can I love you

can I love you
14. Sang juara.



"Semua luka berawal dari sini. Ketika rasa dan perasaan menyatu dalam Cinta, namun takdir tidak pernah mengerti. Semoga Tuhan memberi satu kesempatan untukku agar bisa memaafkan diriku sendiri."


**Khanaya Khanza**



\*\*\*


Di minggu sore itu, Papa dan Mama benar-benar menyuruhku untuk ke rumah Mala. Kami berangkat setelah solat asar. Aku juga sudah memberi tahu ketiga sahabatku melalui chat pribadi, aku mengatakn bahwa Papa bisa membantu keluarga Mala, dan mereka pun sangat bersyukur dan bahagia menerima kabar ini.


"Dari sini kemana lagi, Nak?" tanya Papa sambil mengemudikan mobil.


"Itu, Pa... Masuk ke gang yang dekat masjid,"


"Oh, ok."


Mobil kami mulai memasuki perkampungan yang sudah kubilang sangat asri. Ketika sampai di depan rumah kontrakan Mala, kami pun langsung turun. Aku sengaja tidak memberitahu Mala soal kedatangan kami, dan benar saja Mala sangat terkejut sekali.


"Lo ngapain?" tanya Mala, setelah ia mencium tangan Papa dan Mama.


"Ya main lah, memangnya gue nggak boleh main ke sini?"


"Bukan gitu, Nay, Tapi ini sama Bokap dan Nyokap lo!"


"Ya, Papa sama Mama gue juga pengin main kalee.."


"Nay... " panggil Mala pelan. Aku langsung menarik tangannya untuk masuk ke dalam, "Gue haus tau, kalo ada tamu tuh, di kasih minum lah."


Sampai di dalam rumah kontrakan Mala, aku meringis melihat keadaan berbeda sekali dengan sebelumnya. Rumah kontrakan ini Memiliki dua kamar tidur, satu ruang tamu yang langsung terhubung ke dapur, hanya diberi gorden pembatasnya. Di pojok ruang tamu masih banyak barang-barang Mala yang berserakan belum di rapikan.


Om Ferdi dan Tante Rani langsung menghampiri kami, "Ya ampun, Pak Andre kok ke sini nggak kasih kabar? Maaf, Pak. Masih berantakan rumahnya," kata Om Ferdi, Papanya Mala.


"Iya, nih. Maaf ya, Mbak Kinar, hanya ada air putih di sini." Tante Rani Mamanya Mala menimpali sambil menyuguhkan tiga gelas air putih di meja.


"Loh, nggak usah repot-repot, Mbak Rani. Kita hanya main aja kok," kata Mama sambil melirikku. Aku mengerti tatapan itu lalu pamit keluar bersama Mala. Membiarkan para orangtua yang berbicara.


"Nay... " panggil Mala pelan. Saat ini kami berdua sedang duduk di bawah pohon mangga sambil menikmati es krim dan cemilan yang aku bawa.


"Iyap... " kataku sambil melahap es krim dari cone-nya.


"Makasih ya,"


"Untuk apa, Mal?"


"Untuk semuanya."


Aku menatap Mala sejenak, "Bilang makasihnya sama Allah aja, gue nggak merasa kasih apapun. "


"Makasih udah selalu ada,"


"Kita ini sahabat, Mal. Lo harus inget sama semua janji kita. Bukan cuma gue aja kok, Wawa, Khena, dan Nur juga."


Mala mengangguk, lalu tersenyum ke arahku.


Setelah percakapan Papa dan Mama selesai, kami pun pamit pulang. Aku memeluk Mala sebentar, lalu say good-bye. Besok kita akan bertemu di sekolah lagi.


Ada rasa tenang di hatiku, rasa syukur kepada Tuhan begitu membuncah, semoga saja dari kejadian ini memberikan banyak hikmah kepada kami semua.


Allah Maha segalanya. Apapun yang terjadi atas kehendaknya. Papa selalu mengatakan, jadikan dunia ini ladang amal kebaikan. Jika kita dikelilingi orang yang butuh bantuan, maka jangan segan untuk mengulurkan tangan. Tetap ingat, bersedekah lah, dan jangan sampai Tangan kiri mengetahuinya.


****


Awan mendung kembali menyapa langit tanpa matahari. Musim penghujan memang telah tiba. BMKG sudah memberikan informasinya di televisi yang menyiarkan berita pagi.


Hari senin yang biasanya malas sekali untuk dilewatkan, karena upacara bendera kini para siswa begitu bersemangat sekali, seperti ada satu hal yang tidak ingin mereka lewatkan.


Aku bersyukur kepada Allah atas segala kemudahan yang diberikan olehNya kepada keluarga Mala. Kini senyum itu telah terbit kembali dari bibir si pemilik suara paling cempreng seanggota genk's unyu.


Upacara bendera pun dimulai, ketika Kak Rayyan yang menjadi pemimpin upacara memasuki lapangan upacara. Rangkaian pengibaran bendera merah putih pun sedang berjalan, lagu kebangsaan Indonesia Raya telah mengalun merdu di bawah langit yang tidak sama sekali menampilkan matahari.


Hingga di penghujung upacara, Bapak Kepala sekolah memberikan sambutannya, riuh tepuk tangan menggema seantero sekolah. Ada yang bersiul, ada pula yang berteriak histeris memanggil satu nama. Aku seolah kehilangan fokusku pada upacara hari ini. Seperti ada angin yang menyapu gurun sahara. Seperti ada salju yang terbang bebas di udara.


Semua seperti berjalan lambat, ketika cowok berpostur tinggi, hidungnya mancung, berkulit tidak terlalu putih, tapi juga tidak terlalu hitam, sawo matang pun tidak, jadi kulitnya warna apa? Sungguh aku juga tidak tau harus seperti apalagi menjabarkan dia.


Cowok itu melangkah dengan pelan, menuju ke depan sambil menunduk dalam. Satu hal yang selalu aku lihat, dia selalu menunduk. Ketika dia sudah berada di samping Bapak Kepala sekolah, barulah senyum kecil itu terbit dari bibirnya, meski tipis sekali, tapi aku yakin senyum itu mampu membuat cewek-cewek SMA AIRLANGGA kembali berteriak histeris.


"Hari ini sekolah kita mendapat sebuah kabar bahagia atas kemenangan lomba MTQ se-Provinsi yang berhasil kita raih," kata Bapak Kepala Sekolah.


Para siswa kembali bertepuk tangan dengan meriah.


"Untuk itu, Bapak ingin mengucapkan terimakasih kepada Ananda Revan Adit Prasetya, yang sudah membawa nama baik sekolah. Terimakasih, Nak. Semoaga yang lain dapat mencontoh kamu."


Riuh tepuk tangan kembali membahana.


Aku masih belum percaya dengan semua ini, seorang Revan Adit, spesies manusia kutub itu berhasil juara satu MTQ tingkat Provinsi. Semua lamunanku buyar ketika Nur, menyenggol lenganku. "Sumpah Revan keren!"


Aku menatap Nur jengah.


Yakin lo masih bisa bilang keren saat tau gimana nyebelin cowok itu, Nur?


Sebuah piala berukuran cukup besar diberikan Bapak Hadi, selaku Kepala Sekolah SMA AIRLANGGA itu kepada Revan. Disusul Pak Fikri yang memberikan sebuah medali, lalu memeluk Revan sebentar. Sungguh, diriku masih belum percaya akan semua ini.


Atau jangan-jangan Revan beneran kerasukan jin islam, makanya dia bisa memenangkan lomba baca Al-qur'an ini.


Astaga, Naya!!!! Pikiranmu.. Jahat.. Sekali..


Setelah testimoni itu selesai, kehebohan masih saja berangsur. Bahkan beberapa teman sekelas Revan, menyebut namanya sambil meneriakkan yel-yel yang aku pastikan sudah disiapkan mereka.


Sepenting itu kah?


Di antara ratusan siswa, mungkih hanya aku yang bodo amatan dengan semua ini. Meski di bagian hati kecilku ada satu kebanggan lagi untuknya, namun aku lebih suka menyembunyikan semuanya.


Karena memang tidak penting.


Setelah upacara selesai, kami langsung masuk ke kelas masing-masing, pelajaran kedua sudah menanti. Bu Retno pun memasuki kelasku dengan membawa kertas ulangan.


Hampir 30 menit kelas -X bahasa- berkutat dengan ulangan bahasa indonesia. Suara bel berbunyi nyaring tanda istirahat pun membuat semua siswa termasuk aku bernapas lega. Semua kertas ulangan itu dikumpulkan. Ketika aku hendak keluar kelas, Bu Retno kembali menghentikan langkahku, "Ikut Ibu sebentar, Khanaya."


Aku membuang napas kasar, lelah, laparku sudah bercampur dengan kesal.


"Iya, Bu." jawabku pelan.


Lalu aku dan Bu Retno berjalan beriringan menuju ruang redaksi mading, yang jika Allah mengijinkan akan menjadi rumah kedua setelah kelas eskul film.


Ruang redaksi mading cukup nyaman, dan katanya akan beranggotakan empat orang dengan satu ketua Tim. Berarti aku dan ketiga orang nanti yang belum aku ketahui namanya akan menjalani hari-hari selama satu tahun ke depan di sini.


"Ini ruangan kamu nanti, " kata Bu Retno sambil terus memberitahuku tentang ruang redaksi mading. "Itu ada komputer yang bisa kalian gunakan untuk tugas mading."


Tiga orang siswa menghampiriku dan Bu Retno dan aku yakin sekali, mereka ini fathnerku nanti.


"Nah, ini teman-teman Tim kamu sudah datang, Nay."


Aku tersenyum ke arah mereka, lalu kami saling berjabat tangan saling memperkenalkan diri, Ada Dewa dari kelas X ipa 1, lalu Tiara kelas X ips 2 dan yang terakhir Yuka dari kelas X Multimedia.


Ok guys, welcome to Redaksi mading, tempat hidup cerah bernuansa hitam putih penuh kegalauan para siswa yang sedang jatuh Cinta. Pemberi informasi akurat dan terpercaya di saentro sekolah dan satu lagi tempat curhat colongan lewat kata-kata Indah berwujud prosa, atau kata-kata manis bernama puisi. Tapi sayangnya, ketua redaksi mading yang menjabat tahun ini adalah, aku, gue si cewek anti mainstream pecinta drama Korea, akan aku pastikan ruangan ini penuh dengan poster DO EXO sebagai penyemangat ketika ada tugas negara.. Ok. Fix!


Setelah semua sudah diarahkan Bu Retno kami diizinkan untuk istirahat. Aku langsung bergegas ke kantin, menyusul keempat sahabat unyu di sana.


"Lama amat sih, Mbak ketua." kata Khena dengan nada meledekku.


"Biasa, kita rapat dulu."


"Anjiirrr.. Gaya lo, Nay..." Nur menimpali.


"Gue laper, gue haus. mana makanan?


Jangan sampai kalian semua yang gue makan!"


"Iihh.. Euwww.. Galak sekali.. Aku jadi takut masuk redaksi mading." Nur masih saja meledekku.


"Kita sih udah biasa, yang kasihan itu anggotanya." kata Mala dengan iringan tawa. Aku bahagia sekali bisa melihat Mala tertawa kembali.


"Iya.. Ya... Hahahaha.."


"Terserah kalian aja!"


"Hahahaha.. " tawa kami pecah seketika.


"Nay... "


Panggil Nur, ketika pesanan baksoku sudah datang. Aku pun mengaduknya agar semua terasa nikmat ketika dimakan.


"Kenapa?"


"Gue boleh minta tolong nggak?"


"Apa?"


"Ok, guys.. Gue mau ngomong sama kalian semua, kalo gue.... "


Kami berempat menatap Nur dengan penuh tanda tanya.


Maksudnya apa sih, Nur?


"Kalo gue.... " Nur menatap wajah kami satu persatu, lalu dengan lantang berteriak, "Gue naksir Revan..."


Aku tersedak bakso yang sedang kumakan. Wawa langsung memberikan air minum untukku.


Satu detik..


Dua detik...


Di menit ketiga otakku baru bisa merespon semua ucapannya.


"Nggak salah lo naksir Revan?" Khena bertanya mewakili isi hatiku. Aku sudah tidak berselera lagi menatap bakso di depanku. Rasa lapar kini berganti galau tingkat awal.


"Ya, nggak lah. Revan itu keren banget, asli! Gue jatuh Cinta pada pandangan pertama,"


Aku mual sekali, ingin muntah tapi masih kutahan.


"Gue pengin lo bantuin gue, Nay!"


Aku membuang wajah ke samping, menarik napas dengan kasar.


jangan lebay, Naya!


"Bantu apa? Kenapa harus gue?" kataku dengan suara agak parau.


Jangan lebay, Naya!


"Karena sekarang lo udah jadi ketua redaksi mading, dan kita juga tau, cuma lo yang pinter merangkai kata-kata penuh makna. So, tolongin gue, buatin puisi yang romantis buat Revan."


Kapada Ibu Retno, jika saja menjadi ketua redaksi mading akan membuatku berakhir seperti ini, sudah kupastikan akan menolak semua ini dari awal. Tidak peduli tentang ceramah panjang dari Papa atau teguran halus dari Mama, karena saat ini tanpa sadar aku akan menorehkan luka pada hatiku sendiri.


"Gue nggak bisa janji,"


Rasa sesak menyelinap masuk ke rongga dadaku.


"Harus dong, sahabat sejati selalu ada ketika sahabatnya sedang jatuh Cinta."


Untuk air mataku, bertahan ya, jangan keluar di sini. Aku malu.


"Dasar lo, Nur. Si Syam mau lo kemanain?" tanya Mala.


"Ya nggak di kemana-manain lah, saat ini di hati gue cuma ada satu nama, Revan pokoknya."


Sabar ya hati, semoga akan ada hikmah di balik semuanya.