can I love you

can I love you
18. Hujan Kerinduan



Hujan turun begitu deras. Rintikan suaranya begitu merdu didengar oleh kaum rebahan di atas atap rumah. Iramanya mengundang rindu dalam diam. Terpaan angin menyapu sebagian waktu yang terbuang.


Seperti halnya roda pada kendaraan, akan selalu berputar pada porosnya. Sekarang di atas bisa jadi besok berada di bawah. Maksud filosofi ini sudah pasti mengarah pada hati pula. Jika saat ini aku merasakan sakitnya yang tidak berdarah tapi mampu membuatku enggan sekali membuka mata. Bisa jadi besok akan ada cerita baru yang bahagia.


Libur akhir semester telah tiba, dan aku hanya menikmatinya dari dalam kamar. Berteman dengan rasa sepi, sunyi dan begitu menyayat hati. Aku sadar ini berlebihan tapi kenyataanya lebih parah dari itu.


Aku tidak mau pergi ketika Mama dan Papa mengajak liburan. Rasanya aku ingin #dirumah aja, menikmati setiap jengkal rasa sesak yang tidak bisa ditahan. Hujan semakin deras, ketika jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Aku masih sibuk bergelung dengan selimut. Malu rasanya menampakkan diri ketika semalaman menangis. Ini bukan soal film Annoying brother yang semalam aku tonton. Tapi soal kabar dari Mala yang ingin membuatku kembali menangis lagi.


Setelah selesai acara Prom Night malam itu, aku langsung bergegas pulang karena Papa sudah menunggu di halaman sekolah. Aku sudah tidak melihat keberadaan Revan lagi. Mungkin benar dia langsung pulang setelah berdebat tadi.


Lelah dan sesak menyatu dalam keheningan malam. Semua rasa tidak bisa tercurahkan meski mulut ingin sekali berteriak. Tiba di rumah aku langsung masuk kamar, membiarkan air mata mengalir tanpa henti hingga menjelang pagi.


Dan pagi itu, ketika matahari baru saja memancarkan cahaya terangnya. Aku terbangun dari mimpi buruk yang hampir membuatku ingin menangis sekali lagi. Kucari ponsel yang sedari tadi berbunyi. Kubuka beberapa pesan yang membuatku tercengang. Revan sudah jadian. Secepat itukah?


Kulempar ponsel tersebut secara asal. Mau marah pun tak ada hak. Ternyata Revan benar-benar membuktikan ucapannya. Aku bingung. Hanya menangis yang bisa mengerti keadaan hati.


Notifikasi group genk's unyu kembali berbunyi. Hati dan otakku sedang berperang melawan gengsi untuk membuka chat tersebut. Aku hanya bisa mengacak-acak rambut, lelah sekali. Semua masih terasa mimpi, namun kenyataannya mimpi itu benar-benar nyata sekali.


"Khanaya Khanza... Kamu mau bangun jam berapa? Ini sudah siang, Nak."


Suara Mama begitu menggema di kamarku. Kulihat Mama sedang membuka gorden kamar, biarkan air hujan menjadi pemandangan ketika mata terbuka sempurna.


"Masih ngantuk, Ma."


"Kamu bergadang lagi ya? Nonton film apa semalam?"


Aku hanya terdiam. Ini bukan soal drama yang sedang aku tonton, Ma. Tapi kenyataan yang masih sulit aku terima.


"Khanaya..." panggil Mama ketika mataku terpejam lagi.


"Iya, Ma. Ini udah bangun," aku membuka selimut, lalu duduk sambil mengucek mata. "Lima menit lagi ya, Ma."


"Sekarang mandi lalu sarapan!"


"Iya, siap Komandan."


Tak butuh waktu lama, kini aku sudah duduk dengan santai di ruang makan. Menikmati susu coklat hangat dan roti bakar spesial buatan Mama. Di luar hujan belum reda, namun sudah tidak sederas waktu pagi.


Aku masih penasaran dengan isi chat group unyu. Sedari tadi aku hanya bisa memandang puluhan pesan yang belum kubuka. Sepertinya aku harus makan yang banyak hari ini. Menyiapkan tenaga untuk sesuatu yang di luar ekspektasi lagi.


Menahan tangan untuk membuka chat itu rasanya gatal sekali. Setelah menandaskan seluruh makanan, aku pergi ke ruang tengah tempat santai sambil rebahan menikmati tontonan televisi monoton khas Mama dan Papa. Aku berbaring di karpet bulu super tebal berwana maroon. Kuambil Sebuah boneka Bintang besar yang selalu menemani ketika santai di ruangan ini. Tanganku mulai membuka pesan dari group unyu dan aku terpana ketika membaca pesan pertama.


KiaNurRahman telah bergabung ke group


[KiaNurRahman]


Haii.. Guys.. Apa kabar kalian? Udah lama gue nggak menyapa.. 😀 gue bawa kabar baru nih.. Seminggu jadi pacar Revan rasanya membosankan.


[KhenaAmanda]


Dasar cabe...


[SalwaFitria]


@KhenaAmanda language cintahh.. 😱


[KhenaAmanda]


@KiaNurRahman putusin aja. Nggak guna. Mending lo cari anak sekolah lain aja sana... 😏


@SalwaFitria sebel aing.. Yang dibahas itu mulu. 😒


[MalaRahadanti]


Ada apaan sih ribut-ribut? Baju dah dicuci belum? Emak udah dibeliin garem belum?  Nasi udah diangkat @KhenaAmanda @SalwaFitria @KiaNurRahman @KhanayaKhanza bangun woyyy... Tidur mulu lo yak.. 😬


----------


Aku kembali melempar ponsel dengan kasar. Sumpah si Nur itu kebangetan banget. Aku sudah bersusah payah menata hati yang hancur berkeping-keping tapi dia dengan seenak udelnya malah bilang kayak gitu. Sabar Naya.. Plis.. Sabar..


Jika saja aku tahu semua akan berakhir seperti ini, aku tidak akan melepaskan manusia kutub itu. Setidaknya sampai Papa memberikan izin pacaran kepadaku. Kenyataannya aku menelan pil pahit ini sendiri.


Hujan kian reda meninggalkan jejak kenangan. Eh maksudnya genangan di depan rumah. Aku keluar sebentar membiarkan diriku menghirup udara sisa hujan membasahi bumi. Semakin kuhirup semakin sesak aku rasakan. Ini nggak adil untukku. Kenapa mereka jahat sekali. Membiarkan diriku menahan sakit sendiri.


Aku mendongakkan wajah ke langit, menatapnya sebentar. Langit tampak tidak berekspresi setelah hujan datang membasahi bumi. Matahari pun sama galaunya denganku. Tidak ada cahaya apapun saat ini, yang ada hanya awan pekat kegalauan tiada henti.


Biarkanlah aku terbang bebas sekali saja. Membawa setiap luka pada kenyataan. Aku tidak ingin membuat Mama dan Papa kecewa, hatiku pun jangan merasakan sakitnya. Baiklah, Naya. Mulai saat ini harus tetap fokus ke depan. Raih cita-cita agar bisa membanggakan Mama dan Papa. Soal hati biar Tuhan yang mengurusnya. Untuk Revan biarkan takdir yang akan membawa cerita Indah penuh drama ini kepada waktu yang semestinya. Khanaya Khanza pasti bisa. Move on, Sis!!!!!


***


Hampir tiga minggu aku #dirumah aja. Setiap Papa mengajak jalan-jalan ada saja alasan yang membuatku enggan sekali melihat dunia luar. Tapi tidak hari ini, tinggal tiga hari lagi masa tenang liburan sekolah. Papa dan Mama mengajakku pergi ke Devoyage Bogor. Tempat wisata kekinian yang lagi hits sekali.


Beautiful night at Devoyage Bogor adalah tempat wisata sekaligus tempat bersantai paling asyik dan spot foto hunting paling unik. Di sana kita akan menjelajahi replika berbagai icon Eropa. Seperti Menara Eiffel hingga Gondola Vinesia. Terdapat sungai-sungai kecil yang mengelilingi tempat wisata bak di benua Eropa. Di salah satu sungai berderet perahu-perahu dengan beragam warna. Kita bisa menaiki perahu tersebut sambil berselfi ria.


Aku, Mama dan Papa memutuskan untuk menaiki perahu berwarna hijau. Berkeliling sungai yang berbatasan langsung dengan bangunan ala Eropa. Beberapa kali Mama mengambil foto-foto candid dari kamera yang dibawanya.


Setelah puas berkeliling, kami pun memutuskan untuk makan siang di salah satu restoran yang berada di dalam Devoyage. Restoran di sini menyajikan masakan khas Eropa juga beberapa makanan tradisional Bogor. Aku bahagia bisa menikmati sisa liburan ini bersama Mama dan Papa. Bahagia bisa menutupi rasa sakit ini dengan selalu tersenyum ke arah mereka.


"Mau pulang sekarang?" tanya Papa ketika melihatku hanya terdiam saja.


"Iya, Pa. Udah capek banget."


"Ya udah, yuk, Ma. Kita pulang. Kasian banget ini anak Sultan udah lesu kayak gitu," kata Papa sambil melirik Mama.


Aku berdecak gemas,"Aku bukan anak sultan tapi anak papa Angga." lalu aku menggandeng tangan Mama, "Dan Anak Mama Kara."


"Iya deh. Ayo pulang!"


Aku mengangguk. Lalu kami pun bergegas ke mobil untuk pulang ke rumah.


Perjalanan yang dekat jadi terasa jauh ketika pikiranku berkelana entah kemana. Memikirkan apa yang harus aku lakukan untuk mengobati luka kecil tak kasat mata.


Kami sampai di rumah ketika matahari telah memunculkan cahaya jingga yang begitu mempesona keindahannya. Aku langsung masuk ke kamar, mandi dan berganti baju. Suara notifikasi pesan di group kembali berbunyi. Entah apa yang dilakukan mereka sepertinya liburan bareng handphone saja.


[MalaRahadanti]


Woyy @KhanayaKhanza lo kemna dah? Gak ada kabar pisan.. 😩


[KhenaAmanda]


@KhanayaKhanza lagi semedi di hutan.. Plis deh, Mal. Jangan ganggu anak sultan. 👸


Aku langsung mengetik pesan di group unyu.


[KhanayaKhanza]


Abis pulang liburan bareng Ayang. Jomblo mana tau... 😝


[MalaRahadanti] sedang mengetik....


*****.. Sia... 😱 sama-sama jomblo sok kyud..


[MalaRahadanti] sedang mengetik...


Tabok online nih.. 👊 @KhanayaKhanza


[KhenaAmanda] sedang mengetik...


Jijik bacanya gue @KhanayaKhanza.. 😷


[SalwaFitria]


🙀🙀🙀


[KiaNurRahman] sedang mengetik...


Eh.. Guys.. Ada yang tau nggak? Dulu emak si Revan ngidam apa sih? Anaknya batu banget sumpah. Gue chat dia dari lima hari yang lalu belum ada balesan. Parahnya lagi telepon gue nggak diangkat. Pacaran apa kayak gini? 😤😤


[MalaRahadanti]


@KiaNurRahman basi


[KhenaAmanda] sedang mengetik...


Basi


[SalwaFitria] sedang mengetik...


Ikutan @KiaNurRahman basi.. ✌


--------


Aku kembali melempar ponsel ke kasur. Seperti ada hal yang membuatku muak dan tidak nyaman ketika Nur hadir di group membawa nama Revan, dan selalu saja menjelekkan namanya. Aku mau marah, tapi sadar diri aku ini siapa. Jadi hanya bisa mengelus dada dan beristighfar saja.


Malam telah tiba. Rembulan malu-malu untuk memancarkan cahaya terangnya. Aku memandang langit dengan beberapa doa yang sering aku titipkan. Tiada yang abadi di dunia ini. Aku, kisah ini, dan segala bentuk rasa kecewa dalam dada. Aku yakin Tuhan pasti punya cara untuk membuat kita bahagia.


Malam yang semakin larut. Udara dingin mulai menyapa. Aku memutuskan untuk masuk kembali ke kamar. Menyiapkan segala hal untuk hari pertama sekolah setelah libur akhir semester. Mungkin semua telah aku siapkan dengan rapi, tapi hatiku masih ingin berdiam diri lebih lama lagi.


Aku tidak tahu jika jatuh Cinta dan sakit hati itu ternyata sangat menyiksa. Kecewa membuat luka di dada. Seandainya saja sebuah perasaan itu tak pernah ada mungkin aku tidak akan terluka. Aku hanya ingin Tuhan menghapuskan semua rasa untuknya. Jangan biarkan hal itu terjadi meski ini hanya rindu.


***


Pagi ini ketika matahari baru saja memancarkan cahaya redupnya, aku sudah rapi dengan seragam sekolah, sudah duduk santai di samping Papa yang sedang membaca koran. Mama sibuk menyiapkan sarapan untuk kedua orang yang berarti dalam hidupnya. Sesekali aku mengganti plas musik yang sedang kudengarkan. Saat musik dari Samsons kenangan terindah mengalun pelan, sebisa mungkin aku menahan air mata yang mulai mengembun.


Jangan nangis, Naya. Malu sama Papa. Nanti disidang lagi bisa ribet.


Mama datang membawa pancake coklat buatannya ke atas meja. Segelas susu hangat, kopi hitam dan teh hangat telah terhidang dengan sempurna. Aku mengambil dua pancake tersebut ke atas piring, lalu memakannya dalam diam. Beberapa kali Papa melontarkan pertanyaan kepadaku. Aku hanya membalas dengan "iya.. Tidak.. Lalu menggeleng"


Mulutku sibuk mengunyah pancake buatan Mama dan lebih tepatnya aku tidak ingin diajak bicara.


Ketika aku memasuki mobil, hujan turun begitu deras. Papa berdecak pelan ketika mobil mulai melaju, "Hujan itu Rahmat. Makanya kita manusia dianjurkan berdoa ketika hujan turun. Kamu tau tidak alasannya apa, Nay?" tanya Papa.


Aku hanya menggeleng.


"Karena hujan waktu mustajab untuk berdoa."


Seketika aku menoleh ke arah Papa yang sedang tersenyum kepadaku. Di dalam hati aku langsung melangitkan doa ketika hujan turun semakin deras.


"Hujan.. Aku rindu.. Katakan padanya aku rindu."


Mobil Papa sudah berhenti di halaman sekolah. Papa benar-benar mengantarku hingga masuk ke dalam, padahal biasanya hanya sampai gerbang saja. Mungkin Papa tak ingin Putri semata wayangnya kehujanan.


Aku mencium tangan Papa, "Naya pamit ya, Pa. Papa hati-hati di jalan."


"Iya, sayang. Belajar ya benar ya!"


"Siap komandan."


Pintu mobil telah kubuka, lalu aku juga membawa payung kecil agar air hujan tidak membasahi tubuhku. Mobil Papa mulai keluar dari halaman sekolah. Aku menatapnya dalam diam. Menitip doa kepada Tuhan di kala hujan turun, agar Papa selamat sampai ke tujuan, dan semoga Allah melancarkan semua pekerjaan Papa.


Aku berjalan pelan menelusuri koridor sekolah. Hingga sampai di depan ruang kesenian aku melihat siluet tubuh seseorang sedang berjalan. Ketika dia mengangkat wajahnya, tatapan mata kami bertemu. Aku langsung membuang wajah ke arah lain. Apek banget hari ini. Tapi tunggu dulu, Papa benar hujan waktu mustajab untuk berdoa. Rinduku tersampaikan.


Revan berjalan menuju kelasnya yang kini berada di kelas XII otomotif berdampingan dengan ruang redaksi mading. OMG, sepertinya aku akan menemukan masalah baru jika masih menjabat ketua redaksi mading. Semoga Bu Retno secepat mungkin menurunkan jabatanku.


Aku memasuki kelas yang masih tampak sepi. Sepertinya siswa lainya banyak yang terjebak hujan.


Aku duduk di barisan kedua dari pintu di meja kedua pula. Tempat yang selalu nyaman ketika di kelas. Mungkin untuk dua tahun ke depan aku akan masih tetap duduk dengan Aini. Memang tidak ada niatan di antara kami untuk bertukar teman sebangku, dan benar saja saat Aini masuk kelas dia langsung duduk di sampingku, "Kita bertemu lagi, Naya. Jangan bosen ya!"


Aku hanya tersenyum menanggapi ucapanya.


Hari ini kegiatan belajar mengajar belum sepenuhnya dilakukan. Kami para siswa hanya diberikan tugas ringan mengisi sebuah kertas tentang liburan semester kemarin.


Ketika bel istirahat berbunyi nyaring, aku dan Aini langsung keluar kelas. Di luar hujan masih turun namun tidak sederas pagi tadi. Hanya rintikannya yang masih tetap menemani setiap langkah penuh kehampaan ini. Aku dan Aini berpisah ketika sampai di perpustakaan sekolah. Aini mengatakan ada beberapa buku yang akan dia cari, sedangkan aku memutuskan untuk ke masjid. Aku ingin berdoa ketika hujan masih turun membasahi bumi.


Dua rakaat duha sudah aku tuntaskan. Kata Mama solat duha seperti bersedekah untuk seluruh anggota tubuh. Bukan hanya untuk memperlancar rezeki, tapi juga menjadi tempat untuk bersedekah diri. Aku memohon ampunan kepada Allah untuk kedua orang tuanku. Semoga Allah selalu melindungi Mama dan Papa dari segala macam marabahaya.


Ketika selesai solat, aku bergegas keluar dan lagi-lagi aku menemukan manusia kutub baru saja keluar dari tempat solat khusus laki-laki.


Re, apa tidak bisa kamu pergi jauh-jauh dari aku. Jupiter itu besar dan luas, mending kamu ke sana aja. Jangan tampakin wajah menyebalkan kamu itu di hadapan aku.


"Apa …" katanya ketika tatapan mata kami kembali bertemu.


"GR banget sih!"


"Harus!"


Aku sudah mengepalkan tangan ketika dengan angkuhnya Revan melintas di depanku.


"Nyebelin banget sih... "


"Tapi kangen 'kan?"


Mataku melotot sempurna mendengar ucapan anehnya itu. Revan duduk di teras untuk memakai sepatunya. "Jangan liatin gue kayak gitu. Nanti kalo udah suka terus kangen, gue nggak mau tanggung jawab."


"Heh... Omongan lo itu udah kayak FTV tau nggak?"


"Nggak tau. Gue nggak suka tontonan menye-menye kayak gitu."


Aku gemas sekali ingin memukul kepalanya dari belakang. Tapi aku sadar diri, kini dia pacar sahabatku. Aku hanya ingin punya sedikit waktu lebih untuk berdebat seperti ini. Meluapkan rindu yang kian menumpuk di dalam hati.


"Kenapa lo masih di situ?" tanya Revan ketika melihatku masih berdiam diri. "Nggak gabung sama genk's aneh lo itu?"


"Lo bisa nggak sih, sehari aja nggak nyebelin?"


"Nggak bisa kayaknya. Gue udah di setting jadi nyebelin terus kalo udah ketemu lo. Biar lo makin kangen sama gue."


Aku ingin muntah mendengar ucapanya. "Geli gue dengernya."


"Hahahaha... "


Revan tertawa sambil mengibaskan tangannya, lalu pergi begitu saja.


Re, tahu tidak? Nur bilang kamu membosankan, tapi kenapa setiap kita bertemu kamu selalu memberikan rasa nyaman di dekatku. Meski itu hanya perdebatan kecil yang membuat jantungku berpacu seperti sedang lari marathon.


Re, di antara kita sudah tercipta sebuah jarak yang aku sendiri peciptanya. Seandainya aku tidak menuruti kata hati mungkin saat ini aku tidak tau akan seperti apa.


Aku sering marah dalam diam ketika Nur menjelekkan nama kamu di depanku. Rasanya aku ingin menyumpal mulut sahabatku itu dengan gulali Bang Deri. Aku tidak ingin ada orang lain yang begitu menggebu menyebut nama kamu. Meski kenyataannya aku adalah aku yang tidak punya arti apapun di mata kamu.


"Nayaaa.... " suara khas teriakan Mala membuyarkan lamunanku.


"Gue cari ke kelas, malah jadi penjaga masjid sekarang."


"Apa sih?" kataku pelan, sambil mengikat tali sepatu.


"Ayo makan. Kita udah nunggu lo dari tadi tau,"


"Masa? Biasanya juga nggak nunggu gue."


"Heh... Kita udah baikan. Gue juga males denger si Nur kayak orang kerasukan marah-marah sendiri kalo udah curhat tentang Revan."


Aku merangkul bahu Mala sambil berjalan pelan menuju kantin, "Makanya gue jadi males ke kantin. Mending di kelas, makan bekel dari Mama."


"Tuh kan.. Gitu.. Curang banget!"


"Hahahaha... " aku hanya tertawa mendengar ocehan Mala. Di dasar hatiku menjerit kesakitan, aku hanya ingin menghindar dari topik tentang Revan yang selalu Nur ceritakan.


Sampai di kantin aku dan Nur saling tatap. Lalu suara Wawa menyuruhku duduk di sampingnya. Aku tahu, mungkin Nur masih marah soal kesalahpahaman dulu. Biarkan saja, aku sudah tidak ingin mengingat itu semua.


Kami makan dengan selingan obrolan abstrak seperti biasanya. Hanya saja aku sedikit kaku untuk membalas jokes receh dari mereka. Di antara kami mungkin sekat aku dan Nur tidak terlihat. Tapi aku masih merasakan amarah yang ditahan Nur ketika kami berkumpul seperti sekarang.


Selesai istirahat dan makan, kami berpisah menuju kelas masing-masing. Hari ini aku mendapat tugas dari Bu Retno soal redaksi mading. Jadi sebelum ke kelas aku mampir dulu ke ruangan yang menjadi tempat pelarian selama ini. Aku membuka pintu dan mendapati Dewa sedang fokus di depan komputer. "Yang lain mana, Wa?"


"Belum datang," kata Dewa yang masih fokus di depan komputer. Tangannya sibuk mescrol beberapa ulasan tentang tugas dari Bu Retno hari ini. "Nay... " panggil Dewa.


"Kenapa?"


"Gue boleh pinjem hp lo nggak?" Dewa mengalihkan tatapannya dari komputer dan melihatku yang sedang menatapnya penuh tanya, "Hp gue rusak, nggak tau itu kenapa. Tiba-tiba aja mati."


"Mungkin udah ajal." kataku sambil terkekeh pelan.


"Ya makanya itu. Gue mau pinjam hp lo. Boleh nggak, Nay?"


"Lo mau telepon pacar ya?"


"Ya ilahh. Pacar dari mana, sih? Gue nggak punya. Mana sini gue pinjem sebentar aja."


"Udah minjem, maksa lagi. Lo anak siapa, sih?" aku berdecak pelan lalu menyodorkan ponselku kepada Dewa.


"Ya anak Ema, Bapak gue lah. Makasih ya. Gue pinjem bentar aja kok."


Dewa pergi meninggalkan komputer yang masih menyala. Aku pun bergegas melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


"Nih, Nay.. " kata Dewa sambil menaruh ponselku di atas meja.


"Lah cepat amat?"


"Kan tadi gue bilang cuma sebentar,"


"Lo habis menghubungi siapa?" aku penasaran sekali saat ini.


"Oh, gue abis Wa Bang Revan. Soalnya gue nggak bisa latihan sore ini."


"What the... Dewaaaaa..... " aku berteriak histeris di sampingnya.


"Apa sih? Berisik banget lo, Nay!"


"Kenapa chat Revan pake nomor gue.. Kenapa...?" aku ingin marah saat ini.


"Lah.. Memangnya nggak boleh apa?"


"Kalo tadi lo bilang bakal kirim WA ke Revan, sumpah, Wa... Gue nggak bakal kasih pinjem hp gue ke lo."


"Aneh banget sih! Udah terlanjur. Lagian nggak boleh pelit sama teman."


Aku menghentakan kaki di lantai. Lalu bergegas ke meja tempat anggota mading berdiskusi. Marah, sebel sudah bercampur menjadi satu. Sumpah Dewa...


Aku membuka kolom percakapan Dewa dan Revan. Masih syok sekali dengan kenyataan ini.


[KhanyaKhanza]


Bang Revan. Ini ane Dewa. Sorry nanti sore nggak bisa ikut latihan. Ada acara keluarga.


[089501XXXXX]


iya. Gpp. Ini nomor siapa?


[KhanyaKhanza]


Nomor si Naya bang. Hp ane rusak nih. Minta diganti kayaknya. Simpen aja bang, kali aja nanti penting.


[089501XXXXX]


Ok. Siap.


-------


Dewa marmut benar-benar bikin aku kesal saja. Tuhan.. Semoga Revan tidak menyimpan nomor ponselku. Jika dia menyimpan pasti langsung aku blokir. Aku tidak mau berurusan dengan hal runyam lagi. Dewa sialan banget.... Sumpah...