can I love you

can I love you
3. Pengumuman



Khanaya khanza.


                        


 



 


Hari ini kami berlima akan segera berangkat ke sekolah untuk melihat hasil pengumuman penerimaan calon siswa baru SMA AIRLANGGA. duuh deg-degan sis. Asli!


Pihak sekolah tidak mengharuskan memakai seragam, jadi kami berlima memakai baju santai namun tetap sopan. Khena dengan anggunnya memakai dress di bawah lutut berwarna kuning cerah, ditambah sebuah bandana putih yang menghiasi rambutnya. Cantik sekali.


Wawa memakai kaos panjang dengan paduan rok prisket warna pink peach.


Mala memakai celana jeans serta kaos yang ia balut dengan jaket berbahan jeans pula. Lalu, Nur yang kini baru datang ke arah kami berempat memakai dres di bawah lutut berwarna salem, rambutnya ia kepang daun, manis sekali.


Dan aku, yakin pengin tahu penampilan calon guru sekaligus sastrawan yang suka males mikir ini? Canda!


Aku memakai celana jeans hitam dan kaos putih yang aku balut dengan panel kotak-kotak berwana hitam putih, ditambah sneakers putih menghiasi kakiku. rambutku, aku kuncir satu lalu aku segera memakai topi yang Sudah aku bawa.


This is my style yang terkadang membuat Mama, Papa bertanya kamu cewek apa cowok, sih?  Penampilan kok nggak ada kesan cewek sama sekali.


Penampilan luar boleh berandal tapi hati masih seperti bidadari yang lembut bagai perisai kalo udah disakiti, ya bakal sakit lah.


Ok. Perjalanan kita lanjutkan naik angkot, karena kami belum diperbolehkan membawa kendaraan sendiri. Belum punya SIM sis,


"kok, gue deg-degan, ya," kata Nur pelan. "Apa gue sedang jatuh Cinta?" sambungnya lagi yang berhasil membuat kami menoleh ke arahnya.


"Lo semalam mimpi apa, Nur?" tanyaku sambil tertawa pelan.


"Mimpi berenang di pasir emasnya doraemon."


Aku, Wawa, Khena, Mala tertawa lebih kencang tidak peduli dengan penumpang lain yang sama-sama ikut tertawa.


"Pasirnya ada yang masuk ke otak lo kali, Nur, jadi gitu deh," kata Khena setelah tawanya mereda.


Nur memukul bahu Khena. "Sialan lo, gue serius tau."


"Nggak ahk, gue nggak mau terlalu serius, terakhir serius gue diputusin."


Aku menepuk kening, menggeleng tidak percaya dengan apa yang dikatakan khena. "Sabar ya cewek."


Wawa dan Mala sukses menatapku dengan iringan ledekan tawa. "Si Naya belum ngerasain jatuh cinta, sih."


"Jatuhnya udah berkali kali, cintanya yang masih jadi misteri." kataku melakonis.


Dan sukses membuat semua penumpang tertawa kembali. "Hahahaha ...."


***


Kami berlima menatap sejenak pintu gerbang calon sekolah kami SMA AIRLANGGA, sekolah yang sempat membuat aku dan Papa berdebat kecil. Papa menyuruhku untuk lanjut ke SMA NEGERI, namun karena memiliki solidaritas tinggi dengan sahabat-sahabatku, aku pun memutuskan untuk ikut bersama mereka ke sekolah swasta elit ini.


"Are you ready guys?"


Dengan tersenyum bangga kami pun masuk ke halaman sekolah. Suasana cukup ramai, banyak calon para siswa yang mulai memadati mading sekolah. Kami pun bergegas gabung dengan mereka semua.


"Permisi ... Permisi ... Gantian doang. Black Pimk mau liat juga." kata Nur sambil terus jalan menelusuri banyaknya antrean.


"Apa, sih. gaje banget!" seorang cewek berambut agak pirang menatap kelompokku dengan tatapan tidak suka.


"Yee ... Gantian dong!" kataku tanpa manatap wajahnya. Cewek tadi hanya mendengus lalu pergi dari antrean.


"Nama gue mana, nih?" Wawa mulai cemas.


"Gue juga mana?"


Khena, Nur, dan Mala pun tak kalah cemas.


Sambil terus menelusuri nama-nama siswa yang lolos, kami terus berdoa di dalam hati. Semoga kami diterima.


"Alhamdulillah ... Gue lolos ..." suara Mala cukup histeris. Aku menutup telinga dengan kedua tangan.


"Gue juga lolos," sambung Nur.


"Gue ... mana?" aku masih kebingungan mencari nama sendiri.


"Nah, nih ... Nama gue ... Lolos juga." Khena dan Wawa pun sudah menemukan nama mereka.


Tinggal aku yang masih kebingungan, "Nama gue belum ketemu, bantu cari dong!" kataku yang mulai lemas. Tidak mungkin kan, jika aku yang tertinggal tidak lolos.


"Khanaya khanza, siswa peringkat kedua dengan hasil nilai terbaik. Anjirrr ...Naya ... Nama lo ada di sini," teriakan Mala yang cukup heboh itu membuat para calon siswa menoleh ke arahku.


"Mana?"


"Nih, lihat, lo peringkat kedua. Ya ampun Pantesan aja lo cari di situ nggak ada."


"Alhamdulilah ... Congrats guys!!!" kataku dengan penuh nada bahagia.


"Kita langsung Otw."


"Siap, berangkat!" kami menjawab serempak. Lalu pergi meninggalkan kerumunan siswa yang masih mencari nama mereka.


***


Salah satu cafe di Bogor Trade Mall menjadi tempat nongkrong kami saat ini. Kami asyik bercanda, masih tidak percaya bahwa kami lolos semua.


"Jadi hari ini lo yang teraktir, Nay?" tanya Khena di sela-sela makan kami.


"Siap."


Dan tak terduga Mala sudah memesan menu tambahan pada pelayan cafe. "Mbak, tambah boba lima."


"OMG ... " Aku menggerutu pelan.


"Sebagai lulusan dua terbaik, harus rajin-rajin traktir temen biar ilmunya berkah dan bermanfaat," kata Nur sambil cengengesan.


"Aamiin ya Allah." Lalu diaamiini serempak oleh mereka semua.


Inilah hidupku. Semua warna terpatri dengan indah bersama mereka. Ada saatnya kami bersedih, tertawa bersama atau mungkin bertengkar hanya karena hal sepele anak remaja. Mungkin di depan sana akan lebih banyak anak tangga ujian yang Tuhan berikan menuju kedewasaan kami semua.


Untuk temanku, semoga cerita kita tak pernah layu. persabatan kita bukan sekedar hari ini dan hari yang telah lalu. Menikmati masa remaja dengan kalian membuat hidupku penuh akan warna.


hari ini kami semua menikmati acara kecil-kecilan untuk merayakan diterimanya kami di SMA ARILANGGA. Tiga tahun ke depan mungkin akan lebih banyak terpaan angin kecil hingga badai besar yang akan menghampiriku dan kami semua.


Semoga kami dapat melaluinya. Hidupku sebagai remaja menuju dewasa akan dimulai dari sekarang. Cita-cita dan masa depan diperhitungkan mulai saat ini. Tentang perasaan dan hati yang baru, semoga saja aku bisa mengimbanginya.


Tidak ada sesuatu di dunia ini yang lolos dari takdir Tuhan.


Tuhan juga pasti punya rangkaian cerita indah untukku. Dan terimakasih atas awal yang bahagia hari ini. Aku diterima sebagai lulusan kedua terbaik di sekolah, yang akan aku persembahan untuk Mama dan Papa.


Aku tidak mau membuat mereka kecewa, apalagi ini tentang pendidikanku. Papaku orang yang sangat tegas, jika aku bersalah maka akan tetap bersalah. Meskipun itu hanya soal aku yang tidak mengerjakan tugas sekolah. Sedangkan Mama, seseorang yang sangat lemah lembut. Mama, wanita terhebat di hidupku. Mama dan Papa segalanya, Aku menyayangi mereka. Apapun akan aku lakukan untuk mereka.


Pa, Ma ... doakan anakmu ini, ya. Semoga semua cita-citaku terwujud. Aku bisa bahagiakan Mama dan Papa.


Tuhan, sayangi mereka seperti mereka menyayangiku di waktu kecil hingga saat ini.