
Khanaya Khanza
****
Sudah berapa lama kita tak berjumpa? Rasanya baru kemarin sebuah kenangan terukir indah. Namun, kini ada kejutan besar yang tak pernah terduga.
Apa salah jika aku ingin takdir seperti ini tak dikehendaki? Aku hanya ingin Tuhan memberikan suatu hal yang bisa membuatku nyaman tinggal di dunia yang sementara ini.
Hidupku kembali kelabu. Warna-warna cerah yang dulu sempat menemani kini hilang entah ke mana.
Malam ini aku ingin melihat bintang yang bersinar terang. Seterang hidupku saat dia masih berada di dekatku.
Namun, sayang malam hitam pekat yang kini menemani setiap rintihan hati memanggil namanya. Bisikan lembut untuk terus menanti hadirnya pun menjadi sebuah tanda tanya. Akankah aku kuat bertahan?
Rasanya kuingin tutup kisah ini seperti yang digariskan Tuhan untukku. Ahk, berat. Mengapa remaja sepertiku harus hidup melakonis seperti saat ini?
Seharusnya aku sibuk memikirkan masa depan dan cita-cita. Bukan tentang perasaan, cinta lalu sakit hati. Sekali lagi ini berat.
"Khanaya, bangun ..., " Mama membangunkan diriku, yang rasanya baru saja terpejam. "Anak gadis nggak boleh bangun siang-siang. Malu sama matahari."
Aku menggeliat. Merentangkan tangan lalu membuka mata. "Jam berapa, Ma?" tanyaku dengan suara khas sekali orang bangun tidur.
"Sudah jam delapan. Kamu, nih, libur sekolah cuma tidur aja." Mama berdecak pelan sambil membuka gorden jendela. Sinar matahari berhasil masuk ke kamar yang membuat aku menutup mata karena kilauan sinarnya.
"Ayo, cepat mandi! Lalu sarapan. Mama tunggu di bawah."
"Iya, komandan." jawabku malas.
Setelah mama keluar dari kamar. Aku kembali membaringkan tubuh di kasur. Rasanya ingin rebahan saja. Malas mandi apalagi makan. Dunia mimpi lebih indah dari serial drama Korea apa pun yang sering kutonton.
"Khanaya Khanza ...." teriakkan mama dari lantai bawah berhasil membuatku terlonjak kaget. Aku segera mengambil handuk dan bergegas masuk kamar mandi. Mama mengganggu meditasi Sultan yang hakiki.
"Lama banget mandinya, Nay." ujar mama yang melihatku berjalan lesu menuju meja makan.
"Nih, makan! Mama sudah menyiapkan nasi goreng spesial buat kamu."
Aku mengangguk. Lalu meneguk segelas susu coklat yang masih hangat.
Setelah selesai sarapan, aku langsung kembali rebahan di depan televisi. Jiwa malas selalu saja membuatku enggan melakukan aktivitas, meski hanya berjalan di rumah.
"Naya, kamu tidak mendengar? Itu dari tadi ada yang tekan bel terus," Mama kembali berteriak dari arah dapur. Ya ampun, apa sekarang telingaku juga terkena sindrom malas mendengar?
Aku berdecak sendiri, lalu segera keluar untuk membuka gerbang.
"Permisi, ini benar rumahnya Khanaya Khanza?" tanya seorang kurir di depan gerbang.
"Iya, Mas." jawabku malas.
"Ini ada kiriman!" ucapnya sambil menyodorkan sebuah kotak ke arahku.
"Maaf, Mas. Saya tidak pernah memesan apa pun."
"Iya, Mbak, tapi ini kiriman untuk Mbak Khanaya."
Akhir-akhir ini moodku sering anjlok tidak jelas. Ingin marah setiap bertemu orang, siapa pun itu. Jadi, jangan salahkan jika Mamang kurir pun kena imbasnya.
"Saya nggak mau terima. Apalagi nggak ada nama pengirimnya." decakku
"Loh, Mbak, diterima saja dulu. Masa saya bawa balik lagi, sih?"
Nah, kan Mamang kurir ikut ngegas.
"Ya, sudah. Saya ambil. Terima kasih, Mas."
Mamang kurir tersenyum. "Sama-sama, Mbak."
Setelah mamang kurir pergi, aku langsung masuk ke dalam. Melempar kotak tersebut ke sofa. Tiga detik kemudian, kotak itu kubuka.
Ada secarik kertas yang isinya sangat membuatku tertegun.
Gue pamit pergi, ya.
Sebuah kalimat yang singkat, jelas, padat. Namun, membuat air mataku merembas.
Nama pengirimnya memang tidak ada, tapi sebuah gelang rajut berlambang huruf -R- berwarna hitam berhasil membuat air mataku tumpah seketika.
"Kiriman dari siapa, Nay?" tanya mama ketika datang menghampiriku.
"Nggak tau, Ma." jawabku dengan nada bergetar.
[Nay, lo di mana?] tanya Khena dari sambungan telepon itu.
"Di rumah. Ada apa?"
[Lo belum baca pesan dari Nur?]
"Pesan apa?"
[Ya ampun, Nay. Revan sekarang akan berangkat kuliah ke luar negeri]
Butuh waktu beberapa menit untuk mencerna ucapan Khena. Bahkan ketika sambungan telepon sudah terputus pun aku belum bisa menerima semua ini.
Pergi.
Ke luar negeri.
Maksudnya apa, sih?
Mengapa jadi seperti ini?
Rasanya kepalaku terasa sakit memikirkan semuanya. Ada sesak yang kini mulai terasa di rongga dada.
Apa ini mimpi?
Tolong bangunkan aku dari mimpi buruk ini!
Mama mendekat, lalu memelukku. Isak tangisku terdengar. Aku sendiri tidak mengerti, mengapa aku harus menangis?
Mengapa sesak kian menjalar yang membuatku kesulitan untuk bernapas?
"Ma," panggilku sambil terisak pelan.
"Mama ngerti kok, Nay."
Aku menggeleng. Bukan itu yang ingin aku dengar dari Mama. Aku ingin bertanya, apa yang membuat diriku seperti ini?
Mulutku semakin kelu untuk berbicara. Hingga suara Khena yang masuk tanpa permisi membuat mama melepas pelukkannya.
"Loh, Nak Khena ...." panggil mama.
"Hehe ... Iya, Tante, maaf kena masuk tanpa permisi. Dari tadi pencet bel, tapi nggak dibukain pintu."
"Oh, maaf. Tante tidak mendengar." ucap mama dengan nada sedikit bersalah.
"Iya. Gak apa-apa, Tan. Umm ... Tan, aku mau ajak Naya pergi, boleh?"
"Mau ke mana?"
"Ke bandara, Tan. Duh, ini waktunya udah tinggal sedikit."
Seketika tubuhku menegang mendengar ucapan Khena. Kenapa semuanya jadi seperti ini?
Mama melirikku yang masih terus terisak.
"Tante izinin. Khena berangkat sama siapa?"
"Sama Pak sopir, Tan."
"Naya," panggil Mama.
"Mama izinin. Gak apa-apa jika kamu ingin pergi."
Aku mengangguk. Tanpa mengeluarkan sedikit kata pun. Lalu segera mengambil jaket dan mengikuti Khena ke arah mobilnya.
"Nay, gue tau, pasti keadaan lo lagi nggak baik-baik aja, 'kan?" suara Khena memecah keheningan karena aku hanya berdiam saja.
Air mataku kembali lolos ke permukaan. Sulit sekali untuk berbicara. Rasanya aku ingin teriak agar dunia tahu, bahwa keadaanku sedang kritis, mungkin sebentar lagi akan koma.
Perjalan menuju bandara pun terasa berat dan sangat jauh. Padahal jalan cukup sepi. Ditambah mobil kami melewati jal tol yang tak ada hambatan dalam perjalanan.
Kini, ketika mobil melaju dalam kecepatan sedang, bandara internasional yang dimiliki Indonesia sudah terlihat dari jarak pandang kurang dari 200 meter, air mata kembali mengembun di pelupuk mata.
Akankah semua berakhir di sini?
Aku kehilangan separuh hidup yang baru saja aku titipkan kepada salah satu makhluk Tuhan yang tercipta begitu menyebalkan.
Aku, tidak mampu menopang badanku sendiri. Ketika melangkah masuk ke dalam bandara. Mencari seseorang yang akan pergi membawa sebagian hati yang masih terasa perih.