
-R- [Alexandria.]
Iskandariyah atau Alexandria adalah pelabuhan utama di Mesir, dan kota terbesar kedua di negara tersebut. Dibangun oleh Alexander the great atau Iskandar Zulkarnaen dari Romawi pada tahun 332 SM. kota pelabuhan ini pernah menjadi ibukota Mesir selama 1000 tahun.
Kini Alexandria menjelma menjadi kota modern yang cantik namun kaya akan sejarah. Alexandria menjadi saksi bisu kisah Cinta antara ratu Mesir yang kecantikannya melegenda Cleopatra dengan Jullius cessar.
Dan belum lama ini Alexandria juga menjadi saksi bisu pertemuan Abdullah khaerul Azzam dengan Anna althafunnisa dalam cerita "Ketika Cinta bertasbih" yang ditulis langsung oleh kang abik (salah satu penulis favorit saya) jangan bilang kalian belum pernah membaca ceritanya ya, sumpah itu keterlaluan banget.. Piss.
Kisah yang hingga saat ini menjadi motivasi saya dalam menjalani hidup jauh dari keluarga khususnya bunda, sudah hampir tiga tahun lamanya saya menuntut ilmu di Universitas Alexandria, dan jika Allah mengizinkan, tiada aral melintang, dan tiada halangan apapun, Tahun depan saya akan wisuda dan secepatnya akan kembali ke Indonesia. Kangen bunda.
Tepat hari ini adalah hari libur Sham el Nessim (penyatuan penduduk muslim dan kristiani) yang menandakan musim semi telah tiba. Saya merapatkan jaket yang saat ini saya kenakan. Walaupun kenyataannya musim semi, namun udara di pagi hari cukup membuat tubuh saya menggigil kedinginan.
Saya berjalan pelan menelusuri Jalan. 22 El guish, El shaby menuju universitas Alexandria, tempat di mana saya belajar dan menuntut ilmu, tempat yang mengajarkan saya tentang semua hal, dan menjadi tempat pelarian saya selama ini. Bunga bunga lily mulai tumbuh dan mekar menghiasi bahu jalan. Begitu Indah. Sinar matahari mulai memunculkan cahaya terang yang menghangatkan.
Saya terus berjalan melangkahkan kaki menuju kampus, padahal hari ini hari libur nasional di Alexandria, tapi tidak membuat saya harus bermalasan di asrama.
"Masih pagi Re, ya ampun, harus banget pergi ke kampus? Mau tesis apaan sih?" kata Arun saat pagi tadi melihat saya sudah rapi dan akan berangkat ke kampus. Saya hanya tersenyum menanggapinya. Saya ingin cepat lulus, Run. Saya ingin pulang, saya rindu rumah, rindu bunda, dan rindu seseorang yang jauh di sana. Tapi tidak mungkin kalo saya bicara jujur sama kamu. Jadi saya cuma bisa tersenyum menanggapi pertanyaan teman-teman saya di asrama.
Setelah sampai kampus, saya langsung bergegas menuju ruangan kantor milik Prof. Ansori salah satu guru pembimbing saya di sini. Beliau adalah guru tekhnik mesin yang begitu saya hormati. Dan karena kebaikan hati beliau-lah di hari libur seperti ini saya masih harus belajar lagi.
"Assalamualaikum, Prof," sapa saya ketika melihat beliau sedang berada di luar ruangan.
"Walaikumsalam."
Saya segera mencium tangan beliau dengan takjim.
"kamu beneran mau belajar, Re? Di saat yang lain masih sibuk tidur atau mungkin berlibur?" tanya beliau.
Saya tersenyum menanggapinya. "Iyah, Prof. Saya kan mau cepat lulus."
"Cepat nikah juga gitu," beliau meledek saya seperti biasanya.
"Kalo udah ada jodohnya, ya nikah, Prof. Berhubung belum ada, jadi sabar dulu aja."
"Sebenarnya kamu ini mau cepat lulus apa cepat ingin menikah, Re? "
Sudah saya duga pertanyaan melenceng tak terarah ini akan beliau tanyakan kepada saya. "Prof. Saya ke sini mau diskusi—"
"Soal jodoh?" kata beliau, memotong ucapan saya sambil terkekeh pelan.
Saya hanya menggeleng, "Pelajaran, Prof."
"Baiklah, Re, kita mulai diskusi hari ini." saya pun langsung mengikuti beliau ke ruang penelitian.
Bun, doain anakmu yang manja ini ya. Saya mau cepat lulus dan segera pulang bertemu bunda.
***
Malam ini saya memandang indah pantai mediterania di bawah gugusan bintang terang yang Allah ciptakan. Lambaian angin laut begitu terasa menusuk pori-pori saya. Namun, tidak mengurangi sedikit pun rasa ingin pergi dari tempat ini. Saya begitu mengagumi keindahan kota Alexandria, itulah mengapa saya bisa langsung siap ketika tahu saya lulus dan mendapatkan beasiswa di negeri Ratu Cleopatra ini. Meski dengan berat hati meninggalkan bunda sendiri, tapi kenyataannya sudah hampir tiga tahun saya belum pulang ke Indonesia.
Jika libur semester tiba, saya akan memanfaatkannya untuk lebih giat lagi dalam bekerja paruh waktu di salah satu toko penjual buku. Saya tidak ingin merepotkan bunda. Segala kebutuhan saya di sini, saya mencukupinya dengan bekerja. Ya, meski masih ada kiriman dari bunda setiap bulannya, tapi uang itu saya tabungkan dan akan saya kembalikan kepada bunda, ketika pulang ke Indonesia nanti. Aduh anakmu jadi rindu lagi, bun.
Suara ombak begitu menggema di telinga. Desiran angin yang semakin membuat saya merapatkan jaket yang saya kenakan. Suasana pantai saat ini cukup ramai, banyak pengunjung yang menghabiskan waktu libur mereka di pantai Mediterania.
Saya menatap langit yang penuh bintang malam ini.
Kamu apa kabar?
Rasanya sudah lama banget kita nggak pernah ketemu. Kenyataanya memang sudah lama sekali.
Saya tersenyum membayangkan wajah cemberut si gadis tomboi yang sering mengikat rambutnya asal.
Baik-baik ya di sana. Tak apa tidak menunggu saya kembali juga. Karena itu hukaman yang pantas diberikan kepada saya.
Saya rindu. Jika kamu sedang membaca tulisan ini atau siapapun kalian yang sedang membaca tulisan ini, tolong katakan kepadanya, maaf saya terlalu naif saat itu. Saya terlalu bodoh mengakui semuanya. Dan kini saya menyesalinya.
Jika masih ada kesempatan,
Dapatkah aku memelukmu?
Menjadikan dirimu satu satunya wanita di hidupku setelah bunda?
Aku rindu.
"Re,Kopi." satu tepukan di bahuku berhasil membuyarkan semua bayangan tentang dirinya.
"Melamun aja," kata Arun ketika ia sudah duduk di samping saya.
"Makasih, Run."
"Malam ini cerah banget, ya," kata Arun sambil menatap langit. "Gue jadi kangen Rosa di sana." Rosa calon istri Arun yang kini sedang kuliah di Universitas Padjajaran Bandung.
"Ya telepon aja lah, kalo kangen." ucap saya.
"Rosa di sana pasti lagi kuliah, Re. Terkadang perputaran bumi bisa bikin gue uring-uringan nggak jelas gini."
"Sabar."
"Udah sabar banget hayati, Bang. Pengin cepat pulang, terus langsung halalin rosa."
"Aamiin, bhikhobul."
"Ente, gimana?"
"Gimana apanya, Run?"
"Nggak ada yang di kangenin?"
"Ada,"
"Siapa?"
"Bunda saya."
Arun langsung memukul bahu saya pelan, "kalo itu mah gue juga kangen kali sama enyak di rumah."
"Lalu?" kata saya yang ikut tertawa karena lelucon receh malam ini.
"Wanita? Perempuan? Cewek? masa nggak ada, Re? "
"Nggak ada."
"Bohong."
"Bohong itu dosa Arun, saya serius. Saya belum siap nahan rindu kaya kamu." Dan yang ini saya sedang berbohong run, dari tadi saya sedang memikirkan dia.
"Alaaah, biasanya yang kaya gini nih, tiba-tiba langsung nikah aja,"
"Aamiin."
"Tuh kan, langsung di aamiinkan,"
"Tadi kamu berdoa untuk kebaikan saya, Run."
Arun tertawa mendengar jawaban saya, "Hahaha.. Iya. Ya.. " lalu ia meneguk sedikit kopi hitam di cup yang sudah disediakan Arun untuk menemani malam ini di pantai Mediterania.
Malam semakin larut, kami berdua pun memutuskan untuk kembali ke asrama.
Allah, aku titip bunda, mili, dan dirinya. Tolong jaga mereka saat aku berada jauh di sini sendiri.
Salam rindu dariku untukmu
R