Build An Empire With The Strongest Princess

Build An Empire With The Strongest Princess
Part 27 - Dua Hal



"Apakah begini cara melakukannya?"


Setelah Qwenne memberikan instruksi, saya mencoba untuk segera mempraktikanya secara langsung. Sederhana saja, aku diminta untuk meletakan bagian telapak tanganku tepat di atas batu permata lalu mengalirkan semacam sihir ke dalamnya.


"Sepertinya anda berhasil, itu menghasilkan warna ungu." Oh, benarkah? Jadi sesederhana itu cara melakukanya*?*


Aku bisa melihat cahaya terang dengan warna yang dimaksud keluar dari batu tersebut. *Ta*pi ... Mengapa itu terlihat samar-samar dan seperti akan berubah warna.


"I-ini ... Aku rasa belum selesai ..."


"Apakah saya masih bisa melanjutkanya?" Aku bingung, tentu karena melihat benda di telapak tanganku terus mengeluarkan cahaya kelap-kelip.


Hasilnya, Bom! Itu meledak. Tepat sebelum saya berhasil melihat warna selanjutnya. Itu berubah menjadi potongan kecil setelah saya melihatnya.


Ups ... Aku menghancurkanya. Tapi sungguh, saya tidak sengaja melakukanya.


Ada dua kemungkinan yang bisa saya simpulkan dari kejadian ini. Pertama, batu permata mengangap saya tidak memenuhi syarat sebagai penyihir. Alasanya sederhana, itu tidak cukup kuat untuk menghasilkan warna ungu.


Yang kedua, mungkin saja saya berhasil. Maksudku, ada kemungkinan batu permata rusak karena terlalu banyak menerima sihir. Uhm, itu mungkin bisa saja terjadi.


Saya memberanikan diri untuk melihat ekspresi wajah gadis dihadapanku ... Dan, lihat saja bagaimana dia menanggapinya.


"Ini ..."


Qwenne tersenyum, tidak salah lagi. Apakah dia kesal karena saya merusak batu permatanya?


"Luar biasa, anda sanggup membuatnya hancur berkeping-keping." Eh? Dia tidak marah, tapi justru terlihat antusias?


"Bisakah Tuan Putri memberitahu saya apa yang sebenarnya terjadi?" Aku bertanya, dan sepertinya Qwenne tidak keberatan menjelaskannya.


"Sebenarnya, ini adalah kejadian langka. Atau bisa dibilang, hanya bisa dilakukan oleh sedikit penyihir di kerajaan ini. Bahkan aku sampai lupa siapa orang yang terakhir kali bisa melakukanya ..." Kejadian langka? Orang yang terakhir kali bisa melakukanya? Tidak perlu cukup genius untuk diriku bisa mengetahui bahwa saya sepertinya benar-benar berbakat dalam sihir.


Aku rasa level profesi penyihirku juga mempengaruhi jumlah sihir saya. Ya, itu adalah jawaban masuk akal untuk menjawab semua pertanyaan atas kejadian ini. Saya hanya bisa mengatakan terimakasih karena tuan putri sudah repot-repot membantuku untuk mengetahuinya.


"Baik, karena saya sudah mengetahui kapasitas sihir anda. Selanjutnya, untuk elemen, kira-kira anda sudah menguasai berapa tipe?"


"Jika harus menjawabnya, sepertinya aku bisa menggunakan elemen api dan petir." Saya menunjukan bola api kecil di atas jari telunjuk saya. Dan untuk petir, aku menggunakan cara serupa juga.


"Whoah ... Ternyata memang elemen api, sejak kapan anda mahir menggunakanya?"


"Apakah anda sebelumnya melewati desa Ritress untuk sampai di ibu kota?!"


"Memang, ada apa dengan itu?" Saya bertanya, dan kenapa dia terlihat semakin antusias dari sebelumnya.


Beberapa waktu kemudian, Qwenne langsung meninggalkan penjara dan berjanji akan kembali sebentar lagi, sepertinya dia terlihat terburu-buru.


***


"Apakah yang kau katakan itu benar? Pemuda itu adalah penyihir misterius yang menjelamatkan Ritress?" Dihadapan Qwenne, terlihat seorang pria paruh baya yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutan setelah mendengar cerita putrinya.


"Sesuai perintah ayahanda, saya sudah menyelidiki mengenai kemampuanya, dan memang ada kemungkinan dia adalah orang yang kita cari."


"Jadi begitu, ternyata dugaanku benar tentang laki-laki ini yang memiliki kemampuan tersembunyi ..." Raja Gavard mengelus-elus janggutnya. Baginya, ini sungguh berita mengejutkan.


"Bagaimana selanjutnya? Jika memang dia adalah orang yang sudah menyelamatkan Ritress, apakah ayahanda akan membebaskanya?"


"... Sepertinya demikian, akan tetapi Aku ingin sekali lagi menemui laki-laki bernama Louis ini untuk memastikan sesuatu."


***


Jadi, begitulah. Setelah Qwenne kembali dari urusanya, dia memang mengeluarkan saya dan membawaku pergi dari tempat itu.


Tapi ...


"Anda adalah Tuan Louis yang merupakan penyihir tingkat tinggi? Benar begitu?"


"Ya, sepertinya demikian ..." Saya mengangukan kepala, Pria dihadapanku adalah Raja Gavard. Benar, dia orang yang sama yang sudah memerintahkan bawahanya agar memberikan hukuman mati untuk saya.


Sama seperti sebelumnya, ruangan dipenuhi puluhan pejabat istana dan orang-orang dari militer. Dan bisa dibilang ini adalah pertemuan kedua kami, setelah sebelumnya sempat bersitegang karena hal yang sepele.


"Qwenne ..." Raja memandangi putrinya, Qwenne membalas sambil mengangukan kepala.


Apakah kali ini giliran tuan putri untuk menggantikan ayahnya berbicara? Begitu saya memikirkanya, mata kami sempat bertemu, menciptakan suasana yang tidak dapat saya ungkapkan. Saya melihatnya, seperti tidak ada keraguan yang ditunjukan Qwenne ketika menarik perhatian penonton dengan pembukaan pidatonya yang melebihi kata 'Lumayan'


"Aku menyatakan, bahwa laki-laki ini diampuni dari hukuman mati. Memang tidak banyak yang mengetahuinya, bahwa Tuan Louis sudah pernah menyelamatkan sebuah desa dari serangan monster!" Whoah ... Semua orang terdiam, tidak salah lagi. Sungguh, itu adalah pernyataan yang menghebohkan!  Dia berhasil, Tuan Putri berhasil membuat keheningan menghiasi ruangan tersebut, termasuk saya yang juga sukses dibuatnya membisu sejenak dengan mulut terbuka lebar.


---