
"Lama tidak berjumpa, aku selalu yakin kita akan bertemu lagi meskipun secara tidak terduga."
Hm?
Ada sebuah suara memanggilku dari belakang, sepertinnya pemiliknya adalah seorang pria paruh baya dengan penampilan agak kukenali.
"Maaf, anda siapa?"
"Oh, jadi anda melupakan saya. Sayang sekali," Dia adalah pria berjanggut putih dengan penampilan mendekati usia sekitar 50 tahun.
Pria itu terlihat cukup kecewa. Jujur saja, aku memang lupa dimana pernah bertemu dengannya.
Tapi, setelah dipikir-pikir lagi ...
"Anda adalah pedagang yang menjual budak bukan?"
"Akhirnnya tuan mengingatku," Itu dia, pria paruh baya tersebut adalah orang yang menjual Carla kepadaku.
Saya agak terkejut melihatnnya berada di ibu kota, apakah dia datang juga berniat untuk membeli budak baru untuk dijual kembali?
Oh, ngomong-ngomong, saya baru mengetahui namanya adalah Raz setelah aku menggunakan skill "Identification" ku.
Dan dia tanpa ragu berbincang cukup lama denganku sampai saya menghabiskan beberapa gelas minuman.
"Tempat ini luar biasa, saya bisa menemukan banyak barang bagus untuk dijual!"
Sungguh? Apakah dia merasa perbudakan itu menguntungkan?
Saya mencoba untuk bertanya mengenai acara pelelangan, dia semakin antusias menjelaskan.
"Apakah anda tertarik untuk membeli budak lagi? Kenapa tidak membelinya dari saya? Tuan bisa mendapatkan potongan harga untuk ini!"
Eh, maksudku bukan seperti itu. Tapi ... Serius? Aku bahkan bisa menawar untuk yang kedua kalinya?
"Tidak, saya tidak berniat menambah budak lagi, karena sepertinnya saya lebih membutuhkan hal lain sekarang."
Aku bisa melihat wajah Raz tidak menunjukan tanda menyerah setelah menerima penolakan dariku, apakah dia berfikir cara yang sama akan berhasil?
"Satu tempat terbaik, seperti biasa!" Sebuah suara menarik perhatianku.
Apakah ada seorang bangsawan di acara pelelangan?
Saya mengamati dan menemukan seorang pria berbadan besar dengan membawa banyak orang disampingnya seperti, pengawal, pelayan, bahkan saya bisa melihat ada lebih dari satu perempuan dewasa yang terlihat seperti bersaing untuk mendapatkan sesuatu darinya.
"Siapa dia?"
"Anda tidak mengetahuinya?"
"Hati-hati saat berbicara, dia adalah Tuan Genric, seorang putra dari keluarga penguasa daerah lain."
Yang artinya dia adalah seorang anak Duke?
"Untuk apa dia datang ke ibu kota?"
"Yah, kau pasti sudah mengetahuinya bukan? Orang sepertinya akan menambah wanita untuk dijadikan mainan ..."
Raz diam-diam memandangi Genric. Dia tersenyum lebar saat matanya menatap tubuh perempuan disekeliling lelaki itu, sepertinnya dia mengincar putra Duke sebagai calon pembeli selanjutnya.
"Seperti itu, kuharap anda memahaminya," Raz merapikan pakaianya, bersiap untuk pergi setelah kami selesai berbincang.
"Apakah anda tidak berniat mengikuti acara?"
"Hm? Kupikir saya sudah menemukan hal yang bagus, sampai jumpa."
Dia pergi, padahal saya ingin mengetahui banyak informasi darinya.
Saya buru-buru membayar minuman kemudian menuju ke tempat pemesanan kursi.
"Satu tempat untuk 1 orang."
"Baik, silahkan lewat sini," Pelayan mengarahkan saya ke lokasi agak dibarisan depan.
"Berapa harganya?"
"Lima koin tembaga ..."
Saya menggangukan kepala, kemudian memberikan jumlah uang yang diminta.
"Tempat yang bagus ..."
Saya mengamati sekitar, lokasi itu terlihat seperti sebuah panggung dengan penerangan hanya difokuskan pada satu tempat saja.
Hanya ada sekitar belasan orang saja disana, untuk saat ini, namun dari penampilan kebanyakan memakai pakaian yang menutupi sebagian besar area tubuh, seperti sedang berusaha menyembunyikan identitas.
"Itu memang wajar, setidaknya mereka tidak ingin dikenali agar masalah tidak terjadi. Maksudku, kebanyakan orang mungkin lebih memilih menghindari resiko seperti menjadi target balas dendam karena orang tersebut terlebih dahulu membeli barang dari lawannya atau berhasil mengalahkannya, seperti itu ..."
Drag memberikan penjelaskan yang bahkan saya sulit mencernanya dalam pikiran.
Aku tidak memikirkan lebih jauh kemudian mengalihkan pikiran untuk fokus terhadap dihadapanku.
Sepertinya ada semakin banyak kursi yang terisi.