
"Apa? Kalian berdua berpisah untuk mencariku?" Itu mengejutkan, sungguh, baru bangun saya dikejutkan dengan kabar ini.
"Um ... Kupikir itu akan membuat kami lebih cepat untuk menemukan Tuan Louis ..." Rafiel menganguk tidak membantah. Astaga, ternyata memang benar.
"Kau tahu, bukan hal tersebut yang menjadi permasalahanya ... Dia, sungguh tidak bisa ditinggal sendirian karena ..." Yah, kupikir dia memerlukan semacam penjelasan.
Begitu aku selesai menjelaskan, Rafiel seolah-olah sangat kesulitan untuk menyembunyikan keterkejutan. Sederhana saja, aku hanya mengatakan orang-orang di istana kebanyakan tidak menyukai setengah hewan, itu termasuk Carla.
"Sepertinya ... Aku harus mencarinya sekarang, kupikir dia akan tersesat jika kita membiarkanya terlalu lama sendirian ..." Kakiku sudah melangkah, bersamaan dengan Rafiel yang menghentikanku, apa yang dia lakukan?
"Ada apa?"
"Tolong izinkan aku membantu mencarinya, saya merasa bersalah karena sudah membuat kami berpisah ..." Rafiel bertanya, sepertinya dia ingin bertanggung jawab, tidak ada alasan bagi saya untuk menolak bantuan ini.
Benar, semakin banyak orang yang terlibat maka kemungkinan ditemukanya target akan lebih cepat. Baiklah, aku mengangukan kepala sebagai gantinya, ini sekaligus memulai pencarian kami.
***
"Nona Rafiel, apakah ..." Yah, jawaban dari pertanyaan saya sudah jelas. Itu mendapatkan gelengan kepala dari Rafiel karena belum berhasil menemukanya.
"Ngomong-ngomong, Tuan Louis ... Kau tadi mengatakan akan melindunginya?"
Sial! Saya seperti dapat menebak siapa pelaku dibalik semua ini, mungkinkah dia? Ummm, tunggu dulu! Apa untungnya seseorang sepertinya melakukan semua ini? Kalau aku pikir-pikir lagi, memang ada!
Hal yang terlintas dalam imajinasi saya tentu yang pertama adalah, menjadikan Carla sebagai sandera. Tunggu, itu mungkin menjelaskan kenapa tuan putri menanyakan hal tersebut kepadaku.
Kurang lebih, Carla hanya dijadikan sebagai alat untuk memanfaatkanku, semacam membuatku agar mematuhi perintah. Dan jika tidak, maka gadis tersebut akan mengalami siksaan.
"Tuan Louis, ternyata anda berada di tempat ini, dan ... Nona Rafiel juga? Kupikir kalian sedang bersiap-siap untuk perjalanan." Wah, itu mengangetkanku. Sosok yang baru saja saya curigai muncul dihadapanku tanpa peringatan.
"Dan ... Mengapa anda terlihat berkeringat? Apakah Tuan Putri baru saja selesai-"
"Ya, aku baru saja selesai mengurusi satu hal." Qwenne tersenyum riang, itu terdengar mencurigakan. Apakah dia benar-benar pelakunya? Tidak, terlalu cepat untuk menyimpulkan semua ini.
"Jika tidak ada yang bisa kita bicarakan, sebaiknya anda segera menuju ke kereta begitupun dengan-"
"Tunggu dulu, tuan putri. Kita mengalami masalah disini, seseorang dari kami menghilang, atau kemungkinan terburuknya adalah diculik!" Hmmm? Kali ini apakah pernyataan Rafiel berhasil mengejutkan Qwenne.
Dia benar-benar bersikap seperti yang sudah saya perkirakan, mendadak panik.
Tapi itu hanyalah kebohongan untuk menutupi yang sebenarnya dia sembunyikan.
Benar, saya berhasil menangkap satu hal yang menjadi rahasianya dalam pembicaraan ini, sebuah senyuman yang tidak mendekati kata 'riang', mungkin lebih mirip senyum kecut, terpasang di wajahnya sebelum dia mulai terlihat khawatir.
"Aku akan mengirim prajurit untuk mencarinya, menurutku tidak mungkin Adik Carla terlalu jauh dari tempat ini." Jadi memang ada kemungkinan dia diculik?
Seperti yang Qwenne janjikan, dia segera mengirim sebagian pengawalnya untuk mencari Carla dan menunda jadwal pemberangkatan.
Whoah ... Itu terlihat lebih mudah daripada mencarinya hanya berdua saja. Kita lihat, sampai kapan dia memainkan drama ini.
***
"Apa mungkin, dia adalah pelakunya?!" Aku yakin, ada yang tidak beres dari kejadian ini.
Namaku Qwenne.
Setidaknya orang-orang lebih mengenal saya sebagai pahlawan dibandingkan sebagai seorang tuan putri biasa, karena saya merupakan ksatria di kerajaan ini.
Benar, satu-satunya keturunan yang kemungkinan dapat menaiki tahta mengantikan ayahanda, itulah aku!
Kali ini, saya berniat membongkar rencana busuk seseorang. Benar, dia tidak lain adalah dalang di balik kasus ini.
***
"Sepertinya saya sudah ditunggu, berarti tuan muda Genric sudah mengerti bukan maksud kedatanganku?" Aku menarik nafas dalam-dalam, begitu dia mengatakan, "Tentu." Saya langsung seperti menghujaninya dengan sebuah tuduhan.
"Tuan Genric, sebutkan apa maumu dengan menculik Adik Carla!" Tidak salah lagi, dialah pelakunya. Seorang anak dari sebuah keluarga bangsawan berpengaruh yang berniat menggantikan posisi ayahanda.
"Izinkan saya bersikap hormat kepada tuan putri. Aku memang sedang menahan bawahan dari orang yang paling mencurigakan di tempat ini, dan ..."
"Maksud anda adik Tuan Louis?" Aku menaikan alis, tebakan saya ternyata tepat sasaran, jadi Louis sudah diincar selama ini.
"Benar! Bagaimana mungkin penyihir palsu sepertinya bisa menyelamatkan desa seorang diri!" Jadi dia menuntut bukti dari kejadian itu?
"Baiklah ... Saya akan membuat anda percaya bahwa Tuan Louis memang sekuat itu lewat sebuah pertarungan! Tapi setelah kejadian ini, anda harus berjanji akan membebaskan Carla setelahnya!"
"Emmm, kupikir itu bukan ide yang terlalu buruk. Tentu, selama dia berhasil. Dan jika gagal, maka tuan putri juga tidak boleh menghalangiku lagi untuk membalas dendam!"
Aku memikirkan lagi kesepakatan yang ditawari oleh Genric, saya merasa ini adalah kesempatan baik untuk membuatnya percaya, tapi juga memiliki resiko besar. Hmm ... Mungkin Louis bisa mengatasinya.
"Baiklah, saya berharap anda tidak lupa dengan perjanjian ini setelah Tuan Louis berhasil menang nanti ..."
***
"Uh, aku harap dengan ini Adik Carla bisa-"
"Bisa apa?!" Sebuah suara muncul? Itu berasal dari seseorang di arah samping!
"Anda ... Tuan Louis?"
"Maaf mengejutkanmu, Tuan Putri." Benar, itu adalah saya, Louis yang baru saya selesai melihat tuan putri keluar dari ruangan milik Genric.
Apa ini hanya kebetulan, atau mereka berdua memang bersekongkol untuk menjatuhkanku? Saya tidak tahu siapa teman ataupun lawan disini, yang pasti, Qwenne menurutku sulit untuk dipercayai setelah kejadian tersebut.
"Ngomong-ngomong Tuan Louis, aku berhasil menemukan pelaku dari penculikan ini!"
"Sungguh? Siapakah dia?" Aku menjawabnya dengan tidak antusias, meskipun mendapat perlakuan demikian, ternyata tuan putri tersebut masih lanjut menjelaskan, dan ...
"Tunggu dulu?! Apa, jadi pelaku dari kejadian ini adalah orang itu?!" Sungguh, saya benar-benar terkejut dengan semua ini. Apakah itu bisa dipercaya?
"Setidaknya Tuan Muda Genric akan membebaskannya jika Tuan Louis bersedia menerima tantangan bertarung darinya?"
"Semacam menentukan siapa pemenang untuk bisa membebaskan Carla?"
"Sepertinya demikian ..."
Aku dapat menarik kesimpulan, jika memang seperti itu, maka Genric sungguh cukup berani meragukan keputusan Raja dihadapan putrinya.
Emmm, tunggu, jika benar demikian, mungkinkah ... Aku mengamati ekspresi wajah Qwenne, itu terlihat agak lesu. Kemudian ...
"Saya berfikir, Tuan Putri juga terlihat cukup mencurigakan ..."
Whoah, ini memang sedikit memalukan, tapi aku tanpa sadar sudah membuat punggung Qwenne menyentuh tembok dibelakangnya, sementara tangan saya berada tepat di samping kepalanya.
Tahan, ini mengingatkan saya dengan adegan di salah satu film tentang percintaan. Bertahanlah Louis, kau pasti bisa melakukanya, demi Carla!
Itu yang saya pikirkan, tanpa menyadari perbuatanku sudah membuat Tuan Putri seperti ...
"Ummm ... Ini ... Aku ..." Hei! Tunggu, dia setidaknya terlihat sangat panik dan gelisah. Sial, saya sudah berlebihan! Bagaimana caraku mengatasinya?