can I love you

can I love you
11. Pa.. Ma.. Anakmu.. jatuh Cinta!!!



"Apa ini yang dinamakan jatuh Cinta?  Makan tak enak, tidurpun tak nyenyak"


****


Khanya khanza


***


Revan Adit prasetya


Kenapa nama itu muncul terus sih?


Kamu sebenernya siapa coba?


Pengin banget diinget terus ya!


Ya ampun..


Namanya Revan, cowok jutek kapten futsal sekolah. Nggak ada yang spesial, tapi kenapa dia jadi yang spesial aja di otakku saat ini.


Semalaman aku tidak bisa tidur,


gara-gara cowok jutek itu. Aku kembali mengacak-acak rambutku. Teringat lagi tragedi tangga sekolah yang hampir membuatku malu, dan marah aja. heii ingatan, apa kamu nggak bisa pergi aja? Pergi yang jauh sana! Jangan muncul di otakku lagi. Sumpah. Apek banget.


"Ahk.. Kenapa harus kamu terus sih?"


Aku teriak frustasi, senyum sendiri, pengen nangis sendiri. Jadi nggak jelas banget gini.


Tuh kan, sana pergi ingatan. Aku nggak mau inget kamu lagi!


"Khanaya Khanza, kamu mau sekolah atau tidak?" teriakan Mama berhasil membuatku loncat dari tempat tidur.


Revan sialan!


Aku bergegas mengambil handuk, dan segera mandi.


Di meja makan, kami sarapan seperti biasanya. Aku melirik Papa sebentar, lalu menyuapkan satu sendok nasi goreng ke mulutku lagi


Inget pesan papa jangan pacaran! Jangan cinta-cintaan.


Semua ucapan Papa itu terngiang di telingaku.


Ok, papa cuma larang lo pacaran Naya. Berarti Papa nggak larang kalo gue jatuh Cinta. Aaaarrgghhh!!!


"Khanaya, kamu apakan itu piring nasinya?"


"Hah," aku mendongakan wajahku ke arah Mama, yang terlihat sedang membulatkan matanya. Lucu sekali.


"Itu kenapa nasinya jadi kaya gitu?" tanya Papa yang kini sukses membuatku terperangah dengan piring nasiku. Nasinya sudah mental ke meja, bahkan ada yang mengotori seragam sekolahku. Tuhan..


"Kamu kenapa?" tanya Papa lagi.


"Nggak kenapa-napa, Pa,"


"Jangan bohong, Khanaya"


"Aku nggak bohong, Pa."


"Lalu,"


"Iiihhh.. Papa.. Aku tuh lagi kesel tau nggak?"


Papa dan Mama kompak menatapku. "Ya Papa mana tau. Kamu kan nggak cerita sama Papa atau Mama."


"Papa.. " rengekku.


"Kenapa?"


Anakmu jatuh Cinta.


Aku hanya menggeleng. Mama segera menghampiriku lalu merapihkan sisa nasi yang berada di meja. "Kalo ada masalah ya cerita sama Mama, jangan dilampiaskan ke piring nasi!  Kasian Pak Tani dan Bu Tani kerja dari pagi sampe sore, kalo nasi mereka aja jadi korban kamu ini." aku menunduk,  ini semua gara-gara si Revan , Ma.


"Kalo udah selesai, ayo berangkat! Papa ada meeting siang ini,"


Aku langsung bergegas mengambil tasku, lalu pamit sama Mama. Aku tidak bisa menyembunyikan sebuah perasaan dari orang tuaku. Tak apalah hari ini mereka menganggapku aneh. Tapi sungguh aku takut, takut banget kalo beneran jatuh Cinta.


Papa selalu mengatakan 'nak jadilah wanita seperti Sayyidah Fatimah R.A, yang mampu memendam cintanya dalam diam bahkan setan pun tidak mengetahuinya. Maksud Papa, kamu jangan jadi cewek yang murah banget soal perasaan. Kamu itu perempuan hebat yang Papa dan Mama miliki, jadi tolong hargai perasaanmu sendiri sebelum memberi perasaan pada orang lain' dan karena itulah Pa.. Aku bingung dengan perasaanku sendiri. Apa ini yang dinamakan jatuh Cinta? makan tak enak, tidur pun tak nyenyak.


****


Setelah sampai di sekolah, aku segera masuk ke kelasku. Aku tidak bertemu satu pun sahabatku hari ini. Biarin aja, kita udah janjian akan ketemu di kantin siang ini.


Hari ini ada pelajaran Seni Budaya dan keterampilan. Bu Anita sedang menjelaskan macam-macam seni rupa di papan tulis. Aku harus fokus ke pelajaran, jangan sampe ingatan sialan itu mampir ke otakku.


Bel istirahat pun berbunyi, Bu Anita sudah pamit undur diri. Aku berjalan keluar kelas, melamun, dan sesekali menarik nafasku kasar.


"Nayaaa... "


Mala dan Khena datang menghampiriku, "Yang lain udah di kantin, ayo ke sana!" kata Khena sambil merangkulku.


"Siapa yang teraktir hari ini?" tanyaku.


Khena langsung mencubit tanganku. "Ihk, apaan sih, Khen? sakit tau!" aku meringis cubitan Khena ini mampu membangunkanku dari pikiran-pikiran aneh hari ini.


"Lo yang teraktir hari ini, Midah." teriak Mala tepat di telinga sebelah kananku.


"Ya ampun... " aku menutup telinga dengan satu tangan, lalu satu tanganku lagi menepis tangan Mala. "Nggak usah pake toak masjid gitu napah!"


Mala dan Khena tertawa. Puas banget.


Setelah sampai di kantin, aku dan d'renbo makan di salah satu tempat duduk yang dekat dengan jendela. Bisa dikatakan ini tempat favorit kami. Aku memesan bakso dan es teh manis, salah satu menu favorit kami semua.


"Tadi pak fikri ngajar di kelas lo nggak, Nay?" tanya Khena memecahkan keheningan, karena kami makan dengan khidmat sekali.


"Nggak, hari ini Bu Anita yang ngajar,"


Khena menarik napasnya pelan, "Terus siapa yang kelasnya hari ini pelajaran BTQ?"


"Ya nggak ada lah, Sumi. BTQ ada di hari kamis sama jum'at aja," kata Mala. Lalu menatap Khena dengan intens, "Lo kenapa dah, Khen? Galau amat nggak ketemu Ayang."


"Apaan sih," Khena mengibaskan tangannya, entah kepedesan atau memang salah tingkah. "Gue heran aja sama dia,"


"Dia siapa?" tanyaku yang sudah menandaskan semangkok baksoku.


"Ya Pak Fikri, emangnya siapa lagi?"


"Emang Pak Fikri kenapa?" timpal Wawa.


"Ok guys, hari ini gue pengen cerita sama kalian,"


Jika sudah seperti ini, maka kami berlima pun menatap serius satu sama lain.


"Kemarin gue iseng-iseng nge-chat Beliau. Awalnya dibales terus. Tapi kayanya emang salah gue sih yang terlalu agresif. Kalian mau tau nggak balasan pesan terakhir dari Beliau?" Khena menatap wajah kami satu persatu, dan aku sangat penasaran sekali dengan kisah ini. "Dia bilang jangan samakan saya dengan teman kamu. shit" Khena mengumpat di akhir ceritanya yang sontak membuat kami semua tertawa.


"Hahaha.. Serius Pak Fikri ngomong gitu, Khen?" aku bertanya lagi. Sumpah si Khena ini nekat banget anaknya.


"Iya. Dan sampe sekarang semua pesan gue nggak ada yang dibales."


"Sabar ya," kata Wawa ketika tawanya sudah mereda.


Khena memang sudah jatuh Cinta dengan Pak Fikri the most wanted SAGHA, alasannya agak aneh memang. Khena bilang wajah pak Fikri itu ngademin banget.


Aku dan keempat sahabatku punya cerita unik di SMA ini. Khena sudah jelas naksir guru BTQ itu dari awal masuk sekolah, lalu Mala jatuh hati sama Afriza teman sekelompok waktu MOS dulu, sekarang mereka juga satu kelas, yang membuat Mala heboh banget setiap hari.


Wawa sekarang lagi deket sama Kak Ihza, sekretaris osis yang akan segera turun jabatan. Semoga pedekate-nya lancar ya Wa!


Lalu Nur berharap sama Syam, teman sekelasku sekarang. Katanya Nur juga lagi terus mengeluarkan gencatan senjata untuk menarik perhatiannya.


Aku???


Plis jangan tanya!


Nggak ada. Iya memang nyatanya gitu!


Lalu pikiranku tiba-tiba melayang ke tangga sekolah. Shit..


Biarlah hanya aku, kalian yang sedang membaca, dan Tuhan aja yang tahu, kalo hatiku lagi demam tinggi oleh satu nama.


****


Setelah empat mata pelajaran telah selesai. Bel tanda pulang berbunyi nyaring, semua siswa berhamburan ke luar kelas. Sekolah ini cukup besar. Muridnya Juga banyak. Tidak heran Jika saat bel pulang berbunyi seperti semua murid itu bagaikan laron yang berisik sekali. Aku masih di dalam kelas, menunggu sedikit biar agak sepi, aku malas desak-desakan di tangga. Jadi ada rasa traumanya gitu lah.


Saat suasana agak sepi, akupun keluar. Aini sudah pulang lebih dulu, karena ada urusan. Sedangkan empat sahabatku tidak pulang bareng. Karena eskul mereka dimulai hari ini. Nur dan Khena ambil eskul PMR karena dia ingin jadi dokter, Mala ambil eskul musik. mala selalu percaya diri, makanya meski suaranya asli cempreng tapi dia berbakat sekali main piano. Wawa ambil eskul komputer dia bilang ingin jadi jutawan yang hobbinya ngitung duit.


Dan aku masuk eskul film dan teater nggak sinkron dengan jurusan yang aku ambil sastra bahasa bukan multimedia. Tapi bodo amat, aku suka keduanya. Jadi inilah jalanku.


Di sepanjang koridor lagi-lagi aku hanya terdiam, hingga sosok seseorang yang sedang berjalan ke arah tangga membuatku ingin berbalik arah ke kelas lagi. Kenapa harus bareng lagi sih?


Aku sengaja berjalan agak lambat. Nggak mau bareng dia. Dan benar saja, setelah jarak kami semakin dekat, Revan langsung turun mendahului.


Bodo amat re, aku nggak peduli!


Pa.. Ma.. Maaf ya mungkin aku udah salah, jatuh Cinta sebelum masanya tiba. Atau mungkin memang sudah tiba saatnya. Aku nggak tau, Pa. Cinta seperti apa yang Papa larang. Aku Juga nggak tau, Ma. Apa ini yang dimaksud dengan jatuh Cinta?


Pa, Papa bilang aku harus seperti sayyidah Fatimah. Baiklah Pa, akan kucoba untuk memendam segala perasaan ini. Aku tidak akan menunjukannya kepada siapapun, termasuk kepada orang itu. Seseorang yang sudah membuat anakmu kelimpungan agar nggak salah tingkah di hadapannya. Pa. Maaf ya! Sepertinya anakmu benar jatuh Cinta. Aku sering mengalami gejala mual, napas tercekat di tenggorokan, bahkan bisa berhenti sesaat ketika tidak sengaja bertemu dengannya. Apa Papa juga seperti itu ketika jatuh Cinta sama Mama?


Aku tidak nafsu makan Pa, pikiranku terbang melayang nggak tau kemana. Tidur pun aku sering mimpi aneh. Masa iya aku mimpi lagi di taman sama Revan, kan aku jadi malas banget buat memejamkan mata tidur lagi.


Ma, apa sekejam itu ketika Mama jatuh Cinta? Apa yang harus aku lakukan, Ma? Kenapa jatuh Cinta itu rumit banget. Seperti nyari akar kuadrat angka 2 yang ternyata angka 2 juga. Mama.. aku bingung.


Aku melihat Revan sudah mengendarai motornya keluar gerbang sekolah.


Re, aku nggak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Kamu terlalu jahat buat aku. Kamu sosok cuek yang nggak peduli sama hal di sekitar kamu.


Re, di sini banyak yang diam-diam mengidolakanmu, bahkan ada yang terang-terangan menyatakan perasaannya. Aku tahu, karena banyak dari mereka yang histeris sekali jika ada kamu.


Re, cobalah lihat  ke sekeliling kamu sebentar aja!  Aku ingin kamu ngerti kalo aku suka salah tingkah di depan kamu.


Re, aku salah ketika di teras masjid bilang kamu sok imut, nyatanya kamu memang imut. Dan aku suka saat kamu mengumandangkan adzan. Aku suka saat kamu menjadi Imam solat zuhur. Aku suka saat kamu membaca surah yassin di hari jum'at, semua tentang kamu aku suka. Tapi kamu nyebelin banget. Bikin aku males inget semuanya.


Ma.. Pa.. Maafin anakmu ya, aku jatuh Cinta di saat aku baru mengenal Cinta.