi terlebih dahulu. Ya, acara selanjutnya sebuah pertunjukan dari kelas musik, namun semua itu hanya tinggal rencana, dan entah acara pengganti apa yang akan membuat hilang kesalku malam ini.


Layar berwarna biru di depan panggung tertutup. Semua lampu pun padam, hanya tersisa lampu kelap-kelip yang membuat kesan romantis pada ruang aula ini.


"Tim satu.. Monitor.. "


Tidak ada satu suara pun yang menyahut. Kesalku kian memuncak. Semua ini tidak ada dalam daftar acara yang sudah disepakati.


"Wey.. Tim satu.. Tim dua.. Tim tiga monitor..."


Aku kesal sendiri ketika alunan musik mulai terdengar pelan dari atas panggung.


"Kalian pada denger nggak sih?"


Rasanya aku ingin menangis saja, ketika para tamu undangan mulai kebingungan.


Kurang ajar banget yang bikin semua ini. Merusak acara. Nggak ada akhlak. Nggak berfaedah. Semua umpatan itu hanya terlontar dari dalam hatiku. Karena lidahku terasa kelu ketika layar panggung terbuka dan menampilkan beberapa anak kelas dua belas yang masih memakai jas dan kemeja membawa alat musik masing-masing. Tapi yang menjadi pusat perhatianku seseorang yang kini sedang duduk di atas kursi sambil memegang mikropon.


Ketika lampu menyala, tatapan mata kami bertemu. Karena aku berada tepat di bawah panggung dan sedang berdiri menatap mereka yang berhasil membuat moodku anjlok sekali malam ini.


"Sebelumnya saya ingin mengucapkan kepada seluruh siswa kelas duabelas yang kini sudah menjadi alumni. Congratulations semua!" katanya diselingi sebuah senyum kecil.


"Dan kepada ketua panitia acara, maaf ya. Saya memberikan tampilan dadakan seperti sekarang!"


Aku masih berdiri mematung melihat pemandangan ini. Apa yang dilakukan Revan sungguh tidak masuk akal.


"Malam ini saya aku menyanyikan lagu spesial untuk para teman-teman saya yang telah berjuang bersama selama tiga tahun ini. Dan untuk seseorang yang di sana, semoga perpisahan ini menjadi awal yang manis."


Satu tetes air mata mengalir di pipiku, aku pun segera menghapusnya. Aku tidak ingin dia melihatnya.


Seseorang yang kukenal bernama Anin mulai memetik gitarnya. Dalam hitungan ketiga, suara merdu Revan mulai menggema di dalam aula yang sudah disulap menjadi gedung mewah tempat berlangsungnya acara.


*Tetes air mata basahi pipimu..


Di saat kita 'kan berpisah..


Terucapkan janji padamu kasihku.. Takkan kulupakan dirimu..


Begitu beratnya kau lepas diriku


Sebut namaku jika kau rindukan aku


Aku akan datang ...


Mungkinkah kita 'kan selalu bersama Walau terbentang jarak antara kita


Biarkan kupeluk erat bayangmu


'Tuk melepaskan semua kerinduanku..


Lambaian tanganmu iringi langkahku Terbersit tanya di hatiku


Akankah dirimu 'kan tetap milikku Saat kembali di pelukanku..


Begitu beratnya kau lepas diriku


Sebut namaku jika kau rindukan aku


Aku akan datang..


Mungkinkah kita 'kan selalu bersama Walau terbentang jarak antara kita


Biarkan kupeluk erat bayangmu


'Tuk melepaskan semua kerinduanku


O-oh ...


Kau kusayang, selalu kujaga ..


Takkan kulepas selamanya.. Hilangkanlah keraguanmu Pada diriku Di saat Kujauh darimu*..


Sebuah lagu dari stinky yang dinyanyikan Revan membuat air mataku mengalir deras. Maksudnya apa coba, nyanyi sambil menatap aku kayak gitu? Jadi berasa banget ini lagu buat aku.


Jangan macam-macam ya kamu. Sudah cukup satu macam aja. Aku benci kamu. Tapi tidak malam ini, malam terakhir pertemuan kita. Kebersamaan kita. Aku sudah tidak berharap untuk bertemu kamu di mana pun itu.


Ketika lampu aula kembali menyala, aku bisa menatap wajahnya dengan jelas. Revan sedang tersenyum dari atas panggung sana. Tapi entah senyum ke siapa. Aku nggak peduli. Asli!


[Naya.. Monitor.. Naya..]


"Masuk," kataku sambil mengelap sisa air mata di pipi.


[Acara bakal ditutup dengan pertunjukkan drama kolosal dari anak theater..]


"Lanjut."


Jujur saja aku jadi tidak semangat untuk acara ini. Ikut baper di setiap lirik lagu stinky tadi. Mungkinkah. Kita kan selalu bersama? Meski terbentang jarak antara kita.


Aku keluar aula, mencari pasokan oksigen yang tidak dapat kuhirup di dalam sana. Semua terasa menyesakkan. Malam ini, gerimis mulai turun membasahi bumi. Sepertinya langit ikut merasakan apa yang sedang aku rasakan. Aku memandang ke atas, melangitkan bebarapa doa ketika gerimis mulai turun tanpa henti.


Waktu seakan melambat ketika seseorang yang sangat aku hindari malam ini berdiri di sampingku. Tatapan mata kami sama-sama mendongak ke atas.


"Malam ini cerah banget ya?" katanya.


Entah mengapa air mataku kembali mengalir. Sumpah mata ini nggak bisa diajak kompromi banget sih!!


"Kalo sekarang gerimis, berarti ada yang lagi nahan tangis,"


Aku memberanikan diri menatap wajahnya yang sedang tersenyum ke arah gerbang sekolah.


"Lo kenapa sih, nyebelin banget, Re?" suaraku sudah parau menahan tangis yang kian pecah.


"Nggak tau. Mungkin kalo gue nggak nyebelin, lo nggak bakal suka. nggak bakal kangen sama gue!"


Tangan kananku melayang menyentuh bahunya. Tidak kencang namun cukup membuat Revan meringis gemas, pengin ditabok wajahnya.


"Tenaga lo itu kayak kuli panggul tau nggak? Sakit banget!"


"Bodo amat.. "


"Si amat udah pinter sekarang. Udah lulus SMA sebentar lagi bakal lanjut ke ITB,"


"Re.. Van... " aku berdecak gemas.


"Iya. Gue masih di sini, kok. Sini peluk kalo mau nangis!"


"Apa, sih?"


"Jangan pernah nangis sendiri lagi ya! Gue tau, kok. Sebelum lo dirawat di rumah sakit, malam itu lo nelpon gue 'kan?"


Aku terdiam.


"Nanti kalo gue pergi, jangan kangen! Jangan nyolong foto gue juga! Itu maling namanya."


"Heh.. Lo itu masih nyebelin banget, sih! Nggak berfaedah banget!"


"Sini deh... " Revan menarik tanganku agar lebih dekat di sampingnya.


"Woy!!!" dia berteriak memanggil cewek yang sepertinya anak kelas sepuluh.


"Iya, Kak,"


"Fotoin gue dong!"


Mataku membulat sempurna. Ini orang nggak kesurupan 'kan?


"Heh.. Wajah lo ke kamera napah! Gue sadar, kok. Malam ini pasti gue ganteng banget 'kan?"


Anak kelas sepuluh itu terkikik geli mendengar ucapan Revan.


"Senyum!!!" kata Revan lagi.


Beberapa foto diambil secara candid oleh adik kelas tadi, dan yang menjadi favoritku sebuah foto ketika aku menatap Revan dari samping, sedangkan wajah yang katanya ganteng itu sedang tersenyum ke arah kamera ponselnya.


"Gue pergi ya! Jaga diri baik-baik. Jangan suka galau di balkon sekolah. Gue takut lo khilaf terus loncat ke bawah."


Aku menggeleng pelan. Menahan air mata yang mulai mengembun di pelupuk mata.


"Re..." panggilku pelan.


"Apa?"


"Soal Nur?"


Revan tersenyum ke arahku. Senyum yang tak pernah kulihat selama ini.


"Nanti juga lo tau."


Setelah memberikan ucapan penuh tanya itu, Revan kembali masuk ke dalam aula. Kembali berkumpul bersama teman-temannya untuk yang terakhir kali. Aku hanya memandang semua dengan kesedihan yang mendalam.


Mengapa semua ini terjadi? Ini bukan keinginanku tapi kehendak Tuhan.


Malam itu ketika gerbang sekolah SMA AIRLANGGA kembali melepas puluhan siswa. Hatiku menjerit menahan tangis. Aku Juga telah melepas seseorang yang mempunyai makna baru di dalam hatiku.


Papa.. Apa ini Cinta? Rumit sekali aku mencari jawabannya.


Mama.. Apa yang harus aku lakukan ketika kami benar-benar terpisah untuk selamanya.


Aku masih menatap punggung yang kini mulai menaiki motornya. Mulai menjauh dari pandangan mata. Air mata mulai merembas memasahi pipi.


Selamat tinggal aku ucapkan, teruntuk kamu seseorang yang begitu aku sayang.