
"Ummm ... Begini, apakah anda yakin akan membawa saya ke istana?" Ada apa dengan pertanyaan itu?
Sepertinya, satu dari tiga gadis itu masih terlalu gugup untuk berhadapan dengan seseorang yang kedudukan sosialnya lebih tinggi.
Aku rasa itu wajar, setengah manusia sepertinya mungkin akan mendapatkan perlakuan berbeda di tempat tersebut. Dan sepertinya itu menjadi masalah yang harus Carla hadapi di masa depan.
"Tenang saja, apapun yang terjadi, aku akan melindungimu sekuat ... Ah, tidak! Saya pasti akan membalas siapapun yang berani macam-macam denganmu!" Itu pasti.
Begitu aku mengatakan semua yang terlintas di dalam pikiranku ... Yup! Itu tentu saja membuat Carla terlihat malu bahkan seperti biasa dia begitu kesulitan untuk menjawab. Ah, imutnya!
"Ngomong-ngomong, tuan putri. Apakah anda serius keluar dari kastil tanpa pengawal yang menjaga?" Rafiel bertanya, itu membuat tuan putri tersenyum riang.
"Anda pasti bercanda, bukan? Jika saya dalam bahaya, Tuan Muda Louis pasti akan melindungiku sekuat tenaga. Bukankah demikian?"
"..."
Hei! Hei! Ada apa lagi dengan senyuman yang terlihat polos itu?
Apakah karena aku berjanji akan membantunya bertempur, itu artinya saya memiliki tanggung jawab untuk melindungi sang putri? Astaga, saya baru menyadarinya. Itu mirip seperti pekerjaan pengawal daripada pahlawan. Itu benar!
Beberapa waktu berikutnya, kami menghabiskan setiap menit perjalanan tanpa terlibat pembicaraan apapun lagi.
Yah ... sejujurnya istana terletak cukup dekat dari penginapan, itu membuat kami tidak sempat memulai orbolan tambahan.
"Baik, karena kita sudah sampai di istana. Aku akan membawa kalian ke kamar masing-masing." Qwenne memberikan instruksi.
Pertama-tama, Qwenne membawa Rafiel dan Carla ke ruanganya yang terletak mungkin cukup dekat dari kamar tidurnya? Dan tidak salah lagi, itu berada di lantai dua istana!
Setidaknya kami menemukan beberapa penjaga yang berlalu-lalang disana, dan mataku tidak sengaja melihat seseorang dengan ekspresi merendahkan.
Yah, saya hanya mengabaikan dan tidak mengambil hati. Lagipula, aku memang tidak memiliki status sosial yang terlalu tinggi sehingga tidak sampai berharap mereka bersikap sopan untukku.
Setelah sampai ...
Apa-apaan ini?! Aku dibuat terkejut dengan kondisi kamar yang dimaksud.
"Apakah ... Anda yakin akan memberikan tempat ini untuk kami?" Rafiel sungguh takjub dengan perabotan di dalam sana.
Dilengkapi dengan jendela yang langsung mengarah ke pemandangan kota, plus, dua kasur tambahan. Itu mengingatkan saya dengan hotel berbintang di dunia lamaku, tapi disini lebih mengambil versi abad pertengahan.
"Ini adalah ruangan untuk tamu, jadi Nona Rafiel tidak perlu sungkan menggunakanya." Qwenne kali ini tersenyum puas.
Rafiel menganguk setuju, kemudian memasuki kamarnya bersama dengan Carla.
Setelahnya.
Saya benar-benar hanya berduaan dengan tuan putri. Maksudku, tidak ada prajurit ataupun pelayan disekitar koridor. Itu artinya ...
Sebagai tanggapan, aku mengangukan kepala dan menambahkan kata-kata yang terdengar gagah berani seperti, "Aku tidak akan melanggar janjiku!" Lalu, "Bagaimanapun situasinya, saya akan terus berjuang sekuat tenaga untuk menyelamatkan teman-temanku, meskipun nyawa menjadi taruhanya." Ya! Itu membuat tuan putri sedikit tertawa melihat tingkah saya, bertanya-tanya apa yang lucu dari itu?
Masih di lantai dua, tiba giliran saya mendapatkan kamar.
Aku kemudian menjatuhkan tubuhku di atas ranjang yang terasa ... Ah, aku sampai tidak tahu bagaimana cara mengungkapkanya. Jujur, kualitas yang dimilikinya membuatnya terasa begitu nyaman digunakan.
Ngomong-ngomong, bagaimana dengan tuan putri? Tentu, dia tidak berbagi ruangan dengan saya. Kami kemudian dipisahkan oleh waktu. Hmm ... Tidak tepat menyebutnya sebagai perpisahan karena besok kami akan bertemu lagi.
Tepat sebelum suasana membuat saya tertidur, aku mendengar sebuah suara gaduh di balik pintu.
"Dia sudah mengambil rotiku!"
"Tangkap makhluk pencuri makanan itu!"
Wow, apakah itu semacam pencurian di dalam istana? Aku berfikir, siapa yang cukup nekat untuk melakukan semua ini?
Saya bergegas keluar ruangan, tentu hanya untuk melihat sekelompok orang terlibat kejar-kejaran.
"Hm ... Itu ..." Whoah ... Ternyata memang benar, ada setidaknya lebih dari 5 prajurit yang mengejar satu orang.
Eh? Tunggu dulu! Sepertinya dia bukan seorang manusia.
Karena lokasi kejar-kejaran terjadi tepat di tengah-tengah taman di lantai satu, berada di bawah lantai kamarku, jadi aku cukup kesulitan menentukan jenis makhluk tersebut.
Tapi, dari hasil pengamatanku. Saya dapat mengambil kesimpulan bahwa sosok itu menyerupai makhluk kecil dengan sayap! Bagaimana mungkin, makhluk dengan ciri seperti itu sepertinya terasa tidak asing bagiku.
"Argh!"
"Ugh!"
"Ngh!"
Ough ... Itu pasti terasa sakit. Para prajurit tersebut terlihat bodoh dihadapan makhluk gesit itu, gerakanya begitu lincah dan tubuhnya yang begitu mungil membuatnya sulit untuk ditangkap.
Aku tidak lama menunggu. Begitu prajurit sudah kewalahan, saya memutuskan untuk turun tangan.
"Sepertinya dia tidak menyadari keberadaanku, ini kesempatan emas!"
Dalam beberapa gerakan, Hap! Aku berhasil membuatnya berada dalam pelukanku. Dia begitu fokus dengan para prajurit sampai tidak bisa memprediksi kemunculanku. Kita lihat siapa pencuri kecil ini ...
"Emmm ... Louis ... Apakah kau juga menginginkan roti?"
"Drag?!"