
"Oh, Tuhan tolonglah aku..
Janganlah kau biarkan diriku.. Jatuh Cinta kepadanya.
Sebab andai itu terjadi.. Akan ada hati yang terluka.
Tuhan.. Tolong dirku.."
\-Tuhan tolong \(Derbi Remero\)\-
**Khanaya Khanza**
Hujan kembali menumpahkan airnya dari langit yang tinggi, kuambil tisu yang kesekian kali kuhabiskan hanya untuk menangis. Ini bukan soal drama Korea yang sedang kutonton, bukan tentang novel yang sedang kubaca, tapi dari alunan lagu Derbi Remero -Tuhan tolong-.
Allah, Tolong Naya, jangan biarkan Naya benar-benar jatuh Cinta. Jangan biarkan hati Naya terpaut pada satu nama.
Jangan biarkan Naya melewati beban hati ini sendiri. Naya takut hati ini akan semakin teriris lalu terluka parah dan sulit untuk disembuhkan.
Pa.. Seharusnya aku mendengarkan semua pesan Papa. Mungkin semua tidak akan sesakit ini.
Tapi kenapa aku bisa seperti ini? Sedangkan si cowok itu saja peduli pun tidak. Kenal pun hanya sebatas tatap muka, tanpa obrolan sama sekali.
Mungkin ini yang disebut, jatuh Cinta sendiri, lalu patah hati sendiri. Menyimpan rasa dalam diam ternyata menyiksa sekali.
Ini hari ketiga libur sekolah, karena kelas duabelas sedang menghadapi ujian nasional. Karena galauku tingkat awal, hanya moodku saja yang hancur, hanya ingin rebahan, males keluar apalagi jalan-jalan. Cukup #dirumahaja menikmati kepingan hati yang mulai patah.
Suara notifikasi chat group yang khusus untuk genk's unyu terus berbunyi, sebenarnya aku malas sekali menanggapi semua pesan itu, tapi logikaku masih sehat terkendali. Kubuka chat group tersebut, lalu membaca pesan dari mereka.
[KhenaAmanda]
Guys.. Malam ini kita otw, Sempur berada.
[MalaRahadanti]
Traktiran siapa?
Aku mendengus membaca pesan dari Mala, jika sudah seperti ini aku yakin 90% Mala sudah kembali menjadi dirinya lagi.
[KiaNurRahman] sedang mengetik...
Gue yang traktir.
[KiaNurRahman] sedang mengetik...
Harus dateng semua.
[SalwaFitria] sedang mengetik...
Males binggo... Lagi PeWe nih.
[KhanayaKhanza] sedang mengetik..
Yanng baik hati jemput. Putri males, lagi Mager...
Sudah kukatakan logikaku masih sehat walafiat. Hanya hati yang mulai merasakan perihnya.
***
Malam pun tiba. Sudah dari sore hari aku meminta izin pada Mama dan tentu saja diizinkan Mama hanya sampai jam sembilan malam, lebih dari itu Mama akan mengurungku di rumah hingga jadwal masuk sekolah normal kembali.
Oh, Mama.. aku padamu pokoknya.
Aku sudah rapi dengan celana jeans warna hitam, kaos putih bertuliskan 'Jangan Baper' pada bagian depannya, kaos yang baru kemarin aku beli saat hatiku mulai baper hanya karena Nur histeris memanggil satu nama.
Lalu kemeja kotak-kotak andalanku, sudah terbalut sempurna ditubuhku. Aku mematut diri di cermin. Jelas sekali perbedaanku dengan Nur sahabatku. Jika dilihat dari kanan, aku tidak ada tampang kecewek-an sama sekali, lalu jika dilihat dari kiri, Oh, astaga! Kenapa Tuhan menciptakan aku seimut ini?
Rambutku kuikat satu, lalu sebuah topi yang bertanda tangan DO EXO sudah menghiasi kepalaku. Kupakai lipbalm berwaran peach, hanya itu saja. Tanpa bedak, tanpa apapun itu yang sering dipakai cewek. Aku tidak suka, dan tidak akan pernah suka.
Kupakai parfum berbentuk gel yang beraroma strawberi, dan kembali mematut diri di depan cermin. Ternyata gue memang cantik, mata si Revan aja yang harus dicolok karena nggak pernah lihat aku, walaupun jarak kami dekat sekali.
Pukul 19.00 malam, suara klakson mobil berbunyi nyaring. Setelah makan malam seperti biasanya, aku pamit kepada Mama dan Papa.
"Siapa yang jemput?" tanya Papa ketika aku hendak ke luar.
"Bang Muklis, Pa. Sopirnya Khena."
Papa bukan tipikal orang yang mudah percaya begitu saja, meski dengan anaknya sendiri. Papa pun mengikutiku hingga ke depan pintu, Khena turun dari mobil untuk menyakinkan Papa.
"Malam, Om, Tante." kata Khena sambil mencium tangan Papa dan Mama.
"Siapa yang bawa mobil kamu, Khen?" tanya Papa lagi.
"Bang Muklis, Om. Sopirnya Papi saya."
"Mana orangnya?"
OMG... Papa....
Bang Muklis pun keluar, memberikan Id card kepada Papa. Id card Bang Muklis itu sebuah keterangan bahwa beliau kerja di rumah Khena, karena adik Khena sekolahnya di sekolah elit gitu, harus ada id card resmi jika mengantar dan menjemput. Setelah melihat id card Bang Muklis, Papa baru mengizinkan anaknya pergi malam mingguan.
Di sepanjang jalan aku hanya terdiam, nggak berniat membuka obrolan dengan Khena.
"Ada acara apa, sih?" akhirnya aku bertanya sendiri.
"Gue kira lo mendadak bisu, Nay!"
"Apa sih?"
"Si Nur dapet undangan gitu dari anak kelas duabelas yang lagi merayakan kelulusan mereka."
"Hah, serius, Khen?"
"Iya lah. Tau nggak, Nay?"
"Apa?"
"Bakal ada Revan di sana. Makanya dia suruh kita datang, mau nembak si Revan dia."
Mobil sudah memasuki parkiran Taman Sempur Bogor, salah satu icon wisata yang terkenal di Bogor.
Apa kalian sudah pernah ke sini?
Taman Sempur dulu hanya sebuah lapangan yang sering mengadakan car free day, bahkan beberapa konser dari band asal Ibukota pernah diadakan di sini. Tempatnya tidak jauh dari kebun Raya Bogor. Malah saling berhadapan dengan sisi Kebun Raya.
Lapangan ini sangat luas, sekarang sudah ada jogging tracknya, beberapa tempat olahraga, seperti lapangan basket, tanjak tebing pun kini tersedia, dan di bawah lapangan ada sungai ciliwung yang mengalir deras. Tidak jauh dari lapangan Sempur ada sebuah jembatan merah yang dulu pernah dipakai membuat video klip dari band Noah. Tidak percaya? Coba tanya eyang google. Aku lupa sih, yang dulu shooting band Noah apa Peterpan.. Hahaha.. Maafkanlah..
Kini Sempur sudah bukan lapangan lagi, tapi menjelma menjadi sebuah Taman di tengah-tengah kota Bogor. Jika kalian ke Bogor mamprilah sebentar, menikmati kendaraan yang lalu lalang sambil makan asinan Bogor dan es doger, pasti rasanya... Bayangkan aja sendiri...
Di malam hari seperti ini, Taman Sempur akan berhias lampu kelap kelip yang keren banget. Ada sebuah urutan nama T A M A N S E M P U R yang bisa dijadikan background untuk foto ootd. Keren kan? Yakin tidak mau main ke sini?
Setelah sampai, Khena langsung menarikku ke sebuah tempat yang sudah banyak sekali pengunjungnya. Ini malam minggu tentu akan ramai sekali. Kami berjalan menuju sebuah cafe yang tidak jauh dari lapangan. Sepertinya memang sudah dipesan khusus oleh anak kelas duabelas, dan benar saja Nur, Mala dan Wawa sudah berada di sana. Mereka melambaikan tangan ke arahku, aku dan Khena pun bergegas menghampiri mereka.
Terdengar petikan gitar yang sedang memainkan musik dari zigas (sahabat jadi Cinta) bukan petikan gitarnya yang membuatku kagum, tapi seseorang yang kini memakai kaos putih dengan jaket bomber warna hitam yang berhasil membuatku terpukau.
Kenapa kamu tidak pergi aja ke bulan sih, Re? setidaknya ke Mars, Jupiter atau ke Pluto sekalian.. Plis.. Jangan berseliweran terus di hadapan aku.
Aku ingin pulang aja, Ma...
"Naya..." panggil Nur, sambil mencolek lenganku.
"Apa?" jawabku agak kasar.
"Lo kenapa dah? Lagi PMS ya? galak amat!"
Iya, PMS (Pasti Merasakan Sakit) hancur berkeping-keping, lalu ingin pindah ke bulan saja. jangan ke bulan deh, tadi si Revan sudah aku suruh out ke bulan. Masa iya kita malah tinggal berduaan di bulan. Ogah banget
"Kenapa, Nur?" tanyaku lebih kalem.
"Ada Revan,"
"Terus?"
"Ya bantuin gue lah."
"Caranya?"
Ini pertanyaan apa Khanaya?
"Ya nggak tau," kata Nur sambil tersenyum tidak jelas. "Tapi nggak usah deh, Nay. Gue udah dapet nomornya kok."
"Hah?" aku terkejut mendengarnya. Memang tidak aneh, pasti dengan mudah, Nur akan mendapatkan nomor manusia kutub itu.
"Iya, udah biarin aja. Tapi, Nay. Puisinya udah jadi kan?"
"Udah.." jawabku lemas. Lemas banget, berasa tak bertenaga. Mau pingsan malu, mau nangis malu. Pokoknya malu. Malu banget sama hati sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk orang yang disukai.
Acara terus berlanjut, aku memilih sendiri, mengasingkan diri dari keramaian dan romansa picisan para anak SMA. Kalian tahu tidak? Ini acara jebakan untuk jomblo imut kayak aku. Kurang ajar banget deh punya sahabat kayak gini. Mereka asyik nge-date bareng gebetannya.
Aku?
Minggir aja dulu, pesan Papa selalu terpatri dalam ingatan.
Kulirik jam mungil berwarna ungu yang melingkar di tangan kiriku, sudah pukul setengah sembilan malam, berarti masih ada waktu setengah jam lagi menikmati malam minggu di luar. Angin malam berhembus, seakan menyapaku lewat terpaanya. Sepertinya dia bukan menyapa, tapi sedang meledek kekasih DO EXO yang lagi galau tingkat dua.
"Heh... " terdengar suara dari belakangku, aku pun menoleh dan...
"Ngapain lo di sini?" tanyaku geram.
"Lo kira taman ini punya Nenek lo apa? Suka-suka gue lah mau di mana juga!"
"Jangan ganggu gue ya!"
Dia tersenyum jumawa, "Tingkat kePede-an lo boleh juga,"
Kalian tahu, bagaimana menyebalkannya si manusia kutub ini? Rasanya ingin kulempar saja wajahnya dengan sneakers yang sedang kukenakan.
Dia duduk di sebuah kursi yang tidak jauh dari tempatku berdiri sambil sibuk melihat ponselnya.
"Nggak usah liatin gue kayak gitu, gue sadar kok, gue memang ganteng!"
"Hueekk.." kataku dengan nada pengen muntah.
"Lo aja naksir kan?"
Dan aku muntah seketika.
"Hahahahha.. Ya biasa aja dong, nggak usah salting kayak gitu!"
"Heh, gue saranin lo mending ke rumah sakit deh. Takutnya ada syaraf otak yang putus."
"Masa sih? Bukannya yang bikin putus syaraf otak gue itu, lo ya?"
Aku menatapnya dengan tajam, sambil mengepalkan tangan ke arahnya.
Mending kamu ke laut saja sana, Re. Aku takut kupu-kupu terbang dari rongga hatiku, dan kamu melihat itu.
Waktu setengah jam hanya aku habiskan untuk berdebat dengan Revan. Perdebatan pertama kami, obrolan perdana Revan, dan ucapan yang selalu terngiang di kepalaku, "Kalo sudah jatuh Cinta, rasakan dulu sakitnya. Jika jodoh akan bersatu. Nggak tau kapan, lagian gue masih muda, perjalanan masih panjang, dan yang harus lo tau, gue...." ucapan Revan tidak diteruskan olehnya, lalu dia pergi begitu saja.
Aku semakin berpikir apa kelanjutan dari ucapannya itu. Tapi bodo amat. Aku nggak peduli.
Sampai di rumah, sudah pukul 21.30 Mama dan Papa benar-benar menunggu anak gadisnya di teras depan.
Ma.. Terimakasih sudah menunggu anakmu pulang. Tolong ajarkan aku untuk menunggu juga. Semoga yang kutunggu benar adanya.
Pa.. Terimakasih sudah menjaga hati anakmu, dengan melarang pacaran sampai batas waktu yang Papa izinkan. Tolong ajarkan aku untuk menjaga hati pula, semoga tidak salah ketika aku menyebut namanya di dalam doa.
Kapada hatiku yang sedang galau sekaligus berbunga secara bersamaan. Aku minta sama kamu, jangan baper dulu ya. Kita terima takdir yang Tuhan berikan, dan ikuti alur yang sedang dibuat YuliHann.
Apa aku boleh meminta sesuatu?
Kepada Kak YuliHann yang sedang tersenyum nggak jelas ketika menulis part ini, kumohon jangan biarkan aku larut dalam kegalauan, gelisah dalam kebimbangan, rasa bersalah kepada perasaan. Kata Papa aku masih kecil, tolong jangan membuat aku dewasa dengan sebuah luka dan kecewa.
Air mataku cukup larut dalam doa kepada Allah.
Pliss.. Kak.. Jangan biarkan aku menangisi manusia kutub kayak Revan..