
"Ayo habisi mereka, Fire burns the opponent!"
Dua Lizardman beserta 4 goblin mati terbakar begitu Rafiel menyerang menggunakan mantra elemen api.
Setiap jalanan sudah dipenuhi mayat yang berserakan.
Rafiel memperhatikan sekeliling dan dia menemukan masih ada banyak monster lagi yang sedang menunggunnya di depan sana.
Membakar lawan ...
Burn the opponent ...
"Ugh!"
"Ngh!"
"Arghh!" Berbagai jeritan terdengar sejauh yang bisa dijangkau oleh telinga manusia.
Rafiel benar-benar berniat menghabisi mereka tanpa tersisa.
"Apakah kau baik-baik saja?"
Rafiel mendorong sebuah papan kayu besar yang membuat seorang anak kecil terjebak di dalam reruntuhan salah satu rumah warga.
"Healing."
Dia tidak lupa menyembuhkan luka yang diderita korban temuannya tersebut sampai benar-benar tertutup.
"Sekarang, bisakah kau menceritakan alasanmu masih tetap di tempat ini?"
"A ... Ayah ... Dan ibu ... Me-menyuruhku untuk tetap diam di rumah ... La-lalu ..." Gadis itu sangat ketakutan bahkan sampai gemetaran saat berbicara.
Mata kecilnya menoleh ke arah lain, seperti telah melihat sesuatu yang mengerikan sebelumnya.
Rafiel memberikannya sebuah pelukan yang hangat sebagai obat penenang kemudian menarik tangan anak kecil tadi dan membawannya menuju ke tempat yang aman.
"Tenang, kau akan baik-baik saja ... Selama kau mengikuti instruksiku dan pergi ke arah sana, maka akan ada banyak prajurit yang akan melindungimu!"
"Pergilah!"
Gadis tersebut mengganguk setuju ketika Rafiel berjanji akan menemuinnya nanti setelah selesai dengan urusannya.
Anak ini bahkan tidak mempedulikan sekelilingnnya yang sudah terbakar habis dan hanya memikirkan cara agar bisa berlari secepat mungkin keluar dari desa.
Sepertinnya dia sudah pergi cukup jauh.
"Hahaha ... Manusia, apakah kau yang sudah membuat pasukanku menjadi seperti ini?"
Hm? Suara ini ...
Rafiel membalikan badan dan menemukan ada sekelompok goblin berbadan besar dengan berbagai ukuran senjata tengah mengepungnnya dari setiap sisi.
Dari penampilan, sepertinnya mereka adalah salah satu pimpinan musuh beserta beberapa pengawal setiannya.
"Kita lihat saja siapa yang berhak mengatakan itu setelah bertarung!"
"Habisi dia!"
Pertarungan dimulai, para goblin menyerang terlebih dahulu dengan mengandalkan jumlah untuk menyudutkan Rafiel.
Rafiel memang seorang penyihir, yang artinnya dia sangat tidak diuntungkan dalam pertarungan jarak dekat menggunakan pedang sebagai senjata pertahanan diri.
"Giliranmu, wind! Knock down opponents!"
Rafiel mengarahkan telapak tangannya menuju ke salah satu goblin dan menghempaskannya sampai membentur tanah dengan sihir elemen angin.
Ugh ... Sepertinnya itu sangat sakit.
Dua goblin lainnya tidak tinggal diam melihat salah satu rekannya tewas mengenaskan, kemudian mengambil kesempatan menyerang saat Rafiel akan merapalkan lebih banyak mantra.
"Rasakan ini! Manusia!"
"Argh!"
Sepertinnya dia menerima sebuah serangan di bagian perut.
"Ada apa? Apakah hanya ini kemampuan yang kau miliki?"
Pimpinan goblin tersenyum puas melihat lawannya merintih kesakitan, mereka memang tipe monster yang ahli bertarung dengan kelompok.
Sial! Apakah hanya sampai disini!
Rafiel menggigit bibirnya saat kedua kakinnya terasa sangat lemas bahkan hilang keseimbangan.
Dia berada di tahap maksimal bertarung dan sudah menghabiskan banyak mana di pertarungan sebelumnnya.
Andai saja aku bisa mengulur lebih banyak waktu.
Rafiel menatap sebuah kapak besar yang akan digunakan goblin untuk menghabisi dirinnya.
Apakah ini akhir dari desa ini?
"Matilah-" Goblin memulai serangannya, gerakannya sulit untuk dihindari bahkan sekali menerima tebasan bisa mencabut nyawa.
"Cukup sampai disitu!"
Sebuah pedang dengan diikuti suara seseorang mengejutkan Rafiel untuk sesaat setelah dia menemukan tubuh goblin sudah terpisah dari kepalannya.
Darah mengalir sangat deras tepat setelah tubuh goblin sudah menyentuh tanah, bersamaan dengan kemunculan seseorang.
"Siapa?"
"Louis ... Penyelamatmu ..."
------