can I love you

can I love you
23. Bimbang



Revan Adit Prasetya


Hampir dua minggu di rumah, hanya rebahan, nonton film, bantu Bunda lalu semua terulang setiap hari. Hanya itu-itu aja!  Mulai jenuh tapi harus sabar. Allah, begini amat hidup saya. Bosan. Pasti.


Pagi ini seperti biasa, setelah menonton serial Doraemon. Saya langsung bergegas ke halaman depan, membawa shampoo khusus untuk mencuci motor. Rasanya tidak enak sekali hidup monoton seperti ini.


Saya menyalakan keran yang sudah tersambung selang air di halaman depan, mencuci motor mungkin hal Bagus. Meski kenyataan langit sedang mendung. Mungkin Lima menit dicuci langsung turun hujan. Biarlah.


Setelah selesai acara perpisahan beberapa minggu yang lalu, saya tidak seperti teman-teman yang segera mendaftar kampus yang mereka pilih. Padahal saya ingin sekali masuk ITB. Tapi Bunda tidak mengizinkan. Jadi saya hanya di rumah, menunggu waktu yang katanya Indah pada waktunya. Entahlah.


Body motor sudah dipenuhi oleh busa-busa lembut hasil shampoo yang sedang ngetren saat ini. Motor ini sudah seperti seorang sahabat yang harus ikut kemana pun saya pergi. Dia juga pernah menjadi saksi, seseorang seperti saya mengantarkan cewek pulang, meski tidak sampai ke rumahnya.


"Re ...."panggil Bunda dari dalam rumah.


"Iya, Bun." saya segera menghampiri Bunda. Tidak peduli dengan tangan yang masih penuh dengan busa.


"Ya ampun, Revan Adit prasetya. Itu tangannya dilap dulu dong! Nanti lantainya jadi licin, terus kamu terjatuh gimana?" cecar Bunda.


Aku hanya nyengir saja, "ada apa, Bun?"


"Ini tolong antar makanan ke rumah Bu Nyai, ya!"


Rasanya ingin menolak saja permintaan Bunda saat ini. Tapi saya juga mulai bosan di rumah. Jadi saya terima saja, dan segera menyelesaikan mencuci motor saat ini.


"Siap, Bun. Abang lanjut cuci motor dulu." kata saya, lalu kembali ke halaman depan.


Setelah selesai, motor juga sudah dikeringkan saya langsung bergegas ganti baju untuk mengantar makanan ke rumah Bu Nyai.


"Bun, ini aja makanannya?" tanya saya ketika menghampiri Bunda yang masih sibuk menata makanan di meja.


"Iya, itu aja, Bang. Kamu jangan lama-lama di sana!"


"Iya, Bunda. Ya udah, Abang berangkat dulu, ya. Asalamualaikum." aku meraih tangan Bunda dan menciumnya lembut.


"Walaikumsalam. Hati-hati di jalan, Bang!"


Aku segera berjalan ke halaman depan. Motor merah sudah terparkir rapi di sana. Aku menaruh kotak makanan di tangki motor dan segera menyalakan mesin motor.


Rumah Bu Nyai cukup jauh dari komplek perumahan tempat kutinggal. Tak apalah, anggap saja sekarang lagi liburan. Mencari angin segar karena sudah beberapa hari jadi tawanan di rumah sendiri.


Hampir satu setengah jam berkendara, motorku tiba di depan sebuah gerbang pondok pesantren yang cukup terkenal di daerah ini. Pondok pesantren Darul Multazam namanya. Ponpes yang cukup besar, santarinya banyak sekali. Aku pernah merasakan jadi santri di pesantren ini, tidak lama. Hanya sekitar dua bulan saja. Setelah itu aku langsung jatuh sakit dan mendapat perawatan intensif di rumah sakit. Malu banget kalau ingat ke situ. Berasa apa ya? Payah. Pastinya.


"Assalamualaikum, Bu Nyai," saya mengucapkan salam ketika melihat seorang Ibu yang memakai baju muslimah, jilbabnya lebar dan panjang seperti Bunda sangat anggun sekali, meski usianya tak muda lagi.


"Walaikumsalam. Loh, Nak Revan, mari masuk!" titah Bu Nyai.


"Ini ada makanan dari Bunda, Bu Nyai."


"Masha Allah, tabarakallah, Nak. Bundamu ini, selalu saja mengirim makanan kepada Ibu, padahal rumah kamu itu kan jauh,"


Saya tersenyum, "nggak apa-apa, Bu Nyai."


"Masuk dulu sini, Nak Revan!"


"Iya, Bu Nyai. Pak Fikrinya ada?"


"Owalah, kamu ini .... Sama aja kayak Fikri. Itu ada anaknya di halaman belakang."


Saya tersenyum, "Revan mau bertemu Pak Fikri ya, Bu Nyai."


"Kamu kayak sama orang lain aja, Re. Sudah sana temani dia. Jangan galau di halaman belakang!"


Saya terkekeh pelan, lalu segera ke halaman belakang.


Pak Fikri itu anaknya Bu Nyai dan Pak Kiai pemilik pondok pesantren ini. Sebelum saya masuk SMA AIRLANGGA, Bunda sudah menitipkan saya di pondok ini. Namun, semua hanya tinggal cerita. Jadilah sekarang saya lulusan SAGHA. tapi sebuah ikatan dengan pondok tak pernah saya lepaskan begitu saja.


Begitu pun dengan Bunda. Beliau masih sering mengirim makanan ke pondok ini. Katanya, menyambung silaturahmi. Saya dan Pak Fikri cukup dekat, apalagi saat saya tahu ternyata beliau salah satu guru yang mengajar di SAGHA persahabatan kami semakin erat, meski tak terlihat oleh kebanyakan orang. Saya nyaman seperti ini.


"Asalamualaikum, Bos," sapa saya ketika melihat beliau sibuk mengisap sebatang rokok di bawah pohon mangga yang cukup rindang dengan naungan langit yang mendung.


"Walaikumsalam, Bro. Apa kabar?"


Inilah gaya kami ketika di luar sekolah. Bos dan Bro menjadi sapaan akrab untuk mempererat persahabatan. Di sekolah kami seorang Guru dan murid sedangkan di luar seperti sekarang kami sekawan, sering galau berjamaah bersama Fikar adik beliau.


"Sehat, Bos?" tanya saya lalu mencium tangan beliau dengan takjim. Bagaimana pun beliau tetap guru yang harus saya hormati.


"Sehat. Kamu gimana? Sehat? Kok, masih liar kayak gini?"


Aku mendengus ketika mendengar ucapannya, "ya mau gimana lagi, Pak. Bunda masih tidak memberi izin masuk ITB,"


Pak Fikri tersenyum, "soal beasiswa itu?"


"Masih saya fikirkan, Pak."


"Mikirin apa kamu? Pacar?"


"Bukan. Calon istri."


Pak Fikri tertawa cukup kencang, "hahahaha .... Calon istri? Uang buat beli kouta aja masih minta. Ya ampun, kebanyakan mengkhayal ini anak!"


"Terserah Bapak aja. Tapi saya tidak pernah meminta uang buat beli kouta sama Bunda." saya mengelak, lalu mengambil biskuit yang tersedia di kursi panjang yang kami tempati.


"Ya Bagus dong! Ya ampun, jangan gitulah. Saya yang lebih tampan, udah mapan aja belum kepikiran calon istri. Lah, kamu anak baru kemarin lulus pikirannya sudah absurd sekali."


"Re ...." panggil Pak Fikri.


"Hmmm..."


"Kamu itu seharusnya sudah berangkat, kan?"


Saya mengangguk.


"Lalu kenapa masih di sini?"


"Saya minta perpanjangan waktu sama Bapak Kepala Sekolah, ya minimal satu tahun lah."


"Hah!? Nggak salah? Kok bisa kayak begitu, Re?" tanya Pak Fikri heran.


"Bisa lah, Pak. Saya kan mengajukan surat permohonan dilengkapi surat rumah sakit tentang kondisi Bunda saat ini, jadi ya ... Seperti inilah saya sekarang. Liar terusss..."


Pak Fikri menggeleng, "terus gimana keadaan Bunda kamu sekarang?"


"Bunda sehat. Sangat sehat. Tapi saya belum bisa meninggalkan Bunda, Pak."


"Re, Bunda kamu itu sudah Ridho, anaknya merantau jauh untuk menuntut ilmu. Kamu malah kayak begini."


Saya terdiam memikirkan ucapan Pak Fikri. Memang benar, Bunda sudah meridhoi saya pergi. Bunda mengizinkan saya menurut ilmu jauh di negara orang. Tapi ada satu sisi di hati saya yang mana saya belum ikhlas meninggalkan semuanya.


Saya terlalu takut. Bukannya takut tinggal jauh sama Bunda. Saya takut hati dan pikiran saya tidak sejalan. Mungkin benar, sebaiknya sebuah perasaan itu segera diungkapkan meski sakit tapi melegakan. Tidak seperti yang saya alami sekarang. Bimbang. Mau melangkah ragu. Diam di tempat pun sudah bukan massanya.


Allah, berilah hamba petunjuk-Mu.


"Pikirkan baik-baik. Jangan menyepelekan sesuatu yang sudah Allah amanahkan untuk kamu." kata Pak Fikri yang berhasil menarik saya dari alam bawah sadar.


"Masih ada kebimbangan di hati saya apa?"


"Soal apa?"


Soal cewek yang selalu hadir dalam hati dan pikiran saya.


Semua kata-kata itu hanya tertahan di rongga mulut. Saya tidak berniat untuk menceritakan hal pribadi yang sensitif soal hati kepada siapa pun.


"Soal semuanya. Saya bingung. Tapi gimana lagi ya ... Intinya saya bingung lah, Pak."


"Pegangan sini! Kamu punya Allah, kan?"


"Tentu." jawab saya lesu.


"Pergilah, Re. Tuntutlah ilmu dengan ridho Bundamu. Insya Allah, Allah juga Ridho dan memudahkan setiap langkah kamu."


"Aamiin... "


"Kecuali kalo kamu punya pacar. Terus pacar kamu itu merengek minta kamu untuk tidak pergi. Lebih baik diputisin aja. Nggak berfaedah!"


Aku tertawa pelan, "pacar dari Hongkong... Eh, nggak usah jauh-jauh deh. Dari Bogor aja nggak ada."


"Kasian banget jomblo." terdengar suara seseorang yang datang menghampiri saya dan Pak Fikri.


Laki-laki yang seumuran dengan saya. Berperawakan tinggi, putih dan tentu kami bertiga sepuluh, sebelas, dan dua belas ketampanannya. Dia duduk di samping saya, lalu tangannya mengambil biskuit di toples yang sedang saya pegang.


"Nikmati usia mudamu, sebelum datang usia tua. Di mana wajah keriput tak lagi memiliki daya tarik,"


Pak Fikri berdecak pelan, "Bocah sableng, nggak ada tobatnya!"


"Udah tobat, Bang. Tapi suka khilaf lagi. Gimana dong?"


Aku dan Pak Fikri hanya menatapnya jengah, lalu Fikar tersenyum tanpa dosa.


Dia Zulfikar Al Batani adik kandung dari Fikri Rajbani, seseorang yang kini sedang menatapnya dengan tatapan seperti singa yang ingin menerkam mangsanya.


"Kamu nggak pernah kapoknya, ya?"


Jika Pak Fikri sudah mengeluarkan pertanyaan seperti ini. Maka drama tarik suara akan kembali digelar. Terkadang aku bosan berada di antara adik kakak ini. Mereka seolah lupa dengan usia. Sibuk berdebat karena yang satu jomblo fisabilillah dan yang satunya lagi Badboy cap ayam jago.


"Apaan sih, Bang? Syirik aja, makanya nikah sana! Katanya pacaran setelah pernikahan itu Indah, loh. Yakin nggak mau coba?" ucap Fikar dengan santai, tangannya masih sibuk mengambil biskuit. Tidak peduli tatapan mata sang kakak yang mulai kesal.


"Heh!!! Masih kecil aja udah doyan pacaran, gimana gedenya nanti?"


"Yang jelas tidak akan jadi playboy, Bang. Kan udah tobat. Hahaha ...." kata Fikar sambil tertawa.


Aku yang sedari tadi sibuk mendengarkan, akhirnya ikut tertawa juga. Fikar ini memang tidak ada takutnya.


"Jangan ikutin anak nggak bener kayak gini, Re!"


Saya terkekeh, "siap, Pak."


"Ah, lo, Re. Sebenarnya berpihak sama siapa, sih? Kemarin gue ajakin balapan, lo, ayo aja. Sekarang malah bilang 'siap' nggak ikutin gue. Gimana, sih?" cecar Fikar.


"Revan .... Fikar .... Kalian ini benar-benar anak muda nggak ada akhlak." Pak Fikri berteriak geram dengan ulah kami berdua.


Aku dan Fikar hanya tertawa menanggapi semua ini.


Terkadang rasa bimbangku hilang ketika berkumpul dengan kakak beradik ini. Mereka teman yang selalu paham akan kondisiku saat ini.


Allah, aku hanya meminta, mantapkanlah hati hamba ketika akan pergi nanti. Meninggalkan segala kehidupan yang telah terpatri di sini. Semoga.