Build An Empire With The Strongest Princess

Build An Empire With The Strongest Princess
Part 15 - Sampai di Tujuan



"Apakah itu adalah ..."


"Ibu kota!"


Saya mematung sejenak, melihat sebuah penampakan kota besar dihadapanku.


Itu mirip seperti bangunan bertingkat yang dilindungi tembok kokoh. Meskipun terlihat agak kebiruan, saya masih bisa melihat istana kerajaan dari jauh.


Itu terletak di wilayah yang subur, banyak perkebunan, dan juga ada beberapa ribu rumah penduduk disekitarnnya.


Aku bisa mengukur jarak kereta kudaku dari kota ... Kurang lebih beberapa kilometer dari lokasi saya berada.


"Berhenti!"


Ada beberapa prajurit berseragam putih lengkap dengan zirahnya menghadang jalan kami, setelah tiba giliran saya untuk masuk lewat gerbang utama.


Sepertinnya mereka adalah penjaga kota. Aku turun untuk menemui salah-satunnya.


"Berapa?"


"Sepuluh koin tembaga."


Itu cukup mahal dari yang aku perkirakaan. Saya mengambil jumlah uang yang dibutuhkan, dan segera menyerahkannya.


"Apakah anda adalah pendatang baru? Saya merasa asing dengan penampilan tuan ..."


"Oh, saya hanya seorang pedagang biasa. Bisa dibilang sedang mencari barang bagus untuk dijual ..."


Aku berbohong dan prajurit percaya begitu saja.


Di matannya, aku tidak lebih seperti seorang pedagang pemula yang baru memasuki dunia bisnis. Namun mengenai mencari barang, hal tersebut bukan kebohongan.


"Tidak salah lagi ... Aku bisa merasakannya, itu berada tidak jauh dari tempat ini ..." Drag muncul di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh penglihatan prajurit.


Berarti berada di dekat lokasi gerbang, ini lebih mudah dari yang aku perkirakaan.


Saya membuat kuda kembali menarik kereta, kami melewati pos pemeriksaan tanpa ada masalah.


"Tuan Louis ... Apakah anda tertarik untuk menyewa penginapan? Kita tidak akan tidur di luar malam ini bukan?" Rafiel bertanya, sambil terlihat agak tersenyum melirikku.


Apa-apaan ekspresinya itu?


"Itu bukan ide yang buruk, kita akan pergi mencari penginapan terlebih dahulu, sebelum ..." Mulutku berhenti berbicara dengan sendirinnya, tepat setelah mataku selesai mengamati sesuatu.


"Carla ... Ada apa?"


"Ah! Bu-bukan apa-apa!"


Ini lagi? Bisakah dia tidak membuatku penasaran?


***


"Baik, satu kamar untuk tiga orang sudah kami siapkan. Silahkan menikmati pelayanan kami."


"Terimakasih."


Saya mengambil kunci dan menuju ruangan milik kami yang berada di lantai dua gedung.


Biayannya sekitar dua kali lipat dari penginapan di kota Tulha. Tapi sepertinnya kamar tersebut cukup luas dan terawat, lengkap dengan meja dan satu kursi yang bisa saya gunakan. Setidaknnya ada satu kasur di tengah-tengah ...


Kalau dilihat lebih teliti lagi, mengapa hanya ada satu ranjang?


"Bukankah ini kamar untuk tiga orang? Mengapa tidak dilengkapi kasur tambahan?"


"Hm? Menurutku itu wajar untuk seorang pasangan. Baiklah! Kita akan tidur di ranjang yang sama!" Rafiel dengan polosnnya setuju, seenaknnya memutuskan.


Apa yang kau katakan? T-tidur di tempat yang sama? B-bagaimana bisa saya melakukan itu!


"Tidak! Tidak, aku akan tidur di lantai. Anda dan Carla sebaiknnya tidur disana saja!"


Aku meninggalkan mereka tanpa membiarkan Rafiel menolak permintaanku. Sungguh, bukan ini yang saya harapkan.


"Sepertinnya, tuan anda sangat peduli terhadap kita ..." Rafiel melirik Carla.


"Um ... Dia sangat baik kepadaku. Saya berharap bisa membalasnnya ..." Carla mengganguk, tidak bisa menyembunyikan perasaannya.


"Kalau begitu, bagaimana jika kau melakukan sesuatu yang spesial untuknnya malam ini?"


"Apakah aku bisa melakukannya?"


"Tentu saja, serahkan saja kepadaku!"