Build An Empire With The Strongest Princess

Build An Empire With The Strongest Princess
Part 9 - Menyelamatkan (2)



"A-anda adalah-"


"Louis ... Seorang pedagang biasa dari kota Tulha ..."


Huft, tadi itu nyaris saja.


Rafiel sudah pasti akan kehilangan nyawa jika saya terlambat menemukannya.


Saya bahkan sampai harus menggunakan teknik berpedang yang saya sendiripun tidak pernah berfikir akan menggunakannya secepat ini.


Apakah aku sampai mengejutkannya karena kemunculanku yang mendadak? Atau ...


Mata saya menoleh ke tubuh goblin yang terbaring tanah, berlumuran darah. Bisa dipastikan dia sudah tewas dari kondisinya sekarang.


Intinnya, saya bersyukur bisa datang tepat waktu untuk menyelamatkan Nona Penyihir ini.


Tentu saja, ini juga berkat keberadaan skill baruku yang paling berperan besar atas pencarian.


"Apakah anda bisa berdiri?"


"Uhm ... Mungkin tidak ..."


Eh? Tunggu! Situasi macam apa ini!


Rafiel terlihat kesulitan untuk berdiri dan hanya memandangiku dengan tatapan mengunci dengan mata indahnnya.


Kalau dilihat lebih lama lagi, dia terlihat sangat imut dengan ekspresi tersebut. Ah, kendalikan dirimu! Bukan itu yang seharusnnya saya perhatikan!


Aku memutar otak untuk bisa memahami maksud dari wanita ini, terutama tingkah lakunnya yang seperti sedang menungguku untuk ...


Oh, aku mulai mengerti sekarang ...


"Bagaimana jika saya membantu anda untuk berdiri ..."


Saya mengulurkan tangan, namun Rafiel membutuhkan sedikit waktu untuk benar-benar menerima bantuanku. Bahkan dari pengamatan, wajahnnya terlihat agak memerah.


Serius, apakah dia benar-benar terkejut dengan hal yang baru saja kulakukan tadi?


Sepertinnya saya harus lebih berhati-hati lagi.


Setelah saya selesai dengan urusan sebelumnnya, aku menjelaskan apa yang terjadi selama Rafiel menyibukan diri di medan pertempuran.


Mulai dari para penduduk yang selamat berhasil mengungsi ke tempat yang lebih aman, hancurnnya seluruh pasukan musuh di luar tembok.


Dan tentu saja, bagian dimana saya membeli kemampuan khusus tidak aku ceritakan.


Huft ... saya selesai mengatakan hal yang perlu didengar oleh Nona Penyihir ini, setidaknnya aku berharap dia tidak mencurigaiku.


"Kerja bagus ... Sepertinnya saya berhutang nyawa kepadamu ..."


Eh? Sungguh? Kau bahkan langsung mempercayai perkataan orang yang baru saja kau temui beberapa waktu lalu?


"Tidak perlu dipikirkan, anda sudah saya anggap sebagai orang dekat ..."


"Orang dekat, ya?" Rafiel menyentuh bibirnya ketika mengulangi kalimat saya.


Oh, betapa manisnnya perempuan ini.


Saya bertanya-tanya apa yang terjadi dengannya sejak kami berpisah.


Setiap tindakan yang dilakukannya mampu membuatku merasa sedikit tidak nyaman. Terutama ketika dia kembali memandangiku seperti sebelumnnya dengan tatapan mata polosnya yang ...


Yah! Seperti itu, bisakah dia berhenti melakukan ini?


"Jadi ... Akan kita apakan para monster itu?" Aku tersenyum sambil memusatkan perhatian ke musuh di belakangku.


Saya menemukan, tiga goblin terlihat sangat waspada sejak aku berhasil mengalahkan salah satu diantara mereka hanya dengan sebuah teknik tebasan sederhana.


Yah ... Menurutku itu wajar karena siapapun mungkin akan melakukannya jika tiba-tiba berhadapan dengan lawan yang misterius.


"Aku tidak berbohong, kalian bisa melihatnnya sendiri di luar sana ..."


Pimpinan goblin terkejut bukan main, dia mendengar seorang penyihir mengalahkan beberapa ratus pasukan terbaik mereka.


Sebenarnnya penyihir itu adalah saya, yah ... Karena aku tidak terlalu ingin menjadi pusat perhatian, maka saya sedikit memodifikasi cerita tersebut dengan tidak menyebutkan identitas pelaku.


"Tunggu! Apakah kalian begitu saja mempercayai manusia ini? Bagaimana bisa pasukan kita dikalahkan semudah itu?"


"Benar, kau pasti hanya membual!"


Tepat seperti yang sudah aku perkirakaan, mereka pasti menggangap omonganku sebagai kebohongan kecil untuk menggertak lawan.


"Jika kalian tidak percaya, kenapa tidak mencoba untuk melawanku saja?"


"Baik, akan aku lihat seberapa besar kemampuanmu! Jangan salahkan kami tidak memberi belas kasihan!"


"Ayo, habisi dia!"


Dua goblin maju bersamaan dari arah kanan begitupun dengan sebaliknnya.


Mereka berfikir dengan melakukan serangan yang sama seperti saat melawan Rafiel sebelumnnya sudah cukup untuk membuatku tersudut.


Namun perkiraan mereka salah ...


Aku mengangkat telapak tanganku kemudian merapal sebuah mantra.


"Fire wall!"


"Arghh!"


"Ugh!"


Tepat setelah mereka memasuki jangkauan skill saya, tubuh kedua goblin lenyap menjadi butiran-butiran debu kecil setelah terbakar hebat begitu menyentuh pelindung sihir saya.


"Apa yang-"


Pemimpin goblin benar-benar mulai menunjukkan tanda-tanda menyesal sudah datang ke desa ini.


Dia pikir hanya akan menghadapi warga yang terpaksa menganggkat senjata, dan hanya membawa beberapa jumlah pasukan kecil untuk mengawalnnya.


Sepertinnya dia tidak pernah mengira akan berhadapan dengan lawan yang lebih kuat darinnya.


"Apakah kita bisa berbicara sebentar?"


"Bagaimana, Nona Rafiel? Apakah hal ini bisa kau terima?"


Saya melirik perempuan di belakangku sebelum memutuskan nasib goblin tersebut, tampaknnya hal ini mendapat penolakan darinnya.


"Baiklah, kurasa jawabanmu sudah jelas bukan?"


"Kau ... Apakah berniat membunuhku?"


"Tepat sekali ..."


Pimpinan Goblin sudah berlari bahkan sebelum saya menarik pedang. Dia seperti baru saja melihat hal yang menyeramkan dari carannya berlari.


Aku sekarang mulai mengerti kenapa orang-orang kuat begitu ditakuti di dunia ini.


Saya memang berniat untuk tidak bermusuhan dengan para monster dan jika bisa, aku lebih memilih untuk tetap berdamai.


Sepertinnya itu tidak mungkin dilakukan setelah saya menyebabkan kerugian besar di pihak mereka, ditambah sudah membuat marah salah-satu pimpinannya.


Apa boleh buat, sepertinnya aku harus menghabisi musuh sampai ke akar-akarnnya.


----