
"Semuannya! Kita baru saja menerima kabar bahwa desa Ritress diserang oleh musuh dan sepertinnya mereka meminta bantuan kita untuk mengatasinnya! Ayo, jangan membuat mereka menunggu terlalu lama!"
Sebelum saya mendapatkan jawaban dari perempuan dihadapanku, terlihat kerumunan prajurit kavaleri sedang bergerak dari arah yang berlawanan dengan tujuan kami.
Dari perlengkapannya, sepertinnya saya bisa menarik kesimpulan bahwa mereka bukan seorang bandit, itu mungkin lebih mirip seperti seorang kesatria kerajaan.
"Hm?"
Saya sempat melakukan kontak mata dengan salah satu diantara mereka yang paling menarik perhatian, seorang gadis berambut pirang yang terlihat sangat muda namun memiliki paras yang cantik, terlihat cocok mengenakan baju zirah menyerupai gaun tersebut.
Apakah tujuan mereka adalah Ritress?
***
"Apa? Bukankah desa ini diserang? Mengapa anda bisa mengatakan semuanya baik-baik saja?"
Sang gadis terlihat kebingungan saat mendengar penjelasan kepala desa.
Dia sangat yakin ada lebih dari seratus monster yang menjadi pasukan penyerangnnya. Menurutnnya itu jumlah yang cukup merepotkan untuk dihadapi.
Apakah aku mendapatkan laporan yang salah? Pikirnnya.
"Ah, itu karena seorang pahlawan muda melindungi kami. Memang sudah terjadi pertempuran sebelumnnya, tapi semuannya sudah berakhir berkat bantuan tuan muda yang mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan-"
"Tuan muda?" Sang gadis menyela kata-kata kepala desa.
Di dalam kepalannya dia berfikir bagaimana bisa seseorang mampu mengusir banyaknnya pasukan monster semudah membalikan telapak tangan? Dan itu dilakukan dalam kurun waktu beberapa jam saja.
"Dia sepertinnya seorang penyihir? Namun, dia juga bisa menggunakan pedang untuk membunuh lawannya dengan satu tebasan!"
"Satu tebasan?" Gadis tersebut terlihat antusias.
"Um ... Tepat sekali, kalau tidak salah namannya adalah ..."
"Louis!"
***
Beberapa waktu pun berlalu dan malam akhirnnya tiba lebih cepat dari perkiraanku.
Di dekat saya sudah berdiri sebuah tenda yang cukup untuk ditempati beberapa orang.
Itu adalah hasil modifikasiku yakni mengubah kereta kuda yang tadinnya tidak dilengkapi dengan atap dan membuatnnya menyerupai kendaraan kemah.
Saya hanya perlu menambahkan sedikit jumlah kain untuk membuat atap sederhana yang bisa dibongkar kapanpun, dan sebagai sentuhan terakhir saya menaruh beberapa meter kain halus untuk menjadi pengganti tempat tidurnya.
Setidaknnya itu tidak akan membuat punggungku terasa sakit.
"Carla, apakah makan malam buatanmu sudah matang?"
"Hah ... Um ... I-ini hampir selesai, sekitar beberapa menit lagi ..."
Saya menggangukan kepala, sepertinnya Carla terlihat lebih pandai dalam urusan memasak mengalahkan diriku.
Menatap ...
Menatap ...
"Ada apa?" Aku sudah tidak tahan lagi dengan situasi ini, saya melirik dan menemukan seorang wanita sedang menatapku sambil tersenyum ramah.
Dia tidak lain adalah nona penyihir yang sebelumnnya menjadi penumpang gelap.
"Saya hanya ingin menanyakan sesuatu, mengapa anda mengizinkan saya untuk ikut setelah apa yang saya lakukan tadi?"
"Ah, itu ..."
Memang benar, aku merasa sangat terkejut melihat Rafiel bersembunyi di dalam keretaku.
Saya bahkan sempat berfikir untuk menggunakan sihir sebagai tanggapan jika situasi diluar kendali.
Huft ... Beruntung aku masih bisa menahan diri. Jika tidak, saya bisa saja melukai Nona Rafiel.
"Dari pertanyaanmu, jawabanku terbilang cukup sederhana, yaitu mendengarkan alasan seseorang sebelum membuat keputusan. Anda pasti memiliki tujuan melakukan ini, bukan?"
"I-itu memang benar, jika memang harus mengatakannya ... Alasanku diam-diam memasuki kereta adalah, untuk ..." Rafiel menggerak-gerakan jari tangannya bersamaan ke arah depan, dan memintaku untuk mendekatinnya.
Dari carannya, sepertinnya dia ingin membisikan sesuatu ...
"A-apakah anda serius?!" Aku spontan menjauh darinnya, ini adalah hal yang berada diluar pemahamanku.
"Sebenarnnya, aku sangat menghormati gadis itu ..." Rafiel menunjuk seseorang di dekat perapian, gadis tersebut pasti Carla.
"Namun ... Apakah anda tertarik untuk memiliki lebih dari satu istri di masa depan?"
Apa?!
"Oh, jika anda mengkhawatirkan akan terjadinnya konflik setelah menikah nantinnya. Maka tenang saja ... Akan kupastikan bahwa kami akan tetap akur meski berbagi suami."
Bukan itu yang menjadi permasalahannya!
Tidak! Tidak! Tidak! Tidak! Tidak! Bagaimana bisa saya melakukan ini? Poligami? Apakah itu boleh dilakukan di dunia ini?
"Mohon maafkan saya! Saya masih belum cukup dewasa untuk menikah!" Saya langsung menolaknnya. Benar, memulai kehidupan rumah tangga tidak semudah itu.
Aku masih belum mendapatkan penghasilan tetap, rumah, bahkan mental yang cukup untuk menjadi seorang ayah.
Belum lagi saya masih berusia 15 tahunan, jadi saya tidak menyesal mengatakan itu.
"Oh, sayang sekali anda melewatkan kesempatan ini ... Jarang-jarang ada yang bisa menahan nafsu ketika seorang wanita sudah siap menyerahkan dirinnya ..." Rafiel terlihat memerkan sesuatu, tepatnnya di bagian dadannya.
Sial! Kalau dipikir-pikir lagi, dia sangat manis saat sedang mengatakan itu.
"Uhm ... Maaf mengganggu perbincangan kalian, sepertinnya makanan kita sudah matang ..." Carla berkata sambil terlihat agak gugup.
Dari tingkahnnya, apakah dia mendengar semuannya?!