can I love you

can I love you
13. Di Antara Redaksi Mading dan Tangis Mala.



                 Khanaya Khanza


                             ***


Pagi ini matahari malu-malu untuk memancarkan sinarnya. Angin berasa turun dari gunung, sejuknya mampu menerpa jiwa-jiwa yang sedang galau karena sebuah penantian. Awan pekat mulai berjalan pelan, seperti memaksa matahari untuk tidak muncul saja.


Beberapa saat kemudian, gerimis itu mulai turun pelan, dan tak lama hujan pun datang. Jadwal pelajaran yang kosong, membuat aku ingin rebahan saja. Kubuka kembali tugas dari Pak Adnan Guru Bahasa Inggrisku, yang hari ini tidak hadir mengajar.


"Nay... " panggil Aini.


Aku menoleh ke arah Aini, "Iya, kenapa, Ni?"


"Antar aku ke toilet, yuk!"


"Ayo."


Akhirnya kami berdua pun pergi ke toilet. Aini sibuk dengan hajatnya sedangkan aku lebih memilih main air di wastafel. Ya, seperti inilah cewek, ke toilet berdua. Ada yang sibuk di toilet, ada juga yang hanya sekedar berkaca.


Di luar sedang hujan deras. Bogor kotaku tercinta, yang jika turun hujan bisa membuat nostalgia. Kata Papa, dulu waktu muda, Papa juga melamar Mama ketika turun hujan Alasannya biar selalu dikenang Mama.


Aku kira itu hanya kisah romantis Papa dan Mama, tapi nyatanya aku juga mengalaminya. Saat aku dan Aini hendak kembali ke kelas, langkah kami terhenti ketika melihat beberapa anak kelas sebelas sedang di hukum di depan ruang BK, dan yang membuatku sangat terkejut satu di antara beberapa siswa itu si cowok dingin yang nyebelin.


"Kalian tau, kenapa kalian bisa dihukum?" terdengar suara Pak Samsul yang sedang bertanya.


"Tau, Pak."


"Bagus, sekarang mulai menghafal surah Al-maidah sampai selesai!"


Keempat siswa tadi memulai hafalan mereka, dan Revan yang mengawalinya.


"Kenapa Kak Revan bisa dihukum ya, Nay?" tanya Aini.


Aku hanya menaikan bahu, "Entahlah,"


"Apa dia nggak mengerjakan tugas?"


"Aku nggak tau, Aini. Udah yuk ahk, kita ke kelas!"


Aku dan Aini pun kembali ke kelas. Tidak peduli dengan apa yang menyebabkan Revan dihukum. Biarkan saja. Kapan lagi bisa melihat spesies makhluk kutub itu mendapat hukuman dari Guru BK.


***


Bel tanda istirahat pun telah berbunyi lima menit yang lalu, tapi aku masih betah di kelas, hingga kedatangan Khena yang matanya memerah menahan tangis, membuatku mengernyit heran melihatnya.


"Kenapa lo?" tanyaku. Khena langsung duduk di sampingku, isak tangisnya terdengar pelan, "Mala.. "


"Mala kenapa?"


"Dia lagi nggak jelas banget, Nay."


"Maksudnya gimana? Gue nggak ngerti, Khen!"


"Kita ke kantin sekarang!"


Khena langsung menarik tanganku menuju kantin. Sampai di sana aku bingung melihat ketiga sahabatku sedang berjauhan. Ada apa ini?


Aku duduk di samping Wawa sambil menatap Nur dan Mala. "Kalian pada kenapa, sih?"


"Lo juga Nay, sumpah gue lagi males banget sama kalian semua." ucap Mala dengan nada membentakku.


Maksud dari semua ini apa? Kenapa Mala terlihat marah kepada kami semua.


"Mal... " panggilku pelan, "Are you ok?"


Mala hanya menatapku sekilas, lalu pergi meninggalkan kami semua. Aku heran, kutatap punggungnya yang kini semakin menjauh.


"Ini ada apa sih?" tanyaku kembali kepada mereka. "Wa, Nur, Khen... Plis.. Ngomong dong! Gue nggak ngerti tau,"


"Kita juga nggak ngerti, Nay. Tiba-tiba aja si Mala udah kayak gitu sama kita semua." kata Khena.


"Iya, Nay. Dia nggak mau cerita sama kita. Gue jadi frustasi banget," timpal Wawa.


Nur terlihat menarik napasnya pelan, "Gue yakin banget pasti dia lagi punya masalah."


Aku menopang dagu dengan tangan kanan, "Padahal kita udah janji, kalo ada masalah tuh cerita, jangan dipendam sendiri. Kita semua ini bukan sekedar teman, sahabat tapi udah seperti saudara sendiri."


"Terus sekarang gimana?" tanya Khena.


"Kita harus paksa Mala sampai mau cerita sama kita semua."


"Ya gue setuju,"


Akhirnya kami pun kembali ke kelas masing-masing, jika ada masalah di antara kami, aku dan yang lainya pun tidak mood untuk makan. Istirahat kali ini hanya minum teh botol dingin aja. Biarkan. Bukannya Mala juga tidak makan? Biar kita juga sama-sama merasakan apa yang dirasakan Mala.


Pelajaran terakhir pun telah selesai, aku langsung keluar kelas, hari ini masalah Mala harus terpecahkan, namun belum sempat aku sampai di lantai dasar, suara Bu Retno yang memanggilku berhasil menghentikan langkah kakiku, "Khanaya Khanza.. "


Aku menoleh ke arah Beliau, "Iya, Bu,"


"Mau kemana?"


Ke bulan, Bu.


"Pulang," jawabku pelan, dalam hati aku terus berdoa agar Bu Retno tidak berbicara panjang. Aku harus berkumpul dengan sahabatku, dan pasti mereka sudah menunggu di lantai dasar.


"Jangan pulang dulu, Ibu mau bicara sama kamu. Penting!" katanya dengan penekanan di akhir kalimat.


"Ibu, maaf ya. Hari ini Naya ada perlu, Penting juga!" kataku dengan menekan kata Penting agar sama dengan beliau.


"Sepenting apa, Naya?"


"Penting banget, Bu. Naya udah ditunggu di bawah."


"Kamu mau pacaran?"


Oh, Tuhan, kenapa Bu Retno hari ini menyebalkan sekali. Sabar Naya.. Sabar..


"Bukan, Bu."


"Lalu?"


"Ibu mau bicara apa sama saya?"


Akhirnya aku mengalah. Ini lebih baik jika harus berdebat dengan beliau, dan ketika sampai rumah nanti aku bisa mendapat ceramah dari Papa, karena Bu Retno ini sudah temenan sama Papa dari SMA. Jadi kalian bisa membayangkan jika di sekolah, ada intelijen yang mengawasi kalian, aku sendiri malas membayangkannya.


Bu Retno tersenyum penuh kemenangan, "Mari ikut Ibu ke ruang Guru!"


Aku mengangguk, Bu Retno jalan mendahuluiku, ini kesempatan untuk memberi kabar kepada Genk's unyu, kalo aku akan terlambat berkumpul bersama mereka. Kukirim pesan ke group, dan mengabarkan mereka duluan saja, aku akan menyusul karena ada urusan dengan Bu Retno, setelah itu aku segera masuk ke ruang guru.


"Duduk, Khanaya!" titah Bu Retno. Aku pun langsung menarik kursi dan duduk berhadapan dengan beliau.


"Ibu mau bicara soal ketua redaksi mading," katanya sambil menatap lekat wajahku.


"Apa urusannya sama Naya, Bu?"


"Ada, mulai hari ini Ibu memilih kamu untuk menjadi ketuanya,"


"Lah, kok bisa kayak gitu sih, Bu?"


"Ya bisa dong,"


"Kenapa nggak yang lain aja, Bu? Terus kenapa langsung dipilih kayak gini?"


"Naya, kamu harus tau! Redaksi mading itu bukan seperti anggota osis yang harus dipilih melalui votting. Ibu sebagai pembinanya punya hak penuh untuk memilih calon ketua."


"Ya tapi, kenapa harus saya, Bu? Kan banyak yang lain!" aku agak emosi ketika menjawabnya. Sumpah, pikiranku lagi melayang memikirkan keempat sahabatku.


"Kalau Ibu maunya kamu, bagaimana? Kamu juga tidak bisa menolak!"


Aku lemas seketika, "Terserah Ibu aja, aku bingung harus jawab apa, kalau aku sendiri tidak bisa menolaknya."


Bu Retno tersenyum ke arahku, "Good, besok Ibu akan menjelaskan semuanya."


Aku hanya mengangguk pasrah, lalu ke luar ruang guru. Rasanya otakku sudah tidak bisa berpikir dengan benar, dan tanpa pikir panjang aku langsung bergegas pergi menyusul keempat sahabatku.


Sampai di sebuah taman, yang tidak jauh dari sekolah, aku melihat Wawa sedang berdiri di pinggir jalan, sepertinya Wawa sedang menungguku. "Wa... " teriakku.


"Lama banget sih, Nay!"


"Iya, maaf,"


"Ada urusan apa sama Bu Retno?"


"Ceritanya panjang, udah ayo ke sana! Mala di mana?"


Aku dan Wawa pun berjalan menuju tempat yang sudah kami sepakati. Aku melihat Mala sedang menunduk dalam diam, terlihat Nur dan Khena yang sedang menarik napasnya, sepertinya mereka belum mendapat jawaban apapun dari Mala.


"Mal.... " panggilku pelan, ketika sudah duduk di sampingnya.


Mala menatap mataku, matanya terlihat memerah menahan tangis. "Gue malu... " hanya itu yang Mala katakan, lalu memelukku, dan terjadilah tangis diantara pelukan kami semua. Wawa, Nur, dan Khena pun ikut memeluk Mala.


"Sssstttt... Udah jangan nangis! Kita semua di sini, Mal. Pliiss, jangan anggap kita orang lain, kalo ada masalah, cerita aja!" kataku sambil terus menenangkan Mala. Tangis kami belum mereda, tidak peduli dengan orang lain yang menatap kami aneh. Sungguh, saat ini aku hanya ingin yang terbaik untuk Mala.


"Gue malu banget, guys," kata Mala dengan suara tangis yang masih sesegukan.


Mala melepas pelukan kami, lalu menatap wajah kami satu persatu. "Papa gue... Dituduh menggelapkan uang perusahaan.... " dan air mata itu kembali mengalir di pipi Mala. "Papa, akan di penjara kalo nggak balikin uang itu.... "


Aku mengusap bahu Mala untuk menenangkannya.


"Gue malu... Sumpah.. Malu banget sama kalian... Papa nggak mungkin kayak gitu, gue yakin banget... "


"Sssttt.. Udah, Mal. Kita percaya kok, Bokap lo nggak mungkin kayak gitu,"


"Rumah gue udah disita, semua barang-barang pun sudah dijual Mama, buat balikin uang itu,"


Ada rasa pilu di hatiku, mendengar semua penuturan Mala. Allah cobaan apa yang Engkau berikan kepada keluarganya?


"Dan yang bikin gue tambah sedih, merasa nggak berguna banget jadi anak, Abang gue... Abang gue.. Guys.. " tangis Mala kembali pecah, aku langsung memeluknya kembali sambil terus mengusap bahunya.


"Abang lo kenapa?" tanya Khena.


"Bang Alif sakit, kena DBD... Sekarang lagi dirawat di rumah sakit dekat kampusnya... Gue.. Harus gimana, guys.. Bang Alif butuh biaya buat perawatannya.. Sedangkan di sini orangtua gue udah nggak punya uang sama sekali..."


".... Gue takut.... Gue takut banget... "


"Mal, kita nggak bakal tinggalin lo, kita janji bakal bantu lo, kita semua di sini," kata Nur sambil terus terisak pelan.


Mala mengangguk, "Makasih... Guys.. Kalian memang yang terbaik. Gue minta maaf ya... Gue cuma malu, takut.. Dan udah nggak bisa berpikir sama sekali...."


"Ssstt... Udah, Mal. Sekarang lo yang tenang ya, nggak usah nangis lagi. Gue yakin lo pasti bisa melalui semua cobaan ini." Kata Wawa.


"Iya.. Aamiin.. "


Setelah itu kami kembali berpelukan, Rasa pilu menyergap ke hati kami.


Seperti inilah sebuah persahabatan yang terjalin dengan ikhlas penuh kasih sayang. Saat salah satu di antara kami ada yang terluka, maka kami yang sehat pun akan merasakan lukanya. Aku mengenal mereka semua bukan sehari atau dua hari, bukan sebulan atau dua bulan, tapi hampir satu dekade, jadi tidak heran perasaan kami berada dalam lingkaran yang sama.


Setelah Mala mulai tenang, kami pun mengajaknya untuk pulang. Saat ini Mala tidak lagi tinggal di rumah lamanya, tapi di sebuah kontrakan kecil yang menurutku sangat asri, jauh dari hiruk pikuk kota yang mulai membosankan.


Aku pulang ke rumah setelah berpisah dari ketiga sahabatku. Perasaanku bercampur aduk menjadi satu dalam kegalauan. Aku bingung kemana harus mencari bantuan untuk Mala. Sedangkan tabunganku saja tidak cukup untuk membantunya. Biaya perawatan Bang Alif cukup fantastis, karena kemarin sempat dirawat di ruang ICU, bersyukur sekarang keadaanya sudah membaik.


Aku tiba di rumah tepat pukul enam sore, setelah memberi salam sama Mama, aku langsung ke kamar, menyimpan tas di meja belajar, lalu segera mandi.


Malam pun tiba, udara dingin sehabis hujan menyapa setiap insan di kota Bogor. Aku memandang langit yang sepi tanpa Bintang, langit pekat tanpa hiasan sama sekali. Aku menarik napas pelan, saat ini sepertinya hanya Papa yang bisa membantuku.


"Khanaya.... " suara panggilan Mama dari lantai bawah, berhasil membuyarkan semua pikiranku.


"Iya, Ma.. " aku pun bergegas turun ke bawah.


Mama menatapku sejenak, sepertinya batin seorang Ibu mampu merasakan apa yang dirasakan anaknya saat ini, "Ayo, makan!"


Aku menarik kursi di samping Papa, sama halnya seperti Mama, Papa pun menatapku dengan tatapan heran. "Ada masalah, Naya?" tanya Papa.


"Banyak, Pa," kataku sambil menunduk.


"Nanti kita cerita ya, Nay!" Mama menimpali.


Aku hanya mengangguk, lalu menyedok nasi beserta jajarannya, masakan Mama memang yang terenak, mampu membuat moodku membaik.


Setelah selesai makam malam, Papa dan Mama benar-benar menungguku di ruang keluarga. "Duduk, Nay!" kata Papa. Aku pun langsung duduk di sampingnya.


"Ada apa?" tanya Papa yang memulai pembicaraan, karena dari tadi aku hanya menarik napas panjang.


"Pa..."


"Iya."


"Aku mau minta tolong sama Papa,"


"Minta tolong apa, Sayang?"


"I... Tu.... Pa.."


"Apa?"


Aku menarik napas pelan, "Pa..."


"Kamu mau ngomong apa sih, Nay?" tanya Mama yang kini sudah bergabung bersamaku dan Papa, membawakan teh hangat untuk Papa dan susu coklat untukku.


"Pa, tadi Mala cerita.. Kalo Papanya baru aja difitnah menggelapkan uang perusahaan,"


"Innalillahi,"


"Ya Allah,"


Mama dan Papa berseru menyebut nama Allah, lalu Papa menatapku yang masih menunduk, "Lalu sekarang bagaimana keadaan keluarganya, Nay?" tanya Papa.


"Mala nangis terus, Pa. Mereka sudah tidak punya apa-apa lagi. Rumahnya sudah dijual, seluruh barang-barangnya pun sudah tidak ada yang tersisa. sekarang mereka tinggal di rumah kontrakan, Pa."


Papa menarik napasnya pelan, lalu meminum sedikit teh hangat yang disediakan Mama.


"Pa, aku mau minta tolong sama Papa, Di kantor Papa ada lowongan kerja nggak?"


"Nanti Papa pikirkan semuanya ya, Nak. Mudah-mudahan Allah memudahkan segalanya."


"Aamiin," kataku dan Mama secara bersamaan.


"Ma... "


"Kenapa Naya?"


"Aku boleh ambil uang tabunganku nggak?"


Mama menatapku, "Untuk apa?"


"Abangnya Mala dirawat di rumah sakit, kena DBD, sempat masuk ICU juga, tapi sekarang Alhamdulillah sudah membaik. Biayanya ito loh, Ma!"


"Jadi maksud kamu.... "


"Aku mau ambil tabungan untuk biayanya Bang Alif,"


"Kalo pakai uang Mama aja gimana?"


"Serius, Ma?"


"Iya, serius."


Aku langsung memeluk Mama dan Papa bergantian, "Makasih ya, Ma, Pa. Naya sayang banget sama Mama dan Papa."


Papa mengecup kepalaku, "Sekarang tidur ya, besok kita ke rumah Mala, Ok?"


"Ok, Pa." baru saja aku ingin pergi ke kamar, namun aku melupakan sesuatu, "Pa...." panggilku lagi.


"Ada apa lagi, Nay?"


"Tadi Bu Retno menyuruh aku jadi ketua Redaksi Mading,"


"Ya Bagus dong."


"Ini pasti kerjaan Papa ya?" tanyaku menyelidik, Mama sudah senyum-senyum tidak jelas.


"Loh, kok Papa sih! Ya nggak lah."


"Papa tau kan? Eskul aku aja udah mulai padat, kalo ditambah mading pasti aku pulang sore terus, Pa!"


"Nggak apa-apa, Papa lebih suka kamu pulang sore dengan kesibukan yang bermafaat."


"Papa... "


"Mama izinin kok, Nay!"


"Mama.... "


Papa dan Mama tersenyum ke arahku,


Ya ampun kenapa Papa sama Mama ini kompak banget sih..?