can I love you

can I love you
17. Bukan Dia tapi Aku (3)



Beberapa minggu lagi, sebuah acara ceremonial pelepasan siswa kelas XII akan segera dilaksanakan. Acara tersebut lebih ke sisi formal dengan Mengangkat tema 'Prom night with family's school'.


Sebagai anak film aku diwajibkan ikut menjadi panita acara, membuat dokumentasi sebagai hadiah untuk mereka para siswa yang akan meninggalkan sekolah.


Selesai mengurus redaksi mading yang akan mengadakan lomba menulis cerpen, aku langsung bergegas menuju ruang kelas eskul film dan theater. Di sana sudah banyak anak-anak yang akan menjadi panitia acara juga.


Kak Ihwal, adalah ketua di eskul film, hari ini kita akan rapat untuk acara prom night angkatan Kak Rayyan. Kami semua duduk di kursi yang telah disediakan untuk berdiskusi acara nanti. Jumlah panitia dari eskul film sebanyak sepuluh orang, dari eskul teater lima orang, dan dari eskul musik lima orang. Jadi jumlah keseluruhan panitia acara Prom night nanti sebanyak dua puluh orang, yang akan dipimpin oleh Kak Ihwal sebagai ketuanya.


Sebelum rapat, dimulai, ada seseorang yang masuk ke ruangan. Seorang laki-laki yang bisa kutaksir usianya sekitar 24-an. Wajahnya mirip sekali dengan seseorang. Dia tersenyum ke arah kami semua.


"Baiklah, rapat akan kita mulai. Sebelumnya Kakak akan memperkenalkan kalian dengan Kak Sakha, beliau ini pembina acara untuk prom night yang akan di selenggarakan dua minggu lagi di sekolah ini." Kak Ihwal membuka rapat dengan memperkenalkan seseorang tadi yang ternyata pembina acara nanti.


Kak Sakha tersenyum ke arah kami, "Salam kenal ya, semoga acara nanti bisa sukses dan berjalan lancar."


"Aamiin..." jawab kami dengan serempak.


"Ceremonial kali ini mengangkat tema 'Prom night with family's school' kalian boleh memberikan ide terbaik untuk acara ini, dan untuk anak teater, saya mengharapkan penuh penampilan kalian nanti."


Kak Ihwal menatap ke arah kami satu persatu, "Ada yang punya ide untuk opening acara?" tanyanya.


Aku memberanikan diri mengangkat tangan, karena dari tadi mulutku sudah gatal sekali ingin berbicara tentang ide ini. "Iya, kamu.. Silakan!"


"Jadi begini, Kak. Saya pernah mendengar beberapa Kakak kelas sedang membawakan Asmaul Husna dengan nada versi mereka. Tema acara kali ini 'Family's school' dan pembawaan Asmaul Husna dengan nada-nada Indah itu cocok untuk dijadikan opening."


"ide ditampung," Kata Kak Ihwal. lalu beliau bertanya kembali, "Ada yang kasih ide lain?"


Semua terdiam.


"Jika tidak ada, maka ide dari Khanaya, Kakak Acc!"


"Ok. Saya setuju." Kata Kak Sakha yang sedari tadi hanya sibuk mendengarkan.


Aku bahagia banget, ideku di Acc bahkan langsung disetujui oleh Kakak Pembina.


"Untuk baju yang akan dipakai oleh siswa kelas XII, ada saran?" pertanyaan kedua kembali dilontarkan oleh Kak Ihwal.


"Ada, Kak." Sahut monika dari kelas teater.


"Iya, silakan!"


"Anak cowok bisa pakai jas seperti sebelumnya, hanya saja sedikit kita ubah warna kebaya anak cewek. Kita pilih warna biru, Kak. Bosen lihat pakai kebaya putih mulu, memangnya mau ke KUA apa!?"


Tawa kami pecah seketika. Ada-ada saja si Monik ini. Tapi memang benar sih, anak cowok pakai jas dan kemeja putih lalu anak ceweknya pakai kebaya putih, sudah seperti kedua mempelai pengantin. Sesekali kita buat warna baru tiap angkatan, sah-sah saja bukan?


"Good." kata Kak Ihwal ketika tawanya sudah mereda.


"Ada ide lain?"


Kami semua kembali terdiam.


"Bagaimana, Kak Sakha?" tanya Kak Ihwal


Kak Sakha terlihat mengangguk, "Ok."


Rapat selesai, ketika semua acara telah tersusun rapi, tinggal beberapa hari untuk melakukan gladi resik. Kami meninggalkan ruang rapat setelah Kak Sakha menutup rapat dengan doa.


Aku langsung menuju kantin, karena sudah dari tadi jam istirahat berbunyi, dan perutku belum diberi haknya hari ini. Langkahku terhenti ketika melihat Nur datang dari arah depan, wajahnya tidak seperti biasanya, lalu dia menarik tanganku ke depan ruang aula yang tampak sepi.


"Ada apa sih, Nur?" tanyaku padanya. Bekas cekalan tangan Nur meninggalkan jejak di lenganku.


Ini, Nur nggak lagi kesurupan kan?


"Seharusnya gue yang tanya, ada apa dengan diri lo selama ini?"


"Gue, kenapa?"


"Lo jangan berlagak bodoh deh, Nay!"


"Gue nggak ngerti,"


Nur berdecak geram mendengar ucapanku, "Apa lo memang bodoh beneran?"


"Apa sih, Nur? Sumpah gue nggak ngerti!"


"Lo naksir Revan, 'kan?"


Deg!!!


Mataku membulat mendengar kalimatnya, lalu membuang wajah ke arah lain, menutupi keterkejutanku atas ucapan Nur.


"Kenapa lo diem, Nay? Berarti benar selama ini lo naksir Revan?"


"Itu nggak bener!" sanggahku.


"Jadi lo masih mau ngeles?"


"Kenyataanya memang kayak gitu,"


Nur tertawa sumbang, "Gue nyesel udah menyuruh lo bikin puisi buat Revan. Gue muak, punya sahabat naif sama perasaan sendiri kayak lo, Nay."


"Nur... " aku berteriak sambil membentaknya.


"Kenapa?"


"Kok lo tega banget, sih?"


"Nggak sadar diri lo ya, Nay. Yang tega itu, lo! Gue bener-bener kecewa banget punya sahabat kayak lo, dan satu lagi, gue udah nggak kenal sama diri lo yang sekarang!"


Air mataku tumpah seketika mendengar semua ucapan Nur hari ini. Nur pergi begitu saja setelah meluapkan emosinya. Seperti ada sesuatu yang menghantam hatiku, aku tidak bisa berkata-kata lagi. Suaraku tercekat ditenggorokan, sulit sekali untuk menjelaskan semuanya.


Salahkah bila semua ini terjadi?


Apa aku salah?


Jika memang semua ini salahku, aku tidak ingin orang lain mengerti, cukup kalian saja, sahabatku.


Tapi rasanya percuma, persahabatan kami yang tidak bisa dihitung jari seberapa banyak kebersamaan yang telah dilalui, hempas begitu saja hanya karena satu cowok bernama Revan.


Takdir memang tak selalu Indah seperti yang selalu kita bayangkan. Lalu takdirku hari ini membuat hal baru dalam hidupku. Luka dan kecewa menyatu dalam air Mata. Entah seperti apa aku melukiskan, rasanya sesak sekali.


Semenjak hari itu, persahabatanku dengan genk's unyu, khususnya dengan Nur, seperti menemukan cela dalam kebersamaan. Kami tidak lagi istirahat bersama di kantin. Kursi pojok kantin yang biasanya berisi lima orang, kini menyisakan kursi kosong yang ditinggalkan penghuninya. Aku bukan ingin menjauh, tapi jadwal padat sebagai salah satu panitia acara membuatku terlihat semakin menjauh saja.


Group chat yang biasa ramai, kini sepi seperti tak berpenghuni, apalagi saat nama Nur tertera left dari group, semakin membuatku ingin lenyap saja. Setiap bertemu aku hanya bertegur sapa dengan ketiga sahabatku, Wawa, Khena, dan Mala sedangkan Nur, jangankan bertanya, melihatku saja rasanya dia enggan.


Beberapa hari yang lalu, Wawa datang ke kelasku. Ya, aku memutuskan untuk tidak istirahat bersama mereka. Waktu istirahat hanya aku habiskan di kelas, di ruang redaksi mading, atau di ruang rapat dengan bekal yang sudah disiapkan Mama.


"Nay... " panggil Wawa ketika ia sudah duduk di sampingku.


"Kenapa, Wa? Soal Nur?"


Wawa mengangguk, "Lo tau nggak sumber masalah ini apa?"


Aku menggeleng, "Gue nggak pernah tanya, dan Nur juga nggak mau kasih tau. Ya udah gue cuma bisa pasrah."


"Itu masalahnya, Nay. Kita sahabatan bukan baru sehari, sepuluh tahun, guys! Dan berakhir kayak gini cuma gara-gara cowok."


Wawa menatapku yang terus memandang kosong ke depan, "Nay, gue tau betul lo itu kayak gimana. Apalagi soal perasaan. Lo yang paling pinter di antara kita, kalo udah menyembunyikan perasaan kayak gini."


"Soal Revan, lo tau kan, Nay? Nur itu banyak mata-matanya kalo udah naksir cowok. Apapun akan dia lakukan buat mendapatkan cowok itu, dan sumpah, gue juga agak kesel pas tau tentang itu."


"Tentang apa?" tanyaku penasaran.


"Ada mata-mata si Nur, yang entah siapa itu namanya. Dia bilang kalo lo naksir Revan, selama ini lo nggak bantuin Nur buat dekat sama Revan, yang ada itu lo malah menjelekkan nama Nur di depan Revan."


"Fitnah itu, Wa. Sumpah gue nggak pernah melakukan itu. Siapa orangnya, sih?" aku tersulut emosi ketika mengetahui hal ini. Siapa orang yang tega merusak persahabatan kami? Aku tidak akan tinggal diam untuk mengungkap semuanya.


"Gue nggak tau. Nur juga nggak bilang."


"Terus si Nur percaya gitu aja sama informasi nggak jelas itu, Wa?"


"Masalahnya ada bukti,"


Wawa menyodorkan ponselnya ke arahku, dan..


Astaga!!! Ada fotoku dan Revan saat malam minggu di Sempur dulu, jadi semuanya bersumber dari foto ini. Allah.. Aku lelah..


"Nay, soal kata-kata di mading. orang suruhan Nur juga bilang, kalo kata-kata itu dari lo, dan yang lebih fatal lagi Revan mengira kata-kata itu memang lo yang kirim, Nay."


Aku menarik napas lelah, sebisa mungkin aku menahan air mata yang akan tumpah. Wawa sudah pergi dari kelasku, ketika aku mengatakan ingin sendiri. Aku juga sudah menjelaskan semuanya pada Wawa, jika di foto itu aku hanya mengobrol biasa, malah itu bisa dikatakan bukan obrolan, karena Revan menyebalkan sekali saat itu. Lalu soal event 'Sebuah kata' aku pun menjelaskan kepada Wawa, bahwa itu semua aku lakukan untuk Nur, bukan untukku.


Sabar Naya.. Allah pasti akan memberi petunjuk untuk mengahadapi masalah ini.


****


Malam yang telah ditunggu pun tiba. Pelepasan siswa kelas XII SMA AIRLANGGA.


Jangan bayangkan aku memakai dress code yang sama dengan panitia lainnya. Tidak. Kami para panitia penyelenggara hanya memakai kaos polos berkerah warna hitam, dengan sebuah tulisan crew warna biru yang tertera pada belakang baju.


Aku memegang HT agar terus bisa tersambung dengan panitia lainya. Aku menikmati semua ini, dengan sepenuh hati. Melupakan sejenak masalahku yang terbilang berat karena kesalahpahaman. Biarkan saja. Mungkin kami perlu waktu untuk intropeksi diri.


"Hey... " sapa seseorang dari arah belakangku. Aku pun menoleh, "Heyy.. Kak Rayyan!!"


"Sibuk?"


"Tentu. Kalo nggak sibuk, acara Kakak ini sudah selesai dari tadi."


"Hahaha.. " Kak Rayyan tertawa renyah, "Bisa aja kamu. Itu yang lain juga kayaknya nggak sibuk-sibuk amat!"


"Ya biarin dong, aku kan mau kasih yang terbaik untuk Kakak kelas yang akan meninggalkan sekolah."


"Wah.. Terimakasih. Aku jadi terharu mendengarnya."


"Ini ada tissu, Kak. Ambil aja!"


"Hahahaha.." Kak Rayyan kembali tertawa. "Pasti kamu, yang bakal aku kangenin,"


Aku mengerjapkan mata, "Nggak lucu, Kak."


"Lah.. Kakak nggak lagi melawak,"


"Terus tadi itu apa?"


"Kejujuran."


Mendengar kata kejujuran, ada suatu hal yang terlintas dari pikiranku. Ya, kejujuran. Aku harus menyelesaikan masalah ini.


Dari atas panggung yang berhias lampu kelap kelip bernuasa religi terdengar suara beberapa orang yang sedang membawakan Asmaul Husna dengan nada-nada Indah penenang hati.


Group Nasyid yang beranggotakan lima orang cowok dan tiga orang cewek itu dipimpin langsung oleh Pak Fikri. Satu anggotanya, seorang cowok yang menjadi sumber masalahku selama ini.


"Kak, aku izin gabung sama yang lain ya. Congratulations buat semuanya."


"Oh, ok. Terimakasih juga atas kerja keras untuk mempersembahkan semua ini."


"Sama-sama, Kak."


Aku pergi meninggalkan Kak Rayyan yang saat ini sangat keren abis dengan balutan jas dan kemeja yang begitu pas di tubuhnya. Kak Rayyan menjadi lulusan terbaik tahun ini, dengan mendapat nilai tertinggi sekota Bogor.


Malam semakin larut, acara demi acara telah berlangsung dengan baik. Acara ini akan ditutup oleh drama kolosal yang akan dibawakan oleh anak-anak teater. Sebelum ke acara terakhir ada beberapa sesi pemotretan untuk kenang-kenangan para Alumni.


Kantukku tidak bisa kutahan lagi. Beberapa kali aku menguap, dan segera menepisnya dengan minuman soda yang sedang kugenggam. Hingga seseorang yang sedari tadi kutunggu, akhirnya melintas juga. Lalu dengan mengucap bissmilah di dalam hati, aku memberanikan diri melempar botol minuman soda yang masih tersisa setengah itu, dan tepat sasaran. Dia sedang mengaduh kesakitan karena lemparan botol itu mengenai kepala belakangnya. Dia menoleh ke arahku dengan tatapan kesal sekali.


"Apa?" kataku, sambil terus melangkah maju mendekatinya.


"Lo kesurupan ya?"


"Iya, dan yang bikin gue jadi kesurupan itu, lo!"


Tanpa permisi aku langsung menarik tangannya untuk keluar dari keramaian. Langkahku terhenti ketika kami berada di koridor kelas yang sepi. Tentu saja sepi, acara berlangsung di aula utama yang berada di lantai satu, sedangkan posisiku dan makhluk astral yang satu ini berada di lantai dua.


"Ada apaan sih, lo? Nggak jelas banget!" katanya sambil menghempaskan tanganku dengan kasar.


"Makanya gue mau jelasin semuanya sama lo, Kak Revan!" aku menekan setiap kata untuknya. Sungguh aku sudah muak sekali dengan semua ini. Aku ingin keadaan kembali seperti biasanya, tanpa semua bayang-bayang makhluk kutub ini. Tanpa sebuah rasa bersalah kepada sahabatku, dan tanpa sebuah penyesalan untuk perasaanku sendiri.


"Lo mau ngomong apa, sih?"


"Selama ini pasti lo tau kan? Banyak cewek-cewek yang naksir sama lo."


Dia terdiam.


"Lo sadar nggak sih, betapa histerisnya mereka kalo melihat lo. Sumpah, lo peka kenapa sih? Apa susahnya liat ke sekeliling lo selama ini."


"Langsung ke intinya aja. Udah malam, gue mau pulang. Udah ngantuk banget."


Sumpah, Re. Malam ini juga aku ingin mendorong kamu dari lantai dua gedung sekolah ini.


"Heh, denger ya! Lo bukan Do Exo. Jadi jangan sok punya gaya keren deh,"


"Gue udah keren dari lahir."


Aku melayangkan HT yang sedari kugenggam tepat mengenai bahunya.


"Sakittt.." decaknya sambil meringis.


"Lo tau itu sakit! Kenapa masih sakitin perasaan cewek? Satu dari sekian banyak cewek yang naksir lo itu, ada sahabat gue. Kalo memang lo nggak suka, setidaknya kasih mereka kesempatan, buat deket sama idola mereka yang katanya WAH banget di mata mereka itu."


Revan menatapku sambil terus mengusap bahunya.


"Gue nggak ngerti,"


Baru saja aku ingin melayangkan HT kembali tetapi tangan kekarnya sudah menahan tanganku. "Jadi maksud dari semua ini, lo ingin gue deket sama sahabat lo itu?"


Aku terdiam.


"Atau lo ingin, gue sama sahabat lo itu punya hubungan yang lebih dari sekedar penggemar dan idolanya?"


Aku hanya terdiam, tanpa membalas semua ucapannya. Sisi burukku mengatakan 'jangan diiyakan semua ucapannya. Inget! Lo juga naksir dia, malah jauh lebih dulu sebelum sahabat lo naksir juga.'


Namun, sebuah bisikan lembut kembali terdengar di telingaku 'ingat, Naya! Persahabatanmu jangan sampai berakhir hanya karena seorang cowok, yang hatinya saja kamu tidak tahu.'


"Heh.... " panggil Revan, tepat di depan wajahku. Jarak kami saat ini begitu dekat. Aku bisa merasakan hembusan napas dan Wangi parfumnya yang sudah menjadi favoritku.


Aku menatap lekat wajahnya, menyimpan setiap jengkal tentang dirinya. Iris matanya yang coklat sedang menatap mataku tanpa kedip.


"Gue mohon sama lo, terima sahabat gue. Jangan sakitin dia seperti lo nyakitin cewek lain. Ini bukan tentang penggemar dan idolanya. Tapi ada sebuah perasaan yang tumbuh dan mekar yang tidak bisa dipatahkan."


Aku langsung menunduk setelah mengucapkan kalimat tadi. Revan mundur beberapa langkah dari tempatnya berdiri, Namun tanganya masih menggenggam tanganku.


"Satu lagi, soal surat di mading, -K- itu Kia bukan Khanaya. Surat itu dari Nur sahabat gue. Dia menyuruh gue untuk menulisnya dan memasangnya di mading. Semua itu dia lakukan, karena selama ini, lo nggak pernah bales chat dari dia."


Aku kembali menatap iris mata coklatnya. "Gue mohon, jangan sakitin sahabat gue dengan sikap jutek bin menyebalkan lo ini. Dia lebih dari sekedar mengidolakan lo selama ini. Pliss.. Sadar dan peka dikit napah!!!"


Revan melepas tanganku, wajahnya membuang muka ke arah lain. "Ok. Kalo itu mau lo. Besok pagi siap menerima kabar baik dari sahabat lo itu."


Satu tetes bulir kristal menerobos turun ke pipiku. Aku menatap punggungnya yang semakin menjauh setelah mengatakan kata-kata yang begitu menusuk hatiku.


Tidak, Nay. Semuanya sudah benar kamu lakukan. Sisanya kita serahkan kepada Tuhan.


Aku mengusap dengan kasar air mata yang tanpa permisi mengalir di pipi.


Tarik napas, Naya..


Istighfar dalam hati..


Namun air mata itu kembali mengalir lebih deras lagi.


Sepertinya langit pun merasakan, apa yang aku rasakan malam ini. Bintang yang begitu terang, menampilkan cahaya Indah dipandang, terkalahkan dengan rintikan air hujan yang mulai turun membasahi bumi.


Aku menahan tangis dalam diam, hingga suara dari HT memanggil namaku yang berhasil membuatku berlari kembali ke acara yang sedang berlangsung malam ini.