
Revan Adit Prasetya.
Ketika sampai di rumah, malam sudah datang menyapa. Saya segera masuk dan melihat bunda sedang sibuk menyiapkan makan malam
"Assalamu'alaikum, Bun."
"Walaikumsalam, pasti habis curhat-curhat lagi sama Fikar ya, Bang?"
Saya mencium tangan bunda dengan lembut lalu terkekeh pelan, "nggak curhat, Bun. Cuma ngobrol aja."
"Sudah sana ganti baju. Terus makan." titah bunda.
"Iya, Bunda."
Tak menunggu waktu lama saya langsung pergi ke kamar. Mandi lalu ganti baju. Setelah semua selesai, saya menatap diri di cermin. Apa saya sudah siap untuk meninggalkan semuanya? Meninggalkan bunda sendiri?
Saya memejamkan mata sejenak. Rasanya seperti ada sebuah perpisahan yang akan menguras air mata. Saya tidak ingin semua itu terjadi. Saya ingin pergi tanpa sebuah beban perasaan yang mungkin masih sangat tabu sekali untuk diungkapkan.
Makan malam saat ini, saya lebih banyak diam. Pikiran sibuk berkelana jauh. Memikirkan segala hal kemungkinan yang harus saya hadapi.
"Bun," panggil saya pelan.
"Kenapa nasinya cuma diaduk kayak begitu, Bang?" tanya bunda.
Saya terdiam.
"Ada apa, sih?"
Saya tatap wajah cantik yang sudah melahirkan dan membesarkan saya dengan tulus. Wanita yang mencintai saya tanpa sebuah alasan. Wanita yang sudah berjuang meski hatinya telah tergores oleh Laki-laki yang enggan sekali saya sebut ayah, "Abang sudah ambil keputusan."
Bunda tersenyum, "apa pun keputusan kamu, bunda akan terus mendukung. Ya, walaupun bunda ingin sekali melihat kamu kuliah ke luar negeri."
"Bunda beneran ingin melihat Abang kuliah di luar negeri?" tanya saya.
Bunda mengangguk, "iya, Bang. Itu cita-cita bunda yang tak tersampaikan. Makanya bunda ingin abang yang melanjutkan."
"Bunda benar sudah ikhlas kalau abang pergi?"
"Insya Allah, Nak. Bunda sudah ikhlas. Sudah ridha semoga Allah pun meridhoi kamu."
Ada rasa ingin sekali menangis. Tapi, saya tidak selemah itu. Maka yang bisa saya lakukan hanyalah tersenyum ke arah wanita cantik yang paling berarti dalam hidup saya.
Setelah makan malam, saya langsung ke kamar. Memeriksa beberapa hal yang dari kemarin masih saya abaikan. Saya menarik napas pelan ketika melihat sederet biodata yang harus diisi.
Lalu, dengan sedikit gemetar saya mengisi data-data tersebut dan segera mengirim email kepada Bapak kepala sekolah. Malam ini cukup saya saja yang merasakan arti perpisahan. Saya tidak ingin ada orang lain yang merasakannya. Apalagi bunda. Dan cewek yang selalu hadir dalam benak saya.
****
"Jadi, kamu ke sini mau pamit, Re?" tanya Pak Fikri ketika saya kembali berkunjung ke ponpes miliknya.
"Iya, Pak. Doakan saya, ya!"
"Selalu. Saya selalu mendoakan yang terbaik untuk semua murid saya."
"Aamiin. Fikar ada, Pak?" tanya saya.
"Mungkin sebentar lagi pulang. Lagi mengantar umi kondangan."
Saya mengangguk.
"Kapan keberangkatannya?"
"Insya Allah, besok pagi, Pak."
"Lah, kamu kenapa masih di sini? Memangnya tidak menyiapkan apa pun?" cecar Pak Fikri.
"Saya hanya perlu menyiapkan mental dan hati, Pak. Selebihnya sudah disiapkan bunda. Beliau sangat bahagia dan antusias sekali ketika saya mengatakan sudah mengirim biodata kepada Bapak kepala sekolah."
Kini guru muda itu yang tersenyum ke arah saya. "Belajar yang benar, Re. Jaga attitudenya di negara orang."
"Iya, siap, Pak."
Ketika Fikar dan Umi pulang dari kondangan. Saya langsung pamit kepada beliau. Sebenarnya saya hanya ingin di rumah. Menghabiskan banyak waktu bersama bunda sebelum berangkat besok pagi. Tidak ada hal lain yang saya inginkan. Selain waktu bersama bunda.
Kini malam telah kembali menyapa. Terangnya purnama di langit membuat saya enggan masuk ke dalam. Meski udara dingin menyambut dengan kesegarannya yang begitu terasa. Saya masih betah di teras depan.
Merekam setiap momen di rumah sederhana ini. Rumah yang memiliki cerita hidup panjang dan menyesakkan. Rumah yang menjadi saksi perjuangan bunda selama ini. Rasanya masih berat sekali meninggalkan semuanya.
Allah, ketika saya pergi nanti. Kumohon jaga bunda. Jangan biarkan ia menangis seorang diri.
"Re," suara lembut itu terdengar di telinga saat saya sibuk berbisik kepada angin malam.
Saya menoleh dan mendapati bunda sedang tersenyum.
"Sudah malam, Bang. Kenapa masih betah di luar?" tanyanya sambil melangkahkan kaki ke arah saya.
Saya menarik napas pelan, lalu ketika bunda merentangkan kedua tangannya, saya langsung meraihnya dan kembali merasakan hangatnya pelukkan bunda.
"Kenapa, Bang?" tanya bunda sambil mengusap bahu saya.
Rasanya ingin menangis. Tapi, ego saya terlalu tinggi untuk hal yang satu ini.
"Abang masih berat untuk meninggalkan bunda." ucap saya pelan.
"Kamu ini bagaimana, sih? Siap tidak siap ya, harus siap lah. Nanti juga kalau kamu sudah menikah pasti akan meninggalkan bunda." ujar bunda.
"Bun, Laki-laki walaupun sudah menikah akan tetap milik ibunya. Dan abang tidak akan pernah meninggalkan bunda."
Bunda tersenyum, "iya, bunda tahu itu. Makanya lebih baik sekarang kamu belajar pergi ya, Bang. Bunda sudah ridha, Nak."
"Empat tahun loh, Bun."
"Mau sepuluh tahun pun bunda ikhlas. Asal itu untuk masa depan kamu. Di mana pun kamu berada selalu jaga diri. Jaga etika. Jangan tinggalkan kewajiban kamu sebagai umat manusia."
Saya kembali terdiam.
"Nak, bunda bukannya tidak sayang karena mengikhlaskan kamu pergi. Tapi, ini semua untuk kebaikan dan masa depan kamu. Jangan takut karena harus meninggalkan bunda. Ingat, selalu ada Allah yang bersama bunda." jelas bunda.
Saya mengangguk.
"Sekarang masuk, ya. Sudah malam. Besok kamu berangkat pagi ke bandara."
"Bun,"
"Ada apa lagi, Bang?"
"Terima kasih untuk semuanya. Doakan abang, ya!"
Pelukan hangat seorang ibu seperti obat yang paling mujarab ketika gundah di hati datang menghampiri. Mungkin untuk beberapa tahun ke depan saya tidak akan merasakan lagi peluk hangatnya. Ketika rindu pun hanya sebatas melihat foto atau menghubunginya lewat ponsel yang semakin canggih saat ini.
"Sudah malam. Ayo, masuk!" ucap bunda setelah melepas pelukkannya.
"Iya, Bun."
Kepada malam yang penuh bintang. Purnama bersinar terang, saya ingin menitip cerita singkat hidup saya di sini. Kenangan demi kenangan yang tak pernah hilang dari ingatan. Seutas rindu untuk seseorang yang jauh dari pandangan. Semoga ketika saya pergi tak ada setetes pun air mata yang membasahi pipi.
"Oh, iya, Bang. Ada yang perlu bunda bicarakan sama kamu." ucap bunda ketika satu langkah saya sampai ke pintu kamar.
"Apa, Bun?"
"Duduk dulu, deh!"
Saya pun segera menghampiri dan duduk di hadapan bunda.
"Sebenarnya bunda ingin membawa mimi pulang ke rumah."
Saya menatap bunda lekat. Masih tidak percaya dengan ucapannya.
"Kamu setuju tidak, Bang? Bunda ingin merawat mimi. Membesarkannya seperti anak bunda. Bang, kondisinya saat ini sudah sangat memprihatinkan." jelas bunda dengan raut wajah yang berubah sendu.
"Apa pun yang terbaik untuk bunda. Abang pasti setuju. Jadi, abang bisa lebih tenang saat berangkat nanti. Karena ada Mimi di sisi bunda."
Bunda tersenyum. "Ya, sudah sekarang kamu istirahat, ya!"
"Bunda juga istirahat,"
"Iya, Bang."
Kamar adalah satu tempat yang selalu mengerti keadaan hati saya saat ini. Ketika memandang sebuah foto yang diambil saat malam perpisahan, hati saya kembali merasakan suatu hal yang sulit sekali dijabarkan.
Cewek tomboy bin narsis itu selalu membuat jantung saya berirama lebih cepat dari biasanya. Semoga di akhir kisah rumit ini ada sebuah kebahagiaan yang selalu saya titipkan kepala Allah untuk dirinya.