can I love you

can I love you
12. Revan Versus Rama



-Tersenyumlah untuk kehidupan-


**Khanaya Khanza**



\*\*\*\*


Zaman Neozoikum/Kenozoikum adalah zaman yang berlangsung kurang lebih 70-2 juta tahun yang lalu. Pada masa inilah keadaan bumi sudah benar-benar sangat baik, sedangkan perubahan cuaca tidak begitu drastis walaupun zaman es masih ada.


Kala holosen atau zaman alluvium adalah zaman yang berangsur kira-kira sejak 10.000 tahun yang lalu hingga zaman kita sekarang ini. Zaman yang merupakan akhir zaman pleistosen ini ditandai dengan mencairnya es di mana-mana sebagai akibat dari naiknya suhu di bumi.


Begitulah isi penjelasan mata pelajaran Ilmu pengetahuan Sosial yang sedang berjalan di kelasku. Bu Laras guru Ips-ku, sedang menjelaskan beberapa zaman di bumi ini.


Ting... Ting.. Ting..


Sebuah suara pemberitahuan terdengar di seluruh penjuru sekolah, karena setiap ruangan di sekolah ini terdapat speaker yang terhubung dari ruang informasi.


"Diinformasikan kepada seluruh siswa SMA AIRLANGGA, untuk segera ke aula utama. Sekali lagi.. Diinformasikan kepada seluruh siswa SMA AIRLANGGA, untuk segera ke aula utama."


Aku sibuk melamun sambil mendengarkan pemberitahuan ini, hingga tangan Aini yang mencolek bahuku menyadarkan semuanya, "Naya suka melamun, ya?"


"Hmm... Nggak Kok, Aini. Ada apa?


"Kita disuruh ke aula utama, kayaknya sih ini tentang pemilihan osis,"


Aku hampir lupa tentang pemilihan osis hari ini, lalu menatap Aini sambil tersenyum tipis, "Ayo kita keluar!"


Aku dan Aini pun bergegas keluar kelas.


Di sepanjang koridor aku tidak menemukan satu pun anggota genk's unyuku apa mungkin mereka sudah ke aula lebih dulu, tanpa menungguku?


Dugaanku benar saja, mereka sudah duduk berjejer rapi di kursi, aku mendengus ketika duduk di samping Mala, "Nggak asyik lo ahk,"


"Hehehe, sorry, Nay. Gue udah penasaran banget soalnya." Kata Nur.


Ruang aula cukup ramai dengan seluruh siswa SMA AIRLANGGA. Beberapa guru pun tengah sibuk mengurus acara pemilihan osis tahun ini. Bapak kepala sekolah sudah berdiri di depan untuk memberikan sebuah sambutan.


Pak Fikri dan Bu Retno berkeliling membagikan kertas kecil untuk votting ketua osis. Hanya ada dua kandidat yang akan menjadi ketua, dan aku sangat terkejut ketika nama Revan yang pertama kali diumumkan.


Apa aku tidak salah? Padahal jelas-jelas minggu lalu aku mendengar percakapan Kak Rayyan dan Revan yang sedang berdebat di masjid, lalu kenapa sekarang namanya bisa menjadi kandidat di sini? Pasti ini ulah Kak Rayyan.


Kulihat Revan bangkit dari kursinya dengan malas, terlihat sekali dia tidak tertarik dengan semua ini, lalu dibelakangnya ada Rama Wiguna yang akan menjadi pesaing terdekatnya. Revan dan Rama siapa yang akan jadi pemenangnya?


Banyak kabar miring yang sudah terdengar, katanya Kak Rama ini sangat berambisi menjadi ketua osis, pasti dia akan melakukan banyak hal untuk menang. Berbeda dengan Revan yang terlihat malas sekali berada di depan.


"Baiklah, kepada kalian kandidat calon ketua osis, silakan berikan visi dan misi kalian untuk kemajuan sekolah ini di bawah naungan osis!" kata Bapak Kepala sekolah kepada Revan dan Rama.


Rama dipersilakan maju lebih dulu, dan Revan terlihat diam saja tanpa menulis apapun, bahkan dia membawa buku saja tidak. Cowok satu itu benar-benar menyebalkan!


Selanjutnya giliran Revan yang naik ke podium, aku bisa melihat dengan jelas, gurat tidak suka dari wajahnya.


Dia tersenyum sebentar, "Saya tidak punya visi dan misi apapun untuk osis,"


Kalimat yang keluar begitu ringan dari mulutnya mampu membuat guru-guru dan siswa terkejut. Revan ini aneh! Aneh banget permisah!!!!


"Tapi, saya pernah membaca sebuah buku, dalam buku tersebut tertulis 'Tetaplah bersikap optimis, walau anda berada dalam amukan badai' akhir-akhir ini saya selalu di amuk badai," Revan menjeda kalimatnya, tanpa banyak yang melihat atau mungkin tidak terlihat, tatapan matanya sedang mengarah tajam ke arah Kak Rayyan, yang sedang tertawa geli melihat Revan di podium, "Saya mau mengucapkan terimakasih kepada badai itu, karena dengan optimisnya sudah membawa saya bisa berhadapan dengan kalian."


Revan tersenyum lagi, "Sepertinya hanya itu saja yang bisa saya sampaikan. Terimaksih."


Sambutan macam apa itu, Re? Aku baru tahu ada sambutan seperti itu.


Pemilihan osis dimulai, kami para siswa disuruh menulis nama yang dipilih pada kertas yang telah dibagikan tadi.


"Lo pilih siapa?" Tanya Mala.


"Nggak tau,"


"Heh, serius? Wawa menimpali.


"Nggak ada yang cocok,"


"Kita kompak aja pilih Revan, jangan Rama!" kata Wawa dengan penuh semangat yang membara. Wawa Masih ada dendam ternyata.


Akhirnya kami pun memutuskan untuk memilih Revan, calon ketua osis yang aneh sekali.


Kertas-kertas yang telah digulung itu akhirnya dikumpulkan kembali. Satu persatu kertas tersebut dibacakan oleh Pak Samsul, guru BK SAGHA.


"Revan,"


"Revan,"


Hingga kertas terakhir nama Revan yang dibacakan, dan hasilnya sangat mencengangkan. Revan unggul dari Rama. Hebat sekali cowok aneh itu.


Revan terlihat mengusap wajahnya kasar, aku terus memperhatikannya dari kejauhan. Satu tangannya mengepal di udara dan itu diarahkan kembali untuk Kak Rayyan.


"Ananda Revan Adit Prasetya, silakan maju ke depan!" pinta Pak Samsul. Revan pun kembali berjalan ke arah podium.


"Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih kepada kalian semua, yang sudah memilih saya untuk berada di depan ini. Izinkanlah saya untuk memberikan sebuah kata atau mungkin lebih tepatnya penjelasan yang sejelas jelasnya kepada kalian semua."


Kamu mau ngomong apa sih, Re? Aku tahu pasti kamu tidak nyaman akan kemenangan ini, lalu mau bagaimana lagi kalo kami semua memilih kamu. Apa susahnya menerima amanah ini sih?


"Saya mohon maaf, tidak bisa menerima kemenangan ini."


Beberapa siswa ada yang terkejut, ada yang bersorak, ada pula yang menyayangkan keputusan Revan saat ini.


"Sekali lagi saya mohon maaf, jadi saya mohon izin kepada Bapak Kepala sekolah untuk memberikan keputusannya." Revan mundur dari podium, lalu Bapak Kepala sekolah menarik tanggannya agar tetap di sampingnya.


"Beberapa dari kalian pasti ada yang kecewa, ada yang marah, ada yang kesal atau bahkan ada yang bahagia karena salah satu teman kalian ini tidak mau menerima kemenangannya,"


Kami semua yang berada di aula, membenarkan semua ucapan Bapak Kepala sekolah. Wawa sudah terlihat kesal sekali dengan keputusan Revan saat ini.


"Tapi, teman kalian ini patut diberikan apresiasi yang tinggi, maka dari itu mari berikan tepuk tangan untuknya!"


Suara tepuk tangan menggema di ruang aula, Revan menunduk dalam. Aku sendiri tidak mengerti mengapa dia seperti itu. Apa dia takut terbang karena mendapatkan tepuk tangan dari kami semua?


"Jadi Bapak memutuskan yang akan menjadi ketua osis tahun ini ialah Rama Wiguna."


"Wuuuuuu.... " beberapa siswa memberi sorakan ketika nama Rama diumumkan, bahkan Wawa sudah mengepalkan tangannya.


"Sabar ya," kataku pelan.


"Tengik banget si Rama, pasti dia pakai ajian mantra ini mah,"


"Huss.. Nggak boleh gitu," Kata Khena.


"Gue kesel tau nggak, sih?" Wawa menghentak kakinya di lantai.


"Bikes.. Bikes... Bikin kesel... " Mala menimpali.


Aku dan Nur hanya menggeleng saja.


Revan dan Rama berjabat tangan. Aku bisa melihat sorot keikhlasan yang terpacar jelas dari mata Revan.


Tuhan, mengapa Engkau menciptakan spesies makhluk seperti Revan? Sikap dinginnya melebihi kulkas empat pintu yang ada di rumahku.


Tapi gaya coolnya sesejuk suhu AC di aula ini, bahkan bisa lebih. Apa Revan makhluk langka, yang hampir punah, dan harus dilindungi?


Jika pun iya, aku tidak mau melindunginya, namun jika Tuhan memaksa, aku bisa apa?


Jadi kumohon Tuhan, jangan paksa aku ya, aku tidak mau.


Penjelasan tentang zaman alluvium beberapa saat yang lalu mengingatkanku tentang cairnya es di beberapa tempat di dunia, namun kenapa es yang satu ini belum mencair juga? Apa ada yang tahu jawabannya?


Beberapa siswa terpilih menjadi anggota osis lainya. Setelah semua selesai, acara ditutup oleh Bapak Kepala Sekolah. Beliau berharap osis tahun ini mampu memberikan yang terbaik untuk sekolah.


Semua siswa mulai berhamburan, dan bergegas masuk kelas kembali karena mata pelajaran belum usai. Aku berjalan beriringan bersama keempat sahabatku.


"Si Revan kayaknya lagi kesurapan," ucap Mala memulai ghibah kembali.


"Kesurupan apa ya?" tanya Wawa.


"Jin islam kayaknya," aku menimpali dengan sedikit tertawa kecil.


"Hahaha... Iya kayaknya jin islam deh," tawa kami berlima pecah seketika. Aku tidak menyadari suatu hal dibelakang kami. Saat kami berpisah menuju kelas masing-masing, berasa ada yang melempar sesuatu yang mengenai kepalaku.


Sebuah bulatan kertas itu tergeletak di lantai, aku pun segera memungutnya. Kurang kerjaan banget ini yang melempar, buang sampah sembarangan. Tanganku tertarik untuk membuka kertas tersebut, karena samar-samar ada sebuah tulisan di dalamnya. Ketika kubuka, wajahku memerah sempurna. Marah, kesal, malu sudah menjadi satu.


"Dapet salam dari jin islam, hati-hati kalo lagi jalan, jangan suka melamun. Kalo melamun, jangan salahkan jin islam pindah inangnya!"


Aku meremas kertas tersebut, menekannya sambil mengerutu, "Revan, sialan.. Awas aja lo!!!"


Kulihat seseorang dibalik jendela kelas XI, cowok menyebalkan itu sedang tersenyum ke arahku sambil menaikkan satu alisnya.